The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Ini Bukan Seperti Dirimu!



Tatapan mata Elie menghujam penuh ketidakpercayaan ketika mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Darren serta Paman Jack. Benarkah yang mereka katakan jika kakaknya itu memiliki Alter Ego? batinnya.


"Jadi itu yang membuat kak Ar tidak mengenaliku? Dia bahkan tega mendorongku sampai jatuh?" cicit Elie. Rasanya ia sulit sekali mempercayai hal demikian. Tetapi jika melihat sang kakak yang berubah menjadi arogan dan kasar, ia percaya jika pria itu bukan sosok Arthur yang sebenarnya. Sebab jika sosok itu benar-benar kakaknya, pria itu tidak mungkin tega hati mendorong hingga membuatnya terluka seperti ini.


"Bukan tidak mengenali, lebih tepatnya sosok lainnya tidak peduli pada sekitar. Tapi dari yang Paman dengar sebelumnya jika Ar mengingat apa yang dia lakukan ketika sosok itu sudah menguasainya dan sayangnya Ar tidak dapat berbuat apapun." Jack menjelaskan apa yang ia ketahui, memang tidak perlu ditutupi lagi, mengingat Elie sudah melihat dan berhadapan langsung dengan Arthur saat sosok itu menguasai.


Elie dan Darren mendengarkan dengan seksama. Tidak ada yang mereka lewatkan, apa yang disampaikan oleh Jack benar-benar di cerna oleh keduanya.


"Kalau begitu tolong kalian cari Kak Ar. Aku tidak ingin dia melukai orang yang tidak bersalah. Itu bukan sikap kakakku yang sebenarnya." Terselip kecemasan di wajah Elie, tentu ia tidak menginginkan kakaknya menjadi sosok yang melukai orang-orang yang tidak bersangkutan.


Jack tersenyum menenangkan. "Tenang saja, Paman dan Darren akan memastikan keselamatan Ar dan orang-orang di sekitarnya. Paman sudah menyebarkan beberapa anak buah untuk mencarinya."


"Baik Paman terima kasih. Kalian tolong hubungi aku jika terjadi sesuatu dengan Kak Ar," tutur Elie.


"Tentu." Jack menyahut cepat, sementara Darren mengangguk. Ia pun tidak akan membiarkan terjadi sesuatu dengan Arthur.


Setelah memastikan Elie bergegas masuk ke dalam ruangan perawatan Veronica, Darren serta Jack segera berlalu dari rumah sakit. Menurut laporan salah satu anak buah, Arthur berada tidak jauh dari kediaman Alan Born.


Namun begitu mereka tiba di kawasan Frognay Way, London, keduanya tidak menemukan Arthur disana. Padahal jelas-jelas beberapa anak buah melihat keberadaan Arthur yang berdiri mengamati Mansion mewah milik keluarga Born.


"Der, aku akan mencari Ar di sekitar sini," ujar Jack sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Kalau begitu aku akan mencari di tempat lain Dad. Aku yakin Ar sudah pergi dari sini."


"Baiklah." Jack menyahut sebelum kemudian melangkah menjauhi Darren.


Darren kembali masuk ke dalam mobilnya, lalu meninggal kawasan Frognay Way, London. Mobilnya mengitari pusat kota London. Entahlah, Darren pun bingung harus mencari Arthur kemana, sebab beberapa anak buah yang turut berpencar pun belum menemukan tanda-tanda keberadaan Arthur.


***


Sementara yang tengah dicari oleh Darren, Jack beserta beberapa anak buah Black Lion tengah berada di basement parkir salah satu hotel ternama di Pusat Kota London. Sebelumnya Arthur memang memantau di depan kediaman pria tua tersebut. Namun sorot matanya tidak sengaja menangkap sebuah mobil yang hendak keluar dari pintu gerbang belakang. Sehingga Arthur menghentikan taksi yang melintas di depannya. Awalnya supir taksi itu merasa tidak asing dengan wajah Arthur, namun Arthur tidak pedulikan sang supir tersebut. Ia membentak untuk segera menjalankan mobil dan mengikuti mobil mewah yang baru saja keluar dari kediaman Keluarga Born.


