The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Gelisah



Kini para pengusaha yang hadir sudah duduk ditempat mereka masing-masing. Setiap meja terdiri dari empat hingga lima orang. Arthur, Helena, Mike, Elie serta Darren menempati meja yang sama. Jika Mike dan Arthur serta Darren terlihat percakapan bisnis, tidak dengan Helena yang membicarakan seputar rancangan yang tengah ia kerjakan.


"Helen, ada apa denganmu?" Elie memperhatikan raut wajah Helena yang nampak menyelipkan guratan gelisah di sela-sela pembicaraan mereka.


Helena tersenyum kikuk, ternyata Elie menyadari kegelisahannya. "Entahlah, perutku sedikit tidak nyaman," bisiknya mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Elie.


Seketika mata Elie melebar. "Apa perutmu sakit?"


"Hm, hanya sedikit merasa kram saja." Helena masih berbisik, tentu ia tidak ingin Arthur mendengar keluhannya, sebab tidak ingin merusak acara yang tengah berlangsung.


"Oh My God, Helen!" pekik Elie tanpa sadar sehingga sukses mengundang perhatian Arthur, Mike serta Darren.


"Elie, kecilkan suaramu." Tentu Arthur menegur sang adik.


"Ada apa, Sweetheart?" Berbeda dengan Mike yang tentu saja akan selalu berkata penuh kelembutan.


Dan Darren pria itu hanya melirik sekilas lalu menatap ke semula, dimana seseorang berdiri di atas podium, menjelaskan apa yang terpampang di layar monitor.


Elie menggaruk tengkuk lehernya. Ia tidak sengaja memekik lantaran sedikit terkejut dan panik. "Maaf...." cicitnya merasa bersalah. Hingga pada akhirnya Arthur serta Mike kembali memusatkan perhatian mereka pada layar monitor yang menangkup grafik saham.


Helena mengusap lengan Elie. Wajar reaksi adik iparnya seperti itu karena mencemaskan dirinya serta keponakan-keponakannya.


"Sebaiknya kau bicara pada Kak Ar." Elie kembali berbisik, menyarankan agar Helena memberitahukan keluhannya.


Tentu saja Helena menggeleng. "Tidak," sahutnya cepat. "Perutku akan segera membaik setelah diusap seperti ini." Dan ia menunjukkan telapak tangannya yang tengah mengusap perut buncitnya.


"Baiklah, tapi jika tiba-tiba kau merasa sakit, katakan padaku." Dan Helena hanya mengangguki perkataan Elie.


Benar saja, beberapa menit setelah mengusap-usap perutnya, Helena tidak lagi merasakan kram. Ia bernapas lega karena kedua janinnya mengerti dirinya. Namun sepertinya ia butuh ke toilet untuk buang air kecil, wajar saja ia masih dalam tahap trimester pertama sehingga selalu ingin buang air kecil.


"Elie, sepertinya aku ingin ke toilet," tutur Helena menyenggol lengan Elie.


Elie menolehkan kepala. "Apa perutmu masih merasa kram?" tanyanya masih menampakkan kekhawatiran.


"Tidak." Helena menjawab meyakinkan dengan gelengan kepala kecil. "Aku hanya ingin buang air kecil."


"Oh, baiklah. Aku akan menemanimu." Karena Elie tidak ingin terjadi sesuatu dengan Helena di dalam toilet, sehingga ia harus menemani kakak iparnya itu.


Helena tidak menolak, memang lebih baik Elie menemani dirinya. Lalu tubuhnya pun dicondongkan pada Arthur dan berbisik, "Honey, aku ingin ke toilet."


Mendengar bisikan Helena, Arthur mengalihkan pandangannya dan menatap sang istri. "Apa perlu kutemani?"


"Tidak perlu. Elie akan menemaniku."


"Benar, aku juga ingin ke toilet," ucap Elie menyambar.


"Baiklah." Arthur mengangguki, lalu membantu Helena beranjak berdiri dari kursi.


