
Arthur hanya dapat memejamkan kedua matanya saat mendengar teriakan demi teriakan yang menggema di lantai atas itu. Sudah dapat dipastikan jika Veronica benar-benar akan dinikmati oleh Vasco.
Wajah Arthur nampak menegang disertai tangan yang mengepal di kedua sisi pahanya. Hanya sesaat saja, sebelum kemudian bibirnya terlihat tertarik tipis.
Wushhh
Beberapa granat asap menggelinding dan mengepulkan asap tebal hingga menyelimuti seluruh ruangan tersebut. Sontak saja membuat para anak buah Kartel Sinaloa terkejut sekaligus panik saat asap yang entah dari mana datangnya telah mengaburkan pandangan mereka.
Dor
Dor
Dengan menggunakan instingnya, kedua tangan Arthur memuntahkan peluru tepat mengenai kening kedua anak buah Kartel Sinaloa yang berada di sisi Chris. Pandangannya pun membuyar karena asap itu memenuhi tempat tersebut, tetapi targetnya tepat sasaran dan pelurunya itu hanya menembus di kening kedua anak buah Kartel Sinaloa saja. Arthur kemudian membuang senjatanya dengan asal karena kehabisan peluru.
Tubuh Chris limbung, entah siapa yang sudah berdiri di kanan dan kirinya, mereka langsung memapah kedua bahunya. Namun ia bisa merasakan jika mereka adalah bagian dari Black Lion.
Sementara Arthur sudah melesat menaiki tangga, meraba sekelilingnya yang dipenuhi kepulan asap tebal. Ia menyusuri setiap lorong untuk mencapai kamar yang terdengar begitu gaduh disertai suara teriakan meminta ampun untuk dilepaskan. Namun Arthur sendiri dapat mendengar jelas suara Vasco yang tertawa menikmati.
"AARRGHHH!!" Hingga kemudian tawa pria itu seketika berubah menjadi teriakan yang memekakkan.
Begitu sudah mencapai kamar yang di tujunya, Arthur menendang kamar tersebut, beruntung kamar itu tidak terkunci karena Vasco mengira tidak akan ada yang mengganggu kesenangannya.
"SIALAN!!" Bersamaan dengan masuknya Arthur ke dalam kamar Vasco, pria itu pun terdengar mengumpat. Vasco sontak menoleh ke arah Arthur, ia berdiri sembari memegang kepalanya yang mengeluarkan darah akibat hantaman botol. Jika sebelumnya ia yang tersenyum penuh kepuasan, kini Arthur yang menyunggingkan senyum remeh padanya.
"Der, bawa pergi wanita itu dari sana!" perintah Arthur tanpa melirik Veronica yang dalam keadaan tidak berdaya. Tubuh bagian atasnya nyaris setengah telanjang.
Darren mengangguk, lalu membuang botol yang sudah tidak berbentuk sempurna itu dengan asal. Ia melepaskan jaket untuk menutupi bagian dada Veronica yang tidak tertutupi oleh selembar kain itu.
"DIA MILIKKU! JANGAN COBA-COBA KAU MEMBAWANYA PERGI DARI SINI!" Vasco mencoba menghalangi Darren, namun tubuhnya limbung ke samping karena hantaman kepalan tangan Arthur.
"Urusan kita belum selesai! Tunjukkan padaku wajahmu yang angkuh itu!" seru Arthur. Tubuhnya menghadang pandangan Vasco yang tertuju pada Darren.
"SIALAN!!! Kalian menjebakku!" pekik Vasco geram. Kemarahannya itu telah menguasainya sehingga ia melupakan rasa sakit pada kepala bagian belakangnya yang terluka.
"Ck, aku tidak menjebakmu, kau saja yang bodoh! Seharusnya kau tau jika aku bukan lawan yang mudah untuk kau singkirkan!" Arthur kembali menyunggingkan senyum, senyum penuh ejekan.
Vasco terbungkam, namun sorot matanya dipenuhi kilatan api amarah. Ya, ia lengah dan bodoh karena telah meremehkan Black Lion.
Arthur melirik singkat ke arah ambang pintu, dimana Darren menghentikan langkah disana dengan menggendong Veronica.
"Pergi dari sini dan katakan pada mereka untuk tidak perlu menungguku!" ujarnya kepada Darren. Mereka yang dimaksud adalah para anak buah Black Lion dan juga Lion Boys yang sudah berada di Markas Kartel Sinaloa. Pada saat Austin dan teman-temannya sibuk mengurus para anak buah Kartel Sinaloa, Darren melesat masuk melalui jalur lain sehingga dapat meloloskan diri dari perhatian para anak buah Kartel Sinaloa yang hanya tertuju pada Arthur serta Chris.
Tentu itulah startegi cadangan jika mereka berada di dalam keadaan terdesak. Terlebih sejak tadi mereka terhubung melalui giwang komunikasi. Alat canggih ciptaan Xavier, Keil, Nico dan Daniel yang kini menjadi alat turun temurun yang digunakan oleh penerus mereka.
