
Svaneti Georgia
Selama mengudara 11 jam lamanya, akhirnya Mikel dan Josh tiba di tempat tujuan. Tidak nampak lelah di wajah keduanya. Terutama Mikel, pria itu justru terlihat tegang, jantungnya berdegup lebih cepat dari jantung normal pada umumnya. Kedua tangannya terasa dingin dan bergetar. Entahlah, Mikel juga tidak mengerti. Sungguh sangat sulit di percaya, sebab selama ini ia mengira jika kedua orang tuanya sudah tiada dan tidak pernah terpikirkan olehnya jika mereka masih hidup dan kini baik-baik saja.
"Apa Tuan Muda Mike baik-baik saja?" Josh menyadari kegugupan yang menyerang tuan mudanya itu. Ia cemas jika Mikel kelelahan lantaran menempuh perjalanan yang panjang dari Amsterdam menuju Georgia. Dan belum lagi mereka harus menumpangi mobil selama empat puluh menit menuju Desa Svaneti, sebuah desa terpencil yang hanya dihuni tidak lebih dari 200 penduduk.
"Aku baik-baik saja Paman. Hanya saja aku sulit untuk mempercayai jika aku akan bertemu dengan kedua orang tuaku yang selama ini sudah kita anggap tiada."
Josh tersenyum mendengarnya, ia pun merasakan demikian. "Saya juga sulit mempercayai semua ini, tapi saya bersyukur karena mereka masih hidup dan saya dapat bertemu dengan Tuan Matt dan Nyonya Aprille kembali."
"Kau benar Paman. Kalau begitu kita turun dari mobil sekarang. Mereka sudah menunggu kita." Dagu Mikel menunjuk dua pria berbeda usia yang berdiri tidak jauh dari mobil yang terparkir, menunggu dirinya.
Josh mengangguk, ia pun segera turun dari mobil menyusul Mikel yang sudah lebih dulu turun. Dua pria segera menghampiri Mikel serta Josh.
"Kami sudah menunggu kedatangan anda, Tuan." Keduanya menunduk, memberikan salam hormat. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah diberikan tugas oleh tetua di desa sana. Desa Svaneti memang di huni oleh penduduk asli sana dan jika ingin memasuki desa mereka, maka harus meminta izin terlebih dahulu kepada tetua disana. Adat mereka masih sangat kental dan tidak begitu menerima orang asing. Terlebih orang asing dari kota, hanya saja tujuan Mikel begitu jelas, ingin menemukan kedua orang tuanya. Sehingga Mikel dan Josh di permudahkan untuk memasuki pemukiman mereka.
Mikel membalas dengan menganggukkan kepala. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, dimana terdapat beberapa rumah di bawah bukit. Hamparannya begitu hijau dan di tumbuhi pepohonan yang rindang. Sungguh menyejukkan mata, beda sekali dengan kota-kota besar yang sudah dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit.
"Mari tuan-tuan, kami antar." Salah satu dari mereka mempersilahkan Mikel dan Josh untuk mengikuti mereka. Memang untuk menuju rumah yang dimaksud oleh Mikel tidak dapat di akses oleh mobil, sehingga mereka harus berjalan kaki beberapa kilometer.
"Disana adalah rumah Matt dan Aprille." Satu dari mereka menunjuk sebuah rumah yang lebih besar dari beberapa rumah lainnya. Penduduk di desa terbiasa memanggil keduanya seperti itu. Tidak ada yang mengetahui jika Matthew dan Aprille adalah pasangan ternama dan kaya raya sebelumnya.
Pandangan Mikel terpaku sejenak pada bangunan yang jauh dari kata mewah, maupun besar. Mungkin jika dilihat rumah itu lebih besar dari kamar yang ia singgahi. Sungguh berbeda jauh dari kehidupan kedua orang tuanya yang dahulu. Kedua mata Mikel berkaca-kaca, jadi selama ini kedua orang tuanya tinggal di tempat seperti ini? Meksipun menempati rumah kecil tetapi udaranya begitu sejuk dan menyegarkan. Mikel tidak memungkiri betapa indahnya Desa Svaneti.
"Biasanya di jam seperti ini, Matt dan Aprille sedang berladang. Pekerjaan kami sehari-hari adalah berladang, bertani, beternak dan masih banyak lagi." Suara pria yang usianya lebih muda darinya membuyarkan lamunan Mikel dengan menjelaskan akan keseharian penduduk disana untuk menyambung hidup.
"Lalu apa mereka masih berladang? Kapan mereka kembali?" Mikel menguatkan hatinya yang bergetar pilu dengan menyahuti ucapan pria itu.
"Hm..." Pria di sisi Mikel nampak berpikir dan mengingat-ingat. "Sepertinya sebentar lagi mereka sudah akan kembali. Aprille tidak bisa berada di luar lebih dari tiga jam karena kesehatannya yang memburuk, kedua kakinya lumpuh dan hanya duduk di kursi roda sepanjang hari, sementara Matt tidak bisa berbicara. Tetapi mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Mereka menjadi panutan kami untuk saling menjaga seperti mereka."