Kedua wanita cantik itu lalu segera berlalu dari sana usai Elie berpamitan pada Mike, yang diiyakan oleh suaminya itu.


Usia buang air kecil, Helena mencuci tangan di wastafel, ia kemudian membenarkan tatanan rambut serta gaunnya. Pantulan dirinya terpampang jelas penampilan dirinya yang selalu terlihat cantik. Namun tiba-tiba saja sesuatu mengganggu penglihatannya, ia merasa jika ada seseorang dibalik bilik toilet yang lain, yang ia lihat dari pantulan cermin. Lantas Helena menoleh ke belakang, mencari sumber yang ia lihat sebelumnya. Ia melangkah mendekati bilik toilet yang tertutup. Entahlah, ia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari dalam dan bayangan itu tertangkap oleh matanya.


"Elie, apa itu kau?" Ia bersuara memastikan, sebab selain Elie dan dirinya tidak ada lagi orang lain di dalam toilet.


Hening


Tidak terdengar suara apapun, baik sahutan maupun suara air dari dalam.


Helena kembali melangkah, ia meraba pintu bilik toilet dan ia dorong dengan perlahan. Tidak terkunci. Itu artinya tidak ada orang lain di dalam. Untuk memastikannya, Helena mendorong lebih kuat lagi hingga pintu terbuka lebar.


Tidak ada seorang pun, lalu apa yang ia lihat sebelumnya? Apa ia salah melihat atau hanya perasaannya saja? Karena tidak mendapati siapapun, Helena membalikkan tubuh dan seseorang berdiri tepat di hadapannya.


"Aakhhh...." Sontak saja Helena reflek berteriak.


"Hei Helen, ada apa denganmu? Kenapa berteriak?" Elie mengguncang bahu Helena dan berhasil menghentikan jeritan kakak iparnya itu.


Dengan ragu Helena membuka mata. Wajah Elie memenuhi pandangannya dan itu benar-benar adik iparnya.


"Elie... kau dari mana saja?" Wajah Helena pucat pasi bagaikan tidak teraliri darah disana. Namun kelegaan nampak memenuhi dirinya.


"Aku menunggumu diluar, karena kau tidak juga keluar aku memutuskan kembali masuk ke toilet, tapi kau tiba-tiba saja berteriak dan membuatku terkejut." Elie memang lebih dulu selesai buang air kecil dan memutuskan menunggu Helena di depan pintu. Tetapi karena Helena terlalu lama berada di dalam toilet, sehingga ia kembali masuk ke dalam untuk memastikan tidak ada yang terjadi dengan Helena.


Elie yang bingung hanya mengikuti langkah Helena tanpa kembali bertanya. Mungkin karena hormon sehingga mood Helena berubah-ubah, dan Elie memaklumi hal itu. Namun tanpa mereka sadari jika sepasang mata memperhatikan langkah mereka yang semakin menjauh dengan seringai senyum tipis.


Setelah kembali dari toilet Helena selalu bergerak gelisah. Ia memilin jemarinya dan sesekali meremass gaunnya. Sejak merasakan sesuatu yang aneh di dalam kamar mandi, ia menjadi tidak tenang. Dan kegelisahan itu tertangkap oleh Arthur.


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Dari nada bicaranya saja Arthur nampak panik. Ia takut apa yang ia cemaskan dirasakan oleh istrinya.


Helena mendongak, menemui mata Arthur. "A-aku baik-baik saja." Berbeda dengan jawabannya yang mengatakan jika dirinya baik-baik saja, wajah Helena menampakkan sebaliknya. Pucat dan terlihat setetes keringat di kening wanita itu.


"Kita pergi dari sini, hm." Arthur merasakan jika Helena mulai tidak nyaman.


"Tidak, aku baik-baik saja." Helena berusaha untuk tersenyum. Tetapi Arthur tahu jika istrinya itu berusaha untuk tidak membuatnya khawatir.


Hingga kemudian ia berbisik pada Darren. "Der, aku dan Helen akan ke kamar hotel lebih dulu."


