
Keringat demi keringat memenuhi kening Austin, meski berulang kali menyeka keringatnya, tetapi kembali menetes hingga merambat pada rahangnya. Dengan semangat yang sedang membara, ia membiarkan seluruh tubuhnya yang kekar itu basah oleh keringat dan tetap berusaha mengangkat beban seperti kayu dan bahkan memotong beberapa kayu menjadi beberapa bagian. Jujur saja ia bukan pekerja kasar yang setiap hari membangun sebuah bangunan. Selama ini dirinya selalu menikmati hasilnya tanpa tahu bagaimana prosesnya.
Namun demi menunjukkan kesungguhan, Austin rela membiarkan tubuhnya kotor, terpapar oleh sinar matahari dan bahkan ibu jarinya harus terluka oleh sebuah benda yang bernama palu karena ia sempat menyatukan dua kayu menjadi satu bagian dengan paku yang diketuk berulang kali hingga terbenam ke dalam dua kayu.
"Hei anak muda, aku menyukai semangatmu," seru salah satu pekerja yang memang menyewa jasa mereka untuk membangun rumah kaca di Kediaman Scott. "Yang kami lihat kau bukan seperti pria biasa. Pakaian dan jam tanganmu pasti sangat mahal, sayang sekali jika harus kotor dan rusak hanya karena membantu kami disini," imbuhnya. Sejak tadi mereka meneliti penampilan Austin dan saling berbisik lantaran tiba-tiba mereka mendapatkan tenaga tambahan.
Austin kembali menyeka keringatnya dengan lengan tangannya. Lalu mengibaskan tangan yang terasa kebas dan nyaris mati rasa. Melihat arloji yang ternyata masih melingkar di pergelangan tangannya. Sebelum kemudian melepaskannya dan menatap mereka satu persatu-satu.
"Apa diantara kalian ada yang ingin jam tanganku ini, hm?" Sembari menunjukkan arloji mahalnya yang bernilai ratusan juta itu.
Keempat para pekerja kasar itu tentu saja saling tertegun, mereka mengira jika pria muda di hadapan mereka hanya bergurau saja.
"Aku bertanya sekali lagi, apa diantara kalian ada yang ingin jam tanganku? Yang jika diuangkan sekitar 700 juta." Dan Austin kembali mengulangi perkataannya saat mereka tidak menjawab, melainkan seperti orang bodoh dengan mulut yang terbuka. Terlebih saat Austin memberitahukan nominal arloji miliknya itu, mulut mereka semakin terbuka dengan lebar sangking tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Tu-tujuh ratus juta?" seru mereka serentak. Tentu itu adalah nominal yang sangat besar untuk sebuah jam tangan. Bahkan mereka biasa membeli jam tangan di pasar tradisional dengan harga satu atau dua juta saja.
"Ya, jam ini bisa menjadi milik kalian berempat. Kalian bisa menjualnya, tapi...." Dengan sengaja Austin menggantungkan kalimatnya hingga membuat mereka semakin penasaran.
"Tapi apa?" tanya salah satunya mendesak tidak sabar.
Bibir Austin menyunggingkan senyum tipis, lalu bergerak maju beberapa langkah hanya untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kalian bisa melihatnya, aku sudah melakukan beberapa bagianku. Jadi kalian bisa melanjutkan sisa pekerjaanku." Austin menunjukkan hasil karyanya, sudah cukup banyak kayu yang berhasil disusun olehnya dan bahkan berhasil memotong kaca yang pertama kali ia lakukan. Dan jujur saja sangat sulit, mengingat ia harus menahan diri agar tidak menendang kaca itu menjadi dua bagian tanpa harus memotongnya.
"Ah, begitu." Mereka mengangguk-angguk tanda mengerti. "Jadi, apa jam tangan itu akan menjadi milik kami jika kami melakukan sisa pekerjaanmu?"
"Ya, ambillah." Lantas Austin melemparkan arloji mahal miliknya dan segera ditangkap oleh salah satu dari mereka. Untung saja cepat ditangkap, jika sampai terjatuh, maka mereka akan kehilangan uang 700 juta. "Dan kalian harus mengatakan seperti apa yang kukatakan jika Paman Zayn bertanya pada kalian!"
