The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Calon Istri?



Beberapa hari kemudian


Helena mengambil secarik kertas yang terletak di atas nakas. Ia terpaku sejenak pada tulisan bertinta hitam yang bertuliskan surat itu dari Arthur. Pesan tersebut berbunyi; Aku harus kembali ke London. Ada beberapa hal yang harus kulakukan. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan kembali ke Paris satu minggu kemudian.


Helena membaca tulisan itu berulang kali. Sungguh hatinya mendadak tidak nyaman, bukankah ini yang ia inginkan. Dua hari yang lalu dirinya mengusir pria itu, bahkan disaat histeris, Arthur menerima semua makian darinya yang diluar kendali. Mungkin tidak terhitung berapa banyak luka goresan kuku di lengan pria itu ketika berupaya menenangkan dirinya.


Entah kenapa meski keadaannya sudah lebih baik, tetapi Helena masih merasakan aura seseorang yang ingin melenyapkannya. Dan itu yang membuatnya selalu merasa ketakutan setiap saat dan jiwanya merasa sedang terancam.


"Kau sedang apa berdiri disana?" Suara berat Steve menyentakkan Helena, sehingga membuat wanita itu terlonjak kaget dan buru-buru meletakkan kembali secarik kertas itu di atas nakas.


"Kau mengejutkanku Steve!" seru Helena mendudukkan dirinya di atas ranjang. "Apa yang kau bawa?" Dan pandangannya tersita pada baki yang dibawa oleh Steve.


"Suster menitipkan makanan untukmu." Sembari meletakkan baki yang terdapat beberapa makanan di atas meja. "Mereka mengatakan jika kau masih takut dengan mereka."


"Ya, sedikit. Aku tidak tau kenapa sulit sekali membuat diriku menjadi seperti sebelumnya," cicitnya mendesahkan napas frustasi. Ia heran kenapa ketakutan itu masih menguasainya dan terjadi tiba-tiba.


Steve mengulas senyum. Ia berjalan mendekati ranjang. "Tidak apa-apa, kau akan segera pulih. Hanya menunggu sebentar lagi saja."


Helena mengangguk dengan ragu, ia berharap demikian. Akan tetapi sangat takut jika pada saat histeris, dirinya akan melukai orang lain. Dengan melukai Arthur secara tidak sengaja saja sudah membuatnya begitu merasa bersalah.


"Tidak boleh berpikir berlebihan, lebih baik sekarang makanlah selagi hangat." Kemudian Steve memberikan beberapa makanan setelah meletakkan meja kecil di atas pangkuan Helena.


Wanita itu menahan tangan Steve yang ingin membantunya makan. "Aku bisa sendiri Steve. Terima kasih kau sudah banyak membantuku," ucapnya menyelipkan senyuman.


"Jangan sungkan denganku, Helen. Kita mengenal sudah sangat lama. Justru aku akan sangat merasa bersalah jika membiarkanmu seperti ini." Senyum Steve penuh ketulusan. Jika saja wanita lain, mungkin akan mudah tergoda dengan wajah Steve yang tampan. Terlebih ketika manik mata biru safir itu menatap, akan membuat siapapun meleleh dibuatnya. Namun sayangnya dari dulu hingga saat ini, Helena tidak memiliki perasaan apapun kepada Steve selain hubungan pertemanan.


Helena menyematkan senyuman dan mulai memakan sarapannya. Meski di tatap begitu lekat oleh Steve, Helena bersikap acuh, seolah tidak menyadari tatapan pria berprofesi dokter itu. Sudah sedari dulu ia tidak memberikan harapan kepada Steve, karena memang tidak akan bisa membalas perasaan pria itu. Terlebih saat itu ia menyimpan cinta hanya untuk Mikel, namun meskipun ia tidak bersama Mikel, ia pun tidak akan bersama dengan Steve. Baginya Steve merupakan seorang pria dan teman yang baik.


***


Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sejak kembalinya Arthur seminggu yang lalu. Pria itu belum mengunjungi Helena kembali, tetapi tidak melepaskan pengawasan terhadap wanita itu. Arthur akan menyempatkan waktu untuk melihat iPad, dimana wanita yang ia cintai itu hanya termenung setiap harinya. Sehingga membuat Arthur menjadi tidak tega dan ingin segera terbang ke Paris. Mamun ia belum bisa kembali ke Paris, sebab harus mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, serta mengurus sesuatu yang penting.


