
Austin menikmati udara malam yang terasa menusuk tulang. Sudah beberapa menit menunggu istrinya yang sedang membersihkan diri, selama itu pula pandangan Austin tidak teralihkan dari Menara Eiffel yang berdiri kokoh dan penuh dengan cahaya. Dirinya memilih room yang tepat karena mendapatkan suguhan pemandangan Menara Eiffel.
"Waah... indah sekali!!"
Telinga Austin tersentak kala mendengar seruan Licia tepat di belakang tubuhnya. Pria itu menolehkan kepala dan mengulas senyum tipis mendapati binar ketakjuban pada manik mata Licia.
"Kemarilah..." Tangan Austin mengayun, memberi isyarat pada istrinya itu untuk mendekat dan tidak hanya berdiri di ambang pintu balkon.
Tanpa ragu Licia mendekat. Bahkan gadis itu melupakan jika tubuhnya hanya berbalutkan bathrobe. Dalam sekejap saja gadis itu sudah berada di dalam dekapan Austin, lebih tepatnya pria itu mendekap sang istri dari belakang untuk menikmati keindahan Menara Eiffel pada malam hari.
"Sudah lama aku tidak melihat Menara Eiffel. Terakhir kali saat aku berlibur bersama teman-teman senior high school." Memandang takjub pemandangan sekitar yang memanjakan mata.
"Sebelum kau pindah ke London untuk mengejarku, bukan?" timpal Austin menambahi.
Licia menepuk lengan tangan Austin yang melingkar di perutnya. Merasa tidak terima dengan perkataan Austin. "Kau terlalu percaya diri," sahutnya tanpa menoleh. Jelas-jelas bukan seperti yang dikatakan Austin. Dan suaminya itu sudah mengetahui alasan keluarga mereka memutuskan pindah ke London, sebab Daddy Zayn merasa bosan berada di Los Angeles. Dan dari cerita yang ia dengar jika Daddy-nya itu selalu berpindah-pindah sesuka hati saat sebelum menikah dengan Mommy Angela.
Austin terkekeh. Jelas ia hanya menggoda saja. Mana mungkin Licia mengejar dirinya. Hei, bahkan mereka tidak pernah menyangka jika akan saling jatuh cinta setelah bertahun-tahun bersama.
"Tapi untuk kedepannya kau tidak akan bisa pergi kemanapun mengikuti kedua orang tuamu. Karena sekarang kau sudah menjadi istriku."
Licia mengangguki perkataan Austin. Ia sudah tahu tugas seorang istri, selain melayani, dirinya pun harus mengikuti kemanapun suaminya pergi. "Aku mengerti. Aku akan selalu mengikuti kemanapun kau pergi. Sekalipun kau akan membawaku ke Afrika," ucapnya diakhir dengan tawa. Membayangkan jika ia benar-benar akan dibawa ke Afrika. Entah akan melakukan apa dirinya disana, mengingat ia tidak mengenal seluk-beluk negara tersebut.
Austin turut terkekeh. Merasa geli mendengar penuturan Licia saat menyebutkan salah satu negara yang tidak pernah berada dalam list untuk ia kunjungi.
Dikecupnya puncak kepala Licia dengan sayang. Kecanggungan beberapa saat yang lalu seolah melebur bersama hembusan angin yang kian menusuk tulang. Akan tetapi bagi keduanya, momen seperti ini sangat jarang mereka lewati bersama, sebab di masa lalu keduanya bersama selayaknya keluarga yang harus saling melindungi dan menyayangi.
"Aku memang berencana membawamu ikut bersamaku, tapi tidak ke Afrika." Sebenarnya Austin pernah membicarakan kepergiannya mengunjungi salah satu negera di Asia. Entah Licia ingat atau tidak, akan tetapi ia akan membawa turut serta Licia bersamanya.
Licia berpikir sejenak, menggali ingatan akan percakapan mereka beberapa bulan lalu. "Hmm, aku ingat kau pernah berbicara padaku, kalau kau akan pergi ke China."
Austin mengangguk. "Ternyata ingatanmu tidak buruk," ejeknya kemudian. Kebiasaan Austin yang selalu mengejek Licia tidak akan pernah bisa dihilangkan, meski kini mereka telah menjadi pasangan suami istri.
Bibir Licia mencebik. "Aku belum menjadi tua untuk melupakan percakapan kita beberapa bulan yang lalu." Licia mencubit gemas lengan Austin. Sangking gemasnya membuat pria itu memekik.
"Hei, belum 24 jam menjadi istriku, kau sudah melakukan kekerasan pada suamimu." Austin berdecak tidak percaya.
Licia memutar bola matanya malas. Berlebihan sekali. Padahal ia hanya mencubit, bukan menghajar ataupun menendang.
"Kau bahkan pernah terluka lebih parah. Cubitan seperti ini tidak berarti apa-apa untukmu." Kembali Licia mencubit lengan Austin. Untuk memastikan jika perbuatannya tidak akan membuat suaminya itu dilarikan ke rumah sakit.
Wahh... Austin benar-benar dibuat gemas dan kesal oleh istrinya. Melepaskan kedua tangan dari perut Licia dan membalikkan tubuh istrinya. Menangkup wajah cantik nan mungil itu, lalu melabuhkan kecupan basah di seluruh wajah Licia.
