
Sementara di gedung Perusahaan MJ Corp, sebuah informasi baru sampai di telinga Mikel. Pria itu terpaku sejenak mendengar informasi tersebut. Hingga dengan terpaksa punggung tangan Nathan mengetuk-ngetuk meja guna mengembalikan kesadaran tuannya.
"Anda baik-baik saja Tuan?" tanyanya memastikan. Karena sejak ia memberikan sebuah laporan, tuannya tidak merespon apapun.
Mikel berdehem. "Aku baik-baik saja Nath," sahutnya. "Tapi apa kau yakin ada seseorang yang sedang mencari tau informasi tentangku?"
"Benar Tuan, sepertinya bukan orang sembarangan. Entah siapa pelakunya, kami tidak bisa menemukannya," katanya lagi. Nathan serta dua pria kepercayaan Mikel tidak bisa menemukan sebuah nama yang tidak bisa dilacak. "Dan akun itu sepertinya palsu, sehingga kami tidak bisa menemukan jejaknya," imbuhnya kemudian.
Tidak ada tanggapan kembali dari Mikel, pria itu tengah memutar ingatannya siapa sekiranya yang belakangan ini sedang mengawasi dirinya. Lama larut dalam pikirannya hingga mengabaikan Nathan yang masih setia berdiri di hadapannya. Telinganya sedikit terganggu dengan suara dering ponsel miliknya, namun sepertinya otak Mikel masih berkelana mencari jawaban sehingga ponselnya tidak dihiraukannya.
"Tuan, ponsel anda berdering." Dan akhirnya Nathan angkat bicara. Ia khawatir jika panggilan itu sangatlah penting, sehingga harus menyadarkan tuannya, meskipun nanti ia akan terkena makian karena sudah lancang mengganggu.
Mendengar suara Nathan yang mengganggu, Mikel berdesis kesal. Lalu teralihkan pada ponselnya yang berdering. Mikel segera menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Santai saja. Apa aku sudah mengganggumu?" Seseorang di seberang sana terkekeh karena setiap dirinya menghubungi selalu disambut dengan suara dingin.
"Tidak perlu berbasa-basi, katakan langsung!" Mikel sudah mengetahui apa tujuan orang itu menghubungi dirinya.
"Baiklah, kau pasti akan terkejut dengan berita yang aku sampaikan."
"Katakan saja, bodoh!!" Dan Mikel semakin dibuat kesal karena seseorang di seberang sana tidak langsung mengatakan intinya.
"Hahaha baiklah... baiklah," sahutnya tergelak. "Arthur Kennard Romanov sedang mencari informasi tentang keluargamu, dia datang ke Het Shui. Lalu saat di perjalanan mobilnya diserang oleh seseorang. Aku yakin jika mereka adalah suruhan dari pamanmu yang gila itu."
Mikel kembali termangu di tempat saat mendengar laporan tersebut. Ia tidak pernah menyangka jika Arthur serta Paman Xavier tidak berhenti melakukan pencarian tentang keberadaan dirinya serta kedua orangtuanya.
"Hei, kau masih disana?" Seseorang itu sedikit berteriak karena Mikel tidak memberikan respon.
Mikel terbungkam dan tidak mengindahkan seruan di sambungan teleponnya. Bahkan Nathan harus mengerutkan dalam keningnya ketika ia hanya bisa melihat perubahan ekspresi dari tuannya tanpa bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Sid, keparat! Sudah ku bilang bawakan wanita jalaang itu untukku! Tapi kau hanya sibuk menelepon. Memangnya siapa yang sedang kau telepon, hah?!"
"Oh siall!! Kau mengejutkanku! Aku sedang menelepon temanku. Kau pikir siapa lagi?!"
"Siapa temanmu hah, apa pria sialan itu? Katakan padanya, dia harus kembali ke Markas. Apa dia sudah mulai berani mengabaikan perintahku, heh!"
Mikel dapat mendengar percakapan kedua orang itu. Salah satunya adalah pria yang sangat tidak ingin ia dengar suaranya. Terlebih jika harus bertemu yang hanya akan berakhir dengan perdebatan. "Jangan katakan apapun padanya tentang keberadaanku!" Tut. Dan Mikel segera memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Sungguh ia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh orang itu, meskipun cepat atau lambat orang itu akan menyeretnya tetapi tidak untuk saat ini.
