The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Apa Kau Menyukai Wanita Itu?



Di dalam kamar, dua kakak beradik duduk saling berhadapan dengan meja yang menjadi pembatas di antara mereka. Sejak kemarin Arthur tidak berhenti memberondonginya dengan berbagai pertanyaan. Kemana Sang Adik pergi ketika penyerangan itu? Siapa yang menculiknya dan kenapa bisa dirinya berada di tepi jalan Peel St?


Elie hanya menjawab seadanya saja, meskipun ia sudah jengah karena harus menjawab pertanyaan yang sama.


"Kak, sudah aku katakan jika aku melarikan diri saat mereka ingin menangkapku." Jawaban Elie tetap sama, jujur saja ia setengah mati menyembunyikan kebohongan pada sorot matanya dari tatapan menyelidik sang kakak. Elie memang tidak mudah membohongi kakaknya itu. "Aku bertemu dengan sepasang suami istri, mereka baik sekali membiarkan aku menumpang di mobil mereka dan membawaku pergi dari sana sebelum ketahuan. Aku bersembunyi di tempat mereka."


Arthur mencoba mencerna kembali penuturan Elie. Ia mengangguk-anggukan kepala. "Kalau begitu aku harus berterima kasih kepada mereka."


Mendengar ucapan Arthur, Elie sontak menolah dengan raut wajah yang seketika panik. "Ma-maksud Kak Ar?" Perasaannya menjadi tidak enak, bahkan ia tergagap sejenak.


"Aku harus bertemu dengan pasangan suami yang kau katakan barusan. Berterima kasih karena sudah membantumu dan..."


"Tidak perlu!" Elie menyanggah dan tidak sengaja berteriak sangking paniknya. Ia menggelengkan kepala berulang kali, sebagai tanda Sang Kakak tidak perlu membuang waktu untuk menemui pasangan suami istri khayalannya itu. "Maksudku mereka sudah pergi Kak. Kemarin mereka mengatakan jika akan meninggalkan Kota dan menetap di desa. Aku tidak tau desa mana yang menjadi tujuan mereka." Wajah Elie berusaha menyakinkan Arthur yang nampak mendelik tajam ke arahnya. Sebisa mungkin Elie menyematkan wajah penuh keseriusan tanpa harus menyelipkan sebuah kebohongan pada raut wajahnya itu.


Semoga saja Kak Ar percaya dengan perkataanku. Maafkan aku kak karena tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah berjanji kepada Mike untuk tidak memberitahukan jati dirinya.


Elie hanya bisa membatin, meski ia merasa bersalah karena telah berbohong tetapi ia juga tidak ingin mengingkari janji dan mengecewakan Mikel.


"Baiklah, yang terpenting kau baik-baik saja. Untuk kedepannya aku akan menambah anak buahku untuk menjagamu," ucapnya dan kemudian Arthur beranjak berdiri.


"Tapi Kak-"


"Kau tidak bisa menolak Elie, karena Kak Ar tidak memberimu pilihan."


Elie mendesahkan napas dengan kecewa. "Baiklah...." Lebih baik dirinya menurut saja dan tidak ingin mengundang kemarahan Arthur. Ia khawatir jika membuat kakaknya itu memupuk emosi, sisi lain kakaknya akan kembali menguasai. Dan hal itu yang paling tidak ia inginkan, sebab Mommy Elleana pasti akan sedih.


***


Arthur melangkah panjang menyusuri lobby hotel untuk menemui kolega yang sudah menunggunya di salah satu restauran di dalam hotel tersebut. Darren mengekori di belakangnya dengan tatapan serius dan lurus ke depan. Namun instingnya tidak kalah tajam dengan Arthur jika ada sesuatu yang tidak beres di sekitar.


Arthur dan Darren masuk ke dalam lift menuju lantai 8. Begitu keluar lift mereka mengayun langkah menuju Kohl Restauran. Kedatangan mereka disambut oleh pria paruh baya dengan seulas senyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Arthur.


"Maaf, aku sedikit terlambat," ucap Arthur menyambut uluran tangan koleganya tersebut. Sejujurnya ia merasa tidak enak hati, sebab untuk pertama kalinya membuat koleganya menunggu.


"Tidak masalah Tuan Arthur. Salahku karena mengubah jadwal pertemuan kita karena aku mendadak harus pergi ke Jepang." Pria paruh baya itu kemudian mempersilahkan Arthur untuk duduk.


Arthur mengangguk sembari mendudukkan dirinya, disusul oleh Darren yang membenamkan tubuh di kursi kosong bersisian dengan Arthur. Mereka terlibat percakapan masalah kerja sama perusahaan mereka, dan keduanya sudah sepakat dengan profit yang masing-masing akan diterima pada perusahaan mereka.


Hingga selama dua jam meeting tersebut akhirnya berakhir. Usai menyepakati kontrak, Arthur dan koleganya kembali berjabat tangan sebagai salam perpisahan.


Sorot mata Arthur yang tertuju pada punggung koleganya beserta sekretaris pria itu beralih pada Darren.


"Setelah ini kau kembalilah ke perusahaan. Aku bisa mengemudikan mobilku sendiri." Hari ini Arthur memang tidak pergi ke perusahaan, mengingat kondisinya yang belum pulih benar. Sehingga ia lebih memilih beristirahat di Mansion, namun ada saja yang mengganggu istirahatnya, salah satunya penyerangan Elie kemarin.


"Aku bisa mengantarmu lebih dulu Ar. Wajahmu sedikit pucat, aku khawatir kau akan-"


"Aku akan apa heh?" Sebelum Darren menyelesaikan kalimatnya, Arthur menyela lebih dulu. "Sudah kukatakan aku baik-baik saja, kembalilah ke perusahaan, aku bisa sendiri." Arthur yang keras kepala itu tetap pada pendiriannya, ia menyambar kunci mobil dari tangan Darren dan berlalu begitu daja.


