The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bermimpi Buruk



"Kau tau, ini pertama kalinya kau mengatakan bahwa kau mencintaiku." Arthur masih mempertahankan kelembutan mimik wajahnya. Bahkan terlihat memelas ketika mendengarkan keluhan wanita di hadapannya itu.


Menyadari apa yang baru saja diucapkan, Helena menunduk dengan semburat rona malu yang menghiasi wajahnya.


"Aku..." Helena mengigit bibir bawahnya, menyadari kesalahannya yang tanpa sadar meninggikan suaranya kepada Arthur. Pria yang sudah banyak membantunya.


Arthur menatap Helena dalam, tidak terdapat amarah yang menguar seperti sebelumnya. Pria itu bergerak maju mendekati Helena yang masih menundukkan pandangannya.


Melihat sepasang kaki yang sudah berdiri di hadapannya, Helena sontak mengangkat wajah. Dilihatnya wajah Arthur yang dipenuhi bulu-bulu tipis itu, sebelum kemudian pandangan mereka bertemu.


"Dengar, aku hanya tidak suka apapun yang sudah menjadi milikku di dekati pria lain," tuturnya lembut tetapi penuh penekanan. Tangan Arthur kemudian terulur membelai rambut pirang istrinya. "Kau mengerti, hm?" imbuhnya memandang lekat iris perak milik Helena, tanpa bermaksud menakuti Helena. Baginya ia ingin memulai hubungan yang baik tanpa paksaan, meskipun pernikahan mereka diawali dengan tergesa-gesa, tetapi Arthur tidak akan menyesali keputusannya.


Helena mengangguk kecil, meskipun selama ini ia merasa tidak pernah dekat dengan pria lain, selain dirinya yang mendekati Mikel atau pun pria-pria diluar sana yang bersiaga mendekat dan mencari perhatian padanya. Tetapi sudahlah, ia tidak ingin memperpanjang masalah, baginya ia hanya perlu menenangkan pria yang sudah menjadi suaminya.


"Jadi kau tidak marah lagi padaku?" tanyanya memastikan. Sungguh, jika Arthur mendiamkan dirinya, ia merasa sangat kesepian, sebab tidak ada seseorang yang dapat menimpalinya saat berbicara.


"Aku tidak marah!" Sekali lagi Arthur menegaskan jika dirinya tidak marah. Hanya saja... merasa hatinya memanas jika mengingat hubungan Helena dengan Mikel. Dan dirinya berusaha untuk meredam amarah di dalam tubuhnya agar tidak meledak.


"Jika kau tidak marah, kenapa sejak kemarin kau mendiamiku? Kau tau aku tidak memiliki siapa pun kecuali dirimu, aku..."


Arthur merengkuh tengkuk leher Helena disaat wanita itu belum menyelesaikan kalimatnya. Mata Helena dibuat membola penuh ketika Arthur membenamkan ciuman di bibirnya. Tetapi wanita itu tidak bisa menolak dan justru membuka mulutnya ketika Arthur menuntut balasan dan berusaha menekan ciumannya lebih dalam lagi. Arthur menikmati bibir kenyal milik Helena yang terasa manis hingga semakin lama gelenyar panas terkumpul menyatu dalam tubuhnya. Sebagai seorang pria tentu saja dikatakan normal jika dirinya menginginkan lebih dari sebuah ciuman saja. Terlebih ia menyalurkan gairahnya hanya kepada wanita yang sudah berstatus sebagai istri.


Helena sadar benar jika dirinya kini adalah seorang istri. Sudah sepantasnya melayani Arthur dan membiarkan pria itu melakukan apapun pada tubuhnya. Helena pasrah, ia mencengkram kuat dada Arthur yang terdengar berdetak lebih cepat seperti dirinya.


Keduanya saling menyesap dan melummat, hingga ciuman panas mereka terpaksa harus dihentikan lantaran terdengar suara ketukan pintu disusul suara beberapa anak buah yang memanggil nama Arthur.


"Shiitt!" Arthur melepaskan tautan bibirnya, ia mengeram kesal. "Tunggulah disini, aku akan menemui mereka," katanya menyeka sudut bibir Helena yang basah, terdapat jejak saliva yang tertinggal disana.


Helena mengangguk dengan mata sayu, kekecewaan nampak kentara di iris perak kebiruan wanita itu. Padahal baru saja mereka menikmati rasa panas yang menjalar dan membutuhkan sentuhan kulit. Helena hanya bisa menatap punggung kekar Arthur yang perlahan lenyap dari pandangan mata.


Arthur menampakkan wajah lebih garang dari sebelumnya. Kegiatannya harus terhenti karena tiga anak buah di hadapannya itu.


