The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Siapa Musuh Yang Mengincar?



Tubuh Arthur penuh dengan keringat sehingga memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Dan untuk pertama kalinya ketika terkena hantaman peluru membuatnya harus mengalami koma hingga tangan kebas yang sulit untuk di gerakan.


Dirinya memiliki Daddy yang luar biasa, hanya dengan teknik yang pernah dipelajari saat muda, membuat teknik itu berhasil dicoba oleh Arthur. Banyak yang dipelajarinya dari Daddy-nya, di antaranya teknik perenggangan persendian dan teknik pernafasan diafragma. Wajar saja Xavier menguasai teknik seperti itu, karena tubuhnya sering kali terluka, mengakibatkan saraf-saraf otot tubuhnya menjadi tegang.


Langkah Arthur yang baru saja keluar dari kamar mandi terjeda sejenak lantaran mendengar suara dering ponsel. Hingga kemudian ia mengurungkan langkahnya untuk memasuki walk in closet dan mengayun menuju ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Arthur segera menyambar ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti berdering.


"Ada apa?" Dan melayangkan pertanyaan kepada anak buahnya di seberang sana. Rahang Arthur mengetat seketika saat mendengar laporan dari salah satu anak buah yang ia tugaskan untuk menjaga Elie.


"Jangan pernah kalian meninggalkan Elie seorang diri. Aku akan mengirim yang lain untuk menjaga dari kejauhan. Jika memang seseorang mengincar nyawa adikku, kalian sudah tau harus melakukan apa!" ujarnya kemudian penuh dengan perintah. Beruntung saja kedua anak buah yang menjaga Elie sangat peka terhadap sekitar sehingga bahaya yang baru saja menghampiri sang adik, bisa mereka hindari.


"Baik Bos Ar."


Sambungan telepon pun terputus, Arthur menghubungi beberapa anak buah yang berada di Markas dan menyebarkannya ke Kota Birmingham. Begitu sudah memberikan perintah, Arthur melemparkan ponsel ke atas ranjang. Tangan kanannya menyugar rambutnya yang dalam keadaan setengah basah, wajahnya nampak mengeram disertai helaan napas yang terbuang dengan kasar.


"Aku tidak masalah jika seseorang mengincarku tapi tidak Elie. Siapapun yang ingin menyakiti adikku, akan ku singkirkan dengan tanganku sendiri!" gumamnya dengan gigi yang bergemelatuk geram. Meski adiknya memiliki ilmu bela diri dan menguasai dasar menembak, tetapi ia tetap cemas jika adiknya terluka. Elie tidak sepandai dan selihai dirinya atau Austin, kesibukannya menjadi seorang model membuat adiknya itu sudah tidak lagi mengasah kemampuannya.


Arthur menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam walk in closet, ia bisa melihat pantulan dirinya di dalam cermin yang terpampang di setiap sudut ruangan tersebut. Penampilannya kini jauh berbeda dari sebelumnya, ia membiarkan rambutnya tetap panjang dengan bulu-bulu yang menghiasi sekitar rahangnya.


Berusaha mengatur napasnya yang memburu penuh emosi. Ia tidak ingin Killer kembali menguasainya. Terakhir yang terjadi membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Alter Ego yang ia miliki memang membantu menyingkirkan musuh-musuhnya, akan tetapi juga bisa membahayakan siapapun yang berada di sekitarnya. Nyaris saja saat itu ia melukai dua wanita jika ia tidak cepat-cepat pergi meninggalkan dua wanita yang sempat menghalangi jalannya.


"Damn it!!" Tangan Arthur meninju cermin yang tepat berada di hadapannya saat ini. Cermin tersebut retak dan meninggalkan bekas luka di punggung jemarinya. Arthur tidak peduli, sungguh ia berada dalam keadaan kacau tidak menentu. Tidak seharusnya ia melukai wanita itu juga. Dan kini lihatlah, ada gelenyar aneh yang ia rasakan. Egonya mengatakan jika tidak perlu memikirkan tindakannya saat itu, tetapi entah kenapa hatinya seolah mencemaskan wanita itu.


Lama tercenung, ia kemudian tersadar ketika mendengar suara ponselnya kembali berdering. Dengan malas Arthur beranjak, kembali mengayunkan langkahnya keluar dari walk in closet untuk mengambil ponsel yang ia lemparkan di atas ranjang.


Satu tangannya menjangkau benda pipih itu, sebelum kemudian menjawab panggilan tersebut. "Ada apa?" tanyanya kepada seseorang di seberang sana.


"Kak, ini Elie." Arthur tertegun ketika ternyata panggilan tersebut dari Sang Adik. Ia memang tidak memeriksa terlebih dahulu siapa yang menghubunginya itu.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Terdengar nada kepanikan di ujung telepon yang dilontarkan oleh Arthur.


"Hem, aku baik-baik saja Kak. Hanya saja mereka mengatakan jika aku harus kembali ke London. Tapi ini hari pertamaku melakukan pemotretan sebagai model pendatang baru, bagaimana mungkin aku tidak datang?"


Ternyata Sang Adik menghubungi dirinya lantaran memprotes tindakan dua anak buahnya itu. Ia memang tidak memberikan perintah, sebab mereka sudah mengetahui apa yang harus dilakukan jika mengendus sesuatu yang tidak beres.


"Kau tenang saja, aku akan mengatakan kepada Aunty Jenn jika kau tidak bisa datang hari ini. Aunty Jenn pasti mengerti."


