The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Akhir Kisah Cinta



Sinar matahari mengintip dari balik celah jendela yang dibiarkan terbuka. Cahayanya yang masuk itu menyilaukan kedua mata seseorang yang masih terpejam, sehingga perlahan kelopak matanya terpisah.


Darren menjamah sinar matahari yang merasuk mengganggu tidurnya. Ia berulang kali mengerjapkan matanya, hingga kemudian beranjak duduk dengan sesekali meringis menyentuh kepalanya yang teras berat. Begitu sudah sadar sepenuhnya, ia tertegun sejenak sebab saat ini dirinya berada di dalam kamarnya. Pria itu mencoba menggali ingatannya yang samar-samar muncul.


"Damn!" Dan ketika teringat apa yang terjadi tadi malam, ia buru-buru beranjak dari ranjang, lalu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Hanya perlu beberapa menit saja, Darren keluar dengan handuk yang melilit di pinggang, sebelum kemudian ia berjalan menuju walk in closet untuk mengenakan pakaiannya. Setelah berpakaian, ia pun segera keluar dari kamar turun ke bawah, bertepatan dengan Mommy Millie yang baru saja melangkah dari dapur.


"Kau sudah bangun, sayang?" Mommy Millie menyapa sang putra dengan seulas senyum tipis.


"Hm, dimana Keiko, Mom?"


Pergerakan kaki Mommy Millie terhenti sejenak ketika Darren mencari keberadaan Keiko. Padahal ia tahu benar jika sejak kemarin putranya menghindari Keiko dan keluarganya, lebih tepatnya menghindari pembicaraan mengenai perjodohan mereka.


"Keiko dan orang tuanya ada di halaman bersama Paman Brian. Ada apa kau mencari Keiko?"


Darren tidak menjawab, ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Hm, aku hanya bertanya saja. Karena setelah sarapan aku ingin bicara dengan mereka."


"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu?" Mommy Millie hanya memastikan saja, ia akan mendukung apapun keputusan putra sulungnya.


"Ya, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang dipaksakan. Sejak awal aku sudah menolak, tetapi mereka bersikeras memaksa, jadi jangan salahkan aku jika mematahkan hati putri mereka sekali lagi."


Mendengar penuturan Darren, Mommy Millie hanya mengangguk saja. Ia mengenal baik putranya yang tidak suka dipaksa dan semua harus sesuai dengan keinginannya.


Setelah berbicara dengan Mommy Millie, langkah Darren tertuju pada halaman yang terhubung dengan kolam renang. Samar-samar terdengar suara percakapan antara Paman Brian dengan Ojisan Hiroki. Tidak terdengar suara Daddy Jack, Darren sudah dapat menebak jika Daddy-nya lebih memilih di ruangan kerja ketimbang harus menemani mereka walaupun sekedar berbasa-basi.


Keiko, wanita cantik itu tersita perhatiannya pada Darren yang melangkah ke arah mereka. Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu, sebelum pada akhirnya Keiko menunduk dalam. Ia meremat seluruh jemarinya, terasa bergetar, sebab ia teringat kejadian tadi malam ketika tidak sengaja berpapasan dengan Darren yang terlihat sangat mabuk.


Menyingkirlah dari hadapanku atau kubunuh saat ini juga!


Sebuah peringatan yang tentunya menghantui dirinya hingga ia tidak dapat terpejam. Hanya saja rasa yang sudah terlanjur mendalam membuatnya tidak mengindahkan peringatan tersebut.


"Der, duduklah disini." Paman Brian yang menyadari keberadaan Darren, menyuruh keponakannya itu untuk duduk di sisinya.



Tanpa bersuara, Darren segera membenamkan tubuhnya di kursi, tepat disisi Paman Brian.


"Kebetulan sekali ada Darren, kami ingin membicarakan kelanjutan hubungan kalian." Michiko tersenyum ramah, nampak begitu antusias melihat calon menantunya bersedia menghampiri mereka, mengingat sejak kemarin pria itu berusaha menghindar.


"Benar, kami tidak bisa terlalu lama berada disini. Aku masih harus menghadiri rapat untuk beberapa hari kedepan." Hiroki menimpali perkataan sang istri. Ia pun sebenarnya harus sudah kembali ke Jepang, mengingat ia adalah politikus yang menjabat sebagai perdana menteri.


Darren tidak menanggapi, ia jelas tahu jabatan apa yang digenggam oleh pria paruh baya di hadapannya. Meskipun begitu ia tetap tidak tertarik, selama ini ia sudah hidup bergelimang harta dan sangat tercukupi. Dan masalah wanita, ia tidak terlalu memikirkannya dan mereka dengan seenaknya mengatur perjodohan untuknya. Big No. Kehidupannya hanya bisa ia sendiri yang memutuskannya.


"Sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa menerima perjodohan ini." Apa yang baru saja disampaikan oleh Darren membuat Paman Brian, Hiroki, Michiko dan terutama Keiko terkejut, bahkan mata wanita itu nampak mengembun.


"Apa maksudmu?" Hiroki yang merasa tidak terima menuntut penjelasan.


"Kenapa bicara seperti itu? Apa kau tidak bisa melihat kesungguhan Keiko? Putri kami adalah wanita yang baik dan sangat cantik. Kenapa kau tidak bisa menerima perjodohan kalian?" Michiko juga merasa tidak terima. Ia ingin meyakinkan Darren agar menerima perjodohan mereka. Terlebih tidak ada kekurangan pada putrinya. Keiko Oda adalah wanita tercantik di kota mereka, Kota Yokohama.


"Sejak awal aku sudah menolak perjodohan ini. Bukankah begitu, Paman?" Darren menekankan perkataannya, mencari pembenaran terhadap Pamannya yang sudah jelas lebih tahu apa pendapatnya sejak awal.


Merasa disudutkan Paman Brian hanya bisa tersenyum simpul. Ia pun sudah berkata demikian, akan tetapi Hiroki temannya itu tetap ingin mencobanya dengan dimulai pendekatan terlebih dahulu.


"Hm, Paman sudah mengatakannya, akan tetapi..." Paman Brian menggantungkan kalimatnya, ia menatap Hiroki sebagai jawabannya.


Hiroki hanya menghela napas kasar, ia pun menoleh kepada putrinya dengan tatapan kosong. Sudah pasti putrinya itu kecewa dan ia bisa merasakan kekecewaan putri semata wayangnya itu.


"Sebagai seorang ayah aku hanya ingin melihat putriku bahagia dengan pilihannya," katanya dengan suara parau.


"Maaf, tapi keputusanku seperti sejak awal. Keiko, putri Bibi adalah wanita yang cantik dan juga baik, karena itu dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku." Darren menjawab dengan lembut, ia tidak ingin mematahkan hati kedua orang tua itu. Seperti kedua orang tuanya yang juga melakukan yang terbaik untuknya, pun dengan kedua orang tua Keiko yang menginginkan kebaikan untuk putri mereka. Tetapi yang namanya hati tidak bisa dipaksakan. Secantik apapun wajah Keiko tidak membuatnya tertarik, apalagi bergetar.


Hiroki menghembuskan napas panjang. Pantang baginya mengemis kepada seseorang, karena itu ia mencoba mengerti. Tangannya mencoba menggenggam punggung tangan Keiko, sontak membuat wanita cantik itu mengangkat wajahnya untuk bersitatap dengan ayahnya.


"Pa...." lirihnya dengan bibir bergetar.


Berbeda dengan Hiroki yang nampak tenang, Michiko tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Darren.


"Apa kurangnya putriku? Diluar sana banyak yang menginginkan putriku, tapi dia hanya ingin denganmu!" Tampak kilatan amarah yang berusaha tertahan. Tetapi tetap saja ia tidak bisa terima jika pria lain menolak putri kesayangannya begitu saja.


"Tidak ada, putri Bibi tidak ada kekurangannya. Hanya saja sejak awal aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun." Sekali lagi, Darren menjawab dengan tegas. Baginya pantang untuk menjilat ataupun berusaha meninggikan diri dan saat ini ia memang tidak tertarik menjalin hubungan dengan seorang wanita.


"Kau...."


"Hm, maaf sebelumnya Nyonya. Seperti inilah putraku, jika sudah mengatakan tidak, maka dia akan selalu berkata tidak." Entah sejak kapan Mommy Millie berada disana, karena memang ia mendengar percakapan mereka sedari awal. Mommy Millie segera menjatuhkan dirinya di kursi single. "Sebelumnya kami benar-benar minta maaf, bukan kami tidak menghargai Keluarga Oda, tetapi kami menerima keputusan Darren. Kalian keluarga terhormat pasti mengerti jika hubungan yang dipaksakan tidak akan pernah berhasil." Ketegasan nampak kentara pada kedua mata Mommy Millie, jika selama ini Darren mengetahui kelembutan Mommy-nya, maka ia pun tidak heran lagi dengan ketegasan Mommy-nya itu.


"Apa yang dikatakan istriku benar, kami menghargai Keluarga Oda." Daddy Jack berjalan mendekat, ia segera mendudukkan diri pada sandaran tangan kursi yang diduduki oleh sang istri. "Karena itu jangan menganggap penolakan kami sebagai awal dari permusuhan. Oda dan Shogun Young adalah sekutu, karena itu tidak baik jika hal ini sampai berimbas pada klan kalian," sambungnya dengan bijak. Come on, ia hanya tidak ingin urusan pribadi disangkut pautkan dengan hal lainnya, seperti hubungan kekeluargaan antara Shogun Young dengan Oda.


