
Satu bulan yang lalu
"Aku menyukaimu, Licia. Ah tidak, lebih tepatnya aku mencintaimu."
Kalimat yang diutarakan Gavin membuat gadis itu mematung seketika karena terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja pria yang sudah seperti saudara laki-lakinya mengutarakan perasaan padanya.
"K-kau pasti bercanda Gav," ucap Licia terbata-bata seolah tidak percaya ketika berhasil mengendalikan keterkejutannya.
"Tidak Licia. Aku tidak sedang bercanda. Aku benar-benar mencintaimu."
Wajah Gavin penuh keseriusan, sehingga membuat Licia menjadi gelisah alih-alih merasa senang karena baru saja seorang pria mengutarakan perasaan padanya. Bukan, bukan seperti ini yang ia harapkan. Sejak dulu hingga saat ini ia hanya menganggap Gavin sebagai teman dan saudara laki-lakinya saja.
"Gav, aku...." Licia sulit untuk berkata, ia bingung sekaligus masih sulit percaya apa yang baru saja didengarnya. "Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai teman, bahkan kau seperti Jac bagiku."
Wajah Gavin tertunduk seketika saat mendengar perkataan Licia. Bukankah secara tidak langsung, gadis itu menolak dirinya? Namun ia tidak ingin menyerah begitu saja, Gavin kembali mengangkat wajahnya sehingga beradu pandang dengan Licia.
"Karena As, bukan?" ujarnya kemudian berspekulasi. Semua yang melihat dapat menyimpulkan, baik Licia dan Austin menyimpan perasaan masing-masing.
"Maksudmu?" Tentu Licia gagal mencerna karena Gavin menyangkut-pautkan dengan Austin.
"Karena kau menyukainya. Ah tidak, mungkin kau sudah mencintainya. Sejak As pergi, kau berubah menjadi gadis yang pemurung, bahkan kau tidak banyak bicara saat sedang berkumpul!"
Licia diam membisu, ia tidak mengelak maupun membenarkan. Namun tatapannya mengkilat penuh emosi lantaran merasa tidak menyukai perkataan Gavin.
"Kau tidak perlu tau, Gav. Itu bukan urusanmu!" seru Licia diselingi dengkusan napas kesal. Biar bagaimanapun, orang lain tidak berhak menghakimi perasaannya terhadap Austin.
"Tentu menjadi urusanku, Licia. Karena apa??" Gavin sedikit meninggikan intonasi suaranya. "Karena As sudah menyerah lebih dulu, dia merelakanmu kepada siapapun selama bisa menjagamu!" Ya, karena itulah dirinya berani untuk maju satu langkah, lantaran Austin lebih dulu mundur satu langkah.
Kedua alis Licia menukik tajam. "Apa maksudmu?" Dan tentu ia tergugah saat lagi-lagi nama Austin terseret dalam pembicaraan mereka.
Gavin menghela napas, ia kemudian menatap lekat-lekat manik mata Licia. "Dua minggu sebelum As pergi, kami sempat berkelahi." Dan suara Gavin kembali melunak. "Aku yang salah karena sudah memprovokasinya, tapi seharusnya dia memperjuangkan perasaannya padamu, bukan melarikan diri seperti itu dan meninggalkanmu tanpa kepastian."
Terkejut? Tentu saja, Gavin dan Austin yang begitu erat menjalin pertemanan bisa berkelahi? Licia benar-benar tidak mampu untuk mempercayainya. Tapi ada satu kata yang membuatnya penasaran yang harus dijawab dengan jujur oleh Gavin.
"Kau memprovokasinya seperti apa?" tanya Licia ingin memastikan. Sebab sejauh mengenal Austin, pria itu memiliki emosi tenang diantara yang lainnya.
Gavin tidak langsung menjawab. Sesaat ia meragukan perkataannya yang baru saja dilontarkan, sebab hanya akan membuat Licia semakin membencinya.
"Aku mengatakan untuk menjauhimu jika benar-benar tidak memiliki perasaan padamu. Karena aku yang akan menjagamu menggantikannya."
Sesaat mendengar perkataan Gavin, Licia membuang napas kesal yang diselingi rasa tidak percaya. "Kau tidak berhak mengatakan itu padanya, Gav!" Gadis itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa? Apa hanya As yang berhak memilikimu, sedangkan aku tidak?" Kedua mata Gavin berubah memerah lantaran menahan rasa sesak di dadanya. Sungguh, menyimpan perasaan pada seseorang tidaklah mudah. Terlebih ia harus menahannya mati-matian agar hubungan mereka tidak menjadi berbeda. Lebih tepatnya agar hubungan mereka tidak menjadi canggung.
Licia dibuat membisu. Sebab ia tidak dapat memberikan respons apapun kecuali membuang pandangannya ke arah lain. "Jika sudah selesai, aku akan pergi."
Bukan kalimat itu yang ingin di dengar oleh Gavin. Akan tetapi ia tidak ingin memaksa.
"Licia....." Gavin menahan pergelangan tangan Licia sehingga langkah gadis itu terpaksa terhenti.
