
Tujuh bulan kemudian
Dua hari yang lalu baru saja terjadi badai salju, seluruh penduduk Kota London memilih berdiam diri di kediaman masing-masing. Tak terkecuali Licia, gadis itu menatap hamparan salju yang masih memenuhi halaman serta jalanan di sekitar Mansion. Lalu tersentak kaget ketika seseorang menyentuh bahunya, menolehkan kepala dan mengulas senyum tipis saat bersitatap dengan Mommy Angela.
"Sepertinya salju di sekitar Mansion sudah dibersihkan. Apa kau yakin benar-benar akan pergi ke Glenshee Sky Centre?" tanya Mommy Angela mengambil ruang di sofa yang kosong, lalu membenamkan tubuhnya disana.
"Iya Mom, sudah lama sekali aku tidak bermain ski," sahut Licia nampak bersemangat. "Kemarin aku mengajak Frey dan dia setuju."
Mommy Angela mengangguk-angguk tanda mengerti. Sudah beberapa bulan ini ia melihat putrinya berdiam diri saja di Mansion dan begitu murung. Bahkan kerap kali ia memergoki putrinya itu menangis diam-diam. Dari yang ia perhatikan, putrinya berubah menjadi gadis pemurung setelah kepergian Austin dan ia menyimpulkan jika sang putri begitu kehilangan Austin. Jika keduanya memiliki perasaan, tentu ia akan mendukung sepenuh hati. Meskipun ia sendiri tidak dapat memastikan suaminya akan merestui jika Licia dan Austin benar-benar saling mencintai. Ditatapnya wajah Licia yang semakin hari terlihat semakin dewasa. Lalu tangannya terulur untuk membelai rambut putrinya itu.
"Hati-hati saja saat bermain ski. Mommy tidak ingin kau terluka, seperti terjatuh dari papan seluncur." Biar bagaimanapun bagi seorang ibu, putra dan putrinya tetaplah seorang anak kecil di matanya. Sehingga ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Licia maupun Jacob.
"Mom, terluka itu hal yang biasa. Lagi pula tidak akan sakit karena terjatuh di atas salju." Bibir Licia mencebik, ia merasa Mommy-nya itu terlalu berlebihan mencemaskan dirinya.
Mommy Angela menghela napas. Yang dikatakan Licia ada benarnya, akan tetapi tetap saja membuatnya khawatir. Namun ia pun tidak bisa melarang Licia, sebab putrinya itu terlihat bersemangat. Sehingga ia akan membiarkan Licia bersenang-senang bersama Freya.
"Lalu jam berapa kalian akan pergi, hm?" tanya Mommy Angela memastikan.
Mendengar perkataan Mommy-nya, Licia sontak menoleh ke arah jam dinding yang berada di sana. "Ah, ini sudah hampir jam 9 Mom, Frey pasti sudah menungguku." Gadis itu segera beranjak berdiri, lalu berlari menuju kamar untuk bersiap-siap.
Benar saja, begitu tiba di Kediaman Miller, Freya sudah menunggu dirinya, wajah gadis itu tertekuk kesal lantaran sudah menunggu hingga tiga puluh menit lamanya.
"Lihatlah, kau terlambat tiga puluh menit, Licia!" Freya menekankan kata 'terlambat' pada teman baiknya itu. Bahkan gadis itu menunjukkan arloji berlapis emas yang melingkar di pergelangan tangannya.
Licia hanya terkekeh di dalam mobil dengan kacanya sudah terbuka lebar, membuat Freya semakin kesal dibuatnya akan respons Licia yang tanpa bersalah itu.
"Cepatlah masuk. Jika tidak, kita akan semakin terlambat." Licia tidak menghiraukan kekesalan di wajah Freya. Jika ia meladeni teman itu, maka mereka benar-benar akan semakin terlambat.
Dengan perasaan dongkol, Freya segera membuka pintu mobil bagian belakang, lalu melesat masuk setelah sopir Keluarga Scott itu membantu memasukkan koper milik Freya ke dalam bagasi mobil.
Perjalanan mereka sedikit memiliki hambatan, sebab sebagian jalan di Kota London masih tertutupi oleh salju. Namun lambat laut perjalanan mereka berjalan lancar begitu sudah keluar dari kawasan Kota London dan menuju Skotlandia.
Wajah Licia nampak berbinar saat sudah tiba di area Glenshee Sky Centre, dimana hamparan salju nyaris menutupi gunung akibat badai salju dua hari yang lalu.
"Ayo Frey, kita ke resort." Karena begitu tidak sabar, Licia menarik pergelangan tangan Freya. Dengan diikuti oleh anak buah yang membawakan perlengkapan keduanya.
"Letakan saja disana. Dan kalian kembalilah, tidak perlu mengawasiku, aku akan baik-baik saja." Licia mengusir dua anak buah yang ditugaskan untuk menjaga dirinya saat baru saja berada di resort. Sedangkan Freya segera masuk ke dalam resort untuk melihat bagaimana pemandangan dari dalam resort.
"Tapi Nona...." Tentu saja mereka enggan meninggalkan Nona muda mereka.
"Kami ditugaskan untuk menjaga Nona selama beberapa hari disini," sambung anak buah yang lainnya.
