
Elie hanya bisa meruntuki dirinya yang tidak bisa menolak. Sejujurnya ia juga menginginkan ciuman itu dan sepertinya ia sudah kecanduan dengan bibir Mikel. Merasakan Elie yang membalas pangutan bibirnya dengan liar, Mikel tersenyum dalam hati. Ia memasukan lidahnya lebih dalam lagi ke dalam rongga mulut Elie, tidak dipungkiri jika bibir Elie manjadi candu untuk dirinya.
Usai menyesap bibir wanitanya dengan liar, bibir Mikel turun ke rahang dan kini berhenti di leher wanitanya itu. Menyesap dalam dan menghisapnya bagaikan vampir yang kehausan darah.
"M-Mike..." Jujur saja Elie merasakan desiran tubuhnya yang semakin panas ketika bibir Mikel menyapu dan memberikan tanda di lehernya. Wajahnya semakin bersemu merah ketika Mikel menjauhkan bibirnya dari leher Elie. Pria itu menyeka sisa-sisa saliva mereka dan menatap lekat wajah wanitanya yang memerah itu.
"Kau milikku Sweetheart. Sampai kapan pun kau hanya milikku." Suara Mikel sengaja ditekankan. Menanamkan pada diri Elie jika tubuh serta hati wanitanya itu hanya untuknya.
Elie yang masih terbuai hanya mengangguk pelan. Tentu ia tidak akan menyerahkan dirinya kepada pria lain, sebab ia sudah menemukan cintanya yang sudah lama menghilang dan ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kembali.
Melihat reaksi Elie yang menggemaskan, Mikel terkekeh-kekeh. "Kau harus mandi. Setelah itu aku akan mengantarmu. Saat ini Ar sangat marah begitu tau kau menghilang." Sebelumnya Mikel memerintahkan satu anak buah untuk memantau Markas Black Lion. Dari laporannya itu ia melihat Arthur yang turun dari mobil dalam keadaan wajah yang merah diliputi oleh amarah.
Astaga, Elie bahkan melupakan kakaknya itu. Ia terlalu menikmati kebersamaannya dengan Mikel.
"Mike, bagaimana ini. Jika Kak Ar tau kau yang membawaku pergi. Dia pasti tidak akan tinggal diam." Wajah Elie mendadak panik. Ia sangat mengenal sikap kakaknya itu yang tidak akan mudah memaafkan siapapun yang telah berani mengusiknya.
"Tenanglah Sweetheart. Cepat atau lambat Ar akan mengetahui jika diriku bagian dari Loz Zetas."
"Tapi kalian pasti akan berkelahi atau bisa saja saling membunuh." Elie tidak menginginkan hal itu terjadi. Keduanya sangat berarti baginya.
"Tidak akan ada pembunuhan. Aku berjanji tidak akan melukai Ar." Sorot mata Mikel berusaha menyakinkan Elie. Ia memang tidak berniat melenyapkan calon anggota keluarganya itu. Urusan Loz Zetas dengan Black Lion, Mikel tidak peduli.
"Dan kau juga tidak boleh terluka." Elie menambahkan kalimat Mikel.
"Baiklah." Mikel segera merangkul Elie, tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi.
Beberapa menit kemudian Mikel sudah berganti pakaian lebih dulu dengan pakaian serba hitam lengkap dengan jaket kulit. Sembari menunggu Elie yang masih berada di dalam penthouse, Mikel mendudukkan dirinya di pelataran penthouse. Telinganya samar-samar mendengar langkah yang mendekat.
Senyum Mikel kemudian tersemat. Pemandangan di hadapannya sungguh sangat indah, Elie mengenakan pakaian yang senada dengannya. Inilah yang ia harapkan sejak dulu, pakaian yang sama seperti miliknya sudah ia siapkan sejak lama. Berharap mereka bisa mengenakan pakaian senada itu. Dan baru ini bisa terealisasikan memberikan pakaian itu kepada Elie.
"Mike, apa aku terlihat aneh?" Elie mengusap rambut blonde panjangnya yang memenuhi punggung itu. Ia kemudian meneliti penampilannya. Entah kenapa ditatap seperti itu oleh Mikel, ia menjadi tidak percaya diri.
"Tidak, kau sangat cantik Sweetheart." Mikel berjalan mendekat. "Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu," tambahnya. Dan tiba-tiba saja bibir Mikel sudah mendarat di bibir Elie. Tidak hanya mengecup, Mikel sedikit menyesapnya. Perlakuan Mikel lagi-lagi membuat Elie tersipu malu.
"Gunakan ini." Mikel kemudian memberikan helm kepada Elie. Tidak meraihnya dan justru wanita itu tercengang untuk beberapa saat.
"Kenapa aku harus memakai helm?"
"Karena aku akan mengantarmu menggunakan motor," sahut Mikel yang sudah menaiki motor harley miliknya.
