
Siapapun yang sedang merasakan jatuh cinta, maka seolah dunia milik berdua. Tidak pedulikan sekitar yang bisa saja merasa iri pada kedua pasangan kekasih yang sedang nampak bahagia itu. Termasuk bagi seorang wanita cantik berdarah Asia, kebahagiaan Darren dan wanita yang bersama pria itu adalah pukulan telak untuk dirinya. Batu besar seolah menghimpit dadanya sehingga membuatnya kesulitan bernapas. Air mata yang tidak dapat dibendung lagi pada akhirnya menetes dari sudut matanya. Namun buru-buru wanita itu menyeka air matanya, sebab ia tidak ingin klien yang sedang bersamanya saat ini melihat dirinya menangis.
Sepertinya takdir memang sengaja ingin menyadarkannya untuk tidak lagi mengharapkan seorang pria yang tidak pernah melihat kearahnya walaupun sedetikpun. Kedatangannya ke The Ivi Restauran untuk melakukan kesepakatan kontrak baru selama dirinya menjadi brand fashion Vivienne Westwood selama beberapa bulan di London, yang ternyata membawa dirinya pada suatu kenyataan yang cukup menampar.
Bagaimana tidak, ia disuguhkan pemandangan menyakitkan. Pria yang menolak dijodohkan dengannya begitu perhatian dan memperlakukan wanita itu dengan baik. Bahkan mengulas senyum yang tidak pernah ditunjukkan pada saat berbicara dengannya.
"Nona Keiko, are you okay?" Lamunan Keiko membuyar kala seorang wanita dengan mengenakan fashion brand terkenal itu mengguncang bahu Keiko.
"Ah, aku baik-baik saja, Miss." Berusaha untuk tersenyum. Keiko tidak ingin terlihat tidak baik-baik saja di hadapan orang lain.
Wanita itu tersenyum. "Baiklah, karena Nona Keiko sudah menandatangani kontrak kerjasama, saya pamit undur diri." Dan setelahnya ia beranjak dari tempat duduk.
Keiko mengangguk lalu turut beranjak berdiri. "Terima kasih banyak, Miss. Hati-hati dijalan."
Wanita itu hanya mengangguk, lalu segera berlalu diikuti oleh asistennya. Kepergiannya masih menjadi pusat perhatian Keiko hingga benar-benar lenyap dari pandangan.
"Sudah selesai, hm?" Kenzo datang menghampiri. Sejak tadi pria itu memang menunggu Keiko di meja yang lain.
Keiko menjawab dengan anggukan disertai senyum tipis. Ia kembali duduk disusul dengan Kenzo yang mengambil kursi berhadapan dengan Keiko.
"Setelah ini kau akan kemana lagi? Apa langsung kembali ke Mansion Bibi Millie?" tanyanya. Sebab adanya dirinya adalah untuk menemani Keiko melakukan pertemuan tanda tangan kontrak dengan brand ternama asal Inggris.
"Ken, sepertinya aku harus mencari apartemen di sekitar perusahaan." Alih-alih menjawab, Keiko justru mengutarakan keinginan yang baru saja terpikirkan olehnya.
Mendengar penuturan Keiko, salah satu alis Kenzo nampak tertarik ke atas. "Kenapa? Bukankah Bibi Millie dan Paman Jack tidak masalah jika kau menetap di Mansion mereka untuk sementara waktu?" Tentu membuatnya cukup merasa heran, sebab sebelumnya Keiko begitu menggebu-gebu ingin menetap di Mansion di keluarga Bibinya.
"Ta-tapi sepertinya aku berubah pikiran. Aku tidak ingin merepotkan Bibi Millie dan Paman Jack," tuturnya memberitahu. "Dan lagi pula jarak Mansion menuju perusahaan cukup jauh, lebih baik aku menyewa apartemen yang lebih dekat dengan lokasi perusahaan." Bukan. Sebenarnya bukan karena itu. Alasan ingin menyewa apartemen karena ia tidak ingin membuat hatinya lebih terluka lagi.
Kenzo terdiam sesaat. Tidak merespon dan hanya menelisik wajah Keiko yang nampak menyembunyikan kesedihannya. Tetapi ia sangat paham, bukan itu alasan yang sebenarnya. Ia tahu jika Keiko ingin menghindar.
"Baiklah Kei, aku akan menemanimu mencari apartemen. Tapi ada baiknya aku bertanya pada Paman Jack mengenai apartemen yang memiliki keamanan terbaik. Karena aku tidak bisa menjagamu selama berada di London. Lusa, aku sudah harus kembali ke Yokohama."
Keiko hanya mengangguki perkataan Kenzo. Ia sangat beruntung memiliki Kenzo disisinya. Sejak kecil Kenzo selalu ada disaat dirinya membutuhkan pria itu. Tetapi ia sadar jika Kenzo memiliki banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang pria itu abaikan karena mengantar dan menemaninya selama beberapa hari di London.