Darren menghembuskan napas kasar, ia berpikir kenapa akhir-akhir ini teman sekaligus atasannya itu begitu sensitif. Darren kemudian mengikuti langkah Arthur keluar dari Restauran, akan tetapi langkahnya terhenti seketika begitu mendapati Arthur menghentikan langkahnya.


Darren mengikuti arah pandang Arthur, ia tertegun. Ternyata di hadapan Arthur terdapat sosok Helena, tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci. Hingga kemudian Arthur memutuskan kontak mata terlebih dulu pada Helena. Arthur kembali melangkah dan melewati wanita itu.


"Tunggu dulu." Dan Darren turut mengurungkan langkah kaki ketika wanita itu menghentikan langkah Arthur, sontak saja Arthur menghentikan langkahnya namun tidak menoleh. "Apa kau baik-baik saja?" Sejujurnya Helena terkejut, pria yang beberapa hari lalu terbaring koma kini sudah sadarkan diri. Namun wajah pria itu nampak masih pucat sehingga entah kenapa Helena mencemaskan Arthur, padahal ia sudah berusaha untuk menjauhi pria itu, mengingat perlakuan buruk Arthur kepadanya.


"Untuk apa kau mencemaskanku? Apa pentingnya untukmu?!" Perkataan tajam Arthur cukup menohok Helena. Entah kenapa wanita itu merasa jika sikap Arthur kembali seperti saat mereka pertama kali bertemu. Dingin dan menyebalkan.


"Aku... aku...." Helena menjadi gugup. Ia sendiri pun tidak tahu kenapa menghentikan langkah Arthur, seharusnya ia tidak perlu peduli bukan?


"Aku hanya bertanya saja, apa ada larangan untuk bertanya, hm?" Helena berusaha mengulas senyum tipis meskipun disambut dengan tatapan tajam dan wajah datar Arthur.


"Aku sibuk. Jika tidak lagi yang ingin kau bicarakan sebaiknya aku pergi!"


"Tunggu... " Kembali Helena menghentikan Arthur ketika pria itu hendak berlalu. "Sebenarnya aku penasaran kenapa saat itu kau terlihat sangat marah dan...." Helena tidak melanjutkan perkataannya, ia terlalu takut jika mengingat kejadian Arthur yang nyaris membunuhnya dengan mencekik lehernya.


Arthur tidak langsung menjawab, tetapi ia tahu apa yang dibicarakan oleh wanita itu. "Sebelumnya aku minta maaf karena sudah membuatmu terkejut dengan tindakanku." Dirinya bukan pria yang tidak tahu malu, sudah berbuat salah dan tidak ingin mengakuinya. "Ada hal yang tidak bisa ku jelaskan, karena itu aku minta maaf dan tolong lupakan hal itu. Aku tidak akan menunjukkan diri di depanmu, dan sebaiknya kau juga melakukan hal yang sama jika tidak ingin aku melakukan tindakan yang sama." Kemudian Arthur mengalihkan pandangan ke arah lain hingga nampak terkesan angkuh.


Sesaat Helena diam membisu. Pria itu begitu angkuh saat bicara padanya seolah apa yang dilakukan bukanlah tindakan yang membahayakan nyawa seseorang.


"Jika kau masih ada keperluan denganku, bisa melalui asistenku Darren. Aku permisi." Dan kemudian Arthur berlalu pergi meninggalkan Helena yang mematung di tempat usai Darren mengangguk dan berpamitan kepada dirinya. Wanita itu menatap gerak tubuh Arthur yang perlahan lenyap dari penglihatan matanya.


Sejak tadi Darren merasakan atmosfer yang berbeda dari dalam tubuh Arthur. Entah hanya perasaanya saja, sikap Arthur menjadi begitu dingin setelah mereka mendapati wanita itu sedang bersama dengan Mikel Jhonson dan mereka mengabadikannya di ponsel Kemudian atas perintah Arthur, Darren mengirimkan bukti foto itu kepada Elie menggunakan nomor asing.


"Ar, aku ingin bertanya padamu." Darren menahan pintu yang berhasil di buka oleh Arthur. Arthur tidak menjawab namun sorot matanya cukup mewakilkan untuk Darren bertanya apapun padanya. "Apa kau menyukai wanita itu?"


Mendengar pertanyaan Darren, mata Arthur sontak menukik tajam. Pertanyaan macam apa itu? pikirnya.


"Jangan bicara sembarangan!" Arthur tidak terima dengan pertanyaan Darren.


"Tapi sikapmu seperti seorang yang sedang cemburu Ar." Darren tetap bersikeras memastikan sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Tau apa kau tentang perasaan semacam itu, Der?! Kau tidak pernah berkencan dan memiliki kekasih!" sembur Arthur ketus.


"Ya baiklah, aku salah menafsirkan sikapmu Ar. Sorry." Lebih baik mengalah saja ketimbang ia kembali disembur.


"Ehm, jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak Der. Kembalilah ke perusahaan. Datang saja ke Mansion jika membutuhkan tanda tanganku."


Darren mengangguk, lalu menyingkir dari sisi mobil karena Arthur hendak masuk ke dalam mobil. Melihat mobil Arthur yang sudah berlalu dari jangkauan matanya, benaknya bertanya-tanya ketika jawaban elakan Arthur tidak membuatnya puas. Sebab ia sangat mengetahui perasaan macam cemburu ketika melihat Elie berkencan dengan pria-pria lain diluar sana dan kini ia harus menahan rasa cemburunya ketika wanita yang ia cintai itu kembali dekat dengan Presdir MJ Corp.


To be continue


Babang Arthur



Darren



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...