The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Situasi Terjepit



Arthur baru saja tiba di perbatasan Kota Winchester setelah ia ke Markas terlebih dahulu untuk mengumpulkan beberapa anak buah yang akan menyerang Kartel Sinaloa. Gembong mafia yang dipimpin oleh Vasco Escobar yang terkenal dengan maniak sekss. Pria itu selalu membutuhkan wanita cantik dari wanita penghibur maupun kalangan model untuk menghangatkan ranjangnya. Vasco mendirikan bisnis prostitusi sehingga berkembang cukup baik dan meraup keuntungan yang besar. Belum terhitung dari banyaknya obat-obatan terlarang serta perampokan yang dilakukan oleh mereka sehingga menjadi gembong yang disegani oleh Mafia lainnya. Tidak heran jika Kartel Sinaloa selalu mencari masalah dengan gembong mafia lainnya, salah satunya Black Lion yang kini menjadi musuh terbesar Kartel Sinaloa.


Laporan yang Arthur terima dari beberapa anak buah bahwa Darren dan Chris di serang oleh Kartel Sinaloa pada saat menyelesaikan tugas mereka mengintai beberapa Club malam yang berhubungan dengan Alan Born. Pantas saja Arthur sulit menembus bisnis yang digeluti oleh pria tua itu, ternyata memiliki backing sekelas Kartel Sinaloa.


Di lapangan landasan jet pribadi milik Black Lion, Arthur sudah disambut oleh pemuda-pemuda Lion Boys yang sudah menunggunya bersisian dengan jet tempur pribadi milik Austin.


"Kalian sudah siap?" tanya Arthur kepada adik-adiknya itu. Ini adalah kali pertama Arthur mengikut sertakan Lion Boys yang juga merupakan bagian dari Black Lion melakukan misi penyerangan. Biasanya Arthur hanya memberikan mereka tugas yang ringan saja. Mengintai, melacak dan aksi lainnya seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu di gedung kepolisian.


"Siap!" Austin menyahut dengan semangat.


"Kami selalu siap kapanpun!" sahut Elden kemudian.


"Benar, aku sudah tidak sabar membantai musuh-musuh Black Lion," sambung Liam tersenyum devil.


"Semoga Chris bisa bertahan disana lebih lama lagi," tutur Gavin menimpali.


Arthur mengangguk. Pandangannya kemudian beralih pada Dean yang diam saja, tidak seperti lainnya yang begitu semangat.


"Apa kau ada masalah Dean?" tanya Arthur memastikan. Dean memiliki sifat lebih pendiam, namun jika sudah marah, pria bertubuh pendek itu bisa bersikap kejam.


Dean menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya memikirkan Kak Der. Mungkin saja dia terluka."


Elden, Gavin dan Liam saling pandang, hingga kemudian Gavin dan Elden merangkul Dean. "Dia pasti baik-baik saja," ujar Elden menenangkan.


"Benar, Der tidak lemah. Dia pasti bisa menghadapi bahaya apapun." Arthur turut menimpali ucapan Elden. Membuat Dean mengangguk percaya, ia pun mempercayai kemampuan sang kakak.


Tidak lama kemudian, Black Lion bergegas menuju Manchester menggunakan tiga jet pribadi. Berbekal strategi yang sudah mereka susun dengan matang, mereka siap untuk melakukan aksi penyerangan.


Hanya menempuh perjalanan satu jam lebih, kini pesawat pribadi Black Lion sudah mendarat di landasan perbatasan wilayah kekuasaan Black Lion yang berada di Kota Stockport.


Berbondong-bondong para anak buah Black Lion memasuki Jeep hitam usai Arthur serta Lion Boys menumpangi mobil Mercedes Benz berwarna hitam. Mereka menyusuri Kota Stockport menuju kawasan Red Light District. Dan begitu tiba di kawasan tersebut, Arthur memerintahkan Lion Boys untuk memporak-porandakan Club malam tersebut. Menyerang dan menghancurkan tempat hiburan malam tersebut. Sementara beberapa anak buah lainnya menyebar untuk menemui Darren yang tengah bersembunyi dari kejaran para anak buah Kartel Sinaloa. Sebelum kemudian Arthur dan puluhan anak buah lainnya meninggalkan Red Light District menuju markas besar Kartel Sinaloa yang berlokasi di antara perbukitan.


BRAAKK!


Beberapa di antara anak buah Black Lion menghancurkan gerbang markas Kartel Sinaloa. Mereka tidak gentar meskipun kedatangan mereka sudah disambut oleh puluhan anak buah Kartel Sinaloa yang menodongkan senjata ke arah mereka.


Arthur merogoh senjata di balik jaket yang dikenakannya, dengan kedua tangannya ia menambaki beberapa anak buah Kartel Sinaloa yang baru saja akan menghentakkan peluru ke arah Black Lion. Seketika aksi saling baku tembak itu tidak terhindari dan Black Lion setidaknya lebih unggul dalam kecepatan menembak sehingga mampu meruntuhkan penjagaan markas Kartel Sinaloa.


Arthur memerintahkan dua anak buahnya untuk mendobrak pintu yang menjulang tinggi tersebut. Hingga menit itu juga pintu tersebut tumbang dan Arthur segera melesat masuk, disusul oleh para anak buahnya.


"Hei, sialan! Kalian benar-benar mengacaukan Markasku!" Seorang pria bertubuh tegap berotot berdiri dengan tatapan tajamnya. Ia membuang putung rokok dengan asal, lalu berjalan menghampiri dengan menuruni beberapa anak tangga.