"Baiklah, aku mengerti apa yang kalian sampaikan. Aku juga tidak akan memaksa, karena tidak ada dalam kamus Keluarga Oda pengemis pada seseorang. Dan kau tenang saja, aku bukan pria yang berpikiran sempit, biar bagaimanapun aku dan Brian berteman dengan baik sejak lama." Hiroki mencoba mengerti, meski geram ia pun tidak bisa berbuat apapun. Hanya saja ia sungguh kecewa harapan sang putri harus pupus begitu saja. Pandangannya pun terjatuh pada teman baiknya Brian, yang disambut oleh Brian dengan mengangkat kedua bahunya.


Aku sudah mencoba membantu sebisaku. Jika mereka menolak, aku bisa apa?


Seperti itulah tanggapan yang di tangkap oleh Hiroki akan arti tatapan Brian. Ia adalah seorang perdana menteri, menjatuhkan martabat bukanlah gayanya.


"Kalau begitu hari ini juga kami akan kembali ke Jepang." Hiroki berkata datar, masih terselip rasa kecewanya. Meski tidak sebanding dengan kekecewaan sang putri yang kini hanya menunduk dalam mendengarkan keputusan keluarga pria yang dicintainya. Sedangkan Michiko, ia menahan rasa sesalnya, seharusnya ia tidak mengiyakan dan mendukung keinginan putrinya jika pada akhirnya hanya penolakan yang diterima oleh putrinya.


***


Setelah menegaskan apa yang seharusnya ia tegaskan sejak kemarin, kini Darren hanya berdua saja dengan Keiko. Wanita Asia yang berkulit seputih susu, cantik dengan lipatan mata yang tidak terlalu besar, dan warna bola mata cokelat terang. Hanya saja ia tidak tertarik secantik apapun wanita di hadapannya itu.


"Apa kau sudah mengerti sekarang?" Suara Darren yang membuka percakapan itu tertangkap jelas di telinga Keiko, hingga wanita itu menatap Darren.


"Aku...." Entahlah, bibir Keiko sungguh keluh. Ada segores luka di hatinya yang terasa perih, tetapi ia pun tidak bisa memaksakan hati seseorang. "Aku minta maaf karena terlihat seperti ingin memaksamu. Aku terlalu terburu-buru menyampaikan keinginan kepada Papa dan Mama sehingga mereka memutuskannya dengan cepat." Suara lembut Keiko mendayu-dayu, lembut dan begitu menenangkan. Hanya saja itu tidak cukup menarik perhatian Darren yang memang sulit untuk jatuh cinta.


"Baguslah jika kau sudah mengerti. Aku harap untuk kedepannya jangan mengambil keputusan berdasarkan keinginanmu saja." Sungguh menohok dan Darren tidak peduli apakah perkataannya itu melukai Keiko atau tidak. Ia hanya ingin menyampaikan pendapatnya saja.


Keiko tersenyum kecut mendengarnya. Kini ia sedikit lebih tahu sosok pria yang dicintainya dalam waktu singkat itu. Bukan pria pendiam seperti bayangannya, justru pria itu seperti menyimpan racun yang mematikan.


"Apa pergelangan tanganmu baik-baik saja?" Bukan bentuk perhatian yang Darren tanyakan. Ia hanya sedikit merasa bersalah karena perbuatannya tadi malam sungguh menyakiti wanita itu. Terlebih ia ingat jika telah mengancam Keiko.


Keiko reflek menyentuh pergelangan tangannya yang sedikit memar karena cengkraman Darren. Dirinya yang salah karena tadi malam tidak sengaja menahan langkah pria itu ketika ia ingin ke dapur dan justru berakhir pria itu marah padanya dan nyaris mencekiknya jika ia tidak bergerak mundur. Hingga berakhir pergelangan tangannya yang dicekal dengan kuat.


"Pergelangan tanganku baik-baik saja." Keiko tersenyum tipis untuk membuktikan jika dirinya memang baik-baik saja. Luka di tangannya tidak dapat dibandingkan dengan luka di hatinya.


Darren mengangguk. Baguslah jika baik-baik saja, sehingga ia tidak perlu merasa bersalah lebih lama lagi. "Kalau begitu aku pergi dulu. Jika kau dan kedua orang tuamu ingin kembali ke Jepang, berhati-hatilah." Setelah mengatakan hal itu, ia segera beranjak berdiri, dan melangkah menjauh meninggalkan Keiko yang masih berdiam diri di tempatnya.


Pandangan wanita itu sendu dan tidak berpindah dari punggung tegap Darren, hingga perlahan sosok pria itu lenyap dari pandangannya. Inilah akhir kisah cintanya, yang harus direlakan sebelum dimulai.


To be continue


Yoona benar-benar minta maaf ya baru bisa up lagi. Doakan Yoona sehat lagi supaya bisa up terus 🤗


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...