
Sedangkan di lantai kabin yang lain, Darren terlihat tengah mengikuti langkah seorang wanita yang sepertinya ingin memergoki kekasihnya. Katakanlah dirinya kini sedang bosan hanya berdiam diri saja, sehingga ia mengikuti wanita merepotkan itu. Setiap kali wanita itu terkena masalah, ia yang harus membereskannya dan berakhir menelan kekesalan karena wanita itu begitu menyebalkan.
Hanya karena dirinya diberikan kepercayaan untuk menjaga Veronica, ia harus membuntuti wanita itu. Demi Tuhan, ia telah beralih profesi menjadi penguntit yang handal. Lihat saja, wanita itu bahkan sama sekali tidak menyadari jika tengah diikuti olehnya.
"Dasar pria bajingan! Aku menunggunya hingga nyaris mati, tapi dia bersama dengan wanita lain." Di sepanjang Veronica melangkah, wanita itu tiada henti meruntuki kekasihnya. "Apa yang akan mereka lakukan? Mereka ingin kemana?" Kedua matanya memicing tajam, ia penasaran keduanya akan pergi kemana karena harus menjauhi keramaian.
Tiba-tiba saja Veronica menutup mulutnya tidak percaya ketika melihat kekasihnya menyambar bibir wanita itu sebelum mereka memasuki kabin. Tubuhnya lemas seketika seolah tidak memiliki tulang dalam tubuhnya. Ia nyaris terjatuh jika tidak segera berpegangan pada dinding. Dengan langkah yang bergetar ia mendekati pintu kabin yang ternyata memiliki celah karena pintu itu tidak tertutup dengan rapat.
"Aku merindukanmu, kenapa kau tidak mengatakan jika kau juga di undang di pernikahan Tuan Arthur?" Suara mendayu wanita itu terdengar manja dan hal itu menjijikan untuk Veronica yang bersembunyi di balik pintu.
"Aku menemani Vero, kau tau dia memiliki teman yang kaya raya. Aku membutuhkan relasi bisnis untuk mengembangkan perusahaanku." Hanya dari suaranya saja Veronica dapat memastikan jika Cade kini tengah diliputi oleh gairah.
"Ck, wanita bodoh itu. Kenapa kau masih ingin mempertahankan wanita sepertinya. Jelas-jelas aku lebih cantik dan seksi darinya. Aahhhh.... Cade pelan-pelan saja, kau meremasnya dengan kuat." Wanita itu merintih ketika tangan Cade meremmas dadanya.
"Aku masih membutuhkannya, Barbara. Vero adalah wanita yang cerdas, selain model dia memiliki relasi yang cukup banyak."
"Ahhh....." Wanita yang bernama Barbara itu mendesahh nikmat. Cade memainkan puncuk dadanya yang sudah tidak terlapisi oleh apapun, dress yang dikenakannya sudah tertanggal di lantai. "A-apa relasi lebih penting dariku?" Barbara menikmati cumbuan Cade yang tengah menghisap dadanya yang cukup besar itu.
"Ya, karena aku harus membuat perusahaanku lebih besar lagi... Ahhh, Barbara, dadamu benar-benar besar." Cade mengagumi dada Barbara, ia kembali menghisap dada itu bergantian.
"Apa lebih besar dari Vero?" tanya Barbara tanpa tahu malu, seolah sudah terbiasa dengan percakapan mereka seperti itu.
"Tidak, dada Vero lebih besar lagi. Tapi percuma saja besar jika aku tidak menghisapnya seperti ini. Dia hanya mengizinkanku menyentuh dadanya saja."
Barbara terkekeh di sela-sela kenikmatannya. Ia meremmas rambut Cade. "Vero terlalu suci, menganggap bangga pada dirinya yang masih perawan."
"Ahhh, ini nikmat sayang." Cade tidak pedulikan pembahasan mengenai kekasihnya Veronica, saat ini ia hanya perlu menyalurkan hasratnya yang tidak bisa ia salurkan dengan Veronica. "Lepaskan kemejaku dan celanaku."