Supir taksi tersebut menurut, ia segera menjalankan taksinya dengan kecepatan sedang. Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Arthur keluar dari taksi usai membayar. Dan tidak berhenti menyoroti mobil Alan Born yang baru saja memasuki basement hotel dan terlihat turun dari mobil.


Arthur mengikuti langkah pria tua itu, namun sebelum langkahnya semakin mendekat, tubuhnya bertabrakan dengan seorang wanita cantik. Sontak saja Arthur mengumpat kesal, bahkan menyalahkan wanita itu karena telah menabraknya.


"Apa matamu buta, hah!" bentaknya kepada wanita yang tercengang melihatnya. "Berjalan dengan benar, sialan!" Dan wanita itu dibuat lebih terkejut lagi ketika Arthur berkata lebih kasar.


"Menyingkirlah. Kau menghalangi jalanku!" Arthur tidak mengindahkan seruan wanita itu. Saat ini yang terpenting adalah mendapatkan Alan Born dan segera melenyapkannya.


"Hei, ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Helena menjangkau lengan Arthur, akan tetapi pria itu menepis kasar tangannya. Tentu saja Helena tersentak, apa pria itu marah padanya? Tapi kenapa? Bukankah ia sudah tidak lagi mengganggu wanita yang bernama Elie, pikirnya.


"Sudah kukatakan menyingkir!" Arthur kesal lantaran Helena masih berdiam diri di hadapannya. Sehingga ia mendorong wanita itu sama seperti yang ia lakukan kepada Elie.


Namun Helena bergegas mengejar Arthur, sungguh ia penasaran apa yang terjadi dengan pria itu. Kenapa nampak marah dan sorot matanya menyiratkan akan membunuh seseorang?


"Hentikan. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?!" Helena menarik satu lengan Arthur. Meski tenaganya tidak terlalu kuat, tetapi mampu menghentikan langkah Arthur. "Ini bukan seperti dirimu!" Dan wanita itu kian mencerca sikap Arthur, membuat telinga pria itu memanas.


"Berengsek! Kau ingin mati di tanganku hah?!" Sedari tadi Arthur sudah mengeram amarah, namun wanita itu kian menyulutkan emosinya. Arthur mendorong Helena dan menghimpit wanita itu di sisi mobil yang entah milik siapa. Sebelum kemudian telapak tangannya mencengkram leher wanita itu.


Kedua kata Helena berkaca-kaca dengan napas yang tercekat. Sungguh ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan Arthur, sehingga pria itu nampak murka. Namun Helena membiarkan tangan Arthur mencengkram lehernya yang kian diperkuat, wajahnya memerah karena kesulitan bernapas. Berbeda dengan wajar Arthur yang nampak beringas dan seolah benar-benar ingin menghabisi wanita itu.


"Kau.... sa-sadarlah....." Suaranya benar-benar tercekat, bahkan buliran bening terlihat menetes dari sudut matanya. Sungguh Helena dapat merasakan sesuatu yang berbeda dengan Arthur. Meski mereka belum lama saling mengenal, tetapi selama ini ia sudah mencari tahu mengenai pria itu. Dari berita yang ia dengar, meskipun Arthur memiliki sikap dingin, tetapi sangat menyayangi keluarganya. Itu yang ia bisa tangkap dari sorot mata pria itu saat pertama kali bertemu dengan Arthur. Namun kali ini sorot mata Arthur benar-benar berbeda, mengkilat penuh dengan kebencian.


Kedua mata Arthur bersitatap dengan mata Helena yang sudah terlihat semakin memerah dan terselip keteduhan disana. Namun ia tidak pedulikan tatapan penuh permohonan wanita itu, tangannya semakin memperkuat cengkramannya, sehingga Helena sontak memejamkan kedua matanya. Mungkin ia benar-benar akan berakhir di tangan Arthur.


To be continue


Babang Arthur



Helena



Kadang kalau pakai visual suka lama direview, semoga bab ini cepat lolos review ya.....


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...