Ah, mereka baru sadar jika sedari tadi mereka tidak mengetahui hubungan pria muda itu dengan pemilik Mansion besar ini.
"Kalau boleh kami tau, memangnya kau siapa? Kenapa Tuan Zayn memintamu untuk membantu kami?" Pertanyaan salah satunya cukup mewakili ketiganya.
"Hanya ada kesalahpahaman antara calon menantu dan calon ayah mertua. Hal itu terbiasa terjadi, bukan?" sahut Austin sekenanya. Lagi pula ia tidak berdusta, Licia memang akan menjadi kekasihnya atau mungkin.... istrinya. Ah, mengingat hal itu saja membuat Austin menarik kedua sudut bibirnya.
"Kalau begitu kami akan menerima jam ini dengan senang hati, Tuan." Karena sudah mengetahui siapa sebenarnya pemuda di hadapan mereka, tentu mereka harus berlaku sopan dan hormat.
"Hm, sebaiknya lanjutkan pekerjaan kalian!" titahnya kemudian kepada keempat pekerja. Sepertinya Austin lupa dimana dirinya berada, pria itu seolah sedang berada di kediamannya sehingga dapat memerintah mereka.
Dengan sigap mereka kembali melanjutkan pekerjaan dengan perasaan riang. Karena setelah pekerjaan mereka selesai, mereka akan menjual arloji mahal itu dan uangnya akan dibagi rata.
Austin merenggangkan otot-otot tangan dan lehernya. Sial. Tubuhnya benar-benar sakit. Jika saja bukan perintah Paman Zayn, ia tidak akan sudi melakukan pekerjaan kasar seperti ini. Sayangnya ia harus membuktikan kepada Paman Zayn bahwa dirinya benar-benar ingin menebus kesalahannya lantaran telah membuat Licia menangis dan kecewa.
Tidak tahan dengan keringat yang membasahi pakaiannya, sehingga Austin segera melepaskan t-shirt hitam yang dikenakannya itu. Membiarkan tubuhnya bertelanjang dada, Austin melangkah menuju kran air sekedar untuk mencuci tangannya. Namun bukan hanya tangannya saja yang dicuci bersih, pria itu bahkan membasahi wajah serta rambutnya.
"Ck, kau pikir disini tempat pemandian umum, heh?!" seru Jacob sinis. Entah sudah sejak kapan Jacob berada disana, yang jelas Austin tidak menyadarinya. Hanya saja ia berharap jika Jacob tidak mendengar percakapannya dengan para pekerja. Ayahnya saja sudah menyebalkan dan ia tidak ingin dibuat mati konyol oleh putra Paman Zayn juga.
Austin menyugar rambutnya dan dengan sengaja mengibaskan kesana-kemari hingga tetesan air dari rambutnya itu mengenai Jacob.
"Heh, sialan. Kau sengaja, heh?!" Jacob mendengkus kesal tidak terima. Ia bahkan harus mundur beberapa langkah dari Austin.
"Karena itu menyingkirlah dari sana!" Austin tidak pedulikan Jacob yang kesal padanya. Salah sendiri berdiri di depannya.
"Apa kau lupa dimana kau berada saat ini? Kenapa sepertinya aku yang orang lain disini!" ujar Jacob menyindir.
"Huh, kau menjadi semakin menyebalkan semenjak kembali!" sungutnya. "Sebelumnya aku ingin membiarkanmu bertemu dengan Licia tapi sekarang aku berubah pikiran!" Karena sudah terkandung kesal, Jacob bergegas melangkah pergi.
"Heh, tunggu dulu!" Tentu Austin menahan langkah Jacob. Saat ini senjatanya untuk berbaikan dengan Licia adalah Jacob, ia harus bersikap baik kepada Jacob jika ingin pria itu membantu dirinya untuk bertemu dengan Licia. "Dengar bodoh!" Austin menarik bahu Jacob dan sontak saja membuat posisi Jacob berubah menjadi berhadapan dengan Austin. "Sekali saja kau harus membantuku. Aku hanya ingin bicara dengan Licia!"
"Cih, kau mengataiku bodoh, tapi kau memintaku untuk membantumu!" ujarnya sarkasme. "Apa begitu caramu minta tolong padaku, heh?!"
