The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Maafkan Kami



PRANG


Piring yang baru saja tergeletak di atas meja kini menjadi sasaran Meisha melampiaskan kemarahannya. Piring terbuat dari kristal tersebut baru saja melayang dan nyaris mengenai wajah Nathan jika pria itu tidak lihai menghindar.


"Nona, tenanglah. Tidak baik menghancurkan barang seperti itu." Nathan dengan lembut menenangkan Meisha yang kembali mengamuk dan membuat ulah. Sungguh Nathan dibuat pusing sejak satu jam yang lalu, tiada hentinya adik dari tuannya itu menghancurkan barang-barang di dalam kamar. Beruntung barang yang menurutnya berbahaya sudah diamankan terlebih dahulu oleh Jared dan Amber.


"Diam! kau pembohong. Kau membohongiku!" Kedua alis Meisha menukik tajam, menyoroti Nathan dengan penuh amarah.


"Nona, saya tidak membohongi Nona." Nathan tetap pada keputusannya jika ia memang tidak membohongi Meisha.


"Bohong! Kau bohong! Kau mengatakan jika Kak Mike akan datang, lalu dimana dia sekarang? Dimana Kak Mike? Apa dia sudah tidak peduli padaku?!" seru Meisha. Kali ini dua bantal yang menjadi pelampiasan wanita itu membuangnya ke arah Nathan.


"Nona...." Sungguh Nathan gemas sekali, ia berusaha menghindari serangan bantal yang dilayangkan oleh Meisha. "Tuan sudah dalam perjalanan menuju kemari. Jadi Nona tenanglah."


"Bagaimana aku bisa tenang. Seseorang akan membunuh Kak Mike. Mereka membawa pisau dan akan menusuk Kak Mike!" Meisha berteriak histeris. Ia teringat akan penusukan kakaknya itu, ia menjambak rambutnya dengan kencang.


"Nona!!" Nathan segera berlari menghampiri Meisha. "Tenanglah Nona, apa yang Nona lihat itu tidak benar. Nona hanya bermimpi, kakak Nona baik-baik saja." Mencoba menenangkan sembari menjangkau tangan Meisha.


"Tidak! Kau bohong! Kau pembohong!" Namun Meisha menepis kasar. Ia bahkan mendorong dada Nathan. "Kak Mike dalam bahaya dan kau hanya diam saja disini!" Wanita itu menggelengkan kepalanya, ia mengedarkan pandangannya ke arah lain, mencari sesuatu yang bisa digapai olehnya.


Nathan bernapas lega, untung saja semua barang-barang di kamar Meisha sudah diamankan dan ia tidak akan mendapatkan serangan kembali. Hanya tersisa ranjang dan lemari besar, tidak mungkin Nona Meisha dapat menumbangkan lemari serta ranjang tersebut.


Nathan memejamkan singkat kedua matanya, ia menarik napas panjang. Lalu mulai mendekati Meisha kembali. "Kakak Nona baik-baik saja."


Meisha melangkah mundur, ia tidak ingin mendengar apapun yang diucapkan oleh Nathan. Namun Nathan juga tidak pedulikan Meisha yang menghindari dirinya, ia menjangkau pinggul Meisha dengan cepat.


"Lepaskan aku! Lepas!" Meisha meronta di dalam dekapan Nathan. Namun alih-alih mengindahkan perkataan Meisha, Nathan justru semakin erat mendekap wanita itu.


"Jangan seperti ini Nona. Tuan Mike pasti akan sangat sedih. Bukankan beberapa hari ini Nona sudah menjadi diri Nona sendiri?" Miris sungguh. Hati Nathan seolah teriris ribuan pisau jika melihat keadaan Meisha kembali histeris seperti sebelum-sebelumnya. Dan sudah beberapa Minggu ini Nathan Mendapati sikap Meisha yang layaknya seperti wanita pada umumnya. Tetapi hari ini justru kembali histeris setelah bermimpi buruk.


Meisha mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat, lelehan air matanya di usap pula dengan kasar. "Aku tidak tau, aku tidak tau Nath. Aku takut, aku takut Kak Mike akan meninggalkanku." Tubuhnya menggigil diselimuti ketakutannya.


"Sshhtt, tidak akan ada yang meninggalkan Nona." Nathan memberikan usapan lembut di punggung Meisha. "Tuan Mike dan saya tidak akan pernah meninggalkan Nona, jadi Nona tidak perlu memikirkan yang belum tentu akan terjadi. Nona harus bisa mengendalikan diri Nona dan melawan rasa takut Nona."


Tatapan kosong Meisha mulai terisi penuh dengan wajah Nathan. Wanita itu mendongak ke atas hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Nathan yang sendu dan penuh ketulusan.


"Aku tidak tau, apa aku sudah gila? Aku gila bukan?" Bibir Meisha mengerucut. Wanita yang tadi berteriak histeris dan menghancurkan barang-barang, kini bertingkah sangat menggemaskan.


