The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Do You Love Her?



Kini Arthur dan Xavier berada di dalam rumah kaca kecil yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan. Berbagai jenis bunga tertanam disana dan di rawat oleh Mommy Elleana. Keduanya duduk saling berhadapan, meja kecil besi menjadi pembatas di antara mereka. Belum ada yang ingin memulai percakapan terlebih dahulu. Hingga Arthur merasa jengah di tatap penuh selidik seperti itu oleh Daddy Xavier, dan ia membuang pandangannya ke arah lain.


"Jangan melihatku seperti itu, Dad!" tegur Arthur pada akhirnya. Merasa tatapan Daddy Xavier tidak berpindah darinya dan jujur saja ia sangat tidak nyaman.


"Aku hanya heran padamu, Son. Sejak kapan kau mulai tertarik dengan seorang wanita hingga harus mencarinya seperti itu?" Benar, itulah yang membuat Daddy Xavier menatap putranya, mencari sesuatu yang selama ini tidak di tampakkan melalui wajah Arthur yang tampan serupa dirinya.


"Dad mengetahuinya?" tanya Arthur menebak. Sebenarnya ia sudah tidak heran jika Daddy Xavier mengetahui segalanya.


"Ya, apapun mengenai keluargaku, aku mengetahuinya. Termasuk mereka yang sudah menghina Elie." Daddy Xavier mengulas senyum singkat. Dari nada bicaranya seolah ia tidak akan pernah memalingkan perhatiannya dari orang-orang yang ia cintai.


Arthur diam membenarkan. Sejak dirinya berusia 23 tahun, Daddy Xavier memutuskan berdiam diri di Mansion dan melepaskan posisinya sebagai Presdir Romanov Group sekaligus posisi sebagai ketua Mafia. Lelah sudah pasti. Ia hanya ingin menikmati masa tuanya bersama dengan sang istri, bercinta sepanjang hari tanpa ada gangguan. Terlebih kedua putra dan putrinya sudah tumbuh dewasa, menjalani kesibukan setiap harinya.


"Tapi aku cukup puas, mereka merasakan hal yang setimpal, kau dan As benar-benar putraku," sambungnya tertawa singkat. Merasa bangga dengan cara kedua putranya yang menghancurkan kerja keras mereka hanya dalam satu malam saja.


"Itu hanya sebuah peringatan Dad. Aku akan menghancurkan mereka lebih dari ini jika berani mengusik Elie lagi." Benar, peringatan yang harus mereka ingat seumur hidup. "Dan aku sudah membuat situs rekomendasi perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Meskipun mereka bersalah tetapi semua karyawan tidak bersalah."


"Kau benar, Son. Mereka yang tidak bersalah terkena dampaknya dengan tidak lagi bekerja."


Kedua ayah dan anak itu memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Keduanya hanya akan berlaku kejam kepada seseorang yang memang pantas diperlakukan demikian.


"Adakan konferensi pers untuk memperkenalkan Elie. Aku tidak ingin seseorang menghina putriku lagi," ujar Daddy Xavier.


"Ehm, aku akan mengadakannya meskipun Elie menolak." Arthur setuju dengan pendapat Daddy Xavier, sebab ia pun berpikir demikian.


"Lalu bagaimana dengan pertanyaanku sebelumnya? Kau belum menjawabnya, Son. Siapa sebenarnya Helena?" Daddy Xavier masih saja penasaran akan wanita yang bernama Helena. Karena tidak seperti Arthur biasanya yang begitu peduli terhadap seorang wanita selain keluarganya.


Arthur mendesahkan napas panjang ke udara. Masih saja Daddy-nya itu mendesak dirinya mengenai Helena.


"Helena Bonham adalah putri dari Jorge Bonham." Sahutan Arthur yang memberitahukan identitas Helena membuat kepala Daddy Xavier mengangguk dan ia tidak asing dengan Keluarga Bonham.


Dan Arthur kemudian menceritakan asal mula pertemuannya dengan wanita itu. Semula benci dan ingin menyingkirkannya berubah menjadi rasa peduli dan ingin melindungi. Arthur tidak lupa menceritakan wanita yang memasuki ruangan saat dirinya koma dan hal itu membuat Daddy Xavier tertegun sejenak. Dengan kata lain wanita itu yang telah berhasil membuat putranya tersadar dari koma.


"Jadi wanita itu yang sudah berhasil mencairkanmu, Son?" Daddy Xavier menarik sudut bibirnya, ia semakin penasaran dengan wanita yang bernama Helena itu. Sudah pasti wanita itu memiliki tempat spesial di hati putranya.


