The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tinggalkan London Secepatnya!



Meski merasa asing dengan sekitarnya. Licia tetap mengikuti Maxime untuk turun ke bawah. Sejak kemarin tiba di Paviliun Babilone, Licia menolak makan apapun. Karena itu pagi ini Maxime memaksa Licia untuk sarapan bersama. Ia tidak ingin gadisnya jatuh sakit dan tentunya ia akan merasa bersalah.


Licia, gadis itu tidak mampu menolak apapun yang dikatakan oleh Maxime. Meskipun hati kecilnya sudah berusaha untuk memberontak, tetapi tubuhnya memberikan respons lain.


"Licia sayang, kau harus makan yang banyak. Aku tidak ingin kau jatuh sakit." Maxime menyodorkan piring berisikan tenderloin steak di hadapan Licia.


Licia hanya mampu mengangguk. Ia perlahan memasukkan potong daging lembut itu ke dalam mulutnya. Tidak sulit mengunyahnya, sebab sebelumnya Maxime sudah memotong-motong menjadi bagian kecil.


Maxime senang melihat Licia yang melahap sarapannya. Ia ingin membuat gadisnya itu merasa nyaman selama bersamanya. Meski Licia hanya bisa mengangguk bak seperti boneka hidup, tetapi tidak masalah untuknya, asalkan ia tetap bisa bersama dengan gadis yang ia cintai.


"Wah... wah, rupanya kalian sedang sarapan." Suara Demon memecah keheningan saat di meja makan. Maxime menoleh ke asal suara, sedangkan Licia tidak memberikan respons apapun. Gadis itu fokus menyantap makanannya tanpa pedulikan sekitar.


"Ada apa Paman datang kemari?"


Mendengar perkataan Maxime yang terlihat jelas tidak menyukai kedatangannya itu membuat Demon tersenyum miring.


"Memangnya aku tidak boleh datang kemari? Aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang membuat keponakanku tergila-gila," cetusnya sembari memperhatikan seorang gadis yang duduk membelakanginya.


Maxime berdecak. Ia tidak senang dengan kedatangan Demon yang sudah pasti memiliki tujuan lain.


"Sebaiknya Paman pergi saja, kembali ke Paviliun Dongdae. Jangan membuat Licia tidak nyaman dengan kedatangan Paman." Sudah susah payah ia membujuk Licia, jangan sampai Pamannya itu membuat ulah yang akan membuat Licia semakin ketakutan.


Demon mengernyit, ia seakan tidak terima. "Kau mengusirku, heh? Kau lupa jika Paviliun Babilone adalah milikku yang kuberikan secara cuma-cuma padamu."


"Lalu apa kau ingin mengambilnya, begitu?"


Demon tergelak seketika. Berbicara dengan Maxime yang keras kepala itu memang tidak akan ada habisnya. Maxime lebih seperti dirinya, ia begitu heran kenapa sikap Maxime sangat bertolak belakang dengan Andy kakaknya yang penuh kesabaran.


"Baiklah, kali ini aku mengalah." Kedatangannya bukan untuk mencari keributan. Ada sesuatu hal yang penting untuk dibahas dengan Maxime. "Lebih baik membahasnya di Markas, aku menunggumu disana!" katanya sambil berlalu begitu saja. Ia mengurungkan niatnya untuk bertatap langsung dengan Licia. Ada sesuatu hal lagi yang harus ia lakukan.


Maxime menatap heran kepergian sang paman. Datang seenaknya dan pergi juga seenaknya. Tetapi seperti itulah Pamannya. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan Pamannya itu.


***


Sore harinya, setelah melakukan sesuatu yang penting, Demon kembali ke Paviliun Babilone. Ia benar-benar penasaran ingin melihat wajah gadis itu. Sebelumnya ia melihat wajah dari wanita yang ia inginkan itu masih terlihat sangat cantik diusianya yang tidak lagi muda, ia menjadi penasaran. Sehingga disinilah ia berada, ia kembali memasuki Paviliun Babilone, persetan dengan reaksi Maxime yang sudah pasti tidak suka akan kedatangannya.


Maxime terlihat bersantai dengan gadis itu. Dari belakang saja ia sudah dapat memastikan wajah gadis itu dengan rambut panjangnya yang bergelombang di ujung.