"Sudah kukatakan jangan pernah menampakkan diri kalian jika aku berada disini!" Arthur sesaat memandangi ketiga anak buahnya dengan tatapan dingin.


"Maafkan kami sudah mengganggu. Kami hanya ingin menyampaikan jika kami berhasil menangkap dua penyusup yang berada di wilayah pulau."


"Penyusup?" Arthur melayangkan tatapan menuntut penjelasan dengan apa yang diucapkan oleh satu anak buah.


"Benar Bos Ar. Penyusup yang menyamar menjadi pedagang," timpal anak buah yang lainnya.


"Cih...." Arthur berdecih. Cara seperti itu sudah kuno menurutnya. "Apa mereka bagian dari kelompok yang sudah menyerang Claude Huriez Lille Hospital?"


"Seperti kecurigaan kami bos. Tetapi mereka tidak mengakuinya, meksipun kami sudah menghajarnya berulang kali."


"Aku akan melihat mereka dan memastikan mereka mengakuinya!" Arthur yang geram melintasi celah ketiga anak buah yang berdiri berjajar, melangkah panjang menuju ruangan yang tersedia untuk para anak buah.


Derap langkah kaki penuh tekanan memenuhi sebuah ruangan minim pencahayaan. Beberapa yang berjaga disana menunduk hormat kepada Arthur dan beberapa lainnya memberikan jalan untuk bos mereka.


Terdengar suara kegaduhan di ruangan tersebut, satu anak buah tengah memberikan hadiah pukulan bertubi-tubi kepada dua penyusup itu secara bergantian.


Menyadari kedatangan Arthur, anak buah yang memukuli kedua penyusup itu segera menyingkir. Sehingga Arthur bisa bergerak maju untuk melihat kedua penyusup tersebut.


"Siapa bos kalian?!" Bugh. Arthur berteriak disusul dengan tendangan yang mengenai perut salah satu dari mereka.


Pria tersebut terbatuk-batuk dan menyemburkan darah segar dari mulutnya akibat tendangan Arthur yang begitu kuat.


"Meskipun kami harus mati, kami tidak akan memberitahumu!" Dengan sisa tenaga pria itu masih saja bertingkah begitu angkuh dengan tetap ingin bungkam.


Arthur tersenyum kecut menanggapi, sebelum kemudian senyumnya berubah menyeringai. "Baiklah, jika itu memang keinginan kalian!" Menjentikkan jari dan satu anak buah mendekat, lalu memberikan sebilah pisau kepada Arthur.


Telapak tangan Arthur sudah menggenggam pisau tersebut. "Lihatlah seberapa tajam pisau ini jika mengenai kulit kalian!"


Benar. Keduanya bisa melihat benda mengkilat yang runcing itu. Jika mengenai tubuh mereka detik itu juga, maka rasa sakit dihantam pisau itu akan berkali-kali lipat.


"Aku... aku tidak takut." Namun salah satu dari mereka masih bersikap angkuh. Tidak pedulikan jika tubuh serta wajahnya sudah dipenuhi luka lebam dan darah. Berbeda dengan temannya yang hanya bisa tertunduk takut tanpa berani menantang.


"ARRGHHH!!" Pisau tersebut akhirnya tertancap di lengan pria itu. Sungguh rasa sakit yang luar biasa ketika Arthur menggeret pisau itu hingga turun kebawah dan terpampang nyata kulit pria itu yang mulai terbelah. Lengkingan suara teriakan memenuhi ruangan tersebut.


Arthur sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Bahkan apa yang dilakukan oleh Arthur hanya bisa disaksikan oleh beberapa anak buah yang berusaha menelan saliva mereka masing-masing.


"Aku... ARRGHHHH...."


Arthur mengabaikan pria yang meringsut kesakitan dengan pisau yang masih tertancap di lengannya. Kakinya melangkah mendekati penyusup lain yang hanya tertunduk takut.


"Kau... apa kau ingin seperti temanmu?" tanyanya Arthur menepuk-nepuk wajah pria itu agar pandangnya menemui dirinya.


"Aku tidak bersalah. Aku tidak tau apapun. Aku hanya dibayar olehnya untuk menjalankan tugas." Namun perkataan itu yang diucapkan ketika matanya bersitatap dengan Arthur. Ekor matanya melirik ke arah temannya, bermaksud ingin memberitahu jika ia dibayar oleh temannya itu.


"Benarkah? Kau pikir aku akan percaya?!" Tepukan yang diberikan oleh Arthur di wajah pria itu semakin keras, menimbulkan ruam kemerahan disana. Pria itu semakin ketakutan, terlebih melihat sorot mata Arthur yang seolah merah menyala.