Elie sedikit tertegun, sebab selama ini ia tidak pernah menaiki motor.
"Duduk di belakangku Sweetheart. Apa kau ingin duduk di depanku, hm?" Mikel menggoda Elie yang hanya diam saja tanpa berniat duduk dibelakangnya.
"Iya..." Elie segera mengenakan helm, lalu mulai duduk di atas motor. Tubuh Elie ditarik mendekat oleh Mikel.
"Jangan berjauhan Sweetheart. Kau bisa saja terjatuh." Hanya alibi saja, Mikel ingin tubuh Elie merapat pada punggungnya.
Patuh, Elie pun melingkarkan kedua tangannya di perut Mikel. Hingga kemudian Mikel melajukan motornya meninggalkan penthouse.
Perjalanan mereka nampak menyenangkan, angin yang menyapu tubuh mereka semakin merapatkan tubuh keduanya. Elie menjatuhkan wajahnya di bahu belakang Mikel dengan lingkaran tangan yang semakin diperkuat. Sorot mata Mikel yang semula tertuju ke depan, perlahan melirik kaca spion. Sudah sejak tadi ia merasakan sesuatu yang tidak beres, seperti ada seseorang yang membuntuti dirinya.
"Sweetheart, apa kau tidur hm?" Mikel mengira jika Elie terlelap, sebab sedari tadi wanita itu diam tidak bergerak. Mikel mencoba bersikap biasa, seolah hanya ada mereka saja di perjalanan yang nampak sepi itu. Tetapi pada kenyataannya ia sudah menangkap beberapa motor yang juga mengikuti dirinya dengan jarak yang cukup jauh.
"Aku tidak tidur." Mendengar suara Mikel, Elie sontak mengangkat wajahnya.
Mikel terkekeh, sejak dulu wanitanya itu selalu menggemaskan. "Lalu kenapa diam saja?"
"Aku menikmati momen seperti ini, Mike. Aku tidak pernah naik motor sebelumnya dan ini pertama kalinya naik motor bersamamu. Benar-benar menyenangkan." Tangan Elie yang melingkar di perut Mikel terlepas, wanita itu merentangkan kedua tangannya di udara.
"Kalau begitu aku akan sering membawamu naik motor. Apa kau senang Sweetheart?"
Elie sontak mengangguk semangat, ia kemudian berteriak. "Aku mencintaimu, Mike!" Masih dengan kedua tangan yang direntangkan ke udara.
Mikel tersenyum mendengarnya. "Aku juga mencintaimu, Elie!"
Keduanya menggila berteriak. Bahkan Mikel yang sudah mengetahui jika mereka diikuti nampak tidak peduli dan tidak merasa terancam sedikitpun.
"Sweetheart, jangan menoleh ke belakang." Dapat dilihat melalui kaca spion jika beberapa motor semakin melaju mendekat. Namun ia tidak ingin membuat Elie menjadi panik karena kehadiran beberapa motor yang tidak di undang itu.
"Kenapa?" Elie tentu saja mengernyit bingung. Kedua tangannya kembali melingkar di perut Mikel.
Dor!
Belum sempat Mikel menjawab, keduanya dikejutkan dengan letupan senjata yang menggema di udara. Peluru yang dimuntahkan itu gagal mendarat di tubuh mereka.
"Mike...." Betapa terkejutnya Elie ketika menoleh, ia mendapati beberapa motor nyaris mengepung mereka.
Dor
Dor
Mikel berhasil menghindari dua peluru yang sengaja dihantamkan ke tubuh Elie.
"Apa??" Elie berusaha menelaah perkataan Mikel yang tidak masuk akal. Ia harus pindah posisi ke depan disaat motornya masih melaju dengan kecepatan tinggi. Namun sepertinya Elie tidak memiliki pilihan lain, ia berdiri untuk pindah posisi.
Mikel menarik Elie ke depan sebelum peluru itu berhasil menghantam wanitanya. Kini posisi Elie berada di depan dengan posisi mereka yang saling berhadapan.
"Aku akan melindungimu Sweetheart." Cup. Masih sempat-sempatnya Mikel mencuri kecupan di bibir Elie disaat ia tengah menghindari serangan.
Elie mengangguk. "Aku percaya padamu Mike." Kemudian tangannya memeluk Mikel, tidak sengaja sesuatu yang keras berhasil teraba olehnya. Ia baru menyadari jika Mikel membawa senjata di tubuhnya, hingga kemudian Elie mengambil senjata Mikel yang tersembunyi di balik pakaiannya dan mengarahkan senjata itu ke beberapa pemotor yang mengikuti mereka.
Dor
Dor
Dua peluru dimuntahkan dan berhasil mengenai dua pemotor itu.
Mikel terkejut seketika, pandangannya mencoba menemui Elie. "Sweetheart, apa yang kau lakukan?" Antara terkejut dan bangga tentunya, Mikel tidak habis pikir jika wanitanya itu memiliki ide untuk membalas serangan ketika ia mencoba menghindar.
