The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Pria Yang Selalu Tergila-Gila Padamu



Saat ini kesempatan untuk dirinya membuktikan siapa Mikel Jhonson sebenarnya. Elie mencoba menggoda Mikel dan berhasil, pria itu memagut rakus bibirnya.


Mari kita buktikan siapa kau sebenarnya.


Mikel terbuai akan ciuman mereka, sehingga tangan Elie mencoba melepaskan kancing yang masih menyatu itu. Perlahan kancing kemeja Mikel terlepas sempurna. Telapak tangannya meraba perut berotot Mikel hingga berhenti di satu titik dengan kulit yang nampak kasar seperti sebuah luka pada perut kiri bawah Mikel. Luka goresan memanjang yang tertutupi oleh sebuah tatto bintang.


Ya, ternyata aku mencintainya dari dulu sampai saat ini.


Sudah ia buktikan sendiri jika Mikel tidak lain ialah Mike-nya. Luka itu sudah cukup membuktikan jika pria yang berusaha mendekatinya selama ini tidak lain adalah pria yang bersamanya sejak kecil. Ingin rasanya Elie menumpahkan tangisnya, akan tetapi ia harus menampung air matanya, sebab ia ingin mendengar dari bibir pria itu untuk mengakui jati dirinya yang sebenarnya.


"Sweetheart, apa yang kau lakukan?" Mikel mengakhiri ciuman panas mereka, lalu menangkap pergelangan tangan Elie yang tengah meraba-raba tatto bintang yang tercetak di perut bawah miliknya. Entah sejak kapan kancing kemejanya sudah terlepas semua.


"Aku hanya mengelusnya saja, apa tidak boleh hm?" Bola mata itu nampak polos menyirat.


"Tidak, aku-"


"Kenapa hm?" Elie menarik tangannya dari genggaman telapak tangan Mikel, lalu kembali mengusap tatto itu lebih intens, telapak jarinya merasakan sebuah goresan panjang yang tertutupi oleh tatto tersebut. "Apa kau masih ingin bersembunyi dariku, Mike?"


Deg


Tubuh Mikel mendadak membeku mendengar bibir ranum sang wanitanya menyebut nama Mike, nama panggilan dirinya di masa silam.


"Kau bicara apa?" Mike sontak menutupi tatto bintang miliknya dengan merapatkan pakaiannya yang terbelah menampakkan otot-otot perutnya.


"Jangan mengelak lagi, aku sudah menyadarinya sejak beberapa hari yang lalu." Elie berusaha untuk tersenyum, menutupi kesedihan yang membuncah.


"Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan Sweetheart." Mikel memasang wajah bingung, menutupi ketegangan pada wajahnya ketika Elie menyinggung masalah dirinya yang merupakan Mike.


"Mau sampai kapan kau menyembunyikannya dariku? Dari kami semua?!" Elie tidak pedulikan kepura-puraan pria itu. Hari ini ia harus mengetahui segalanya.


"Aku benar-benar tidak mengerti, sepertinya kau sedang kelelahan, Sweetheart. Aku akan pergi agar kau bisa beristirahat." Tidak. Ia tidak ingin lebih lama berada di dekat Elie yang sudah mencurigai dirinya. Mikel buru-buru memasang kancing kemejanya kembali sembari membalikan tubuhnya, hendak pergi dari sana.


"Bukankah tatto di perutmu untuk menutupi lukamu? Tidak perlu menutupinya lagi Mike, aku sudah melihatnya dan baru saja aku menyentuh luka itu." Air mata Elie tidak dapat di bendung lagi, ia lelehkan air mata tersebut. Sungguh rasanya sangat sulit diterima oleh akal sehat, Mike-nya kini berdiri di hadapannya namun masih berusaha untuk menyangkal. Entah apa yang membuat pria itu menyembunyikan diri selama ini.


Mikel mendesahkan napasnya dengan gusar. Ia tidak menduga jika Elie sudah menyadari jika dirinya adalah Mike. "Hentikan Elie. Kau semakin melantur berbicara. Jika kau sudah tidak lelah, aku akan menemuimu lagi." Rasanya Mikel tidak sanggup melihat Elie meneteskan air matanya, ingin ia merengkuh tubuh wanitanya. Namun ia tidak boleh lemah, menurutnya belum saatnya membongkar identitasnya saat ini kepada siapapun, termasuk kepada wanita yang teramat ia cintai itu.


"Apa kau lupa Mike, saat kau terluka aku sangat merasa bersalah dan untuk menebus kesalahanku, aku merawatmu di rumah sakit dan bahkan menggantikan perban di perutmu." Elie tidak pedulikan Mikel yang hendak mengelak dan ingin berlalu pergi begitu saja. Dengan mengisak, ia berusaha menggali ingatan akan kebersamaan mereka.


Mikel bergeming, bibirnya mengatup dengan rapat. Elie sungguh pintar dan sengaja ingin merasuki dunia masa lalu manis mereka kala itu.


Maafkan aku Sweetheart.


Namun Mikel masih berpendirian pada keputusannya untuk tidak membiarkan siapapun mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Belum saatnya Elie mengetahui dirinya adalah Mike, meskipun wanitanya itu masih saja bersikeras.