Mendapatkan dua laporan sekaligus yang menguras otaknya untuk berpikir, Mikel memijat pelipisnya setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan kasar. "Ar... kau benar-benar bodoh!" gumamnya menggebrak meja. Bahkan Nathan dibuat terkejut dengan tuannya yang tiba-tiba saja marah. "Berengsek! Aku lupa tanya padanya keadaan Ar." Karena terlalu terkejut mengenai Arthur yang diserang, hingga Mikel melupakan keadaan Arthur pasca penyerangan. Ia sangat tahu betul bahwa penyerang itu tidak lain dan tidak bukan adalah pamannya yang gila. Sehingga akan menyingkirkan siapapun, termasuk dirinya.
"Tuan, apa ada sesuatu yang terjadi?" Nathan yang sejak tadi diam memperhatikan, akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia memang mengetahui sejak pertemuan pertama mereka, bahwa tuannya itu penuh dengan misteri yang tidak boleh ia ketahui.
Mendengar pertanyaan Nathan, kepala Mikel mendongak menatap asistennya itu. "Tidak ada. Kau kembalilah bekerja, biarkan aku sendiri untuk sementara waktu. Dan jika ada yang ingin menemuiku, katakan aku tidak ingin di ganggu!" ujarnya semakin dingin. Sebelum kemudian, Mikel menyandarkan punggung pada sandaran kursi kebesarannya dengan mata yang terpejam.
Nathan bisa melihat jelas raut wajah lelah tuannya yang penuh dengan beban, sehingga ia tidak berani untuk bertanya lebih. Walaupun sebenarnya ia sangat penasaran kabar apa yang disampaikan oleh seseorang di sambungan telepon.
"Kalau begitu saya permisi keluar dulu Tuan. Jika butuh sesuatu, Tuan bisa memanggil saya." Nathan mengangguk hormat, sebelum kemudian keluar dari ruangan setelah jawaban deheman yang diberikan oleh Mikel.
"Kau bukan tandingannya Ar. Sampai saat ini aku masih sulit menemukan keberadaan mereka. Dan kau justru bertindak ceroboh dengan mencari tau keberadaanku dan keluargaku. Seharusnya kau diam saja, sampai aku bisa menyelesaikan semuanya dan bisa menunjukkan wajahku yang baru kepada kalian," gumamnya lirih. Matanya terpejam, akan tetapi bibirnya terus mengeluarkan ucapan-ucapan yang hanya dirinya sendiri yang mengerti.
***
Suara benturan langkah kaki yang mengenakan high heels menimbulkan suara ketukan seirama dengan setiap langkahnya yang selalu anggun. Meskipun penampilannya tidak mencolok seperti model yang lainnya, akan tetapi aura kecantikannya lebih menonjol dari model-model yang sedang berpose dengan berbagai gaya dan juga memamerkan produk limited edition MJ Corp.
"Mandy, apa setelah ini ada jadwal lagi yang harus aku lakukan di MJ?" tanya Aurelie di sela-sela mereka melangkah seusai melakukan pemotretan.
"Tidak ada. Jadi kita bisa kembali ke agensi," sahut sang manager dengan lembut.
Mandy Cornett, sang manager yang sudah bekerja dengan Elie Cassandra selama 6 tahun nampak mengekori langkah Aurelie dengan langkahnya yang kecil. Selama bekerja, ia tidak memiliki kendala apapun karena modelnya tidak membuatnya kesulitan dengan segala perintah yang tidak masuk akal seperti model-model lainnya. Dan Mandy begitu nyaman bekerja dengan wanita cantik dan seksi yang ia ketahui bernama Elie Cassandra. Mandy tidak pernah mencari tahu asal usul modelnya itu. Perangai Aurelie yang baik dan ramah, sehingga ia menyimpulkan jika Elie berasal dari keluarga yang baik pula, tanpa pernah mengetahui jika modelnya itu berasal dari Keluarga Billionare yang mungkin akan membuatnya jatuh pingsan.
"Urusan?" Tentu saja Mandy terkejut, karena ia merasa Elie tidak memiliki jadwal pemotretan lagi di MJ Corp.
"Tapi Elie, apa aku tidak perlu menemani?" Sejujurnya Mandy hanya mencemaskan Elie jika ada seseorang yang mengganggu modelnya itu, mengingat mereka berada di perusahaan besar. Bisa saja seseorang yang bekerja di perusahaan ini tidak menyukai keberadaan Elie, pikirnya.
"Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi kau tidak perlu khawatir." Aurelie menyematkan senyumnya, kedua mata di balik kacamata hitam itu nampak hangat setiap kali bersitatap dengan Mandy. Mandy adalah wanita yang baik, sehingga Aurelie memaklumi kecemasan sang manager.
"Baiklah, kalau begitu." Dan Mandy tidak ingin memaksa jika Aurelie tidak ingin ia menemaninya. "Tapi kau harus berhati-hati. Aku yakin jika wanita-wanita di perusahaan ini iri dengan kecantikanmu." Bukan tanpa alasan Mandy berkata demikian, karena tidak jarang beberapa wanita akan mencari masalah dengan Aurelie akan kecantikannya. Seperti Carmela yang selalu iri dengan kecantikan Aurelie dan kepopulerannya melebihi wanita itu.
"Kau tenang saja." Dan tangan Aurelie mengusap bahu Mandy dengan lembut. Sebelum kemudian keduanya kembali melangkah namun dengan arah yang berlawanan.
Langkah Aurelie tertuju pada sebuah lift yang hanya dikhususkan untuk presdir dan petinggi-petinggi lainnya. Tetapi ia tidak berminat menaiki lift itu dan hanya menaiki lift untuk karyawan. Tangannya menekan tombol lift di lantai paling atas, sudah pasti itu adalah lantai ruangan Presdir.
Begitu pintu lift terbuka dan mengantarkan Aurelie pada tujuannya, wanita itu mengayunkan langkah menuju meja seorang sekretaris. Aurelie segera melepaskan kacamata hitamnya dan melampirkan di atas kepalanya.
"Permisi, apa aku bisa bertemu dengan Tuan Mikel?" Sekretaris itu mendongak dan mengalihkan sejenak perhatiannya dari layar komputer. Matanya membola begitu melihat sosok cantik berdiri di hadapannya.
"Nona, kenapa anda bisa berada disini?" tanya Laura berdiri dari duduknya.
"Tentu saja bisa, karena aku menggunakan lift untuk datang kemari." Dan Aurelie menyahut santai.
"Bukan itu maksud saya Nona." Laura menjadi bingung sendiri menjelaskannya. Karena tidak ada orang lain yang diizinkan berada di lantai khusus Presdir mereka. "Anda sebaiknya pergi dari sini," lanjutnya meminta Aurelie untuk tidak berada di tempat yang tidak seharusnya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Tuan Mikel. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya," kata Aurelie lembut.
"Maaf Nona, tapi..."
"Ada apa ini?" Baru saja Laura hendak menyahut, akan tetapi suara Nathan menyambar lebih dulu. "Nona Elie?" ucapnya terkejut mendapati Aurelie berada di lantai khusus Presdir.
"Bukankah kau asisten Tuan Mikel. Bisakah aku bertemu dengannya?" Aurelie bernapas lega karena bisa bertemu dengan asisten dari Tuan Mikel.
"Maaf Nona, Tuan sedang tidak bisa di ganggu. Sebaiknya Nona pergi dari sini. Nona bisa datang di lain hari dan menunggu di studio rooms tiga hari lagi," kata Nathan bicara selembut mungkin. Berharap perkataannya tidak menyinggung model cantik itu.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi." Meskipun kecewa, tetapi Aurelie tidak ingin memaksa, karena itu etika yang tidak baik.
"Nath, jangan membuat keributan!" Dan bertepatan dengan suara pintu terbuka menampilkan sosok Mikel yang tinggi gagah. Pria itu belum menyadari jika terdapat Aurelie di antara Nathan dan juga Laura. "Buatkan aku kopi seperti biasanya," perintahnya dingin. Lalu berbalik arah, hendak kembali masuk. Namun diurungkannya, karena Mikel segera memutar arah tubuhnya, hingga matanya berpusat pada sosok wanita yang sedang menatap ke arahnya.
"Elie?"
To be continue
Babang Mikel
Elie lagi pemotretan
Nathan
Jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung. Jika hati seindah bulan hiasi dengan senyuman, Semoga tetaplah demikian. Selamat menyambut ibadah puasa bagi yang menjalankan. Mohon dimaafkan segala khilaf dan salah, lahir dan batin. Marhaban ya Ramadhan 🤗🤗
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...