
Sore harinya, Arthur benar-benar memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Wajahnya nampak serius memperhatikan Oscar yang tengah memeriksa beberapa bagian tubuhnya, mulai dari detak jantung, nadi dan terakhir adalah kedua matanya.
"Bagaimana?" tanyanya usai membenamkan tubuhnya di salah satu kursi. Sementara Oscar mendudukkan diri di kursi kerjanya. Mereka saling berhadapan dengan bersekatan meja kerja Oscar.
"Tidak ada yang aneh dengan tubuhmu. Kau tidak sakit dan sepertinya yang kau khawatirkan tidak terjadi." Oscar memberitahukan hasil pemeriksaannya dan sejauh ini sikap Arthur tetap seperti biasanya. Ia tidak merasakan tanda adanya Killer kembali muncul di dalam diri Arthur.
"Apa kau sudah memeriksanya dengan benar?" Arthur tidak percaya begitu saja, sebab itu ia kembali bertanya memastikan.
Oscar mengangguk, wajahnya menampilkan keyakinan akan diagnosanya. "Menurutku kau baik-baik saja Ar," ujarnya.
"Ck, pasti kau salah. Periksa lagi dengan benar. Belakangan ini tubuhku benar-benar aneh."
Melihat Arthur yang tetap bersikukuh akan tubuhnya yang tidak baik-baik saja, membuat kening Oscar berkerut lantaran berpikir terlalu keras.
"Apa akhir-akhir ini emosimu tidak stabil? Maksudku, emosimu sulit di kendalikan?" Karena setahu Oscar, jika memang emosi Arthur sulit dikendalikan, pertanda jika sosok lainnya itu berusaha menguasai kembali.
Arthur menggeleng tidak yakin. "Entahlah, tapi akhir-akhir ini aku bisa mengendalikan emosiku." Ingatan Arthur meraba kejadian pada saat Elie menjadi target seseorang hingga harus masuk ke rumah sakit dan kejadian-kejadian lainnya yang membuatnya kesal, termasuk sosok Mikel yang akhir-akhir ini secara terang-terangan mendekati adiknya.
"Baguslah, itu tandanya kau bisa mengendalikan sosok itu di dalam tubuhmu. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Tetaplah menjadi dirimu sendiri dan jangan mudah terpancing dengan apapun yang membuatmu marah."
"Aku sudah tau itu, kau tidak perlu menjelaskan lagi. Aku sudah hafal diluar kepala," seru Arthur mendengkus kesal.
"Ya, baiklah." Sungguh Oscar ingin menendang bokong Arthur jika saja ia bisa.
Hening
Keduanya saling terdiam. Oscar tidak ingin bersuara karena percuma saja, ia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Arthur. Dan Arthur justru terlihat sibuk menyelami pikirannya sendiri. Ada banyak yang ingin ia tanyakan kepada Oscar, tetapi sungguh ia tidak tau harus memulai dari mana. Sebab teramat rumit bagaikan benang kusut yang tiada ujungnya.
"Apa kau pernah memikirkan sesuatu yang tidak ingin kau pikirkan?" Pertanyaan Arthur seketika memecah keheningan yang melingkup selama beberapa saat itu.
Oscar yang tengah memainkan bulpoin menjadi sebuah bentuk lingkaran itu, seketika mengangkat wajah diiringi alis yang saling bertaut. "Maksudmu?" tanyanya. Karena jujur saja ia gagal mencerna pertanyaan Arthur.
"Jawab saja pernah atau tidak!" sungutnya kesal. Sungguh Arthur tidak suka jika harus mengulangi pertanyaan untuk yang kedua kalinya.
"Ck, ayolah. Kau ini sejak dulu tidak pernah berubah, selalu dingin dan menyebalkan," keluh Oscar.
"Jawab saja pertanyaanku, bodoh!" sembur Arthur menghardik kesal.
"Ya... ya... baiklah." Oscar mengalah, menyelipkan hembusan napas penuh kekesalan diwajahnya. Sebenarnya ia mendengar pertanyaan Arthur, namun ia ingin mendengar untuk yang kedua kalinya hanya untuk memastikan. "Jadi kau sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin kau pikirkan, begitu?" tanyanya kemudian dan sebagai jawabannya Arthur mengangguk.
"Apa kau sedang ada masalah Ar?" Oscar memastikan kembali. Karena yang ia tangkap dari kacamatanya, Arthur memiliki masalah sehingga mendesaknya untuk memeriksa kondisi pria itu.
"Tidak, aku tidak memiliki masalah apapun." Arthur menyahut cepat.
"Lalu untuk apa pertanyaanmu itu?" Kerutan dalam semakin nampak jelas di kening Oscar lantaran ia benar-benar dibuat bingung oleh pria di hadapannya itu.
"Aku bertanya padamu karena aku sendiri tidak mengerti!" Sungguh Arthur ingin sekali mencekik Oscar karena tidak membantunya sekalipun, padahal ia berharap jika Oscar dapat memecahkan apa yang tengah dirasakannya
Oscar mengusap pangkal hidungnya, sungguh ia gemas sekali dengan Arthur. Jika bisa ia ingin segera mengusir pria itu dari ruangannya. "Dengar Ar, jika kau saja tidak mengerti, bagaimana denganku? Kau tidak menjelaskannya dengan detail bagaimana aku bisa memberimu solusi?" Nada Oscar terdengar begitu lembut, lembut yang dipaksakan karena sejujurnya berhadapan dengan Arthur hanya membuatnya sakit kepala.