Mendengar suara langkah kaki mendekat, Maxime menoleh ke belakang. Ia tertegun mendapati Pamannya berada di Paviliun Babilone.


"Ada apa lagi, Paman?" Benar bukan, Maxime tidak menyukai keberadaan Demon.


Demon tersenyum miring. "Aku tidak ada urusan denganmu!"


"Tentu saja untuk melihat calon putriku," sahutnya dengan senyum percaya diri. Ia membayangkan wajah cantik istri Jasper yang akan selalu menemaninya.


Heh? Yang benar saja! Maxime tidak habis pikir. Bukankah sebelumnya Pamannya itu sangat mencintai mendiang istrinya. Lalu apa yang baru saja ia dengar? Pria tua itu menyebut Licia-nya sebagai calon putrinya, pikirnya.


Demon kian melangkah mendekati Licia. Gadis itu merasakan kehadiran seseorang selain dirinya dan Maxime, sehingga menoleh tepat ke arah Demon berdiri. Gadis itu tertegun, raut wajahnya nampak sedikit memucat.


"Wah, kau benar-benar mirip dengan ibumu." Demon akui kecantikan gadis dihadapannya ini diturunkan dari istri Jasper. "Pantas saja Max tergila-gila padamu dan rela melakukan apapun untuk membawamu pergi dari keluargamu. Hahaha." Tiba-tiba saja Demon tertawa, entah apa yang lucu, Maxime sendiri terlihat bingung.


Namun detik berikutnya tawanya menyurut, Demon kembali meneliti tubuh Licia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan pria paruh baya itu memutari tubuh Licia hanya sekedar untuk menemukan cacat di tubuh gadis itu.


"Paman, jangan membuatnya ketakutan!" Maxime menegur Demon. Dari wajah Licia yang memucat itu, ia sudah dapat memastikan jika gadisnya sangat tidak nyaman.


Demon mengabaikan teguran Maxime, pandangannya hanya tertuju pada kucing kecil yang manis. "Ternyata putri Jasper benar-benar sangat cantik," ujarnya dengan decakan kagum. Ia kembali memutari tubuh Licia.


Licia mengikuti gerakan pria paruh baya itu saat melintasi bahunya. Ia segera menghindar ketika telapak tangan Demon ingin menyentuh kepalanya.


Demon terkekeh, ia sadar betul jika Licia ketakutan saat melihatnya, akan tetapi ia tidak peduli. Kemudian langkahnya mendekat pada Maxime, kentara sekali raut wajah keponakannya yang keberatan saat ia ingin menyentuh kepala Licia. Lantas ia mendekatkan wajahnya pada telinga Maxime.


"Dan kau Max, saat ini kau bisa membawanya kemanapun kau pergi," bisiknya hingga membuat Maxime terdiam, namun menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Demon. "Tinggalkan London secepatnya," bisiknya kembali. Sehingga membuat Maxime terkesiap dan melirik singkat ke arah Licia.


"Apa yang sebenarnya Paman rencanakan?" sahut Maxime berbisik. Ia tidak ingin Licia dapat mendengar percakapannya dengan Paman Demon.


"Turuti saja perkataanku. Jangan banyak bertanya!" dengkus Demon tidak ingin Maxime banyak bertanya. Yang perlu dilakukan hanya menuruti apa yang ia katakan. Itupun ia lakukan untuk kebaikan keponakannya.


Maxime tidak menjawab. Ia masih sangsi dengan keputusan Pamannya. Terlebih Demon tidak menjelaskan alasannya.


Melihat Maxime yang bimbang, Demon kembali bergerak mendekati Licia. Tangannya terulur untuk menyentuh dagu Licia, akan tetapi gadis itu kembali menghindar. "Cih...." decihnya kesal. Lalu tanpa banyak bicara lagi, ia berlalu meninggalkan Maxime serta Licia.


Sepeninggalnya Demon, Maxime mendekati Licia. Gadis itu tersentak kaget akan sentuhannya. "Jangan takut, ini aku Maxi," katanya menenangkan.


Licia tidak menyahut. Saat ini gadis itu benar-benar terlihat linglung. Ia tidak tahu dimana dirinya berada dan bahkan ia seolah tidak mengenali siapa dirinya yang sebenarnya.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...