The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Kelelahan?)



Sinar mentari membias masuk melalui jendela. Sehingga membuat pasangan suami istri yang baru saja terlelap beberapa jam yang lalu tertimpa akan cahaya hangatnya. Namun mereka begitu enggan membuka mata, terutama seorang wanita yang nampak begitu kelelahan.


Ya, dia bukan lagi seorang gadis, sudah menjadi wanita seutuhnya sebab tadi malam sudah menyerahkan keperawanannya kepada pria yang sudah menjadi suaminya.


Perlahan sinar matahari tersebut mengganggu Austin yang terlelap, sehingga pria itu mengerjapkan perlahan kedua matanya dan menyesuaikan cahaya yang merasuk ke dalam retina matanya. Kemudian mengusap satu matanya, menolehkan kepala, ia mendapati istrinya yang masih terlelap. Didekatkan wajahnya pada wajah Licia dan melabuhkan kecupan di kening istrinya itu.


"Maaf, kau pasti sangat kelelahan." Dengkuran halus Licia menandakan jika istrinya itu benar-benar lelap dalam tidurnya meskipun matahari sudah meninggi. Memang ia tidak bisa mengendalikan diri, menggempur sang istri hingga pukul lima pagi.


Saat melihat jam di dinding, ia tidak terkejut mendapati waktu sudah menujukkan pukul 8 pagi. Beranjak duduk sejenak untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit pegal. Ternyata bercinta cukup melelahkan, pikirnya.


Karena tidak ingin melewatkan momen kebersamaan mereka untuk pertama kalinya, Austin memilih untuk kembali berbaring. Bibirnya mengulas senyum tipis memandangi wajah cantik istrinya. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang membingkai wajah Licia. Apa yang dilakukannya itu sukses membuat gadis itu menggeliat. Hanya menggeliat saja, setelahnya kembali terlelap. Austin terkekeh memandangi, sungguh menggemaskan.


Ingin kembali mengusap wajah istrinya, ponsel yang berdering mengurungkan kegiatannya itu. Dengan decakan malas, Austin meraih ponsel yang berada di atas nakas. Tertera nama Elden di layar ponselnya. Saat menggulir icon hijau, ia mendengar riuh suara di seberang sana.


"Biar aku yang bicara padanya." Suara Jacob yang Austin dengar. Sepertinya mereka tengah saling berebut ponsel. "Hei As. Apa kau tidak tau waktu? Lihatlah, ini sudah jam berapa? Apa kau ingin membuat adikku kelaparan?!" Belum juga Austin bersuara, Jacob sudah menyemburkan kekesalannya.


"Hm...." Austin menyahut malas.


"Heh sialan. Aku bicara panjang lebar, tapi kau menjawab seperti itu, huh?!"


"Ck, suaramu benar-benar berisik, Jac!"


Astaga! Tidak habis pikir Jacob, kenapa Austin semakin menyebalkan?!


"Jika kau bukan adik iparku, sudah pasti kau akan kuhabisi!" Ya, geram sekali Jacob. Ia harus memiliki kesabaran lebih untuk menghadapi Austin yang sialnya adalah adik iparnya. Jujur saja ia malas mengakui.


Austin hanya terkekeh kecil. Namun tidak berlangsung lama karena samar-samar ia mendengar suara Daddy Zayn.


"Cepatlah turun. Jika tidak, orang tua itu akan mengamuk. Sejak tadi dia sudah menanyakan Licia." Heh, durhaka sekali Jacob menyebut Daddy-nya sendiri dengan sebutan 'orang tua itu'.


"Ya, sebentar lagi. Licia masih tidur pulas. Jadi-'


"Apa kau sedang menghubungi As?" Terdengar jelas suara Daddy Zayn di sambungan telepon. "Katakan padanya untuk segera turun. Apa dia akan membiarkan putri kesayanganku kelaparan, hah?!"


"Dad, Licia masih belum bangun." Suara Jacob terdengar menginterupsi. "Sepertinya dia kelelahan," sambungnya memperjelas.


"Heh, sudah kukatakan untuk tidak membuat Licia kelelahan?! Kenapa dia tidak mendengarkanku?!" Daddy Zayn menggelegarkan suaranya. Jelas sekali jika suaranya berkumpul penuh amarah.


"Katakan pada Daddy Zayn, aku akan turun dalam waktu 30 menit lagi," ujar Austin pada akhirnya. Sebelum kemudian memutuskan sambungan telepon. Biarlah ia dianggap sebagai menantu kurang ajar karena menutup telepon secara tiba-tiba. Ia sudah terbiasa mendengar keluhan Daddy Zayn padanya.


Austin menghela napas panjang, mengembalikan ponsel pada letak semula. Sudah menjadi menantu Daddy Zayn saja ia masih mendapatkan seruan. Sepertinya mertuanya itu hobby memarahi dirinya.


