
Veronica terkesiap ketika telapak tangan Darren mengayun berulang kali di depan wajahnya. Ia baru saja meluapkan curahan hatinya di dalam hati. Belum saatnya ia mengungkapkan perasaannya, saat ini yang terpenting adalah membuat pria itu terbiasa dengan dirinya.
"Kau harus harus bertanggung jawab, karena itu kau harus menemaniku ke supermarket terdekat."
"Maaf Nona, tapi aku harus kembali ke perusahaan. Ada banyak perkerjaan yang menungguku." Tanpa perlu berpikir panjang, Darren menolak tegas.
"Ck, hanya sebentar saja." Veronica berdecak sembari berkacak pinggang. "Tidak akan lama, aku tau kau sibuk. Jadi aku tidak akan membuang waktumu yang berharga terlalu lama. Bagaimana?" Wanita itu memasang wajah penuh permohonan. Bahkan ia mengerjapkan kedua matanya berulang kali sebagai bentuk rayuan kepada Darren.
Helaan napas Darren terdengar berat. Baru saja kembali dari Jepang sudah direpotkan oleh wanita di hadapannya ini.
"Tidak bisa. Nona pergi saja sendiri dan aku harus kembali ke perusahaan," sahut Darren sambil berlalu melintasi Veronica, berjalan menuju mobilnya.
"Ck, benar-benar menyebalkan. Seharusnya dia menjawab 'baiklah Nona, aku akan mengantarmu kemanapun kau pergi'." Veronica bergumam mengikuti gaya bicara Darren, berharap pria itu berkata demikian. Namun sayang, ia sulit sekali menaklukkan pria lemari es itu.
Tepat pada saat Veronica melangkah untuk menyusul Darren, ponselnya yang berada di genggamannya itu berdering. Ia melihat nama Larry tertera disana, wanita itu segera menjawabnya.
"Ada apa, Larry? Aku baru saja selesai makan siang," jawabnya dan Veronica mendengarkan jawaban Larry di seberang sana. "Aku tidak berada di apartemen, aku baru akan ke Supermarket Sainsbury's. Apa? Kau akan menyusulku? Baiklah, kita bertemu disana."
Veronica memutuskan sambungan telepon. Langkahnya terhenti tepat disisi mobil, namun dada bidang seseorang yang berdiri di hadapannya menjadi pusat perhatiannya, sebab pria itu menghalangi jalannya secara tiba-tiba.
Ketika mendongak, wajah datar Darren memenuhi pandangannya. "Ada apa Tuan Darren? Kenapa masih disini? Bukankah kau sibuk dan harus kembali ke perusahaan, tapi kenapa-"
"Tidak bisakah satu hari saja Nona tidak banyak bicara?" Darren menyela. Sungguh gendang telinganya nyaris pecah lantaran sejak tadi mendengarkan celotehan wanita itu.
"Tidak bisa, aku bisa mati jika hanya diam saja." Bibir wanita itu mencebik. Ia bukanlah wanita pendiam, sebab cerewet adalah ciri khasnya.
Darren tidak menanggapi kembali, ia membalikkan tubuhnya, lalu membukakan pintu mobil. "Masuklah," katanya datar.
Veronica terperangah, mulutnya menganga seperti orang bodoh. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengannya? Bukankah tadi dia menolakku?
Namun Veronica yang masih tidak mempercayai apa yang dilakukan pria itu hanya bergeming di tempat. Terlebih tidak berniat masuk ke dalam mobil seperti yang dikatakan oleh Darren.
"Nona ingin masuk sendiri atau aku perlu membantu memasuki Nona?" Darren kembali bersuara untuk menyadarkan wanita di hadapannya.
"Eh, apa? Kau mengatakan apa? Kenapa perkataanmu itu terdengar ambigu. Orang lain akan salah paham jika mendengarnya." Veronica menjadi heboh sendiri.
"Salah paham bagaimana?" Darren gagal mencerna disertai dahi mengernyit.
"Kau bicara akan memasukiku. Astaga, jika orang lain mendengar, kau akan dibilang mesum." Seketika Veronica menjadi merinding, ia memeluk tubuhnya sendiri. Entahlah, ia merasa jika pria lemari es itu terlihat begitu polos, bahkan tidak mengerti apa yang ia bicarakan.
"Aku tidak mengerti. Sebaiknya Nona cepat masuk ke dalam mobil." Darren yang sedikit kesal pun mencoba menekankan perkataannya.
"Baiklah, aku akan masuk." Veronica benar-benar masuk ke dalam mobil, sebelum Darren menutup pintu mobil, wanita itu mengulas senyum. "Terima kasih sudah membukakan pintu untukku."
Mengabaikan Veronica, Darren menutup pintu mobil begitu saja. Sehingga membuat wanita itu mengumpat kesal.
"Ck, sialan. Apa dia tidak bisa romantis atau setidaknya membalas perkataanku dengan ucapan you're welcome." Veronica segera mengunci bibirnya ketika Darren sudah masuk ke dalam mobil dan pria itu segera melaju dengan kecepatan sedang.