Tangan Licia mengintrupsi dua anak buah tersebut. "Tidak perlu. Aku dan Freya akan bersenang-senang tanpa perlu dijaga. Katakan saja pada Daddy jika aku yang mengusir kalian. Jadi kalian tidak perlu khawatir, Daddy tidak akan menghukum kalian berdua." Gadis itu tetap berkukuh mengusir kedua anak buah Daddy-nya. Selama beberapa hari, ia tidak ingin dijaga ketat oleh mereka, karena ingin merasakan kebebasan yang sesungguhnya tanpa perlu diawasi.
Kedua anak buah hanya saling pandang, kemudian mengangguk seolah mengerti. "Baiklah, jika terjadi sesuatu, Nona segera hubungi kami."
"Iya, baiklah. Sudah, kalian cepatlah pergi." Licia benar-benar mengusir mereka. Tidak ingin lebih lama menyia-nyiakan waktu untuk berseluncur di atas salju.
Jika memang sudah menjadi keinginan putri dari Master mereka, kedua anak buah hanya menurut saja. Mereka segera pergi dari resort dan seolah meninggalkan area Glenshee Sky Centre. Yang sebenarnya mereka tetap menjaga Nona Muda Licia dari kejauhan. Tentu mereka lebih takut dengan Master ketimbang putrinya.
"Frey, aku akan berganti pakaian. Setelah ini kita bermain ski," ujar Licia saat memasuki kamar mandi.
Licia sudah berganti pakaian, ia mengambil beberapa pakaian khusus bermain ski.
"Ah, jangan lupa membawa sunblock. Aku tidak ingin kulitku terbakar," ucapnya mengingatkan Freya.
"Iya, aku sudah tau. Kau ini cerewet sekali," seru Freya dan cukup heran mendapati sikap Freya yang kembali seperti sedia kala. Sudah beberapa bulan ini jika ia mengunjungi Licia, gadis itu selalu tampak murung dan tidak banyak bicara.
Licia hanya terkekeh. Ia menyelesaikan kegiatannya berpakaian. Yang terakhir mereka lakukan adalah mengenakan sepatu bot khusus, tentu setelah membaluri seluruh wajah dan tangan dengan sunblock. Terlepas dari kondisi lereng permainan, mengenakan tabir surya bersifat wajib. Kapan saja kulit dapat terbakar sinar matahari meskipun udaranya sangat dingin.
Licia dan Freya mulai berseluncur. Dan dua anak buah yang ditugaskan tetap berjaga dari kejauhan sembari mengedarkan pandangan mereka. Dan hal itu berlanjut hingga dua hari selama berada di resort. Dan sore nanti Licia serta Freya memutuskan untuk kembali ke London.
Saat mereka selesai membersihkan diri, seorang pria tampan berdiri di depan resort. Tentu kehadirannya disadari oleh Licia dan Freya.
"Bicaralah baik-baik dengannya. Kalian harus meluruskan kesalahpahaman." Freya menyentuh bahu Licia dan memberikan pengertian untuk temannya itu menyelesaikan masalah mereka. Biar bagaimanapun mereka sudah saling mengenal sejak kecil, tidak seharusnya saling menjauhi.
Licia menghembuskan napas berat. Yang dikatakan oleh Freya benar adanya. Karena pernyataan cinta pria itu satu bulan yang lalu, membuatnya kesal sekaligus membenci pria itu, lantaran menjadi salah satu alasan Austin pergi.
Tanpa menjawab, Licia melangkah keluar untuk menghampiri pria itu.
"Katakan, untuk apa kau menyusulku datang kemari, Gav?" Licia berbicara to the point karena tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Gavin yang sudah membuatnya kecewa itu.
Gavin menatap lekat wajah Licia yang nampak terganggu dengan kedatanganya dan begitu enggan bicara dengannya. Jika sebelumnya mereka sangat dekat dan bahkan bebas bersenda gurau, tidak dengan saat ini. Gadis itu wajar saja jika membencinya karena tindakannya saat itu.
"Licia, aku...."
***
Sedangkan di landasan pribadi Kota Westchester, seorang pria baru saja turun dari pesawat pribadi, diikuti oleh asistennya yang selama satu tahun ini setia menemani.
"Aku kembali, apa kau masih menungguku?" gumamnya pada angin yang seolah dapat mendengarnya. Lalu menghirup dalam udara segar yang sangat dirindukannya.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan udara dingin seperti ini, Bas." Pria itu melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Dan kemudian melihat ke sekelilingnya yang dipenuhi oleh salju.
"Di Indonesia hanya ada dua musim saja Tuan muda, jadi wajar saja jika tidak ada musim dingin disana."
"Ah, kau benar." Ia mengangguk membenarkan. "Kalau begitu kita segera pulang, aku sudah sangat merindukan mereka." Tanpa menunggu jawaban dari asistennya, ia bergegas masuk ke dalam mobil. Disusul oleh asisten kepercayaannya setelahnya dan segera meninggalkan landasan Kota Westchester.
See you next bonus chapter
Yang berkenan silahkan mampir ke novel teman kece Yoona ini ya 🤗
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...