
Arthur menyeringai senyum. "Tidak semudah itu menyingkirkan Killer!" ujarnya. Sebelum kemudian menyeka noda darah di wajahnya lalu menjilatnya tanpa menyurutkan tatapan tajam kepada Vasco.
Vasco semakin dibuat bergidik, terlebih ia tidak menahan senjata yang kini sudah berpindah tangan. "Aku harus segera pergi...." batinnya.
Tentu Vasco tidak ingin mengambil resiko menghadapi Arthur seorang diri. Setelah berhadapan langsung, ia kini mengetahui jika Arthur bukan lawan yang mudah disingkirkan seperti musuh-musuh sebelumnya.
Ekor mata Arthur hanya mengikuti pergerakan Vasco yang ingin melarikan diri dari sana. Ia membiarkan darahnya mengucur, lalu mendekati Vasco yang baru saja ingin mencapai pintu.
BRAK
Arthur menarik dan membanting tubuh Vasco, membuat pria bertato itu memekik kesakitan. Bahunya yang tegap itu terbanting cukup kuat sehingga merasakan tulang belulangnya remuk seketika.
"Aarrgh siaall!!" pekiknya mendesis.
Arthur menyeringai saat melihat Vasco sudah menjerit kesakitan seperti itu, padahal ia baru akan memulai permainan. "Aku berterima kasih padamu, karena kau sudah membangkitkanku. Ar benar-benar keparat tidak membiarkanku lebih lama menguasainya." Killer yang saat ini tengah menguasai tubuh Arthur tersenyum kecut, selama ini Arthur telah berhasil menekan emosinya sehingga ia sulit sekali menguasai tubuhnya.
"Apa maksudmu hah?!" Sungguh Vasco tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Arthur, ia mencoba bangkit berdiri memegangi bahunya yang sedikit memar.
Arthur terkekeh. "Pria bodoh sepertimu mana mungkin mengerti. Yang ada di dalam otakmu hanya selangkangann wanita saja!"
Vasco tentu meradang mendengarnya, meski benar yang diucapkan oleh pria di hadapannya itu, tetapi ia tetap tidak terima. "Kurang ajar!!" Vasco melayangkan tinjunya tepat di wajah Arthur, namun Arthur berhasil menghindari.
Arthur mendecakan lidah berulang kali. "Tubuhmu sangat payah, kau lebih cocok menjadi binaragawan dibandingkan menjadi ketua Kartel Sinaloa." Dan Arthur memindai penampilan Vasco yang memiliki tubuh berotot tetapi memiliki otak udang.
Kembali tidak terima, Vasco melayangkan tinjunya yang disambut baik oleh Arthur. Kali ini Arthur tidak menghindar, melainkan menangkap kepalan tinju Vasco dengan telapak tangan kanannya yang tidak terluka.
"Kau akan menyesal karena sudah berani mengusik ketenanganku!" ujarnya. Detik itu juga Arthur memelintir tangan Vasco dengan kuat. Lagi-lagi Vasco memekik dan berusaha menarik tangannya.
BUGH
Arthur menendang perut Vasco hingga ketua dari Kartel Sinaloa itu menghantam kursi. Tendangan yang cukup kuat, membuat darah menyembur keluar dari mulut Vasco dan bahkan kursi kayu tersebut nampak terbelah menjadi dua.
Arthur mengambil potongan kayu tersebut, ia mendekati Vasco yang muntah darah. Vasco menyadari Arthur yang kian mendekati dirinya, hingga kemudian Arthur hendak menancapkan potongan kayu runcing itu tepat pada kepala Vasco.
BRAK
Namun serangannya gagal. Dengan sisa tenaganya, Vasco berhasil melesat menghindar dari serangan Arthur. Melihat hal itu, tentu saja Arthur menjadi murka. Di tendangnya kursi yang terbelah itu hingga menghantam dinding.
"Hari ini kau akan mati di tanganku!" Arthur membuang potongan kayu yang di genggamnya, lalu melangkah panjang menghampiri Vasco.
Tangannya kini sudah mencengkram leher Vasco yang sudah kehabisan tenaga untuk menghindar. Semakin kuat mencengkram saat melihat wajah Vasco memerah, bibirnya terus tersenyum mengerikan.
Dor
Peluru melesat mengenai lengan Arthur yang mencengkram leher Vasco hingga cengkramannya itu terlepas. Arthur menolehkan kepala, nampak beberapa anak buah Kartel Sinaloa sudah berdiri menodongkan peluru padanya dan salah satunya sudah berhasil mengenai lengannya.
Urat-urat merah di dalam matanya samar-samar terlihat. Ia menjadi murka karena beberapa anak buah Kartel Sinaloa menggagalkan aksinya membunuh Vasco.
"Keparat!" Kedua tangan Arthur terkepal, ia hendak melangkah maju, namun mereka segera memuntahkan peluru bersama-sama. Arthur lihai mundur, ia kemudian menarik Vasco untuk menjadi tameng tubuhnya. Benar saja beberapa peluru itu menembus punggung Vasco.
Tubuh Vasco menggelinjang begitu mendapatkan serangan peluru bertubi-tubi dan membuat beberapa anak buah Kartel Sinaloa terkejut tidak percaya, karena peluru dari senjata mereka menembus tubuh bos mereka. Dengan kata lain, mereka telah melukai ketua mereka sendiri.
Entah Vasco masih hidup atau tidak, Arthur tidak peduli. Ia mendorong Vasco jatuh ke lantai dengan luka tembakan di sekujur punggungnya. Rahang Arthur kembali mengeras, ia melompat maju dan menangkap satu anak buah Kartel Sinaloa untuk merebut senjatanya. Keduanya saling merebut senjata dan Arthur yang berhasil mengambil alih senjata itu.
