
Menyadari apa yang telah mereka lakukan, keduanya segera mengakhiri pagutan bibir mereka. Terlebih pria tidak tahu diri itu sudah pergi entah kemana. Arthur reflek berangsur mundur. Terlihat jelas olehnya wajah Helena yang bersemu merah akibat ulah mereka yang terlalu mendalami peran.
"I-itu adalah ciuman pertamaku." Suara Helena yang malu-malu itu memecah kecanggungan di antara mereka.
Arthur mendelik, kembali menghadapkan tubuhnya ke arah Helena. Satu hal yang baru ia ketahui bahwa yang baru saja terjadi adalah ciuman pertama untuk wanita itu. Yang juga merupakan ciuman pertama baginya, mengingat selama ini ia tidak pernah berurusan dengan wanita manapun dan tidak pernah ingin terlibat skandal apapun dengan wanita-wanita diluar sana. Padahal jika berminat, Arthur mudah mendapatkan banyak wanita hanya dengan menjentikkan jarinya, namun seleranya terhadap wanita seperti mati rasa ia rasakan. Entah kenapa dengan Helena, pria itu merasakan keanehan pada tubuhnya, jantungnya berdegup tidak karuan, bahkan seperti kehilangan jati dirinya.
"Dan kau juga mencuri ciuman pertamaku. Jadi kita impas, aku tidak suka berhutang!" Masih dengan wajah datar dan terkesan dingin. Helena mencoba memaklumi sikap pria di hadapannya itu, sangat sulit untuk dijangkau.
"Iya baiklah, kita impas. Terima kasih kau sudah membantuku, aku bisa terlepas darinya. Dia itu benar-benar menyebalkan, memaksakan keinginan untuk memiliki seseorang," gerutunya.
"Bukankah pria itu terlihat sama sepertimu yang sebelumnya?!"
Glek
Sindiran Arthur membuat Helena tidak bisa mengelak kebodohannya di masa lalu yang begitu tergila-gila dengan Mikel. Sehingga rela menurunkan harga dirinya dan menerima di anggap sebagai wanita murahan. Padahal disentuh pria lain saja tidak pernah, meskipun ia selalu menggunakan pakaian seksi. Tetapi Helena tidak pernah membiarkan pria sembarangan diluar sana menyentuh tubuhnya yang berharga.
"Cih, kau mengingatkan masa laluku yang menyedihkan!" Helena berdecih kesal, sudah susah payah ia menutup luka lama itu dan mencoba terlahir kembali dengan sosok Helena yang baru. Setidaknya ia tidak perlu bersikap menyebalkan seperti dulu, meskipun faktanya ia masih saja seperti wanita penggoda yang menikmati kekesalan Arthur ketika menanggapi dirinya.
Arthur tidak kembali menyahut, wajahnya sedatar jalan raya yang membentang luas. Helena mendecakan lidah dengan kesal, sulit sekali menaklukan pria di hadapannya ini. Namun Helena tidak kehabisan akal, untuk menghadapi Arthur yang dingin dan selalu menjaga jarak, tentu ia sendiri yang harus memulainya lebih dulu. Setidaknya ia memiliki kenangan bersama dengan Arthur ketika di London, tidak hanya kenangan pahit bersama keluarga yang tidak menganggapnya dan juga Mikel, pria yang tidak pernah mencintainya sebagai wanita.
"Aku sudah menyita waktumu dengan masalahku. Kata terima kasih saja tidak cukup, jadi aku berencana untuk mengajakmu makan siang bersama. Bagaimana?" Kedua mata Helena berbinar penuh harap, ia tidak peduli jika dianggap lancang dan tidak tahu malu. Sulit menemukan alasan untuk mereka bertemu kembali, sehingga ia nekad dan mengesampingkan urat malu.
"Tidak perlu! Aku hanya membantumu sekali ini saja, jadi kedepannya jangan melibatkanku lagi." Tidak peduli wanita itu akan tersinggung atau tidak, Arthur tidak ingin memiliki hubungan dekat dengan seorang wanita. Sudah cukup ia bertindak diluar kendalinya hingga tanpa sadar mencium wanita itu.
"Cih..." Helena benci mendengarnya. Apa salahnya Arthur menerima ajakan makan siangnya? Tetapi dirinya bisa apa? Tidak mungkin Arthur menuruti permintaannya itu. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu tapi kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran." Memberikan senyum manis, meskipun ajakan makan siangnya di tolak mentah-mentah.
"Terserah kau saja." Malas menanggapi, Arthur melenggang pergi menuju mobilnya yang terparkir. Bibir Helena mencebik, ia menatap punggung kekar Arthur yang menjauh.
"Sulit sekali aku mendekatinya. Aku tidak mengerti dengan perasaanku, padahal dengan Mikel saja aku tidak seperti ini," keluhnya mengerucut kesal, sebelum kemudian melenggang pergi dari sana.
Tidak mendengar suara kembali, Arthur memutar arah tubuhnya. Keningnya mengernyit dalam ketika tidak mendapati wanita itu disana.
"Pergi kemana dia?" gumamnya disertai pandangan yang diedarkan ke sekitar. Aneh bukan? Ketika Helena berada disisinya, Arthur mengusirnya tetapi pada saat wanita itu pergi, Arthur mencarinya.