Arthur mendesahkan napasnya di udara. Tidak mungkin ia memberitahukan kepada Oscar jika tubuh serta otaknya merasakan keanehan hanya jika berhadapan dengan Helena.
"Jika kau tidak bisa memberi pasienmu solusi, lebih baik kau pensiun menjadi dokter psikolog!" serunya. Entahlah, ia pun kesal karena tidak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan, sehingga hanya mampu menyalahkan Oscar. Arthur kemudian beranjak berdiri dan segera berlalu dari ruangan Oscar yang tercengang selama beberapa saat akan perkataannya yang menajam sekaligus menusuk hingga ke ulu hati.
"Astaga, dosa apa yang kulakukan sehingga memiliki teman sepertinya." Oscar menggeleng-gelengkan kepala, menatap jejak bayangan Arthur yang baru saja lenyap dari pandangannya. Tersinggung? Tentu tidak, karena ia sudah terbiasa menghadapi sikap Arthur yang menyebalkan itu.
***
Langkah Arthur terdengar tegas, berbenturan dengan lantai lorong rumah sakit, hingga membuat langkahnya menggema. Pria itu mengabaikan tatapan pemuja dari para perawat wanita yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Menatap lurus ke depan dan hanya fokus pada langkahnya. Helaan napas kesal yang tertahan itu cukup mewakili harinya yang menjadi buruk, sebab ia tidak mendapatkan jawaban dari Oscar. Temannya itu tidak membantunya sama sekali dan justru semakin membuatnya dilanda kebingungan.
Langkah Arthur kemudian kian dipercepat, ia tidak ingin terlalu lama berada di rumah sakit. Sebab kini ia menjadi pusat perhatian disana, baik para perawat yang menatapnya penuh mendamba, maupun beberapa pengunjung yang lain pun turut memandanginya seolah ingin memangsanya.
Arthur membuang pandangannya ketika Helena menoleh ke arahnya. Samar-samar wanita itu menyematkan senyuman tipis kepada Arthur yang lagi-lagi bersikap dingin.
"Terimakasih sus, aku akan rutin minum obatnya tepat waktu." Helena tersenyum lembut kepada satu perawat wanita yang membantunya meresepkan obat khusus penderita seperti dirinya, ia kemudian berpamitan dan berjalan menghampiri Arthur.
"Kita bertemu lagi," ucap Helena begitu langkah keduanya terhenti bersamaan.
Mau tidak mau Arthur menoleh, sehingga mata mereka kini saling bertukar pandang. "Ya...." sahutnya singkat.
Dan sepertinya hanya Helena yang nampak senang bisa bertemu dengan pria dingin itu, berbeda dengan Arthur yang tidak ada keramahan pada wajahnya saat bersitatap dengan Helena.
"Apa yang kau lakukan disini?" Helena mencoba berbasa-basi setelah kecanggungan membekukan suasana di antara mereka.
"Apa kau lupa jika ini adalah rumah sakit, jadi apa yang dilakukan seseorang dirumah sakit?!" Dan Arthur menyahut dingin, tidak minat menjawab pernyataan wanita itu.
"Ck...." Bibir Helena mencebik sebal. Tidak bisakah pria itu menjawabnya tanpa harus bersikap dingin seperti itu. "Aku tidak tau karena itu aku bertanya, bisa saja kau berada disini karena menjenguk temanmu yang sakit atau... kau sendiri sedang sakit?" Helena kemudian menelisik tubuh Arthur, mungkin saja benar jika pria itu sedang sakit, pikirnya.
"Sebaiknya kau tidak perlu tau apa yang kulakukan disini, karena itu bukan urusanmu!" seru Arthur mempertegas suaranya. Sikapnya semakin dingin karena tubuhnya benar-benar merasakan keanehan setiap kali berhadapan dengan wanita itu.
Helena tersenyum menanggapi meskipun sikap Arthur begitu ketus padanya. Baginya sudah terbiasa menghadapi pria seperti Arthur, karena sebelumnya Mikel pun selalu bersikap dingin padanya.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi." Lebih baik mengalah ketimbang mendapatkan semburan dari pria di hadapannya itu.
Kedua mata Arthur menelisik kantung obat yang berada di genggaman tangan Helena. Ia tidak bisa melihat dengan jelas obat tersebut, namun satu yang ia pahami jika obat itu seperti obat penenang.
"Kau.... obat apa yang kau minum?" Arthur nyaris menyambar obat tersebut namun Helena spontan menjauhkannya.
"Heh?" Tentu saja terkejut karena Arthur tiba-tiba mendekat padanya.
"Kau...."
Suara Arthur tertahan lantaran mendengar suara dering ponselnya yang cukup mengganggu. Ia mengurungkan niatnya bertanya kepada Helena dan merogoh saku celananya untuk menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa Der?" Ternyata yang menghubunginya tidak lain ialah Darren.
"Ar, aku akan memberitahumu kabar baik dan kabar buruk," ujar Darren di seberang sana.
"Katakan!" seru Arthur penuh desakan.
"Kabar baiknya aku dan Chris sudah menemukan keberadaan Veronica. Tapi.... kabar buruknya Chris tertangkap."
"Apa??!!"
Suara Arthur yang menyahut dengan nada meninggi itu membuat Helena terjingkat kaget.
To be continue
Babang Arthur
Dokter Oscar
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...