"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi, Gav. Aku akan menganggap seolah pernyataan cintamu tidak ada agar aku tidak membencimu."
"Kenapa kau harus membenciku?" Suara Gavin terdengar bergetar.
Licia menggeleng pelan. Entahlah, ia sendiri tidak tahu kenapa harus membenci Gavin. Apa karena pria itu yang menjadi salah satu alasan Austin pergi?
"Aku tidak tau." Licia memejamkan singkat kedua matanya. "Untuk saat ini aku hanya sedang merasa kecewa. Karena itu jangan semakin membuatku ingin membencimu!"
"Baiklah." Seketika Gavin melepaskan pergelangan tangan Licia. Meskipun ingin, tetapi ia tidak berhak untuk memaksa.
Tanpa kembali bersuara, Licia meninggalkan Gavin begitu saja. Pria itu menatap jejak bayangan Licia hingga benar-benar lenyap dari pandangan matanya.
"Sampai saat ini kau tidak bisa jujur pada perasaanmu sendiri, Licia," gumamnya sebelum melangkah pergi dari sana.
***
"Licia, aku....." Gavin nyaris tidak mampu berkata saat tatapan Licia penuh permusuhan padanya. "Maafkan aku jika kedatanganku membuatmu tidak nyaman." Tentu ia sadar diri karena sosoknya tidak diharapkan oleh Licia.
"Aku tidak ingin membahasnya lagi, Gav. Bukankah sudah kukatakan jika aku akan melupakan pernyataan cintamu!" seru Licia tidak mau tahu apapun yang akan dikatakan oleh pria itu. "Dan sampai saat ini aku tidak pernah memikirkan pernyataan cintamu itu!"
Miris sekali bukan? Bahkan Gavin berusaha menyembunyikan kegetiran melalui senyumannya saat Licia mengatakan tidak pernah memikirkan pernyataan cintanya.
"Tidak masalah. Aku akan menganggap sama sepertimu. Aku menarik kembali pernyataan cintaku saat itu." Mulut memang pandai untuk berdusta, tetapi hati tidak. Saat ini hati Gavin seolah tersayat-sayat, akan tetapi ia tidak akan menyesal karena sudah memiliki perasaan terhadap Licia. Terlepas masalah yang terjadi di antara mereka, Licia adalah gadis yang baik dan periang, meskipun sedikit polos dan sedikit naif.
Licia terhenyak. Benarkah Gavin menarik kembali pernyataan cintanya?
Tidak ingin percaya begitu saja, Licia menelisik wajah pria itu. "Apa saat ini kau sedang berpura-pura, Gav?"
Gavin menjadi serba salah. Berkata jujur dianggap berpura-pura. Lalu apakah jika dirinya berbohong, maka gadis itu akan percaya?
"Selain mengenal As, kau juga sangat mengenalku, bukan? Lalu apa menurutmu aku pandai berpura-pura, hm?" ujar Gavin yang merasakan setitik kekecewaan.
Licia menggeleng. "Aku tidak tau," jawabnya. Meskipun sebenarnya ia sangat mengetahui jika Gavin memiliki ekspresi dan responsif yang lebih jujur. Jika ada yang tidak disukai pria itu, maka akan ditunjukkan secara terang-terangan.
Licia merasa gamang. Tetapi yang dirasakan oleh Gavin tentu ia pun merasakannya. Jujur saja, ia merindukan bersenda gurau dengan Gavin dan juga yang lainnya.
"Gav, aku-"
"Jadi kalian sudah bersama, hm?" Suara yang begitu tidak asing menyela perkataan Licia. Sontak saja membuat Licia serta Gavin menoleh ke sumber suara.
"As....???" Keduanya menggumamkan nama pria yang berdiri tepat di hadapan mereka dengan melipat kedua tangan di depan dada.
"Benar. Ini aku. Kenapa? Kalian terkejut?" Austin menyentakkan senyum kecut. Tak lupa dengan tatapannya yang seolah terusik dengan kedua tangan Gavin yang masih menangkup bahu Licia.
Menyadari pandangan Austin tertuju pada bahunya, Licia segera menepis kedua tangan Gavin.
"Kau disini, As? Sejak kapan kau kembali ke London?" ucap Licia antara senang sekaligus tidak percaya akan sosok Austin yang berdiri di hadapannya.
"Jika tau aku akan kembali, apa kalian akan menyambut kedatanganku atau kalian tetap akan bersenang-senang disini?!" Perkataan Austin sungguh menohok untuk Licia dan menyudutkan Gavin tentunya.
"As, dengar. Mungkin kau salah paham. Aku dan Licia-"
"Kau benar-benar membuktikan perkataanmu saat itu, Gav." Austin menyela, ia tidak ingin mendengar penjelasan apapun. "Jadi tidak perlu menjelaskan apapun lagi padaku!" serunya dingin. Hingga kemudian berbalik badan dan hendak pergi.
"As, tunggu!" Licia berlari mengejar. Sungguh ia tidak ingin Austin salah paham padanya. Namun ekor mata gadis itu bergerak lantaran mendengar langkah Gavin yang mendekat.