"Tentu Cade sayang." Dengan lihai, Barbara melucuti kemeja dan celana panjang yang dikenakan Cade. Selanjutnya seperti yang biasa wanita itu lakukan, memberikan kenikmatan untuk Cade. Pria yang sudah bersamanya selama dua bulan ini di belakang Veronica.
Di balik pintu, Veronica mengepalkan kedua tangannya. Mereka sungguh keterlaluan, bermain di belakangnya. Dan ia baru mengetahui jika wanita yang bersama Cade adalah Barbara, teman sesama model di agensi Romanov Ent.
"Jalaang dan pengkhianat memang pantas bersama." Veronica menyeka sudut matanya yang basah, tanpa sadar ia menangisi pria bodoh itu. Dengan langkah penuh kekecewaan, ia berlalu pergi meninggalkan kekasihnya yang bercinta dengan wanita lain. Selama ini ia memang selalu menolak jika Cade mengajaknya bercinta dan hanya membiarkannya menyentuhnya saja. Tetapi ia sungguh tidak pernah menyangka jika Cade akan bermain gila dengan temannya. Entah sudah sejak kapan mereka bermain di belakangnya, dari yang ia tangkap dari percakapan mereka, sepertinya hubungan mereka sudah berjalan cukup lama. Ingin rasanya Veronica menarik dan menjambak rambut wanita itu, tetapi tidak ia lakukan, karena tidak ingin membuat keributan di hari bahagia sahabat baiknya.
Darren memperhatikan punggung Veronica yang sudah menjauh. Ia menampakkan dirinya dari balik dinding dan mendekati kabin yang saat ini dipenuhi suara-suara erangan. Entah apa yang ia pikirkan, yang pasti ia mengetahui jika wanita itu mendapati kekasihnya bercinta dengan wanita lain. Merasa kasihan? Entahlah, Darren tidak sebaik itu untuk mengertikan perasaan wanita yang sedang patah hati.
***
Musik di dalam Bar melantun dengan keras. Semua orang di dalam sana menikmati musik sembari menyesap minuman. Tidak ada yang berani bergabung dengan keempat pasangan pengantin itu, para wanita yang di undang itu hanya dapat melihat mereka dari kejauhan. Meskipun di dalam Bar yang sama, tetapi dibatasi untuk tamu yang lain. Terdapat 23 Bar lainnya sehingga para anak buah Black Lion membubarkan tamu undangan lain yang bukan dari pihak keluarga.
Elie memperhatikan sahabatnya yang tidak berhenti minum. Ia sudah biasa melihat Veronica mabuk seperti itu. Kehidupannya yang bersih berbanding terbalik dengan sahabatnya itu. Akan tetapi mereka tetap bisa berteman, karena Veronica adalah wanita yang baik dan tidak menjerumuskan dirinya. Meski kerap kali Veronica datang ke club malam, tetapi wanita itu tidak pernah melakukan sekss bebas. Hanya sebatas menghilangkan kesepian dengan bermabuk-mabukan.
"Mike, aku khawatir dengan Vero. Apa dia sedang ada masalah?" Setau dirinya jika Veronica tengah memiliki masalah, wanita itu akan melampiaskannya dengan minuman.
"Tenang saja, banyak yang menjaganya. Tidak akan ada yang berani berbuat macam-macam selama berada disini," sahut Mike sembari mengusap lembut wajah sang istri. Ia dan Arthur sudah mengatur keamanan dan memastikan tidak akan ada sesuatu yang akan membahayakan keluarga dan para tamu undangan.
"Baiklah, aku juga akan meminta Der untuk menemani Vero."
Mendengar perkataan istrinya, satu alis Mike terangkat naik. "Kenapa harus Darren?"
"Karena hanya Der yang kupercaya untuk mengawasi temanku yang satu itu." Elie mengapit rahang suaminya, merasa gemas karena suaminya seperti ingin tahu.
Wajah Mike mengikuti gerak tangan istrinya. Meski dengan bibir mengerucut Mike tetap terlihat tampan. "Kenapa kau percaya padanya?" Nampak sekali jika pria itu mendengkus cemburu. Istrinya secara terang-terangan mengatakan percaya kepada pria lain selain dirinya.