"Tapi kak...."


"Elie, bukan tanpa alasan mereka menghalangimu untuk tidak berada di Birmingham." Arthur mencoba memberikan pengertian atas sikap kedua anak buahnya. Elie yang sulit sekali untuk patuhi, tidak menutup kemungkinan akan kembali menumbangkan dua anak buah seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya.


"Apa seseorang mengincarku?" Elie bertanya memastikan, sebab kakaknya itu tidak akan bertindak jika keadaan sekitarnya aman.


"Menurutmu?" Arthur justru balik bertanya.


"Ya, pasti ada seseorang yang mengincarku." Elie menduga-duga demikian. Pantas saja lokasi pemotretannya berubah dan Mandy tidak dapat dihubungi. Seharusnya ia menyadari jika seseorang telah menyadap ponsel miliknya.


"Aku akan mencari tau lebih dulu. Pergilah ke Villa Magnolia. Mereka akan menjagamu disana selama keadaan sudah membaik."


"Baik kak." Tidak ada pilihan lain selain mematuhi ucapan kakaknya. Villa Magnolia berada tidak jauh dari Universitas Birmingham, Inggris. Sehingga mungkin seseorang itu tidak akan berani bertindak jika berada di sekitar wilayah pemerintahan.


Keduanya serentak memutuskan sambungan telepon. Sedari tadi Arthur masih belum mengenakan pakaian, sehingga ia memutuskan untuk berpakaian terlebih dahulu, sebelum menghubungi Aunty Jennifer.


Begitu sudah berpakaian lengkap, Arthur kembali mengambil ponselnya di atas nakas. Ia mulai mencoba menghubungi Aunty-nya itu. Nada sambung ketiga barulah seseorang menjawab panggilannya.


"Ada apa Bos Muda Ar?"


Kening Arthur mengernyit kala mendengar suara pria yang menjawab panggilannya, namun ia mengenali suara berat itu. "Paman Nico dimana Aunty Jenn?" tanyanya ketika mendapati Aunty-nya itu tidak menjawab panggilan dirinya.


"Ya, seharusnya hari ini Elie melakukan pemotretan di Beachon Hill tetapi lokasinya tiba-tiba saja berubah."


"Hem, aku mengerti. Apa seseorang mengincar Nona Elie?" Nico sudah paham tanpa Arthur menjelaskan.


"Begitulah Paman."


"Kau pasti sudah bertindak lebih dulu untuk melindungi adikmu." Ya, Nico mengenal Arthur yang tidak jauh berbeda dengan bosnya itu.


"Benar paman. Karena itu aku minta untuk membatalkan pemotretan hari ini."


"Baiklah, aku akan menyampaikan kepada istriku-"


"Siapa yang menelepon? Apa itu Ar?" Suara Jennifer menghentikan perkataan Nico.


"Hem, bicaralah." Dan sepertinya Nico memberikan ponsel itu kepada istrinya.


"Ada apa Ar?" Suara Jennifer terdengar begitu lembut.


Arthur menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jennifer tidak tahu menahu mengenai hal tersebut. Sebab sudah ada bawahannya yang bertanggung jawab mengenai jadwal-jadwal para model, akan tetapi Elie adalah keponakannya, sehingga ia bertanggung jawab memastikan kenyamanan keponakannya selama menjadi model di Romanov Ent.


"Aku akan menyuruh bawahanku untuk membuat jadwal ulang. Kau tenang saja Ar, selama adikmu berada di perusahaanku, aku tidak akan membiarkan membiarkan siapapun menindas keponakanku." Jennifer teringat akan perkataan Elie sebelum bergabung di Perusahaan Romanov Ent. Keponakannya yang cantik itu tidak ingin diperlakukan istimewa dan membuat model-model yang lain membencinya.


"Terima kasih Aunty Jenn. Jangan beritahu Mom mengenai hal ini. Kesehatannya tidak baik akhir-akhir ini. Aku tidak ingin Mom terlalu banyak berpikir." Keadaannya saat koma sudah cukup menyita kesehatan Mommy-nya sehingga kali ini ia harus memastikan agar tidak terdengar oleh Mommy Elleana.


"Baiklah, Aunty tidak akan mengatakan apapun kepada Mommy-mu."


Setelah mengiyakan, Arthur memutuskan sambungan teleponnya. Begitu membalikkan tubuhnya, ia nyaris terlonjak namun tetap menguar wajah datar.


"Ck, kau mengejutkanku Dad." Mendapati Sang Daddy sudah berdiri di ambang pintu menatap tajam ke arahnya.


"Hem, aku mendengar semuanya. Apa Elie baik-baik saja?" Xavier melayangkan pertanyaan mengenai putri semata wayangnya itu.


Arthur menghela napas, sepertinya Daddy-nya itu sudah mendapatkan kabar dari anak buah bayangannya itu.


"Elie baik-baik saja Dad. Aku menyuruhnya ke Villa Magnolia sampai keadaan aman."


"Baiklah, pastikan Mommy-mu tidak mengetahui hal ini," ujar Xavier memberikan peringatan.


"Hem..." Arthur menjawab dengan deheman. Melangkah keluar dari kamar mendahului Xavier.


Arthur melangkah menuruni tangga sembari mengetik pesan untuk Darren. Entahlah, kali ini ia tidak tahu siapa musuh yang mengincar dirinya melalui adiknya.


To be continue


Babang Arthur



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...