***
Hanya perlu waktu beberapa menit saja untuk Veronica dan Darren berada di tempat tujuan. Entah ada angin apa yang membuat Darren bersedia menemani wanita itu, padahal sebelumnya pria lemari es itu beralasan harus kembali ke perusahaan.
"Apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu? Kenapa berubah pikiran secepat itu?" Veronica bergumam sembari mendorong troli, sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Darren yang ternyata masih mengikuti dirinya. "Ck, kenapa dia terlihat sangat tampan?" lanjutnya berdecak dan sialnya pria itu mampu membuat Veronica gagal fokus dengan mencuri pandang ke arah Darren yang tengah menoleh kesana-kemari, melihat sekitar dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Vero.... akhirnya aku menemukanmu setelah berkeliling." Larry mendorong troli miliknya hingga berbenturan dengan troli milik Veronica. Sepertinya pria itu juga berbelanja kebutuhannya.
"Wah Larry, kau sudah seperti ibu-ibu saja belanja sebanyak itu." Veronica mengejek dengan kekehan kecil.
Larry turut terkekeh. Ia meneliti barang-barang di dalam troli yang lebih banyak dengan makanan ringan dan minum-minuman beralkohol, sisanya kebutuhan peralatan mandi.
"Ya, aku harus menyimpan persediaan untuk beberapa minggu. Aku ini pria lajang dan tinggal seorang diri di apartemen, jadi wajar saja kebutuhanku banyak." Larry menjelaskan dengan detail, padahal tanpa dijelaskan pun Veronica paham.
"Ck, aku tau." Veronica memutar bola matanya jengah. "Kau duluan saja, aku masih harus mencari kebutuhanku yang lain."
"Eh, kalau begitu kita cari bersama-sama saja, aku-
"Ehemmmm!!"
Perkataan Larry terputus begitu saja lantaran suara deheman Darren seolah mengguncang sekitar mereka. Baik Veronica dan Larry menoleh ke arah Darren. Veronica hanya memasang deretan giginya, sementara Larry nampak bingung karena tidak mengenali pria itu.
"Kau sedang bersama siapa, Vero?" tanya Larry memastikan, sekaligus penasaran.
"Ah kenalkan, dia ini Larry, teman baikku," katanya kepada Darren. "Dan Larry, dia adalah Tuan Darren, asisten pribadi Tuan Arthur Romanov."
Larry mengangguk tanda mengerti, tetapi seperkian detik kemudian ia mendelik. "Tunggu, Tuan Arthur?" pekiknya. Lalu melangkah mendekati Veronica dan berbisik, "Untuk apa asisten dari pria nomor satu menemanimu? Sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian?"
"Ssstt Larry, kecilkan suaramu. Dia bisa mendengar suaramu." Veronica yang panik segera membekap mulut Larry, wanita itu terlalu malu jika Darren sampai mendengar pertanyaan Larry, tetapi Veronica tidak menyadari jika perbuatannya kepada Larry, membuat kedua mata Darren membeliak.
Melihat wajah horor yang dilayangkan oleh Darren, Larry yang bersitatap dengan pria itupun segera menjauhkan telapak tangan Veronica dari bibirnya.
"Vero, kau jangan membuatku dalam masalah," protes Larry. Masih memperhatikan tatapan tajam milik Darren.
"Ck, kau ini bicara apa?" Veronica tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Larry, karena posisi wanita itu membelakangi Darren, tentu saja tidak bisa melihat reaksi Darren seperti apa.
"Aku sudah selesai, sebaiknya kau lanjutkan saja. Aku akan datang ke apartemenmu nanti malam." Larry mengacak rambut Vero. Tanpa berbasa-basi, pria itu segera berlalu mendorong trolinya menjauh dari Veronica dan Darren.
"Dia menyeramkan sekali. Apa yang disukai Vero dari pria seperti itu?" Larry terus bergumam, tidak habis pikir dengan tipe pria yang disukai oleh Veronica adalah tipe dingin dan menyeramkan seperti pria itu.
"Ada apa dengannya? Kenapa pergi begitu saja." Veronica kemudian berbalik badan dan ia mendapati wajah Darren yang dua kali lipat lebih datar. "Astaga Tuan Darren, apa kau tidak bisa tersenyum sedikit saja?" Jika saja ia tidak mengenal Darren, mungkin ia sudah bergidik ngeri dan melarikan diri. Sayangnya ia sudah terbiasa dengan wajar datar Darren.
"Apa kau sangat dekat dengannya?" Alih-alih menjawab perkataan Veronica, Darren justru balik bertanya.
"Y-ya, aku memang sangat dekat dengan Larry." Veronica menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia heran kenapa tiba-tiba saja Darren bertanya mengenai kedekatannya dengan Larry. "Memangnya ada apa?" tanyanya penasaran.
"Tidak apa," sahutnya seadanya. "Jika sudah selesai, sebaiknya segera ke kasir. Aku sudah harus kembali ke perusahaan." Darren melintas Veronica begitu saja.
Wanita itu tercengang diiringi kedua mata yang mengerjap. "Ada apa dengannya?" cicitnya bingung. Jika ada yang bisa menjelaskan, dipersilahkan untuk memberitahu dirinya.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...