Mendengar hal itu, sontak kening Darren mengernyit. "Apa terjadi sesuatu?"


"Hm, Helen sepertinya mulai merasa tidak nyaman." Dan Arthur menjelaskan dari raut wajah Helena yang ia tangkap.


"Baiklah." Darren tidak keberatan jika Arthur dan Helena pergi lebih dulu. Karena acara pun akan berakhir tiga puluh menit kemudian.


"Katakan pada Mike dan Elie jika mereka menanyakan keberadaanku dan Helen," ujar Arthur kembali. Ia melihat Mike masih berbincang dengan rekan bisnisnya dengan menggandeng pinggang Elie.


Darren berdehem mengiyakan. "Hm, baiklah."


Lantas Arthur segera membawa Helena pergi dari ballroom menuju deluxe suite room yang berada di lantai 6. Di dalam lift, Arthur mengapit erat pinggang Helena. Ia sadar benar jika keadaan istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Honey, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu beristirahat saja." Helena kembali mengulangi perkataannya. Ia menolak untuk dipanggilkan dokter.


"Tapi kau harus tetap diperiksa." Tentu Arthur tidak bisa dibantah. Kondisi Helena lebih penting dari apapun, termasuk penolakan istrinya itu.


Sadar jika suaminya benar-benar tidak bisa dibantah, Helena kembali terdiam. Protes pun percuma, Arthur tetap akan memanggilkan dokter untuknya.


***


Selepas acara asosiasi berakhir. Darren melakukan tugasnya untuk menghubungi dokter kandungan terbaik di Bristol. Kini keduanya sudah berada di lobby hotel, menunggu kedatangan dokter yang sudah ia hubungi lima belas menit yang lalu.


"Der, aku dan Mike akan melihat keadaan Helen. Apa kau tetap akan menunggu disini?" Elie bangkit dari sofa disusul oleh Mike setelahnya. Sebelumnya ia dan Mike berniat menemani Darren, akan tetapi Elie semakin mencemaskan Helena. Terlebih ia melihat sendiri wajah Helena yang pucat sejak sekembalinya mereka dari toilet.


"Aku akan tetap menunggu disini."


"Baiklah, kau bisa menyusul jika dokter belum juga sampai," ujar Mike menepuk bahu tegap Darren.


Darren mengangguk. Lalu membiarkan kedua pasangan suami istri itu berlalu menuju lift. Ketika Darren mencoba untuk menghubungi dokter kembali, ia merasakan siluet seseorang yang baru saja melintas. Namun ketika menoleh, ia tidak mendapati siapapun selain tamu lain yang berlalu lalang. Instingnya lebih kuat, ia mengikuti siluet yang berjalan ke arah parkiran mobil.


Langkahnya mengendap-endap untuk mencari siluet tersebut. Lampu yang temaram menyulitkan pandangannya menyapu sekitar. Dan ia tetap tidak menemukan siapapun, hingga Darren memutuskan untuk kembali ke lobby. Namun satu anak buah terlihat berjalan ke arahnya. Anak buah yang ia tugaskan sejak siang untuk mengikuti seorang wanita yang ternyata juga berada di Bristol setelah beberapa hari menghilang dan tidak mengganggu dirinya.


"Tuan Darren, Nona Veronica berada di Be At One Bar dan...." Anak buahnya itu terlihat ragu untuk memberitahu.


"Dan apa?" Darren mendesak tidak sabar.


"Nona Veronica bersama dengan teman pria."


Darren tidak memberikan respons selama beberapa saat. Sebelum akhirnya dokter yang ia hubungi sudah datang.


"Lakukan seperti biasa. Aku akan mengantar Dokter Bradley lebih dulu."


Anak buah itu mengangguki perkataan Darren dan segera pergi dari sana untuk melakukan tugas seperti yang diperintahkan. Sementara Darren sudah melangkah bersama dengan Dokter Bradley menuju lantai enam.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...