The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Biar Aku Yang Pergi!



Arthur kembali ke Mansion dengan perasaan kesal. Ia keluar dari mobil bersamaan dengan anak buah yang berjalan mendekatinya setelah sebelumnya memberikan perintah untuk berkumpul di pelataran Mansion.


"Pastikan tidak ada yang mengikutiku. Dan cari seseorang yang sempat memotretku bersama dengan seorang wanita. Aku yakin ada yang sengaja ingin memanfaatkan berita tentangku untuk kepentingan mereka!" ujar Arthur bernada perintah. Melihat satu persatu anak buah yang berbaris sejajar dengan wajah serius disertai anggukan kepala. Entah siapa yang tadi sudah memantau dirinya, ia dan Darren terlambat menyadari hal itu.


"Baik Bos Ar, kami akan berpencar mencari orang itu."


"Hem..." Arthur berdehem sebagai jawabannya, sebelum kemudian ia berlalu masuk ke dalam. Wajahnya datarnya menampakkan lengkungan tipis ketika melihat pemandangan kemesraan kedua orang tuanya. Cinta mereka tidak lekang oleh waktu dan semakin tubuh disaat bertambahnya usia kedua orang tuanya itu.


"Ar, kau sudah pulang?" Elleana menoleh ke arah sang putra tanpa melepaskan rangkulan tangan sang suami di pundaknya.


"Iya Mom, kepalaku sedikit sakit. Aku ingin beristirahat sebentar," sahutnya tanpa ulasan senyum seperti yang biasanya pria itu sematkan ketika berbicara dengan Mommy-nya.


"Kau masih perlu banyak beristirahat Ar. Kenapa memaksakan diri menemui klien?" Elleana mendadak mencemaskan kesehatan Arthur. Memang seharusnya putranya itu istirahat total tanpa harus memikirkan keadaan perusahaan yang sudah ditangani oleh orang-orang kepercayaan mereka. "Kemarilah, biar Mommy memijat kepalamu." Baru saja Elleana beranjak berdiri, lengannya di tahan oleh sang suami.


"Sweety...." Xavier kemudian mengguncang lengan istrinya itu, sontak aja membuat Elleana menunduk agar memudahkan dirinya menatap suami tampannya itu.


"Ada apa Hubby?" sahut Elleana penuh tanda tanya.


"Ar bisa mengurus dirinya sendiri. Dia hanya perlu beristirahat. Jadi kau tidak perlu memijat kepalanya." Xavier tersenyum lembut menatap istrinya, kemudian beralih pada Arthur. "Bukankah begitu Son, kau hanya perlu beristirahat. Tidak membutuhkan pijatan pada kepalamu, bukan?!" Tatapan Xavier menajam, ia sengaja menekankan ucapannya agar putranya itu menyadari ketidaksukaannya.


Arthur menghela napas jengah. Entah kenapa Daddy-nya itu sangat cemburu kepadanya. Bukankah dirinya putra mereka? pikirnya menggeleng heran.


"Benar, aku hanya perlu beristirahat. Mom tidak perlu mencemaskanku," sahut Arthur pada akhirnya mengalah.


"Tapi Ar-"


"Mom, aku baik-baik saja." Arthur menyela, ia bisa melihat tatapan tajam Daddy-nya itu. "Lebih baik Mom mengurus bayi besar yang merengek di samping Mom itu." Membalikan tubuhnya, Arthur melangkah menaiki tangga.


"Hei, siapa yang kau bilang bayi besar hah?!" Arthur menulikan pendengarannya ketika Xavier berteriak tidak terima. "Carilah seorang istri yang bisa memijat kepalamu kapan saja. Jangan membuat istriku selalu mencemaskanmu!" sambungnya kemudian dengan helaan napas kesal.


"Sudahlah Hubby, Ar hanya bercanda saja." Elleana berusaha menenangkan suaminya itu. Ia mengusap kepala Xavier dengan lembut hingga kekesalan suaminya itu menguap.


Xavier melingkarkan kedua tangannya di;pinggul sang istri, sedangkan kepalanya dibenamkan di perut rata istrinya itu.


Cih, sepertinya aku harus mencarikan istri untuk Ar, agar dia tidak mengganggu istriku terus menerus, batinnya dengan menaikkan satu sudut bibirnya. Sungguh ia tidak terima jika perhatian istrinya terpecah. Bagi seorang Xavier, istrinya hanya miliknya seorang.


***


Arthur bukanlah pria yang suka berdiam diri saja selama seharian penuh. Ia sudah terbiasa bergerak kesana kemari dan menjalani harinya dengan aktivitas dan jadwal yang padat. Sehingga pagi ini ia memutuskan untuk gym di Ringtone Boxing Gym. Meskipun tubuhnya masih memerlukan pemulihan, tetapi tidak ada salahnya ia berolah raga untuk menstabilkan daya tahan tubuhnya.


Sudah empat puluh menit Arthur berada di dalam sana, tubuhnya sudah mengkilat penuh dengan keringat. Seorang wanita dengan pakaian ketat seksi datang menghampiri, tubuhnya yang sintal itu membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum, tak terkecuali beberapa pria yang sudah berada di tempat tersebut.


