
Sementara Darren yang ditugaskan untuk membawa Aurelie ke apartemen, mengekori wanita itu hingga keluar dari Restauran. Pergerakannya ternyata sudah disadari oleh Aurelie sehingga wanita itu mempercepat langkahnya untuk menghindari Darren yang tidak mengalihkan pandangannya darinya.
"Elie, kenapa jalannya cepat sekali? Pelan-pelan saja." Veronica memprotes cara berjalan temannya yang terkesan sangat terburu-buru. Padahal mereka tidak sedang mengejar waktu.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin segera sampai ke mobil." Aurelie menyahut tanpa menoleh, ia berjalan cepat mengabaikan Veronica yang sedikit tertinggal di belakangnya.
Veronica hanya mengangguk dan tetap mengekor di belakang Aurelie. Hingga kemudian tubuhnya berbenturan dengan punggung Aurelie, lantaran temannya itu berhenti secara tiba-tiba.
"Akhh... kenapa kau berhenti, Elie?" Veronica mendesis, mengusap lengannya yang terasa berdenyut akibat benturan tersebut.
Tidak mendapatkan sahutan dari Aurelie, Veronica mendongak dan baru menyadari jika di hadapan mereka terdapat pria bertubuh tinggi dan juga tampan. Ia nyaris saja terpesona selama beberapa saat. Berbeda dengan Aurelie yang mendecakan lidahnya dengan kesal, lantaran Darren sudah mendahuluinya dan kini berada tepat di hadapannya dengan wajah datar seperti biasa.
"Ikut denganku Nona. Aku akan mengantar ke apartemen." Suara bariton Darren ternyata mampu menyadarkan Veronica yang terpaku sejenak. Wanita itu nampak terheran dan kebingungan dengan interaksi antara Elie dan pria asing itu yang terlihat sudah saling mengenal.
"Tapi aku bisa ke apartementku sendiri Der. Kau tidak perlu mengantarku." Tentu Aurelie menolaknya secara halus.
"Kalau begitu aku harus tanyakan lebih dulu pada Ar." Darren tidak membiarkan Aurelie pergi seorang diri, ia sudah ditugaskan untuk mengantarkan adik dari temannya itu ke apartement. Jika wanita itu tetap menolak, langkah selanjutnya ia hanya perlu membawa nama Arthur. Dan dengan segera Darren merogoh ponsel di dalam saku jas yang dikenakannya.
"Oke, stop! Jangan menelepon Kak Ar," seru Aurelie menghentikan pergerakan tangan Darren yang baru saja ingin mendial nomor Arthur. "Tapi aku harus mengantar Vero terlebih dulu," imbuhnya kemudian. Tidak dapat berkutik lagi jika Darren secara tidak langsung mengancamnya dengan membawa nama sang kakak.
"Tidak masalah. Aku bisa mengantar teman Nona terlebih dahulu."
Terdengar helaan napas dari bibir Aurelie. "Baiklah, terserah kau saja." Wanita itu menyeret langkahnya menuju mobil, ia tahu sebagaimana pun menghindar, Arthur tetap akan memiliki cara untuk membuatnya tidak bisa berkutik.
Darren menarik sudut bibirnya tipis, nyaris tidak terlihat. Sementara Veronica masih diam mematung, berusaha mencari jawaban atas kebingungannya.
"Mari Nona ikut denganku," ucap Darren kepada Veronica, hingga membuat wanita itu terkesiap.
"Ya...." Dan Veronica spontan menjawab dengan nada tinggi. "Ta-tapi kau siapa? Kenapa bisa mengenal Elie?"
Rasanya terlalu malas Darren menanggapi pertanyaan yang tidak perlu ia menjawabnya. "Sebaiknya Nona cepat masuk ke dalam mobil. Temanmu sudah menunggu di dalam mobil," sahutnya tanpa berniat menunggu Veronica untuk mengikuti langkahnya, Darren lantas segera berlalu meninggalkan wanita itu.
Veronica menggaruk tengkuk lehernya, menatap punggung Darren yang kian menjauh. Sebelum kemudian mengikuti langkah Darren menuju mobil, ia mengabaikan pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban itu.
"Apa pria itu adalah kekasih Elie?" Veronica mulai berasumsi karena sepertinya hubungan keduanya nampak dekat. "Tapi tidak mungkin, bukankah Elie sudah memiliki Tuan Mikel?" Dan berperang batin dengan pemikirannya sepanjang ia melangkah hingga memasuki mobil. Veronica sudah mendengar desas desus perihal kejadian di pesta pertunangan Carmela dengan Brandon. Namun ia tidak percaya begitu saja jika Elie menjadi simpanan Tuan Mikel, meskipun ia mengakui jika selama ini ada seorang wanita cantik di sisi pria itu yang tidak lain ialah Helena. Dan pada saat Elie di keluarkan dari agensi, ia terpaksa tidak datang karena sedang berada di luar kota.
Dan di sepanjang perjalanan Veronica memilih diam, matanya menyelinap memperhatikan Aurelie dan juga pria asing yang tengah mengemudi itu. Tidak bisa menahan rasa penasarannya, Veronica berangsur menggeser posisi duduknya, mendekatkan wajahnya tepat di telinga Elie.
"Elie, apa kau mengenalnya?" bisiknya penuh dengan desakan.
Aurelie yang tenggelam dalam lamunannya lantas segera menoleh. "Dia hanya temanku," jawabnya tersenyum. Aurelie belum siap jika harus memberitahukan mengenai jati dirinya kepada temannya tersebut.