"Aku akan mandi lebih dulu, Baby." Mengecup singkat pipi Licia. Secepat kilat Austin beranjak dari ranjang. Ah, ia lupa jika telanjang bulat, tetapi sudah terlanjur berlari menuju kamar mandi. Sial memang! Satu-satunya yang tidak bisa ia hardik selain Daddy Xavier dan Arthur adalah Daddy Zayn.


Bertepatan dengan Austin yang menyelesaikan mandinya, kedua mata Licia mengerjap dan perlahan kelopak matanya terpisah. Cahaya yang menyelinap masuk retina matanya sungguh menyilaukan. Gadis itu berusaha beranjak duduk, menarik selimut tebal untuk menutupi dadanya. Ah, sepertinya Licia lupa jika Austin sudah melihat dan bahkan merasakan tubuhnya. Jadi untuk apa ditutupi?


"Kau sudah bangun?" Austin berdiri diambang pintu. Satu tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Glek. Penampilan seksi Austin membuat Licia menelan saliva dengan berat. Padahal ia sudah melihat dan merasakannya, masih saja belum terbiasa.


"Kenapa kau sudah mandi?" tanyanya setelah mampu menguasai diri. Ia harus membiasakan diri melihat tubuh Austin yang hanya dibalut handuk sebatas pinggang.


Austin tersenyum mendengarnya. Ia mengira jika sang istri ingin mandi bersama. "Apa kau ingin mandi bersama, hm?"


Licia terkesiap. Tentu saja bukan seperti itu. Ia segera menyanggah. "Bukan seperti itu. Aku pikir kau akan menungguku sampai bangun."


Kembali Austin mengulas senyum. Lalu membuang handuk kecil itu ke sembarang arah. "Keinginanku memang seperti itu, tapi sejak tadi Jac dan Daddy Zayn tidak berhenti mengganggu."


"Astaga. Benarkah?" Licia tidak habis pikir. Kedua pria yang dicintainya itu begitu tidak sabar menunggu.


"Hmm..." Austin mengangguk. Bersamaan dengan ponselnya yang kembali berdering. See? Pasti Jacob menghubunginya kembali. Untuk sejenak Austin dan Licia saling melemparkan pandangan, sebelum kemudian keduanya terkekeh.


"Kalau begitu aku harus cepat-cepat mandi sebelum Daddy menghancurkan tempat ini," ucapnya dengan kekehan diakhir kalimat. Gerakan Licia begitu cepat, sehingga gadis itu merasakan sakit pada area intinya. "Akkhh...." pekiknya meringis. Ternyata benar-benar sakit dan membuatnya sulit bergerak dan bahkan berjalan.


Buru-buru Austin berjalan menghampiri. Tanpa aba-aba menggendong Licia ala bridal style.


"Akkhh As, apa yang kau lakukan." Licia terkejut. Kedua tangannya menutupi area dada serta bagian intinya.


"Menggendongmu. Memangnya apa lagi?" jawabnya sembari berjalan menuju kamar mandi. Ia menyelipkan senyuman gemas melihat istrinya yang menutupi bagian dada serta bagian bawahnya.


"Kau menyiapkan air untukku?" tanyanya memastikan, walaupun sudah tahu akan jawabannya.


Austin mengangguk. "Hm, mandilah. Aku akan menunggu diluar." Mengecup singkat kening Licia, lalu melesat keluar kamar mandi. Ia khawatir akan menerjang Licia kembali jika berlama-lama di dalam kamar mandi.


Sembari menunggu istrinya mandi, Austin mengenakan pakaiannya. Setelan kemeja hitam menjadi pilihannya, sehingga melekat sempurna di tubuh tegap pria itu. Licia yang keluar dari kamar mandi begitu terpukau melihat penampilan Austin. Tidak ada larangan jika dirinya mengagumi suaminya sendiri.


Austin membingkai senyum diwajahnya. Lalu melangkah menuju lemari yang sudah tersedia pakaian istrinya. Setelah mendapatkan pakaian yang sesuai dengan selera Licia, lantas Austin berjalan mendekati istrinya.


"Aku akan membantumu memakai pakaian," ucapnya meletakkan dress tersebut di atas ranjang. Lalu mengambil alih handuk kecil yang membungkus rambut Licia, bermaksud untuk membantu mengeringkan rambut istrinya itu.


Licia mengulum bibirnya. Perlakuan Austin benar-benar membuatnya merona. Sangat romantis. Dimana lagi ia akan mendapatkan suami yang sudah tampan sekaligus romantis? Gadis itu menikmati usapan lembut pada kepalanya. Setelah setengah kering, suaminya itu mengambil pakaian dalam wanita.


"A-aku bisa memakainya sendiri." Licia menahan tangan Austin, merebut pakaian dari tangan suaminya itu. Yang benar saja Austin ingin memakaikan pakaian dalamnya. Ia sudah malu setengah mati. Benar-benar kelewat romantis.