"Tentu saja aku menembaki mereka." Elie terkekeh kecil.
"Kau ini..." Mikel gemas, ia mengusap rambut Elie dengan lembut. "Sekarang lakukan lagi, tembak mereka Sweetheart. Jangan biarkan peluru mereka mengenaimu." Mikel tidak melarang dan justru meminta Elie melanjutkan aksinya.
Tentu Elie mengangguk antusias, sudah lama sekali tidak mengunakan kemampuan menembaknya. Baku tembak itu tidak bisa terhindari, hingga entah datang dari mana, bantuan datang menembaki pemotor-pemotor itu.
"Jangan khawatir. Mereka orang-orangku." Perkataan Mikel melegakan napas Elie. Namun sepertinya tidak akan mudah, sebab musuh turut menambah, ada beberapa mobil membantu menyerang mereka.
Tidak memiliki pilihan lain, Mikel menambah kecepatan penuh dan berbelok ke arah lain. Ia harus lebih dulu mengembalikan Elie kepada Arthur yang kini berada dalam perjalanan menuju markas Loz Zetas.
Mikel berhasil meloloskan diri, posisinya kini sudah berada jauh dari para penyerang-penyerang itu. Hingga ia kembali ke jalur semula dan di ujung sana terlihat sangat jelas iring-iringan mobil Black Lion.
"Sweetheart, aku hanya bisa mengantarmu sampai disini saja." Mikel kemudian menepikan motornya.
Elie mengangguk, lalu segera turun dari motor. "Ini senjatamu." Dan mengembalikan sengaja Mikel dari genggamannya. Mikel meraihnya dan terkekeh, sepertinya senjatanya itu akan menjadi sejarah, sebab berkat bantuan Elie, ia bisa menghindari serangan dengan mudah.
"Berhati-hatilah Mike." Terdapat kecemasan pada sorot mata Elie. Wanita itu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan kekasihnya.
"Hm, aku pergi dulu Sweetheart." Namun sebelum pergi, lagi-lagi Mikel merengkuh pinggul Elie dan menyambar bibir wanitanya itu. "Aku sudah mengisi tenagaku, jadi aku akan baik-baik saja." Sebelum Elie memprotes tindakannya, Mikel menyela lebih dulu. Elie hanya bisa menggelengkan kepala, melihat Mikel yang sudah melaju dan lenyap di kejauhan.
Mobil Black Lion mendadak berhenti ketika melihat wanita tidak asing berdiri di tepi jalan. Sontak mobil mereka berhenti serempak. Arthur memastikan pandangannya, ia tidak salah melihat jika itu benar-benar sosok sang adik. Buru-buru Arthur keluar dari mobil disusul oleh Darren.
"Elie...??" Arthur berlari menghampiri adiknya itu, lalu membawanya ke dalam dekapannya. "Kau baik-baik saja, hm?"
"Aku baik-baik saja kak," sahutnya tersenyum ketika mengurai pelukan mereka.
Banyak pertanyaan dalam benak Arthur untuk dilayangkan kepada adiknya itu dan akan bertanya ketika sudah tiba di Mansion. Serupa dengan Arthur yang menghembuskan napas penuh kelegaan, Darren pun nampak menghembuskan napas lega di udara, tetapi ia tidak bisa memeluk wanita itu seperti yang dilakukan oleh Arthur dan hanya mampu menatapnya saja.
***
"Baiklah, kita akhiri sampai disini." Mikel terlihat sudah berada di sebuah mobil kap terbuka. Motor kesayangan miliknya dibawa oleh satu anak buahnya, ia tidak ingin motor kesayangannya menjadi hancur lebur, sebab motor itu peninggalan Daddy Matthew.
Kemudian Mikel mengarahkan tangannya yang tengah menggenggam senjata itu kepada beberapa mobil dan motor yang saling berjajar menyerangnya.
Dor
Boom
Dan hantaman satu peluru berhasil meledakkan satu mobil di belakangnya dan ledakannya itu menyambar pemotor-pemotor yang lain. Tidak berhenti begitu saja, Mikel kembali memuntahkan senjatanya, hingga sudah dua mobil yang berhasil dilumpuhkan.
Merasa puas dan tidak ada lagi yang mengejar mereka. Mikel meminta anak buahnya untuk segera pergi dari sana dengan kecepatan penuh.
Ciittt
Namun mobilnya berhenti mendadak ketika beberapa mobil sudah mengepungnya, seolah rencananya ini sudah terbaca oleh pria itu.
"Damn it!!!" Mikel mengumpat ketika Pablo sudah berdiri di sisi mobil, menatap nyalang dirinya.
Ternyata beberapa anak buah yang dikerahkan untuk menyerangnya dengan Elie baru pembuka saja dan inilah pertarungan yang sesungguhnya.
To be continue
Babang Mikel
Elie
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...