Merasa Helena sudah benar-benar pergi, Arthur hendak kembali melanjutkan langkahnya. Saat membalikan tubuh, ia terkesiap mendapati Darren sudah berdiri di hadapannya.
"Sudah kau bereskan paparazi itu Der?" tanyanya datar.
"Hem, bahkan aku sudah menghancurkan kameranya karena dia menolak untuk menghapus foto kalian." Benar, Darren tidak peduli pada saat pria itu memohon agar tidak menghancurkan
"Bagus, itu akan menjadi pelajaran untuknya agar tidak lancang mengambil gambar tanpa izin."
"Hm...." Pandangan Darren mengitar, mencari keberadaan seseorang. "Tapi Ar, dimana Nona Helena? Bukankah tadi dia bersamamu?" Ternyata sosok yang Darren cari adalah Helena, sebab hanya Arthur saja yang ia lihat.
"Dia sudah pergi. Ada apa kau mencarinya?!" Arthur mendadak tidak suka ketika Darren mencari keberadaan wanita itu. Padahal sebelumnya Darren sama seperti dirinya yang tidak peduli dengan keberadaan wanita di sekitar mereka.
"Aku hanya bertanya saja," sahutnya. Kemudian matanya menyipit tajam seketika. "Hm Ar, apa kau baru saja makan sesuatu?" Mengira jika Arthur tidak menyeka bibirnya dengan benar. Sebab terdapat noda di sudut bibir teman sekaligus atasannya itu.
"Tidak." Arthur menjawab sembari menjangkau handle pintu mobil.
"Shiitt!" umpat Arthur. Darren belum selesaikan perkataannya, namun Arthur yang paham segera menyeka kedua sudut bibirnya dengan ibu jari. "Jangan memperhatikan wajah orang lain Der. Itu sangat menjijikan!" serunya memprotes, sehingga membuat Darren mengerut bingung.
"Iya baiklah." Darren merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya. Ia hanya memberitahu, kenapa Arthur semarah itu? pikirnya.
"Lebih baik kita pergi dari sini." Arthur segera memasuki mobil disusul oleh Darren yang segera menghidupkan mesin mobil dan berlalu dari sana.
"Apa kau sudah mencari tau keberadaan Elie, Der?"
"Sejak pagi Nona Elie berada di Romanov Ent, dia belum keluar dari perusahaan."
Arthur mengangguk, tangannya mengusap dagu yang penuh dengan bulu-bulu tipis. Sejak kejadian penyerangan itu, Arthur meminta Aunty Jennie agar pemotretan adiknya itu dilakukan di studio saja, hanya untuk sementara waktu. Meskipun pada awalnya Elie sempat memprotes keputusannya, tetapi adiknya itu tidak akan bisa membantah.
***
Menjelang sore, Austin yang baru pulang ke Mansion mengajak Arthur untuk menemaninya ke Gym. Sudah lama tidak meluangkan waktu bersama dengan Austin, sehingga Arthur menyempatkan untuk menemani Austin. Kini kedua kakak beradik itu sudah berada di Ringtone Boxing Gym yang menjadi tempat biasa mereka datangi.
"Kapan kau akan wisuda?" tanya Arthur di sela-sela melakukan pemanasan berjalan di atas treadmill.
Austin menoleh, ia pun tengah berlari di atas treadmill hingga kilatan keringat nampak jelas di seluruh leher serta lengannya. "Minggu depan, aku pulang membawakan undangan. Jadi kau, Mom, dan Dad harus datang."
"Kami pasti datang." Ya, mana mungkin Arthur dan kedua orang tuanya melewatkan hari penting sang adik. Menempuh pendidikan selama bertahun-tahun, hal yang paling dinanti adalah hari kelulusan.
Arthur mendadak mengurangi kecepatan treadmill ketika merasakan dadanya sedikit sesak. Efek obat yang ia konsumsi membuat detak jantung berdebar-debar tiba-tiba.
"Kak Ar, kau baik-baik saja?" Austin mendadak cemas, ia bahkan turun dari treadmill dan mendekati kakaknya.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya aku harus berkonsultasi dengan Oscar." Tidak ingin melihat Austin mencemaskan dirinya, Arthur berusaha memasang wajah baik-baik saja.
"Hem, panggil saja Dokter Oscar ke Mansion." Austin kemudian kembali naik ke atas treadmill, memulai ulang kegiatannya yang terjeda.
Menarik napas dalam, Arthur mencoba berpegangan. Ia menolehkan kepala ke kiri ketika mendengar suara wanita yang tidak asing sedang bertegur sapa. Wajahnya tertegun begitu mendapati pemilik suara itu tidak lain ialah Helena. Bersamaan dengan wanita itu yang juga menatap ke arahnya.
Helena melemparkan senyum dan seperti biasa, Arthur membalasnya dengan sapaan datar.
"Ck menyebalkan." Helena mencebik kesal. "Tapi kenapa aku selalu bertemu dengannya?" Tentu saja sangat mengherankan, mengingat ia tidak mengetahui dan tidak mencari tahu jadwal pria itu. Namun takdir selalu saja mempertemukan mereka.
To be continue
Babang Arthur
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...