Austin tidak memaksa. Ia membiarkan Licia mengenakan pakaian dalamnya sendiri. Memperhatikan istrinya itu yang cepat dalam mengenakan pakaian. Ia terkekeh kecil seiring langkahnya yang mendekat untuk membantu mengenakan dress. Kali ini Licia tidak menolak, membiarkan Austin membantu mengenakan dress yang benar-benar cantik dan anggun melekat ditubuhnya.


"Terima kasih..." cicitnya merona malu. "Kau benar-benar romantis. Aku sempat berpikir jika pernikahan kita ini adalah mimpi."


Terkekeh dan mengangguk. Austin pun berpikir demikian, ia tidak pernah menyangka jika akan benar-benar jatuh cinta dan menjadikan Licia sebagai istrinya.


"Selama ini aku penasaran, apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?" Ya, selama ini Licia tidak pernah bertanya. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuknya bertanya.


Dalam kediamannya, Austin mendengarkan pertanyaan Licia. Ia menggulung lengan kemejanya hingga mencapai siku. "Karena kau cantik, kau juga pintar dan kau pernah mengabaikanku. So, you're obviously my type."


"Eh, apa yang kau katakan?" Licia gagal mencerna, sebab Austin bicara begitu cepat.


Austin menatap lekat istrinya. Menyematkan senyum dan berkata, "Perfect!" Ya, dimatanya, Licia adalah gadis yang sempurna.


Karena wajah Licia menggambarkan raut kebingungan, Austin melangkah mendekati. "Kau sempurna dimataku. Jadi, apa kau masih meragukanku hm?"


Blush. Wajah Licia menyembulkan rona kemerahan. Kemudian menggeleng sebagai tanda ia tidak akan lagi melayangkan pertanyaan yang sama berulang kali.


Austin merengkuh Licia dan membawanya kedalam pelukannya. Meski terkesiap, Licia melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya itu. Menghirup dalam aroma tubuh yang seperti aroma cendana. Aroma kayu yang begitu menenangkan. Gadis itu lalu mendongak, menatap lamat-lamat wajah Austin yang memiliki rahang tegas dengan garis mata yang begitu tajam.


"Aku mencintaimu, suamiku." Licia berucap terkekeh. Merasa geli saat mengutarakannya.


Austin menanggapi dengan senyum yang mengembang, lalu menjawab, "Aku juga mencintaimu, istriku."


Keduanya terkekeh-kekeh bersama. Sebelum pada akhirnya memutuskan untuk segera turun karena ponsel Austin kembali berdering berulang kali. Mendesak agar segera menjawab. Austin mengabaikan panggilan tersebut, ia menggandeng pinggul Licia berjalan menuju restauran yang berada di lantai dasar. Setibanya disana, Licia dan Austin menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga. Sebelum pada akhirnya deheman seseorang yang entah siapa itu menyadarkan mereka dan kembali pada aktivitas masing-masing.


Austin menarik kursi untuk Licia, mempersilahkan sang istri untuk duduk terlebih dahulu, setelahnya ia melabuhkan tubuhnya disisi istrinya. Mendapati tatapan tajam dari Jacob, Austin acuh tak acuh. Ia menikmati sarapannya yang tertinggal. Seolah dunia milik berdua, pasangan suami istri yang baru saja melakukan unboxing itu saling melemparkan tawa saat semua yang disana menggoda mereka.


Berbeda dengan Daddy Zayn, sejak tadi ia menahan mulutnya untuk tidak berseru. Gatal sekali ia ingin menyerukan suara. Akan tetapi sang istri sudah memperingati dirinya sebelumnya. Sehingga bagaikan anak anjing yang patuh, Daddy Zayn hanya bisa mengunci rapat bibirnya.


Setelah cara sarapan selesai, seluruh keluarga membubarkan diri. Baik Licia dan Austin sepakat akan berjalan-jalan. Meski sedikit sulit berjalan, tak membuat urung niat gadis itu untuk menjelajahi Kota Paris bersama suaminya.


"Apa yang kau lihat?" Xavier mengikuti arah pandang Zayn. Ternyata pria tua itu memperhatikan Licia dan Austin yang sudah berlalu pergi.


"Lihatlah, putriku berjalan seperti itu. Putramu benar-benar keterlaluan!" sungut Zayn kesal. Bagaimana tidak kesal jika ia mendapati cara berjalan putri tersayangnya yang seperti pinguin.


Seketika tawa Xavier pecah. Sungguh, ia tidak bisa menahan gelak tawanya. Tidak habis pikir dengan Zayn yang begitu detail memperhatikan putrinya yang merupakan menantu dirinya.


"Diam bodoh! Aku tidak memintamu untuk tertawa!" seru Zayn menghardik kesal.


"Kau lebih bodoh!" Mana mungkin Xavier menerima seseorang mengatakan 'bodoh' padanya. "Lagi pula untuk apa memperhatikan cara berjalan Licia. Hahahaha benar-benar bodoh." Puas sekali Xavier mentertawakan kebodohan Zayn. Sehingga membuat Zayn mendengkus kesal dan kemudian melengos pergi.


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...