Mendengar penuturan pria itu, hati Mikel teriris pilu. Kelopak matanya tidak berhenti berdenyut, menahan lelehan air mata yang siap tumpah. Dan reaksi Josh tidak jauh berbeda dengan Mikel, tangan kanan Matthew itu merasakan kepedihan yang dirasakan Tuan dan Nyonya-nya.
"Lihatlah, itu mereka." Pria yang lebih muda dari temannya tersebut berseru, menunjuk kedua pasangan paruh baya yang baru saja keluar dari pepohonan rindang. Terlihat paruh baya yang berjalan sembari mendorong kursi roda seorang wanita paruh baya yang cantik. Meskipun sudah dimakan usia rambut keduanya tidak memutih seperti orang-orang tua pada umumnya.
Senyum terpatri di bibir kedua pasangan paruh baya, entah apa yang menjadi topik mereka sehingga terlihat begitu bahagia. Kaki panjang Mikel melangkah untuk menghampiri kedua orang tuanya. Mata yang mengembun itu tidak dapat menampung air matanya lebih lama lagi. Langkahnya semakin dekat, semakin ia dapat mendengar tawa Mommy Aprille yang selama ini lenyap begitu saja, dan menggelapkan seluruh kehidupannya seiring kematian mereka.
"Matt sayang, siang nanti kita makan ubi bakar saja. Seperti biasa, kau yang menyiapkan apinya dan aku yang akan membakar ubinya, kita makan lalu minum jus strawberry yang baru saja kita petik tadi pagi"
Pria paruh baya itu menanggapi dengan senyuman. Ia selalu tersenyum setiap kali mendengarkan celotehan sang istri tercinta. Tangannya terus mendorong kursi roda, hingga kemudian pandangannya yang semula tertuju pada wajah sang istri yang mendongak ke arahnya mulai menatap ke depan. Sudut bibir yang melengkungkan senyuman tipis mendadak menyurut ketika mendapati pria muda asing berjalan mendekat ke arah mereka. Ia segera menghentikan langkahnya, membuat dorongan pada kursi roda pun tidak ada pergerakan lagi. Wanita paruh baya itu menolehkan kepalanya, ia yang mendongak ke atas menatap sang suami mengikuti arah pandang suaminya tersebut.
"Siapa?" tanya Aprille dengan kedua alis yang bertaut bingung. Berbeda dengan Matthew yang tidak bisa berbicara, pria paruh baya itu bertanya melalui sorot matanya yang tajam serupa dengan pria yang berdiri menjulang seperti dirinya.
"Mom.... Dad....?"
Deg
Baik Aprille dan Matthew terkejut mendengar pria muda itu memanggil mereka dengan sebutan Mom Dan Dad. Panggilan yang sudah lama sekali lenyap dari pendengaran mereka bersama dengan kematian putra dan putri mereka sebelas tahun yang lalu. Kekosongan dan kepedihan selalu menemani mereka selama ini, akan tetapi keduanya sepakat untuk saling menguatkan demi ketenangan putra dan putri mereka di alam yang berbeda.
"Mike....??" Entah dorongan dari mana sehingga Aprille memanggil pria itu dengan nama putranya yang sudah tiada. Namun hatinya yang bergetar tidak dapat membohongi kehadiran putranya yang sudah lama tidak mereka lihat.
"Ya, aku Mike.... Michael Jhonson, putra kalian," lirihnya bergetar. Tidak dapat membendung air matanya, Mikel membiarkan lelehan air mata membanjir wajahnya. Berulang kali ia mengerjapkan mata untuk memastikan jika apa yang ia lihat bukanlah mimpi atau hanya ilusi saja.
BRUK
Mikel tidak mampu lagi menopang tubuhnya, lututnya seolah melemas. Kepalanya tertunduk dan terisak dalam kebahagiaan yang tidak dapat dijabarkan lewat kata maupun sorot matanya. Sungguh ia benar-benar bersyukur kedua orang tuanya masih hidup.
Matthew terkejut melihat pria di hadapannya tiba-tiba saja menjatuhkan tubuhnya di atas rumput dan berlutut, sorot matanya tidak sengaja menangkap sosok yang tidak asing ketika wajahnya yang sebelumnya tertutupi oleh tubuh pria itu kini terlihat dengan jelas dan memenuhi pandangannya.
"Josh?" batinnya tidak percaya. Ia pun kini menjadi paham, ternyata hatinya benar. Pria muda itu adalah putranya dan ia segera berlari menghampiri Mikel. Menumpu kedua lututnya di atas rumput, ia memeluk sang putra dengan erat.
Tangis Matthew seketika pecah, ia terisak dalam balutan kediamannya karena tidak dapat mengeluarkan suara apapun. Tetapi dari air mata yang keluar dengan derasnya, menunjukkan jika dirinya pun merasakan kebahagiaan yang tidak dapat diutarakan oleh apapun.
Wajah Aprille sudah dibanjiri oleh air mata, menepuk dadanya yang di rasa berdenyut luar biasa. Sungguh ia tidak percaya jika pria muda itu adalah putranya, tetapi mata dan kehadiran pria muda itu benar-benar tidak dapat berdusta. Hanya sekali melihat saja ia sudah dapat menyadari jika pria itu adalah Mike, putranya.
To be continue
Daddy Matthew
Mommy Aprill
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...