Veronica nampak berpikir lalu mengangguk, namun sesaat kemudian ia teringat akan panggilan pria itu yang disematkan untuk Elie. "Tapi kenapa dia memanggilmu Nona?" bisiknya kembali. Rasanya ia belum percaya begitu saja mengenai kedekatan keduanya.
Sebelum menjawab, Aurelie melirik ke arah Darren yang tetap fokus menyetir, tetapi ia yakin jika sedari tadi Darren mendengarkan percakapan mereka.
"Dia memang selalu memanggilku seperti itu, jadi biarkan saja." Aurelie kembali mengulas senyum, alasan seperti itu sepertinya cukup masuk akal, dan berharap jika Veronica tidak kembali bertanya.
Veronica berusaha untuk paham, meskipun sebenarnya ia ingin melayangkan pertanyaan kembali. Ia kemudian membenarkan posisi duduknya seperti semula, diam-diam melirik kursi kemudi, dimana sosok pria tegap menatap lurus ke depan. Entah apa yang dipikirkan oleh Veronica, tanpa sadar ia menatap cukup lama bahu tegap serta lengan pria itu. Hingga kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di sebuah apartement mewah.
"Sudah sampai," ucap Darren melirik Aurelie serta Veronica melalui kaca spion.
"Kau tidak ingin turun?" Aurelie menyenggol lengan Veronica ketika temannya itu tetap duduk di dalam mobil. Sehingga membuat Veronica terkesiap, ia melihat sekitarnya ternyata sudah tiba di lingkungan apartemen tempat persinggahannya beberapa hari yang lalu.
"A-aku akan turun. Terima kasih atas tumpangannya." Veronica tersenyum canggung, entah kenapa sepanjang perjalanan ia lebih banyak tercenung. Tangannya terulur membuka pintu mobil setelah berpamitan kepada Aurelie.
Mobil kembali melaju cepat, namun hanya keheningan yang melingkupi Aurelie serta Darren. Selama itu pula keduanya tidak ada yang membuka suaranya terlebih dahulu.
"Der, apa Kak Ar mengatakan sesuatu padamu?" Dan Aurelie yang sudah tidak tahan untuk bertanya segera melayangkan pertanyaan tersebut. Ia sangat yakin jika kakaknya itu menyampaikan sesuatu untuknya melalui Darren.
"Hem..." Darren mengangguk mengiyakan. "Ar meminta Nona untuk menunggunya di apartemen. Setelah urusannya selesai dia akan menemui Nona dan berbicara dengan Nona."
Aurelie mengusap pelipisnya sembari menarik sudut bibirnya. Meskipun di dalam hatinya merasa sangat gusar karena Arthur akan melayangkan berbagai macam pertanyaan mengenai hubungannya dengan Mikel.
Dalam beberapa menit saja mobil yang dikemudikan oleh Darren telah tiba di salah satu apartemen mewah lainnya. Aurelie segera keluar dari mobil dan mengayunkan langkahnya menjauhi Darren. Darren yang sejak tadi memperhatikan tergesa-gesa keluar dari mobil dan berlari kecil mengekori Aurelie. Ia tau jika Aurelie tidak ingin menjadi pusat perhatian jika dirinya berjalan beriringan dengan wanita itu. Sehingga ia hanya perlu berjalan di belakang Aurelie dan mengawasinya.
Sudut bibirnya tertarik lantaran rambut terurai wanita di hadapannya itu bergerak mengikuti irama langkah cepat wanita itu. Padahal tidak perlu berjalan cepat, karena orang-orang yang berlalu lalang itu tidak pedulikan sekitar.
Darren dibuat terkesiap ketika mendapati Aurelie nyaris terbelit kaki jenjangnya lantaran berjalan tergesa-gesa. Dengan sigap Darren menangkap tubuh Aurelie yang nyaris terjerembab di lantai granit yang dingin.
Kedua tangan Darren menahan punggung Aurelie hingga membuat jarak mereka begitu dekat. Bahkan Darren dapat melihat dengan jelas warna mata Aurelie yang berwarna hazel tersebut.
"Hati-hati Nona," ujar Darren.
Aurelie mengurai tangan Darren dan berangsur menjauh, ia lalu tersenyum. "Terima kasih Der. Jika kau tidak cepat menangkapku, aku sudah pasti terjatuh," cicitnya. Sebelum kemudian tangannya terulur menggapai tombol lift.
Darren tersenyum menanggapi. "Tidak perlu berjalan terburu-buru, tidak ada siapapun yang melihat kita."
"Ck, kau ini." Aurelie berdecak lidah, ia lalu masuk ke dalam lift begitu pintu lift terbuka. Disusul oleh Darren setelahnya. Mereka menuju lantai 12 menuju unit apartemen milik Aurelie.
Namun mereka tidak menyadari jika sedari turun dari mobil ada seseorang yang mengikuti mereka. Bahkan diam-diam mengabadikan di kamera ponselnya pada saat Darren menangkap Aurelie.
"Benar-benar keberuntunganku."
To be continue
Babang Darren
Elie
Veronica
Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena Yoona baru sempat up lagi. Suasana lebaran jadi buat Yoona pergi kesana-kemari... pas ada waktu malah kecapean 🤧🤧
...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
Kalian bisa follow Instagram Yoona, bisa DM Yoona dan liat video-video mereka di Instagram ya 💕