"Sejak tadi aku sedang menahan amarahku. Kalian bernasib sial sekali!" ujar Arthur. Leher pria itu kian tertekuk kesamping hingga mengenai bahu kanannya ketika Arthur menepuk wajah pria itu semakin keras.


"Tolong ampuni kami." Dan hanya bisa memohon ampunan dengan suara bergetar lirih.


Arthur menyunggingkan senyum. "Aku penuh perhitungan jika ingin mengampuni seseorang. Karena itu kau harus menjawab satu pertanyaanku."


"Aku akan menjawabnya. Tolong ampuni kami..."


"Ck...." Arthur melangkah mundur dengan tatapan yang tidak menyurut. "Katakan siapa yang menyuruh kalian?! SIAPA BOS KALIAN?!" Kali ini suara Arthur menggelegar, membuat suasana kian mencekam.


"Aku tidak tau apapun. Sungguh." Pria itu masih membantah di sela-sela ketakutannya.


"Bajingan! Masih tidak ingin mengakui!" Arthur menyugar rambutnya kasar. Ia mengayunkan tangannya kepada anak buah di sana. Dengan cekatan salah satu dari mereka memberikan sebilah pisau yang lain, tentu ujungnya sama runcing dengan pisau sebelumnya.


Arthur mengambil pisau tersebut, kali ini ia hanya bermain-main dengan menggunakan pisau. Jika menggunakan senjata api, suaranya tidak teredam dan Helena mungkin saja bisa mendengarnya. Arthur hanya tidak ingin membuat istrinya itu ketakutan.


"Sepertinya batas kesabaranku hanya sampai disini!"


Jleb


"ARGGGHH!!" Pisau itu menancap di perut pria itu. Arthur menekan pisau tersebut, hingga darahnya berlumuran di tangan dan merambat ke lengannya.


Setelah puas melihat wajah mereka yang menderita, Arthur berlalu pergi dari sana dengan masih menyisakan darah di telapak tangannya, menetes ke lantai mengikuti arah langkahnya.


"Itulah akibatnya jika berani menyusup ke pulau ini." Beberapa dari mereka mencibir kedua penyusup itu. Mereka mentertawakan kebodohan kedua penyusup karena telah berani mengusik bos mereka yang tenang.


***


Helena terlihat terlelap di atas ranjang. Menunggu Arthur hingga dua jam lamanya membuat wanita itu akhirnya lebih memilih mengistirahatkan mata serta pikiran, menyelam ke alam mimpi. Namun keningnya mengerut secara tiba-tiba, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Keringat tipis sudah memenuhi pelipis dan keningnya. Wanita itu ternyata menyelam alam mimpi yang mengerikan, sehingga berulang kali bibirnya menggumamkan sesuatu.


"Tidak... jangan... kalian jahat. Jangan menyentuh Mommy..."


Langkah Arthur yang baru saja memasuki kamar dengan penampilan yang sudah lebih segar dan tidak tercium aroma darah, mencoba menelinga gumaman seseorang yang ia yakini jika itu suara Helena. Pandangnya kemudian tersita pada sosok istrinya yang terlelap namun seperti diserang mimpi buruk. Arthur segera berlari menuju ranjang.


"Hei, tenanglah." Arthur menyambar tangan Helena dan menggenggamnya dengan erat. Namun nampaknya masih saja tidak membuat Helena menjadi lebih tenang dan justru semakin meracau tidak jelas. "Ini aku, jangan takut." Arthur mengusap pelan wajah Helena, menyalurkan ketenangan melalu suapan telapak tangan serta suaranya.


Perlahan kelopak mata Helena terpisah ketika mendengar suara Arthur, ia beranjak duduk dan menerjang tubuh Arthur. Mendekap erat suaminya dengan tubuh yang gemetar.


"Aku takut...." lirihnya mengadu. Suaranya turut bergetar, menandakan seberapa menyeramkan mimpinya tersebut.


"Tidak apa-apa. Kau hanya bermimpi buruk." Arthur mengusap punggung Helena, bahkan melabuhkan kecupan di puncak kepala istrinya itu.


"Tapi aku bermimpi seperti itu lagi. Aku takut." Helena sudah mengisak di dada bidang Arthur.


"Sshhtt, sudah ada aku disini. Kau tidak perlu takut lagi." Arthur menyembunyikan kemarahan melalui wajahnya yang tak terlihat oleh Helena. Dalam hati ia bersumpah akan membuat mereka yang sudah membuat Helena menjadi seperti ini akan mendapatkan balasan yang lebih mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari kematian.


To be continue


Mohon maaf Yoona baru sempat up 🙏


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...