"Nona tidak gila," sergah Nathan. Ia berusaha menghindari percakapan yang akan memicu emosi Meisha kembali.


"Aku gila dan semua orang akan menjauhiku!" Meisha kembali menangis, kali ini menangis kecil tanpa meraung-meraung seperti biasanya.


"Tidak perlu memikirkan pandangan orang lain. Nona masih memiliki Tuan Mike dan.... saya." Entahlah Nathan menjadi ragu sendiri mengatakan jika wanita itu masih memiliki dirinya selain kakaknya itu.


Kedua mata Meisha mengerjap berulang kali, bagaikan boneka disney princess yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan.


"Aku takut...." cicitnya menyembunyikan wajah di dada bidang Nathan.


"Saya ada di sini Nona." Tangan Nathan terulur membelai rambut Meisha yang terurai. Hingga ia tidak menyadari jika sepasang mata menerkamnya dengan tatapan yang tidak terbaca.


"Apa yang terjadi?" Suara bariton pria memenuhi pendengaran Nathan dan Meisha. Nathan menoleh ke arah pintu, sosok Mikel berdiri di ambang pintu.


Matanya yang tertuju pada Nathan serta Meisha menyapu sekitar, nampak ruangan yang sangat berantakan. Bantal berada di lantai dan piring kristal yang berhamburan di lantai. Mikel dapat menyimpulkan apa yang terjadi, sudah pasti adiknya baru saja histeris dan Nathan tengah berusaha menenangkan adiknya itu.


Mendengar suara yang di rindukannya, Meisha melepaskan pelukannya. Ia berlari kecil dan menghambur ke pelukan sang kakak.


"Kak Mike." Tangis Meisha kembali memecah. Ia mendekap erat pinggang Mikel.


Mikel mengernyit, ia bingung apa yang terjadi dengan adiknya. Namun tetap membalas pelukan Meisha dan memberikan usapan di kepala adiknya itu. Tatapannya meminta penjelasan kepada Nathan yang dijawab oleh Nathan melalui kedua bahu yang diangkat.


"Ada apa, hm?" Pada akhirnya Mikel menanyakan langsung kepada Meisha.


"Aku takut, ada orang yang ingin menusuk Kak Mike."


Mendengar penuturan Meisha, pergerakan tangan yang mengusap rambut adiknya itu terhenti seketika. Ternyata Meisha masih mengalami delusi.


"Kak Mike tidak apa-apa. Lihatlah, Kak Mike berada disini dan sedang di peluk olehmu." Mikel berusaha menenangkan adik tercintanya, namun tangis Meisha belum mereda. Mikel mencoba berbicara dengan Nathan melalui isyarat matanya dan asistennya itu hanya menggelengkan kepalanya. Sehingga membuat Mikel mendengkus kesal kepada Nathan, biasanya asistennya itu selalu sukses menenangkan Meisha.


"Berhenti menangis Mei, Kak Mike memiliki kejutan untukmu." Mikel mencoba melepaskan kedua lilitan tangan Meisha di pinggangnya.


Meisha belum ingin melepaskan pelukannya, ia terlalu takut jika seseorang benar-benar menusuk kakaknya dengan pisau.


"Kau pasti akan menyukai kejutan dariku."


"Tidak mau. Aku ingin memeluk Kak Mike saja." Alih-alih melepaskan, Meisha justru semakin erat memeluk.


"Kau akan menyesal jika tidak melihat kejutan dariku, Mei." Mikel menjadi gemas sendiri dengan adiknya itu.


"Pintar." Mikel mengelus rambut Meisha dengan sayang. Tangannya merangkul pundak sang adik dan menuntunnya menuju lantai bawah, dimana mereka telah menanti Meisha.


Nathan mengekori di belakang. Ia sudah tahu kejutan apa yang tengah menunggu Meisha di lantai bawah. Dan ketiganya sudah berada di ruang tamu, Meisha menyapukan pandangannya ke sekitar, namun tidak ada apapun.


"Dimana kejutannya Kak?" tanya Meisha menatap sang kakak.


"Disana, lihatlah." Mikel menunjuk ke arah pintu dan seperkian detik kemudian menampakkan sepasang suami istri paruh baya yang begitu tidak asing. Meisha mempertajam penglihatannya, sosok wanita paruh baya dengan balutan dress hingga mata kaki duduk di kursi roda. Sementara sang pria paruh baya mendorong kursi roda dengan tatapan yang tidak beralih pada sosok Meisha.


"Tidak mungkin." Meisha memekik tidak percaya. Ia kembali mendekati Mikel. "Kak Mike mereka siapa? Kenapa wajah mereka mirip sekali dengan Mommy dan Daddy?" Meisha mengguncang lengan Mikel yang belum memberikan jawaban.


"Mei sayang."