"Okey sorry." Austin mengangkat kedua tangannya.
"Tidak ada kata maaf untukmu! Kau pantas menerima kemarahan adikku karena sudah berani membuatnya menangis!" serunya mengingatkan bagaimana Austin secara tidak langsung telah membuat Licia patah hati. "Lagi pula, bukankah kau sudah memiliki kekasih disana? Kenapa tidak kau urus saja gadismu itu?!"
"Dia bukan kekasihku! Sejak kapan aku mengatakan jika aku memiliki kekasih!" Kali ini Austin tidak tahan lagi karena Jacob menyudutkan dirinya. Padahal jelas-jelas ia tidak memiliki kekasih.
"Cih, siapapun akan berpikir jika gadis itu adalah kekasihmu karena kedekatan kalian!" seru Jacob tetap bersikukuh dengan kesimpulannya.
"Ck...." Lidah Austin berdecak. Kini ia mulai paham siapa wanita yang dibahas oleh Jacob dan membuat Jacob maupun Licia menjadi salah paham. "Dengar Jac, gadis itu-"
"Apa yang kalian lakukan disana, heh?!" Suara Zayn menggelegar hingga membuat keduanya terjingkat dan segera menoleh. Pandangan Zayn kian menajam kala mendapati Austin bertelanjang dada. "Dan kau As, Dimana bajumu? Apa kau ingin menggoda istriku dengan perut kotak-kotak yang tidak seberapa itu, huh?!"
Aish... apa lagi ini? Apa tidak bisa sehari saja, Paman Zayn tidak berpikiran buruk tentangnya? pikir Austin menyelipkan helaaan napas jengah.
"Bajuku kotor dan basah, Paman. Jadi aku melepaskannya." Austin menjelaskan kenapa dirinya sampai membuka pakaian.
Mendengar alasan Austin, alih-alih mengerti justru Zayn terlihat semakin marah.
"Sebaiknya kau segera pergi saja dari sini, sebelum istriku melihatmu!" Jujur saja Zayn menjadi cemas lantaran tubuh Austin yang kekar dan ideal sebagai seorang pria. Dan itu mengingatkan akan tubuhnya saat masih muda. Karena itu ia tidak ingin sampai istrinya melihat tubuh Austin. Big No. Istrinya itu hanya boleh mengagumi bentuk tubuhnya saja.
"Tapi Paman, bukankah Paman sudah berjanji akan membiarkanku menemui Licia?" Seingat Austin memang seperti itu. Tentu ia harus menagih janji.
"Aku tidak pernah berjanji!" elak Zayn. Sebenarnya ia hanya mengiyakan saja, sebab Austin begitu gigih. Dan ia ingin mematahkan semangat putra dari Xavier. Persetan jika pria tua itu akan marah padanya, pikirnya.
"Tapi aku sudah melakukan seperti yang Paman katakan, aku sudah membantu keempat pekerja itu." Austin berseru tidak terima. Ia sudah rela menerjunkan dirinya membantu para pekerja tersebut, akan tetapi Paman Zayn sengaja ingin mengingkari.
"Aku memang mengatakan akan mempertimbangkan jika kau membantu mereka, tapi aku sama sekali tidak berjanji!" Bukan Zayn namanya jika tidak pandai berkelit. "Sudahlah, lebih baik kau pergi saja!" Sambil mengayunkan tangan tanda mengusir. "Lagi pula putriku masih tidak ingin menemuimu!" Sebelumnya Zayn sudah bicara dengan Licia, akan tetapi Licia masih belum ingin menemui Austin.
Austin menghembuskan napasnya dengan berat. Jika sudah seperti ini tidak bisa memaksa, karena sudah pasti akan memicu pertengkaran.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Paman. Tapi besok aku akan kembali lagi." Tanpa menunggu jawaban dari Paman Zayn, Austin melangkah pergi. "Karena aku tidak akan menyerah!" sambungnya dalam hati.
Saat beradu pandang dengan Jacob yang seolah mengejeknya, Austin melengos begitu saja dan segera masuk ke dalam mobil dengan keadaan bertelanjang dada. Tidak pedulikan keberadaan pakaian bermerek miliknya yang dibuang entah kemana.
See you next bonus chapter
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...