
Mengabaikan suara yang menggelegar, Austin kembali melanjutkan langkah memasuki pelataran Paviliun Dongdae. Ia bergegas mencari keberadaan Licia tetapi nihil, ia tidak tercium tanda-tanda keberadaan Licia dimanapun. Lalu dimana lagi ia mencari keberadaan gadis itu? Bukankah titik merah sebelumnya berada tepat di sekitar sini, pikirnya.
Austin mencoba merogoh sesuatu di balik pakaiannya, tetapi detik berikutnya ia mendengkus. "Damn it!" umpatnya meninju udara. Bagaimana tidak, tab yang seharusnya berada di saku pakaiannya hilang entah kemana. Dan ia menyakini jika benda itu mungkin saja terjatuh saat ia terhempas bahkan terguling dan baru menyadarinya saat ini. Benar-benar sial.
Beberapa anak buah yang mengikuti Austin hanya saling bersitatap. Mereka tahu apa yang dicari oleh bos muda mereka.
"Bos, kami akan berpencar mencari Nona Licia." Paham akan kegundahan bos muda, salah satu di antara mereka menawarkan diri untuk mencari keberadaan Licia.
Austin berpikir sejenak, sebelum kemudian memberikan anggukan kepala. "Kalian harus berhati-hati. Meskipun lemah, tapi Demon juga sedikit licik."
"Kami mengerti." Dan keempatnya bersama-sama meninggalkan Austin yang masih berdiam diri di tempat. Pria itu tengah berpikir dimana sekiranya Maxime menyembunyikan Licia. Jika saja ia tidak kehilangan tab miliknya, mungkin ia bisa mendapatkan petunjuk dengan mudah.
Tidak tenang hanya diam menunggu, akhirnya Austin memutuskan untuk mencari Licia di sekitar paviliun. Sayup-sayup ia mendengar suara langkah kaki lebih dari satu mendekat ke arahnya. Sontak saja Austin segera bersembunyi di balik dinding.
"Sial, disini kita harus berjuang melawan Black Lion dan Red Dragon, sedangkan Max sibuk bersama dengan gadis itu di Paviliun Babilone."
"Kudengar dia sudah mempersiapkan diri untuk melarikan diri bersama gadis itu."
Kedua anak buah Bloods Dead saling berbicara, mengeluhkan sikap Maxime yang tidak berjuang untuk membalas serangan, melainkan lebih memilih melarikan diri bersama gadisnya itu.
Austin mencoba lebih mempertajam pendengarannya, namun suara mereka tidak lagi terdengar karena keduanya sudah berlalu terlalu jauh.
"Paviliun Babilone?" gumamnya mengingat nama tempat yang sempat diucapkan oleh salah satu anak buah Bloods Dead. "Aku harus mencari kesana." Austin hendak keluar dari persembunyiannya, namun gerakannya membeku ketika sebuah senjata berada tepat di belakang kepala.
"Rupanya kau benar-benar berani menyusup sampai kesini." Kekehan kecil terdengar. Entah suara siapa, Austin tidak dapat menebaknya. "Tapi tidak masalah. Aku bisa dengan mudah melenyapkanmu disini."
Keheningan menjawab perkataan Demon. Ya, Demon, pria tua itu ternyata menyadari keberadaan Austin di Paviliun miliknya. Sehingga saat ini ia membidikkan senjata tepat di belakang pria muda itu sebelum dirinya yang disergap.
"Siapapun tidak akan mudah melenyapkanku." Alih-alih takut, Austin menjawab dengan santai, padahal nyawanya berada di ujung tanduk. Sekali hentakan peluru yang keluar saja sudah pasti akan membuatnya tewas ditempat.
Demon yang mendengarnya tentu saja berubah menjadi geram. Sebelumnya ia penuh percaya diri, tetapi begitu mendengar perkataan Austin, ia merasa jika dirinya diremehkan oleh anak muda yang belum memiliki pengalaman hidup apapun.
Mencoba menekan kekesalannya, Demon kembali berkata, "Baiklah, kita lihat saja apakah peluru ini berhasil menyelamatkanmu atau justru menewaskanmu." Detik itu juga Demon menarik pelatuknya dan sialnya saat ini Austin tidak memegang senjata apapun.
Dor!
Bertepatan dengan muntahan peluru yang keluar, Austin sudah lebih dulu menarik tangan Demon dan mengarahkan senjatanya ke atas hingga peluru itu menghantam udara dan menebus langit-langit paviliun.
Karena Demon lengah, senjata yang berada di genggamannya kini sudah berpindah di tangan Austin. Bergantian ia yang menodongkan ujung senjata tepat di hadapan Demon.
"Jadi kau yang bernama Demon?" tanyanya setelah menelisik penampilan pria tua di hadapannya. Sebelumnya baik Austin serta yang lain tidak pernah bertemu dengan pria tua itu dan ia cukup merasa asing dengan perawakan pria tua yang sebaya dengan Daddy Xavier dan Paman Zayn.
"Ya, aku Demon," jawabnya dengan percaya diri. Saat ini pada bola matanya tidak menampakkan ketakutan seperti sebelumnya. "Apa kau putra Jasper?" tanyanya kemudian memastikan. Sebab Demon pun belum pernah melihat wajah Jacob meski hanya melalui sebuah foto.
"Menurutmu?" Austin justru memberikan jawaban ambigu.
Demon terkekeh ringan. "Ah, jadi kau bukan putranya. Kudengar dia sedikit arogan dan tidak sabaran. Melihatmu yang seperti ini sudah pasti kau bukan putra Jasper." Diam selama beberapa saat dan meneliti sosok pria muda di hadapannya itu. "Jadi kau Tuan Muda di Keluarga Romanov?" tebaknya tepat. Ia pernah mendengar dari Maxime jika memiliki saingan berat yang berasal dari Keluarga Romanov.