Arthur bergeming sebelum kemudian mengangguk. "Aku hanya ingin memberinya kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan, Dad."


Bibir Daddy Xavier melengkung sempurna, ia pikir Arthur akan mengelak atau akan menyembunyikan perasaannya dari siapapun. Namun ternyata putranya itu sanggup terbuka dengannya. "Apa selama ini dia tidak bahagia?" Semakin tertarik Daddy Xavier mendengarnya, sehingga ia ingin mengetahui sosok wanita itu lebih jauh lagi.


"Ehm, ibunya sudah tiada sejak tiga tahun lebih yang lalu. Hidup seorang diri meskipun memiliki seorang ayah. Kau tau apa itu artinya, Dad?" Hanya dari sorot matanya itu Arthur menyampaikan maksudnya.


"Aku tau Son. Aku sudah mendengar berita miring tentang Jorge. Tapi tidak kusangka berita itu memang benar." Ya, Xavier sudah sering mendengar mengenai Jorge Bonham. Kepergian istrinya membuat pria itu memiliki wanita simpanan lain. "Aku membenci pria sepertinya," lanjutnya mencibir. Mengkhianati dan menyakiti keluarga sendiri bukan cara jalan hidupnya, sehingga selama ini ia selalu menghindari perselisihan antara keluarga. Menjadi sosok yang selalu melindungi keluarganya adalah caranya mencintai mereka.


"Aku harus melacak lagi keberadaannya, Dad." Tiba-tiba Arthur beranjak berdiri, ia sungguh tidak sabar ingin segera mendengar suara wanita itu. Setidaknya ia harus mendapatkan nomor ponsel baru yang digunakan oleh wanita itu.


"Son, dengarkan aku." Xavier berteriak kepada putranya itu. "Do you love her?" Dan pertanyaan itu akhirnya meluncur dilontarkan olehnya. Sedari tadi pertanyaan itu yang mengusik Daddy Xavier.


Langkah Arthur terhenti di ambang pintu. Ia menoleh dan memutar arah tubuhnya. Benar saja, pertanyaan yang ingin ia hindari dilayangkan oleh Sang Daddy. Kali ini Arthur tidak ingin lagi menghindar ataupun mengelak.


"Yes...." Arthur menjawab dengan jujur. Menurutnya tidak perlu lagi menutupi perasaannya kepada Daddy Xavier.


Mendengar jawaban jujur dari hati Arthur, Xavier mengulum senyum dan hendak kembali melayangkan pertanyaan selanjutnya. Tentu ia tidak akan melepaskan putranya begitu saja sebelum menjelaskannya dari hati.


"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanyanya kembali.


Arthur merasa jika ia tidak perlu menjawabnya. Sebab apa yang ia rasa, hanya dirinya sendiri yang mengetahui dan menyadarinya.


"Dad, aku tidak perlu memberitahumu," jawabnya menyilangkan kedua tangan di depan dada, bahu kirinya disandarkan pada pilar pintu.


"Itu adalah pertanyaan yang sederhana!" Namun Xavier bersikeras ingin Arthur menjabarkan apa yang sebenarnya dirasakan. Sebab jika benar-benar mencintai wanita itu, putranya pasti mengetahui jawabannya. Ketertarikan semata dan rasa cinta itu sangat berbeda, ia hanya ingin memastikan jika yang dirasakan oleh Arthur adalah cinta.


"Bagaimana kau mengetahuinya?" Dan kembali mendesak jawaban Arthur. Ia tidak akan berhenti sebelum putranya itu menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat sederhana dan semua orang yang merasakan serta mengalaminya tahu akan jawabannya.


Arthur mendengkus, ia melemparkan pandangan ke sembarang arah. Menurutnya jika seseorang jatuh cinta tidak bisa dijabarkan dalam bentuk kalimat apapun. Hanya perlu ditunjukkan dengan sebuah tindakan yang nyata. Tetapi jika memang hal seperti itu diperlukan untuk meyakinkan akan rasa cinta yang sudah tumbuh di hatinya untuk wanita itu, Arthur akan memberitahu Daddy-nya.


"Karena tidak ada yang masuk akal tanpanya!" jawabnya lantang dan apa adanya.


Benar, seperti itulah cintanya kepada Helena. Menghilangnya wanita itu membuat Arthur tersadar jika ia membutuhkan wanita itu. Semua yang ada di dunia ini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan senyuman wanita itu. Ya, Helena Bonham. Sesuatu yang selama ini tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi padanya, kini terjadi pada dirinya, yaitu merasakan yang namanya jatuh cinta.


To be continue


Follow Instagram Yoona ya, Yoona selalu upload video tentang novel-novel Yoona 🤗


...Jangan bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...