Kepala Meisha menoleh ke arah sumber suara yang mengalun lembut. Suara yang selama ini selalu merasuki alam bawah sadarnya.


"Tidak! Mereka siapa Kak?!" Meisha mulai gelisah, sekujur tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Apa Mei sudah tidak mengenali Mommy dan Daddy lagi sayang?" Mommy Aprille berusaha menjangkau Meisha, tangannya mengayun di udara. Namun Meisha semakin mundur, sehingga membuat Mikel gagal mengerti apa yang terjadi dengan Meisha, bahkan Nathan pun bertanya-tanya di dalam hati.


Meisha semakin melangkah mundur, kakinya sudah tidak dapat pergi kemanapun, sebab sudah berbenturan dengan sofa.


"Jangan! Jangan bawa pergi Mommy dan Daddy. Aaaaaaaakkhhh....!!" Tiba-tiba Meisha menjerit histeris, sehingga membuat Mikel terkesiap, ia segera mendekati Meisha.


"Mei...."


"Tidak! jangan mendekat. Menjauhlah dariku!" Namun Meisha mendorong Mikel dan ia meringsut di lantai, menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Mei, ini Kak Mike." Mikel berusaha menenangkan. Sementara Mommy Aprille dan Daddy Matthew menyaksikan sendiri bagaimana putrinya itu menjadi histeris secara tiba-tiba.


Hati keduanya begitu pilu. Meskipun keadaan Meisha sudah mereka ketahui ketika Mikel memberitahu saat di pesawat, mereka tetap tidak sanggup melihat Meisha menderita seperti itu selama ini.


Daddy Matthew memperhatikan Mikel yang tengah berusaha menenangkan Meisha. Ia pun melangkah mendekati putrinya dan meminta agar Mikel membiarkan dirinya yang menenangkan Meisha melalui gerakan tangannya.


Mikel mengangguk, ia beranjak berdiri dan menyingkir dari sana. Daddy Matthew menumpu kedua lututnya di lantai, ia memeluk putri tercintanya yang sangat ia rindukan. Kedua tangannya mendekap tubuh Meisha dan membawa ke dalam pelukannya.


Meisha semakin terisak di dalam dekapan Daddy Matthew. "Aku merindukan Daddy. Aku juga merindukan Mommy. Kenapa mereka pergi meninggalkanku....?" Bibirnya bergetar di sela isakan tangis. Ia meracau dan tidak menyadari siapa yang tengah memeluknya.


"Dad juga merindukan Mei. Ini Daddy sayang, kami pulang." Daddy Matthew hanya dapat berbicara dalam hati. Ia sungguh meruntuki dirinya yang tidak dapat berbicara seperti dulu.


Tangis Meisha semakin mengiris pilu. Wanita itu mencengkram lengan Daddy Matthew dengan kuat, menumpahkan kerinduannya kepada sosok pria yang memeluk dirinya.


"Daddy.... huuaaaa.... Mei merindukan Daddy. Jangan pergi lagi meninggalkan Mei."


Mommy Aprille tidak mampu berkata, ia menangis sesegukan, meremmas dadanya yang teramat sesak. Ia menggerakkan roda untuk menghampiri Meisha namun tangannya yang terburu-buru menggerakkan roda membuat Mommy Aprille tergelincir dan terjatuh dari kursi roda. Mikel begitu terkejut, ia segera membantu Mommy Aprille dan menggendongnya.


"Mom, baik-baik saja?" Suara Mikel penuh kecemasan.


"Mom ingin memeluk Mei." Mommy Aprille tidak menjawab, ia hanya ingin Mikel membantunya mendekati suami dan putrinya.


Mikel mengangguk, ia segera menggendong Mommy Aprille dan mendudukkannya di lantai. Wanita paruh baya itu bergabung dan memeluk Meisha dari belakang.


"Maafkan kami sayang. Maaf, pasti selama ini kau sangat menderita. Maaf...." Mommy Aprille merasa sangat bersalah. Ia tidak berada di sisi sang putri di masa-masa tersulitnya.


Daddy Matthew mendekap dua wanita yang ia cintai sekaligus. Kesakitan mereka berdua adalah kesakitannya juga. Dan apa yang menimpa putrinya sungguh mengiris hatinya. Tanpa sadar ia mengepalkan satu tangannya.


Kau harus membayar semua ini Todd, semua yang terjadi pada keluargaku!


Meisha masih terisak, ia berada di antara kedua orang tuanya yang mendekapnya dengan erat. Hal yang selalu ia mimpikan selama ini kini menjadi nyata.


Nathan menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit Mansion. Sudut matanya tidak terasa mengeluarkan cairan bening, ia diam-diam menyeka sudut matanya. Sementara Mikel tidak dapat menutupi senyum kebahagiaannya dan Josh yang sejak tadi berada di ambang pintu menyaksikan dengan penuh haru.


To be continue


Janji ya nggak ter-Nathan Nathan 😁😁



Meisha



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...