Dor
Peluru itu tepat mengenai perut anak buah Vasco dan seketika itu tumbang. Arthur menyeringai puas, wajahnya nampak merah padam menahan rasa sakit pada tubuhnya yang terkena luka tembakan dua sekaligus.
"Kalian semua akan mati hari ini!" ujarnya sembari menodongkan senjata.
Dor
Dor
Dor
Dor
Ternyata di bawah sana masih terdapat anak buah Vasco, Arthur mendengar dengan jelas suara telapak kaki yang semakin mendekat. Dalam keadaan tubuhnya yang sudah terkena peluru, ia tidak mungkin menghadapi mereka semua. Arthur mencari celah untuk keluar dari sana. Sorot matanya tertuju pada jendela dan tanpa membuang waktu, Arthur menendang jendela kaca tersebut hingga hancur lebur, sebelum kemudian ia melompat dari lantai tiga. Tubuhnya berguling ke tanah, ia berusaha menahan rasa nyeri.
"AARRGHHH SIAL!!" Arthur meninju tanah yang ia pijak. Kemarahan nampak menguar jelas, ia tidak akan membiarkan ada anak buah Kartel Sinaloa yang masih tersisa.
Senyumnya melengkung tipis, ia tahu jika di dalam pakaiannya terdapat granat rakitan. Arthur segera mengambilnya dan menarik tuas berbentuk cincin itu dengan mulutnya, sebelum kemudian melemparkan granat tersebut ke bangunan berlantai tiga itu.
Letupan granatnya tidak terlalu besar tetapi setidaknya mampu meledakkan markas Kartel Sinaloa beserta isi-isinya.
Arthur terkekeh-kekeh. Ia sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan kepada Alan Born. Ia segera melangkah pergi dari sana, namun perlahan kepalanya berkunang-kunang, bahkan pandangannya merabun. Dengan sisa tenaganya Arthur segera berlari menjauh dari markas Kartel Sinaloa. Pandangannya mengedar sejenak, tidak ada siapapun, bahkan para anak buah anggota Black Lion benar-benar mematuhi perintah Arthur untuk segera pergi meninggalkannya.
Tepat di ujung jalan, Arthur berhenti berlari. Ia samar-samar melihat sebuah mobil yang mendekat dan mengira jika mobil itu kemungkinan adalah para anak buah Kartel Sinaloa, sehingga ia kembali berlari. Namun mobil itu semakin mendekati langkahnya dan melewati dirinya.
Beberapa pria turun dari mobil, wajah mereka benar-benar tidak asing menurut Arthur, sehingga membuat Arthur berusaha menghindari mereka.
"Ar, berhenti!" Seorang pria setengah baya berteriak memanggilnya.
Nampaknya Arthur tidak mengindahkan panggilan tersebut dan terus berlari.
"Berhenti kataku!" Dan suara itu kembali menggelegar dengan penuh perintah.
Grep
Seseorang berhasil menjangkau tubuh Arthur dan pria itu adalah Darren. Sementara Austin berusaha menahan kedua bahu kakaknya yang hendak melarikan diri.
"Lepas bodoh!" Arthur berusaha memberontak. Namun Darren dan Austin tidak membiarkannya.
"Son, aku sudah menyuruhmu untuk berhenti tapi sepertinya kau memang benar-benar keras kepala!" Ya, ternyata yang sedari tadi berusaha menyuruh Arthur agar berhenti berlari adalah Xavier. Ia sudah menduga jika Arthur sudah dikuasi oleh sisi lainnya.
"Lepaskan aku pria tua! Aku bukan putramu!" seru Arthur masih berusaha meloloskan diri dari cekalan tangan Austin dan Darren.
"Jika saja kau bicara seperti itu dalam keadaan sadar, aku pasti sudah mencincang tubuhmu!" Xavier kesal lantaran Arthur mengatainya pria tua, padahal jelas ia masih sangatlah muda dan tampan tentunya.
"Dad, kita segera bawa Kak Ar ke rumah sakit." Austin mengingatkan Daddy-nya itu. Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Xavier hanya menjelaskan jika Arthur memiliki Alter Ego dan kini ia baru mengerti seperti apa Alter Ego yang berada di dalam tubuh kakaknya.
Darren juga baru mengetahui saat diperjalanan. Ketika ia berada di perbatasan, ia dikejutkan dengan kedatangan Xavier. Tanpa menjawab pertanyaannya, Xavier meminta Austin dan Darren untuk ikut bersama dengannya. Sementara menyuruh yang lainnya untuk membawa Veronica ke rumah sakit di London. Dan di dalam perjalanan itulah Xavier menjelaskan sisi lain Arthur. Reaksi mereka tentu saja terkejut. Terutama Darren, bekerja dengan Arthur selama ini, ia tidak menyadari jika terdapat sosok yang lain dengan diri temannya itu.
"Kalian pegang yang kuat," ucap Xavier yang langsung di angguki oleh Darren dan Austin.
Dengan segera Xavier mendekati putranya itu, lalu menyuntikkan sesuatu ke leher Arthur.
"Sialan! Apa yang kalian lakukan padaku?!" Arthur kembali memberontak, sebelum kemudian kesadarannya melemah dan tidak sadarkan diri.
Austin dan Darren segera memapah tubuh Arthur masuk ke dalam mobil diikuti oleh Xavier. Ketiganya berlalu dari sana dengan Darren yang kini bergantian mengemudikan mobil.
To be continue
Babang Arthur (Killer)
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...