"Aku pergi Sweetheart. Jaga dirimu baik-baik."


Ekor mata Elie bergulir melirik ke arah pintu, memperhatikan Mikel melangkah menjauhi dirinya dan hendak membuka pintu kamarnya itu.


Langkah Elie mengayun mendekati nakas, dimana terdapat beberapa lilin aromaterapi yang menguarkan aroma menenangkan. Elie meletakkan telapak tangannya ke atas lilin yang masih memancarkan apinya itu.


"Akkhhhh...."


Mendengar rintihan kesakitan Elie, membuat Mikel segera menolehkan kepalanya. Betapa terkejut dirinya mendapati Elie meletakkan telapak tangannya di atas lilin yang menyala.


"Sweetheart apa yang kau lakukan?!' Mikel berteriak dan hendak menghampiri.


"Tapi-"


"Cukup Mikel. Sebaiknya kau pergi dari sini. Tidak perlu pedulikan aku lagi!" bentaknya.


"Sweetheart...." Mikel mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana dan berjalan mendekati nakas. "Jangan melukai dirimu sendiri seperti itu!"


"Bukan urusanmu. Ini adalah caraku menghukum diriku sendiri karena sudah mengkhianati Mike dengan pria lain." Elie tidak mengindahkan seruan Mikel. Ia justru meletakkan satu tangannya yang lain di atas lilin yang menyala berjajar. Hingga kemudian mendesis ketika api itu semakin menyulut ke dalam kulit telapak tangannya. Air mata sudah menganak sungai merambat di wajahnya. Sungguh Elie tidak tau harus bagaimana, ia mempercayai jika Mikel adalah Mike. Akan tetapi melihat Mikel yang bersikukuh mengelak, membuatnya menjadi ragu jika mereka adalah pria yang sama.


"Akkhhh...." Elie memekik ketika cairan darah kental menetes dari salah satu telapak tangannya.


"Sweetheart!!" Mikel yang sudah sangat panik berlari mendekat dan menarik Elie, membawa ke dalam dekapannya dan membiarkan Elie menumpahkan tangisnya.


Elie tidak memberontak, ia teramat lelah untuk menolak dekapan Mikel yang membuatnya nyaman. Meraung-raung merasakan dadanya yang teramat sesak, ia bahkan tidak merasakan sakit pada kedua telapak tangannya yang terluka. Hati Mikel berdenyut nyeri, ia sungguh tidak tega menyaksikan wanitanya histeris seperti ini.


"Mikel, tolong pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Kau hanya akan mengingatkanku dengannya. Seharusnya sejak awal aku sudah menolakmu, tapi dengan bodohnya aku membiarkanmu mendekatiku," lirihnya di sela-sela isakan tangis.


"Sshhttt, aku tidak akan pergi." Mikel mengusap lembut rambut Elie, berusaha menenangkan.


"Tolong pergilah!" pinta Elie penuh dengan penekanan, bahkan wanita itu kini sudah memberontak. "Pergilah sejauh mungkin, aku tidak ingin melihatmu. Aku akan menghukum diriku karena sudah menerima pria lain. Aku...." Elie teringat jika bibirnya sudah dinikmati oleh Mikel. "A-aku.... aku harus menghukum bibirku juga."


"Elie.... Sweetheart...." Mikel semakin mendekap tubuh Elie, namun mendengar Elie yang merintih kesakitan membuat Mikel mengendurkan dekapannya hingga membuat Elie berhasil menjauhkan tubuhnya dari Mikel. Elie berlari kecil untuk menjangkau lilin kembali namun Mikel berhasil menarik Elie kembali ke dalam dekapannya.


"Lepaskan aku!" Elie memberontak, menolak dekapan Mikel. "Jangan pedulikan aku! Aku harus menghukum tubuhku, aku sudah berjanji pada Mike agar tidak membiarkan pria lain menyentuhku!" Ya, padahal saat itu Mike memaksa dirinya untuk berjanji, tetapi Elie tidak mengiyakan dan juga tidak bisa membantah.


"Elie hentikan, kau tidak perlu menghukum dirimu sendiri. Kau tidak pernah berjanji padaku!"


"Kau bukan Mike! Kau tidak tau apapun!" Elie berupaya mendorong Mikel dengan telapak tangannya yang terluka.


"Tidak Elie. Jangan seperti ini." Hati Mikel tak kuasa, matanya sudah mengembun. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanitanya.


Elie tidak menghiraukan Mikel, ia berusaha menjauhkan dirinya dari pria itu. Hingga Mikel merasa sangat terjepit saat ini.


"Kau tidak pernah mengkhianatiku, Elie. Tidak pernah. Aku Mike, aku yang memelukmu dan aku juga yang sudah menciummu. Mikel dan Mike adalah pria yang sama, jadi kau tidak pernah mengkhianatiku!"


Mendengar perkataan Mikel, tangis Elie menyurut seketika. Ia mengangkat wajahnya, sesaat menatap wajah Mikel dengan air mata yang nyaris membanjir seluruh wajah wanita itu.


"Iya sayang, ini aku Mike. Aku Michael Jhonson, pria yang selalu tergila-gila padamu sampai mati."


To be continue


Babang Mikel



Elie



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...