"Kau ini. Jangan salah paham, Der sudah seperti As bagiku. Lagi pula banyak kejadian yang menimpa Vero dan Der yang selalu membantunya." Kemudian Elie menceritakan peristiwa kala Veronica diculik untuk menggantikan dirinya. Ia yang merasa bersalah, memutuskan untuk memberikan pengawasan terhadap Veronica. Dan entah di setiap kali ada kesempatan, Der yang selalu membantunya menjaga Veronica.
"Apa menurutmu aku harus mencari pengganti Der untuk menjaga Vero?" Nampaknya Elie mulai menimbang para anak buah Black Lion untuk menjaga Veronica. Ia tahu jika tugas Darren bertambah karena permintaannya. "Sepertinya tidak ada salahnya jika aku menugaskan anak buah yang lain untuk menjaga Vero."
"Jika kau percaya dengan Der, serahkan saja padanya."
Elie nampak berpikir. Ia kemudian menangkap Nathan di ujung sana. "Ah Nathan, apa aku boleh minta tolong pada Nathan untuk menjaga Vero?" tanyanya memastikan.
"Tidak Sweetheart." Mike menolak tegas. "Jangan Nath. Dia sudah aku tugaskan untuk menjaga Mei." Sama seperti istrinya, Mike pun hanya mempercayakan Meisha kepada Nathan.
"Ah, begitu." Elie menganggukkan kepala berulang kali tanda mengerti. "Kalau begitu biar Der saja. Sejak awal aku hanya percaya padanya."
Mike terkekeh gemas. Jika pada akhirnya tetap Darren yang diberikan tugas untuk menjaga Veronica, kenapa istrinya itu harus berputar-putar memikirkan anak buah yang akan menjaga wanita itu.
"Kau benar-benar menggemaskan Sweetheart. Aku tidak tahan lagi untuk tidak menyerangmu." Mike mengecup setiap inci wajah Elie. Sedari tadi ia sudah ingin menerkam sang istri dan membawanya ke atas ranjang.
"Mike, hentikan. Apa kau sudah mabuk?" Elie berusaha menjauhkan wajahnya, tetapi tetap saja Mike tidak berhenti menciumi wajahnya.
Di tempat duduk yang lain. Arthur dan Helena pun mengumbar kemesraan mereka, membuat penghuni Bar yang berstatus single merasa iri.
"Dunia benar-benar hanya milik mereka," cetus Liam lalu menyesap minumannya.
Gavin terkekeh. "Apa kau iri, hm?"
"Disini ada banyak wanita cantik. Kau hanya perlu menunjuk yang mana yang kau inginkan." Dan Elden memberikan saran.
"Kalian benar. Aku akan mencoba mendekati putri-putri pengusaha yang berada disini. Siapapun tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku." Liam kembali dalam mood percaya dirinya.
"Dan aku yakin Bibi Ashley akan menyeretmu," seru Devano mengejek. Kebiasaan Liam yang bermain wanita sering sekali membuat Mommy Ashley kesal dan pada akhirnya Daniel yang menjadi pelampiasan istrinya karena telah menurunkan sifat playboy kepada putra mereka.
Mendengar perkataan Devano, semuanya tergelak. Tidak dengan Liam yang memasang wajah masam. Pandangan mereka kemudian berpindah kepada Austin yang tengah memegangi beberapa kartu nama.
"Kenapa kau menyimpan kartu nama sebanyak ini As?" tanya Elden mengambil salah satu kartu nama dari tangan Austin.
Austin mengangkat kedua bahunya. Kartu-kartu tersebut ia dapatkan dari para tamu undangan yang menginginkan dirinya untuk mendekati putri-putri mereka.
"Jika kalian ingin, ambil saja. Aku tidak membutuhkannya." Austin kemudian beranjak berdiri. Meninggalkan kartu nama berjumlah puluhan di atas meja. Yang lainnya hanya bisa melihat kepergian Austin dengan bingung.
Austin meninggalkan Bar begitu saja. Ia sungguh jengah, jangankan mendekati putri-putri mereka, saat ini ia bahkan tidak tertarik meskipun putri para pembisnis itu sangat cantik.
To be continue
Austin
Darren
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...