Darren nampak ragu untuk mengiyakan, namun tubuhnya selalu merespon apapun yang dikatakan oleh Arthur sehingga kepalanya terlihat mengangguk. Namun tiba-tiba terdengar suara Austin yang menyambar tidak setuju. Arthur segera memutuskan alat penghubung itu dengan menekan giwang pada cuping telinganya karena suara adiknya yang berteriak tidak setuju itu sangat berisik menurutnya. Detik itu juga Darren paham jika yang dikatakan Arthur adalah sebuah perintah yang tidak bisa dibantah. Darren segera berlalu pergi dari sana untuk mengamankan Veronica, wanita cantik yang kini sudah berada di dalam dekapannya dan nampak pucat dengan luka di sudut bibirnya.
***
Setelah kepergian Darren, suasana semakin mencekam karena Arthur dan Vasco terlibat baku hantam. Vasco tidak ingin kalah begitu saja, sehingga ia harus menyingkirkan Arthur bagaimana pun caranya.
Vasco merunduk saat Arthur hendak menyerang kepalanya. Hingga saat itu juga tangan Vasco berhasil mendorong Arthur dan berhasil membuatnya nyaris terjatuh di atas sofa jika telapak tangannya tidak berpegangan pada tangan sofa.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Vasco menyambar selembar kain yang berada di sisi ranjang. Sepertinya itu adalah pakaian milik Veronica yang terkoyak akibat ulahnya. Vasco segera mengikat kain tersebut di kepalanya, guna untuk mengurangi pendarahan pada kepalanya yang terluka.
Arthur menyambut dengan senyuman, seolah ucapan Vasco adalah sebuah pujian untuknya.
"Selama ini Black Lion tidak pernah mengusik Kartel Sinaloa. Tapi justru kau dan kelompokmu itu telah mengusik orang-orangku!"
"Apa kau sudah kehilangan ingatan heh!" Vasco berseru tidak terima. "Selama ini Black Lion sudah menghalangi jalanku untuk memperluas wilayah kekuasaan Kartel Sinaloa!" imbuhnya menatap nyalang.
"Karena kau ingin memperluas wilayah di kekuasaan Black Lion. Kau yang sudah lupa ingatan dan luka di kepalamu itu sepertinya cukup untuk membuatmu mengingatnya!" Sorot mata Arthur tidak kalah tajam dan dingin. Bahkan auranya terlihat berbeda dan Vasco dapat merasakan hal itu. Arthur nampak lebih mengerikan dari beberapa menit yang lalu.
Benar. Vasco tidak menampik tuduhan tersebut. Itu ia lakukan karena beberapa wilayah milik Black Lion sangat menarik perhatiannya.
"Kalau begitu berikan wilayah pegunungan cotswolds padaku!" Dengan tidak tau malunya, Vasco bernegosiasi.
"Dan kau pikir aku bodoh akan memberikannya begitu saja setelah kau berusaha ingin meniduri adikku dan juga berusaha melenyapkannya!!" cetus Arthur semakin geram. Urat-uratnya nampak lebih menonjol di sekitar lehernya.
"Tapi aku tidak berhasil menidurinya. Dan apa yang kulakukan bukankah sudah kau balas dengan menghancurkan satu Club malamku!" Ya, Vasco sudah menerima laporan terlebih dahulu sebelum Black Lion tiba di markas mereka.
BRAK
Arthur menendang meja yang ada pada jangkauan matanya. Menghancurkan sebuah satu Club malam tidak sebanding jika kesucian dan nyawa adiknya itu berhasil direnggut.
"Meskipun kau menangis dan berlutut di bawah kakiku. Aku bersumpah tidak akan mengampunimu!" Seketika itu juga wajah Arthur berubah menjadi lebih menyeramkan, kedua tangannya terkepal begitu kuat hingga kukunya nampak memucat.
Arthur mengangkat meja dan melemparkan tepat ke arah Vasco dan detik itu juga Vasco terkesiap. Nyaris saja benda berat itu menghantam tubuhnya jika ia tidak berhasil menghindar.
Karena serangannya gagal, Arthur kembali menyerang Vasco bertubi-tubi, sehingga membuat Vasco semakin bergidik ngeri karena tenaga Arthur luar biasa. Ia bahkan setengah mati menepis dan menahan serangan brutal yang dilakukan ketua Black Lion itu padanya.
Wajahnya pun sudah penuh lebam, meskipun ia berhasil satu kali membalas serangan Arthur dengan menghantamkan tinju pada wajah Arthur. Merasa terjepit, Vasco berlari menuju nakas yang berada di sisi ranjang. Membuka laci nakas tersebut dan menemukan yang ia cari. Detik itu juga Vasco menodongkan senjata api ke arah Arthur, membuat tangan Arthur mengambang di udara, mengurungkan niatnya untuk menyerang Vasco.
Vasco terkekeh-kekeh, tangan kosong dan senjata api. Mana yang akan lebih dulu membuat lawannya tumbang? Tentu saja hal itu membuat Vasco menyeringai puas.
"Lihatlah, siapa yang akan mati lebih dulu. Aku atau..... kau!" ujarnya. Vasco kemudian menarik pelatuknya dan....
Dor
Kedua mata Vasco membelalak terkejut. Arthur menahan peluru itu dengan telapak tangan kirinya dan darah itu menyembur pada wajah Arthur sehingga kini wajah Arthur berkali-kali lipat lebih mengerikan.
Arthur menyeringai senyum. "Tidak semudah itu menyingkirkan Killer!"
To be continue
Babang Arthur
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...