"Sepertinya kalian perlu bicara. Aku pergi dulu." Gavin mengulas senyum tipis, ia menepuk-nepuk bahu Austin. "Aku senang kau sudah kembali, bro." Lalu melangkah pergi usai menyambut kedatangan Austin.
Dan tinggallah Austin dengan Licia. Suasana menjadi sangat hening.
"As...." Licia tidak mampu menutupi rasa senangnya saat melihat kembali wajah pria yang selama satu tahun ini sangat dirindukannya.
"Selamat untukmu dan Gav. Aku turut senang melihat kalian bersama." Meskipun perih, akan tetapi Austin berusaha menguatkan diri memberikan ucapan selamat untuk kedua orang yang berarti baginya.
Licia menggeleng keras. "Tidak As. Aku dan Gav tidak seperti yang kau pikirkan!" Gadis itu masih berusaha untuk menjelaskan. Bahkan meninggikan intonasi suaranya.
"Sebaiknya aku pergi dulu. You're boyfriend is waiting (kekasihmu sudah menunggu)!" ujar Austin seolah menyindir dan ia hendak kembali melangkah.
"He's not my boyfriend and I hate him (Dia bukan kekasihku dan aku membencinya)!" seru Licia tidak terima saat Austin mengatakan jika Gavin adalah kekasihnya.
"Whatever!" Austin malas menanggapi, pada akhirnya ia tetap melangkah pergi.
"Hei..!!!" Licia mencoba menghentikan dengan cara berteriak.
"What?!!" Karena Gadis itu menahan dan mengejarnya, Austin berbalik badan.
"Stop!" seru Licia berdiri beberapa langkah di hadapan Austin.
"Why??!" Pada akhirnya Austin membiarkan Licia untuk kembali bicara. Sebab, jujur saja ia tidak tega melihat gadis itu berteriak dan bahkan mengejarnya. Austin membuang pandangannya ke arah lain, karena melihat wajah gadis itu membuatnya tidak dapat mengendalikan diri untuk tidak memeluk.
Melihat respons Austin yang ketus dan dingin, Licia menghembuskan napas panjang ke udara. Harus dengan cara apalagi agar Austin percaya padanya?
"Because I love you... YOU IDIOT!!!" seru Licia pada akhirnya mengutarakan perasaannya yang selama ini dipendamnya.
Austin menolehkan kepala seketika. Apa ia telah salah mendengar?
"Apa? Kau terkejut, hah?!" Licia yang sudah terlanjur kesal mengikis jarak di antara mereka. "Sudah lama aku ingin mengatakan hal ini padamu dan aku sudah memutuskan akan mengutarakan perasaanku saat kau kembali ke London, tapi apa? Kau menuduhku memiliki hubungan dengan Gavin!" Sungguh, saat ini Licia tidak dapat mengendalikan amarahnya. "Aku bahkan membencinya karena menjadi alasanmu pergi selama satu tahun ini!" serunya kemudian menggebu-gebu.
Licia berdecak, detik kemudian tersenyum kecut. "Bukankah kau juga sudah memiliki kekasih disana? Lalu kenapa kau marah saat aku bersama Gav?! Katakan, huh?!"
Jika sebelumnya Austin begitu marah dan kecewa, kali ini Licia yang menampakkan kekecewaan dan amarahnya.
"Kenapa? Aku tidak marah saat kau tidak pernah menghubungiku! Bahkan saat kau disana memiliki kekasih, aku juga tidak marah, meskipun aku harus menangis semalaman. Saat itu juga aku berpikir, bukankah aku juga berhak memiliki kekasih sama sepertimu? Tapi dengan bodohnya aku memilih untuk tetap menunggumu!" serunya membentak. Entah sadar atau tidak, gadis itu baru saja memberitahu apa yang ia rasakan selama ini. "Kenapa? Kenapa kau tidak pernah menghubungiku?!" Suara Licia kembali terdengar menuntut jawaban, sementara yang diberikan pertanyaan masih tetap bungkam.
"Licia...." Austin hendak menggapai tangan Licia.
"Cukup, aku lelah!" Namun tiba-tiba saja Licia mundur satu langkah. "Aku akan pulang. Terserah kau masih ingin disini atau tidak!" Kemudian gadis itu meninggalkan Austin yang masih mematung. Ia masuk ke dalam resort hanya ingin mengambil barang-barangnya.
Freya yang sedari tadi tidak sengaja mendengar percakapan mereka hanya bisa menutup rapat mulutnya. Kemudian mengikuti langkah Licia yang lebih dulu berlalu dengan menggeret koper besar milik gadis itu. Freya menatap kasihan pada kakak sepupunya itu, akan tetapi ia lebih merasa kasihan terhadap Licia. Jelas-jelas ia sangat mengetahui bagaimana Licia memendam perasaannya selama satu tahun ini.
See you next bonus chapter
Babang Austin
Udah dong berantemnya, Yoona pusing jadinya nih 😔😔
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...