"Aku tidak menyangka bertemu denganmu lagi disini." Wanita itu berdiri di atas treadmill tepat bersisian dengan Arthur. Tidak lupa menyelipkan seulas senyum manis meskipun yang diberikan senyuman hanya melengos tidak menatapnya.


Wanita itu hanya terkekeh dengan pemandangan yang tidak teralihkan dari lengan Arthur yang masih di balut dengan perban. "Apa yang terjadi dengan lenganmu? Kenapa bisa terluka seperti itu?" Terdapat selipan kecemasan ketika melihat luka itu nyaris memenuhi lengan Arthur yang hanya mengenakan t-shirt tanpa lengan.


"Nona Helena, sebaiknya kau tidak perlu mengetahui sesuatu yang bukan menjadi urusanmu!" Arthur yang kesal segera mematikan alat treadmill dan berjalan menjauhi Helena.


Helena berdecih, menatap punggung Arthur yang menjauh. Namun sikap Arthur yang dingin dan menyebalkan itu membuatnya semakin penasaran. Entahlah, Helena juga tidak mengerti. Bukankah seharusnya ia membenci pria itu? Lagi pula ia seperti menjadi Helena yang dulu. Berusaha mencari perhatian Mikel dengan terus berulah, bahkan sengaja membuat Mikel kesal. Tetapi targetnya kali ini berbeda, Helena sangat menyukai dan menikmati pertengkarannya dengan Arthur.


***


Dua hari berturut-turut tidak mengubah perasaan kesal yang menelusup di hati Arthur hingga pria itu selalu marah-marah tidak jelas. Kesalahan kecil menjadi besar dan kesalahan besar bisa menjadi bumerang. Sehingga membuat karyawan bergidik ngeri dan tidak berani mengusik singa yang buas itu. Dan hingga saat ini yang tahan menghadapi Arthur hanyalah Darren seorang.


"Der, seharusnya kau tidak perlu memesankan makanan seperti ini. Apa kau lupa jika aku ingin makan siang diluar!" Arthur menggeser beberapa kotak makanan yang tersaji di atas meja.


Darren memejamkan singkat kedua matanya disertai helaan napas penuh kesabaran. "Bukankah kau mengatakan jika tidak akan keluar dari perusahaan? Itu sebabnya aku memesankan makanan agar kau tidak kelaparan Ar." Ya, seperti itulah sekiranya perhatian Darren. Meski sikap Arthur membuatnya naik darah, akan tetapi ia masih tetap peduli.


"Apa aku menyuruhmu memesan makanan?!"


"Tidak," jawab Darren singkat. Jika di perusahaan, Darren adalah orang yang tidak takut dengan Arthur, mengingat hubungan mereka juga sangat dekat.


"Karena itu jangan melakukan sesuatu yang tidak kusuruh!" serunya berbicara di sela-sela emosi yang tidak memiliki alasan itu.


"Baiklah. Aku akan membawa kembali makanan-makanan ini dan membagikannya kepada karyawan yang lain." Darren kemudian mengambil beberapa kotak makanan tersebut. Ia tidak tersinggung dengan sikap Arthur, sebab ia sudah terbiasa dan memaklumi hal itu.


"Hem..." Arthur memijat pelipisnya. Lalu pandangannya mengitari ruangannya yang luas itu usai Darren berlalu dari ruangan.


Beberapa menit kemudian, Arthur keluar dari perusahaan diikuti oleh Darren setelah kembali dari memberikan beberapa kotak makanan kepada beberapa karyawan.


Kini mereka sudah berada di salah satu restauran ternama. Arthur mendudukkan dirinya di salah satu kursi, sementara Darren pergi ke toilet usai memesankan makanan untuk mereka.


"Kita bertemu lagi disini." Tanpa permisi seorang wanita cantik melabuhkan tubuhnya di salah satu kursi. Posisi mereka yang berdekatan itu membuat membuat pandangan keduanya saling beradu. Wanita itu tersenyum manis. "Apa aku boleh bergabung denganmu? Aku-"


"Tidak!" Sebelum wanita itu berkata lebih panjang lagi, Arthur lebih dulu menolak dengan tegas. "Masih banyak kursi kosong yang lain. Kau bisa duduk disana, Nona Helena." Ya, Helena kembali membuat Arthur kesal. Wanita itu tidak jera rupanya, meskipun ia sudah memuntahkan kalimat pedas dan tajam.


"Aku hanya ingin duduk disini. Aku kesepian jika makan seorang diri." Kedua mata Helena mengerjap, berusaha meluluhkan Arthur.


Sorot mata Arthur memicing tajam. Merasa risih dengan sikap wanita itu yang berubah seperti dulu. "Jika kau tidak ingin pergi, maka biar aku yang pergi!" Arthur beranjak dan hendak berlalu. Namun pergelangan tangannya di tahan oleh Helena.


To be continue


Babang Arthur



Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...