Siang ini Arthur baru saja kembali ke perusahaan selepas melakukan pertemuan dengan Jorge Bonham seperti yang sudah di rencanakan dengan matang. Baru saja hendak memasuki lobby, suara seseorang yang tidak asing memanggil dirinya. Baik Arthur dan Darren menoleh serentak, mendapati Chris berjalan tergesa-gesa menghampiri.


"Bicara di ruanganku saja!" Arthur tahu tujuan kedatangan Chris ke perusahaannya. Apalagi jika bukan untuk membicarakan hasil penyamaran selama berada di Bonham Company.


Kini ketiganya sudah berada di ruangan Arthur. Posisi Chris duduk berhadapan dengan Arthur, sehingga memudahkan Arthur menatap dan berbicara dengannya.


Arthur baru saja meletakkan beberapa lembar map yang berhasil dikumpulkan. Catatan itu merupakan laporan keuangan yang di manipulasi oleh Jorge setelah melakukan korupsi yang cukup besar. Pria tua itu berupaya menutupi selisih keuangan yang berbeda-beda setiap tahunnya.


"Bukti ini sudah lebih dari cukup untuk semakin menjatuhkan Bonham Company. Pria tua itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena telah melakukan korupsi di perusahaan milik keluarganya sendiri." Arthur tidak habis pikir dengan tindakan bodoh yang dilakukan oleh Jorge. Jika ketahuan melakukan korupsi, sudah pasti Jorge akan mengalami kerugian besar pada perusahaannya.


"Sebenarnya Ar, Bonham Company bukan milik Jorge tetapi milik pria yang bernama Jonathan. Aku tidak tau siapa Jonathan yang mereka bicarakan!" Penuturan Chris yang baru saja diketahui olehnya serta Darren membuat keduanya terkesiap dan saling bersitatap.


"Apa maksudmu?" tanya Arthur mengorek lebih dalam lagi informasi yang diketahui oleh Chris.


Chris tidak segera menjawab, ia mengeluarkan alat perekam suara dan segera menekan tombol play untuk mendengarkan apa yang berhasil direkam oleh benda kecil yang canggih itu.


"Tidak. Aku tidak ingin kehilangan Bonham Company. Pasti ada cara untuk menstabilkan keuangan dan saham yang tiba-tiba saja menurun."


"Kau terlalu bodoh Jorge. Seharusnya sejak awal kau sudah memindahkan seluruh aset Jonathan menjadi atas namamu!"


Arthur mengenali suara Jorge, tetapi tidak dengan suara pria lainnya yang tengah menimpali pembicara Jorge. Arthur tidak akan bertanya apapun kepada Chris, sebelum mendengarkan keseluruhan rekaman tersebut.


"Kau pikir aku tidak melakukannya?! Aku sudah pernah melakukannya, tetapi ditolak oleh pengacara kepercayaan Jonathan. Pria keparat itu hanya ingin Helen yang menyerahkan surat kuasa kepemindahan seluruh aset Jonathan."


"Arrghh...." Terdengar suara Jorge yang mengerang frustasi. "Aku tidak mau tahu, kau harus bisa membantuku memindahkan aset Jonathan termasuk Bonham Company. Selama ini aku sudah membayarmu sangat mahal untuk menjadi pengacaraku. Kali ini aku tidak ingin kau gagal lagi."


"Akan aku usahakan Jorge. Pastikan Nona Helena belum menikah sampai aku berhasil memanipulasi semuanya. Satu langkah lagi, seluruh aset Jonathan bisa kau kuasai. Tetapi jika Nona Helena sudah menikah dan sertifikat itu jatuh ke tangan Richard, kau sudah tidak akan memiliki kesempatan untuk menguasai aset Jonathan karena seluruh aset itu akan jatuh kepada Nona Helena dan keturunan Nona Helena nantinya."