Arthur menyambar pakaian anak buah Kartel Sinaloa yang berusaha menghalangi jalannya, kemudian mendorong hingga jatuh tersungkur.


Dor!


Satu peluru dihantamkan Arthur kepada dada anak buah Kartel Sinaloa tersebut hingga darah menyembur ke segala sisi sebagai bentuk peringatannya kepada pria yang bernama Vasco Escobar itu bahwa ia salah mencari lawan.


"Keparat!!!" Vasco geram, anak buahnya dibunuh tepat di depan matanya.


Beberapa anak buah Kartel Sinaloa menodongkan senjata masing-masing ke arah Black Lion, pun Black Lion yang mengekori senjata mereka masing-masing, siap untuk menembak.


"Kembalikan Chris!" seru Arthur lantang.


Vasco yang kesal menyelipkan tawa pada sudut bibirnya. "Kau membuat kekacauan di Markasku dan berani memerintahku untuk mengembalikan temanmu itu?!" ujarnya sengit. "Tidak akan, sebelum kau mati di tanganku!"


"Kau lebih dulu mencari masalah denganku!" Arthur menyahuti dengan tidak kalah sengit.


"Apa salahnya jika aku membuat perhitungan kepada mereka yang sudah mengintai Club malamku!!"


Kedua alis Vasco berkerut dalam, hingga kemudian tertawa terbahak-bahak. "Karena aku tidak bisa menikmati tubuhnya, mau tidak mau aku harus melenyapkannya, bukan?!"


Mendengar hak tersebut, Arthur bergerak maju, mengikis jarak di antara mereka. Tidak pedulikan gerakan senjata akan anak buah Vasco yang menyoroti dirinya. Tangan Arthur kemudian menyambar dan mencengkram kerah pakaian pria itu.


"Sebelum kau berhasil melenyapkan adikku, kau akan mati lebih dulu di tanganku!"


Para anak buah Vasco bersiap untuk memuntahkan peluru tepat ke arah Arthur. Namun pegerakan mereka terhenti karena beberapa anak buah Black Lion melakukan hal yang sama.


"Baiklah, aku mengaku salah." Vasco mengangkat kedua tangannya. Entahlah pria itu benar-benar mengakui kesalahannya atau tengah menyusun rencana licik.


Cengkraman tangan Arthur pada kerah pakaian Vasco perlahan mengendur. Ia hendak melepaskan tangannya itu, namun langkah seseorang menyita perhatiannya sejenak. Dan tiba-tiba emosi Arthur melonjak naik disertai rahangnya yang kian mengeras. Dua anak buah Vasco menyeret Chris yang sudah babak belur.


"KEPARAT! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADANYA?!" Arthur mendorong penuh tubuh Vasco, sehingga pria itu nyaris terjungkal. Akan tetapi terlihat senang karena berhasil satu langkah di depan Arthur.


Arthur hendak menyerang anak buah Vasco yang tengah mencengkram leher Chris.


"Jika kau maju satu langkah saja. Peluru itu akan menembus kepalanya!" ujar Vasco penuh peringatan. Menunjukkan anak buahnya yang sudah menodongkan senjata tepat di belakang kepala Chris.


"Sial!!" pekik Arthur. Kini ia berada di situasi terjepit.


"Lepaskan aku! Kenapa kalian membawaku ke tempat mengerikan ini!"


Suara wanita yang meronta-meronta minta untuk dilepaskan menyita perhatian mereka sejenak. Tak terkecuali Arthur, seketika kedua matanya membeliak lantaran terkejut.


"Kau terkejut?" Vasco menyadari keterkejutan Arthur, ia tersenyum penuh ejekan. "Wanita itu memang teman baik dari wanita yang bernama Elie. Karena aku tidak bisa mencicipi tubuh adikmu itu, tidak ada salahnya jika wanita itu menjadi pengganti adikmu!" Vasco menyelipkan tawanya usai menyerukan mendapatnya yang membuat Arthur bertambah meradang.


Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Arthur sudah berjanji kepada Elie untuk mencari keberadaan Veronica dan melindungi wanita itu.


"Eitts, sudah kukatakan jangan berani-beraninya mendekat. Jika tidak, temanmu ini akan mati haha!" Lagi-lagi peringatan Vasco membuat Arthur mengurungkan langkahnya itu. Puas sudah Vasco melihat ketidakberdayaan Arthur. Pria yang membuatnya geram selama ini karena telah berhasil menggagalkan rencananya untuk memperluas bisnisnya itu.


Tangan Arthur terkepal, menyembunyikan kegeramannya karena tidak bisa berbuat apapun ketika Chris dan Veronica berada dalam bahaya.


"Bawa wanita itu ke kamarku!" perintah Vasco kemudian kepada dua anak buah yang tengah menyeret paksa Veronica. Mereka mengangguk dan menjalankan perintah Vasco.


Vasco terkekeh-kekeh penuh kemenangan. Ia melangkah menjauh dari Arthur untuk menemui Veronica. Santapan lezat yang tentunya tidak mungkin dianggurkan.


Arthur hanya dapat memejamkan kedua matanya saat mendengar teriakan demi teriakan yang menggema di lantai atas itu. Sudah dapat dipastikan jika Veronica benar-benar akan dinikmati oleh Vasco.


To be continue


Babang Arthur



Austin




...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...