"As, astaga. Hentikan." Licia dibuat geli oleh perbuatan Austin. Ia berusaha untuk mendorong Austin tetapi hasilnya nihil. Tenaganya benar-benar tidak cukup kuat untuk mendorong tubuh besar Austin. "Haha geli As. Hentikan! hahahaha!"
Alih-alih menghentikan kecupan basah di seluruh wajah Licia, bibir Austin semakin intens menjelajahi, bahkan berhenti tepat di bibir Licia. Memberikan kecupan disana berulang kali, sebelum kemudian melumatnyaa dengan sensual.
Dihentikannya kegiatan melumatnyaa itu, Austin menatap dalam manik mata Licia. "Apa, hm? Kita sudah suami istri. Kau tidak lupa, bukan?" Perkataan Austin sama saja menegaskan jika Licia tidak boleh menolak.
Kepala Licia menggeleng pelan, cukup mewakili jawaban gadis itu. Apa ia memiliki alasan untuk menolak? Tentu saja tidak. Mereka sudah sering berciuman, tidak sepantasnya jika Licia masih merasa canggung.
Austin menggigit bibir bawah Licia agar terbuka. Tidak membiarkan istrinya untuk kembali melayangkan protes. Saat ini ia ingin menikmati bibir yang membuatnya candu.
"Nikmati saja Baby, bukankah kita sering melakukannya, hm?" Hanya memberikan jeda sejenak, sebelum akhirnya Austin menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Licia
Licia kian memanas, ia selalu dibuat meleleh setiap kali mendengar Austin memanggilnya 'Baby'. Kemudian ia mengalungkan kedua tangan pada leher Austin. Bibir Austin menyeringai kecil ketika mendengar lenguhan dari bibir Licia yang keluar secara alami. Dan ia benar-benar ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman. Sudah lama sekali ia menahan gairah setiap kali mereka berciuman.
Ciuman mereka berlangsung cukup lama, hingga mereka saling menautkan bibir dibawah langit malam dengan disaksikan oleh bintang yang bertaburan di atas langit. Bertepatan dengan lampu-lampu Menara Eiffel yang berkilau dan tak lama kemudian berkelap-kelip selama lima menit setiap jam hingga pukul satu malam. Dan malam ini tepat pukul dua belas malam, memasuki pergantian hari.
Bukankah jika seperti ini membuat Austin melupakan segala rencananya. Bahkan rencana untuk membersihkan diri. Sial! Efek dari ciuman membuat Austin tidak dapat berpikir dengan jernih. Benar-benar dimabuk cinta dan dimabuk oleh gairah, terlebih Licia pun mengimbangi ciumannya yang sedikit kasar dan menuntut.
"Eunggh..." Licia kembali melenguh ketika Austin semakin kuat menyesap bibirnya. Membelit lidahnya hingga ia kian terbawa arus permainan bibir yang memabukan.
Tangan Austin tidak tinggal diam, ia mengelus leher Licia beberapa saat, sebelum akhirnya menjatuhkan tangan untuk menarik tali simpul bathrobe yang membalut rapat. Saat ikatan simpul itu terbuka dan Austin hendak menyingkap bathrobe pada bagian pundak Licia, suara ketukan pintu menghentikan pergerakan tangannya. Sebelumnya ia dan Licia mengabaikan kegaduhan diluar room yang terdengar samar-samar. Namun karena ketukan yang terdengar kian mendesak dan menuntut itu membuat Austin terpaksa melepaskan pagutan bibir mereka.
"Damn it!!!" umpatnya mendengkus kesal. Berbeda dengan Licia yang terengah-engah. Mencoba menghirup udara lebih banyak.
Pandangan Austin berpusat pada pintu yang masih mengeluarkan suara ketukan. Siapa yang berani mengganggu malam pengantin mereka? Sepertinya ia harus memberikan pelajaran pada siapapun itu.
"Aku akan melihatnya," ucap Austin sembari membenarkan bathrobe yang dikenakan Licia dan kembali membuat simpul pada ikatan bathrobe tersebut. Padahal baru saja ia yang membukanya, tetapi dirinya juga yang kembali mengikat.
Licia tersipu malu. Benar-benar memalukan, pekiknya dalam hati.
Pandangan Licia mengikuti langkah Austin yang melangkah menuju pintu. Ia tidak tahu siapa yang mengetuk hingga mengganggu kegiatan mereka yang sesaat lagi akan melakukan... itu. Ahhh, wajah Licia benar-benar terasa memanas. Baru beberapa saat yang lalu di dalam kamar mandi, jika dirinya yang akan menggoda tetapi justru ia yang tergoda.
Austin terperangah ketika membuka pintu dan ia mendapati pengganggu itu. "Dad??!!" Suaranya yang memekik sampai di telinga Licia hingga membuat gadis itu berjengit untuk mengintip dari balik pintu balkon.
"Ada apa kalian berdua di depan kamar kami?!" tanyanya kemudian dengan jengah sekaligus penasaran akan kedatangan pengganggu. Tidak hanya satu pengganggu, tetapi dua pengganggu. Siapa lagi jika bukan Daddy Xavier dan Daddy Zayn? Astaga! Mau apa dua Daddy-nya itu?!
See you next bonus chapter
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...