Pip


Rekaman suara itu terputus. Arthur bergeming dengan kepalan tangan yang menguat. Hatinya terbakar emosi mendengarkan percakapan kedua pria itu.


"Aku tidak pernah menyangka jika Jorge tidak jauh berbeda dengan parasit." Perkataan sarkasme Darren membuat Chris menoleh ke arahnya.


"Kau benar. Pria itu sudah dikeluarkan dari kartu Keluarga Bonham, itu sebabnya seluruh aset menjadi atas nama Jonathan. Tapi mungkinkah Jonathan bagian dari Keluarga Bonham?" Sungguh Chris bingung, karena ia tidak diberitahukan silsilah Keluarga Bonham yang sebenarnya. Yang ia ketahui jika penerus Bonham Company hanyalah Jorge Bonham tidak ada yang lainnya lagi.


"Jonathan adalah adik dari Jorge. Dengan kata lain adalah ayah kandung dari Nona Helena." Darren menyahuti rasa penasaran Chris. Benar saja, Chris begitu terkejut mendengarnya ketika Darren menceritakan keseluruhannya.


"Dia wanita yang sangat malang Der. Bagaimana bisa memiliki paman yang tidak waras seperti itu. Bahkan merusak keponakannya sendiri dengan obat berbahaya seperti itu, dan yang terparahnya lagi membunuh istri keduanya." Chris menggelengkan kepala heran. Hidup di dunia yang begituan kejam, memang tidak jarang ada manusia yang memiliki sifat seperti Jorge.


"Suami istri itu tidak ada bedanya, Chris. Mereka sama-sama tidak waras!" cibir Darren kesal.


"Ah, kau benar." Chris sependapat dengan Darren. Jorge dan Margareth satu paket. Bahkan putri mereka yang bernama Caroline itu menuruni sifat kedua orang tuanya yang tidak tahu diri dan begitu tamak.


"Der??" Arthur yang sedari tadi diam dan berpikir dengan keras, mulai membuka suaranya. Darren menolehkan kepala ke arah Arthur, pun dengan Chris. "Urus semuanya dan pastikan Bonham Company jatuh ke tangan yang seharusnya. Dan kau Chris!" Matanya kemudian mengarah kepada Chris. "Buat kontrak kerjasama yang sangat menguntungkan, manipulasi isi surat itu menjadi surat kuasa kepemilikan Bonham Company menjadi atas nama Helena Bonham. Ah tidak, bukan Bonham tapi Helena Romanov!"


"What??!" Baik Darren dan Chris terpekik kaget.


"Ar, kau sedang tidak bercanda, bukan?" tanya Chris memastikan.


"Der, kau urus surat-surat lengkap milikku dan Helena, berikan ke catatan sipil dan kedutaan besar!" Arthur tidak menggubris perkataan Chris dan menugaskan Darren untuk mengurus segala pernikahannya dengan Helena. Dan jawaban itu sudah mewakilkan rasa ketidakpercayaan Chris.


"Kau sudah yakin dengan keputusanmu, Ar?" Kali ini Darren yang ragu. Ia pun sama seperti Chris yang ingin memastikan terlebih dahulu.


"Dalam hidupku, aku tidak pernah seyakin ini Der!" Tegas dan jelas. Jawaban Arthur mewakili kesungguhannya dalam mengambil keputusan.


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya." Tentunya Darren mendukung penuh, sebab bisa melihat betapa besar rasa Arthur untuk wanita itu. Arthur tidak akan mengambil keputusan besar jika perasaanya untuk Helena hanya sekedar main-main saja.


"Dan aku akan segera membuat kontrak kerjasamanya, agar Bonham Company menjadi milik wanitamu, ah maksudku calon istrimu." Chris terkekeh kecil, mengoreksi perkataannya.


Calon istri?


Ah, entah kenapa mendengarnya membuat hati Arthur berdesir hebat. Tetapi pria itu pandai sekali menyembunyikan ekspresinya.


Arthur hanya mengangguk. Masalah sudah terpecahkan dan hanya satu masalah lagi. Yaitu membicarakan keputusannya kepada kedua orang tuanya yang sudah pasti akan membuat mereka syok.


To be continue


...Pokoknya jangan pernah bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...