Namun Austin tidak mengindahkan perkataan Demon. Terlalu malas untuk meladeni. Lagi pula untuk apa ia menjawab, tidak menguntungkan juga baginya. Sehingga ia membiarkan pria tua itu menerka-nerka.
"Apa sudah selesai bicaranya? Kau hanya membuang-buang waktuku!" cetus Austin kesal.
Demon mendelik, kemudian kembali terkekeh. Ia tahu tujuan pria muda itu datang untuk menyelamatkan Licia.
"Apa kau datang untuk menyelamatkan gadis itu?" Meskipun pertanyaan yang sebelumnya tidak dijawab oleh Austin, Demon melayangkan pertanyaan kembali.
"Ah, sayang sekali kau terlambat, karena Max sudah membawa gadis itu pergi dari sini." Jika sebelumnya Austin tidak bereaksi, kali ini perkataan Demon sangat mengusik dirinya. Demon menyadari hal itu, ia semakin bersemangat untuk memprovokasi pria muda itu. "Kau tidak akan mudah mengalahkan seseorang yang sedang jatuh cinta, sejak dulu dia sangat tergila-gila pada gadis itu dan akan melakukan apa saja demi bisa bersama dengan gadis yang dicintainya. Dan kau..." Jari telunjuknya mengarah pada Austin. Entah kenapa amarahnya kembali tersulut, meski terkadang hubungannya dengan keponakannya tidak berjalan dengan baik, tetapi ia mendukung Maxime bersama dengan gadis yang dicintainya. Memang terbesit untuknya menjual gadis itu, akan tetapi melihat Maxime yang nyaris gila jika kehilangan gadisnya, sehingga ia mengurungkan niatnya itu.
"Kau hanya orang lain, tidak seharusnya menghalangi hubungan mereka. Biarkan mereka hidup bersama. Bukankah kalian hanya teman saja? Jadi untuk apa kau merepotkan diri menyelamatkan gadis yang saat ini tidak mengingatmu!" imbuhnya mencibir. Ia jelas tahu jika obat itu masih bereaksi dalam tubuh Licia, sehingga gadis itu hanya akan patuh pada Maxime.
Satu tangan Austin yang tidak memegang senjata mengepal kuat disisi pahanya. Provokasi Demon sangat berhasil, ia dapat melihat pancaran amarah di mata Austin. Detik itu juga Demon menyunggingkan senyum puas karena Austin mulai bereaksi.
"Kau ingin menembakku? Kalau begitu tunggu apalagi, tembak saja!" Demon menantang, ia bahkan sudah merentangkan kedua tangannya seolah pasrah.
Geram sudah pasti, sehingga Austin sudah siap menarik pelatuk senjata ditangannya.
"Tapi apa jadinya jika semua orang mengetahui jika Tuan Muda dari Keluarga Romanov menembak seorang pria tua sepertiku?" Perkataan Demon seketika membuat Austin mengernyit dan urung menarik pelatuk senjata.
Mengerti kebingungan Austin, Demon terkekeh pelan. Lalu menunjuk satu kamera yang terpasang di sudut. "Kau lihat disana, kamera itu akan terhubung dengan internet dan akan disiarkan secara live. Menurutmu apa kau masih bisa mempertahankan nama baik Keluarga Romanov?"
Austin tidak peduli. Persetan dengan ancaman Demon. Nama baik keluarganya tidak akan tercemar begitu saja.
Dor!
Satu peluru melesat tepat di kaki Demon, membuat pria tua itu terbungkam seketika. Ia merasakan nyeri pada kakinya. "Sialan!" umpatnya mendengkus. Tindakan Austin melesat dari perkiraannya. Bukankah seharusnya Austin panik atau merasa tersudut, tetapi tanpa keraguan justru menembak dirinya.
Dor!
Dan satu peluru menghantam kamera yang sedang merekam itu. Entah sudah merekam aksinya atau belum, Austin tidak peduli. Ia memang selalu terlihat tenang, setenang air di lautan. Tetapi dalam seketika air tenang itu bisa menjadi ombak yang akan menggulung siapapun.
Demon bergerak mundur. Aura Austin lebih mendominasi dari sebelumnya. Sungguh gawat, sejak awal ia sudah merasa gagal dan rencana untuk merekam perbuatan Austin sudah tidak berguna lagi, sebab kamera yang sengaja ia siapkan sudah hancur lebur.
Karena merasa sudah tersudut, Demon hanya bisa menunggu para anak buahnya untuk menghampiri dirinya sesuai instruksi.
Tepat disaat langkah Austin semakin mendekat, beberapa anak buah Bloods Dead berdatangan. Dan menjadi tameng bos mereka. Tanpa aba-aba memuntahkan peluru tepat di hadapan Austin.
Austin merunduk dan berhasil menghindari serangan. Dan ia mendengar suara peluru melesat dari arah lain. Saat menoleh, ia mendapati dua anak buahnya itu tepat berada di belakangnya.
"Serahkan pada kami. Sebaiknya bos As segera pergi ke arah timur, kami mencurigai jika Nona Licia berada disana."
Tanpa membuang waktu lagi, Austin melesat pergi. Namun tiba-tiba saja menghentikan langkah sejenak, ia membidikkan senjata dan kemudian,
Dor
Satu peluru tepat mengenai bahu Demon yang tentu saja terkejut. Tatapan mereka bertemu dan Austin menampilkan senyum penuh kepuasan. See? Ia tidak akan main-main dengan tindakannya itu.
Tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Austin berlari keluar menuju Paviliun Babilone. Berharap jika dirinya akan tepat waktu berada disana, sebelum Maxime berhasil membawa Licia pergi.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...