Percakapan kecil mereka berlanjut hingga pesanan mereka datang. Ekor mata Keiko masih menyelinap memperhatikan Darren dengan kekasihnya. Namun ia kembali memalingkan wajah ketika rasa sesak kembali menjalar. Hingga wanita itu melahap dengan malas makanan yang terasa pahit di lidah.
That should be me, holding your hand
That should be me, making you laugh
That should be me, this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me, feeling your kiss
That should be me, buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
'Til you believe
That that should be me
That should be me
Live music acoustic yang mengalun indah itu justru semakin membuat Keiko merasakan dua kali lipat lebih sesak. Lagu tersebut seolah menceritakan tentang keadaannya saat ini. Menginginkan dan menggantikan posisi wanita itu disisi Darren. Namun apakah bisa?
Keiko kemudian menghela napas panjang, ia menyentak garpu yang digenggamnya itu.
"Ada apa?" Tentu Kenzo mengernyit heran melihat wajah Keiko yang memerah seperti menahan sesuatu.
Wanita itu tidak menjawab, melainkan pandangannya hanya terpaku pada satu titik, sehingga membuat Kenzo mengikuti arah pandang Keiko. Seketika Kenzo tertegun sejenak, ia tidak menyadari jika terdapat Darren dengan seorang wanita yang sudah dapat ia tebak jika wanita itu adalah wanita spesial bagi sepupunya. Sama seperti Keiko, ia baru pertama kali melihat sepupunya tersenyum begitu lembut dan sinar matanya penuh cinta.
Apa wanita itu yang membuatmu menolak Keiko, Der?
Kenzo akui jika wanita itu memiliki paras yang cantik khas wanita Eropa, berbeda dengan wajah Keiko yang memiliki wajah oriental. Tetapi ia yakin jika Darren bukanlah pria yang hanya memandang fisik. Mungkin ada keistimewaan wanita itu yang membuat Darren menaruh hatinya. Lama memperhatikan kedua pasangan kekasih di sana, kemudian Kenzo kembali memusatkan pandangannya pada Keiko yang masih membeku.
"Kei...." Ia menyentuh punggung tangan Keiko. Bagaimana mungkin ia tega melihat wanita yang berarti dalam hidupnya larut dalam patah hati yang berkepanjangan.
Melihat raut kecemasan di wajah Kenzo, Keiko menarik tipis bibirnya. Lebih tepatnya ia memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa Ken," lirihnya masih dengan senyum tipis. Menarik tangannya dari genggaman tangan Kenzo. "Aku ingin ke toilet sebentar." Lalu ia buru-buru beranjak. Kenzo hanya menatap nanar langkah Keiko yang menuju toilet.
Mau sampai kapan kau seperti ini, Kei?
***
Selama di dalam toilet, Keiko berdiri menatap dirinya di pantulan cermin. Diusapnya air mata yang masih tersisa di sudut mata. Keiko menarik napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Ya, ia harus baik-baik saja setidaknya di depan Kenzo, karena ia tidak ingin pria itu mencemaskan dirinya.
Saat ia berbalik badan dan membuka pintu, tubuhnya nyaris saja terjerembab di lantai jika saja seseorang tidak menahan lengannya.
"Nona, hati-hati."
Mendengar suara lembut yang menolongnya, Keiko segera berdiri dengan benar.
"Ah, terima kasih." Lalu mengangkat wajahnya. Seketika wajahnya menegang dengan bola mata yang melebar.
"Kau baik-baik saja, Nona?" Wanita yang baru saja menolong Keiko adalah Veronica. Ya, kekasih Darren itu juga berada di toilet yang sama.
Kedua alis Veronica berkerut heran, sebab wanita di hadapannya itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya.
"Hei, Nona. Kau benar-benar baik-baik saja?" Satu tangannya mengguncang bahu Keiko. Tentu Veronica menjadi cemas. Ia tidak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu dengan wanita itu. Ia hanya murni menolong.
Keiko segera tersadar. Ia menggeleng canggung. "A-aku baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih."
"Hm, lain kali harus berhati-hati, Nona." Veronica mengulas senyum tipis. Lalu segera keluar dari toilet melewati Keiko yang masih terpaku ditempat.
Sedangkan Veronica melangkah cepat menuju Darren berada. Kekasihnya itu tengah menunggunya di depan pintu Restauran.
Dilingkarkannya tangan pada lengan Darren. "Maaf membuatmu menunggu lama. Tadi aku menolong wanita yang hampir terjatuh."
Darren merespon dengan alis yang berkerut dalam. "Tapi apa kau juga ikut terjatuh?"
Veronica terkekeh. "Tentu saja tidak, aku tidak mungkin terjatuh dengan mudah. Tubuhku lebih kuat dari yang terlihat."
Darren berdecak dengan kekehan kecil. Ia mengiyakan saja apa yang dikatakan kekasihnya itu. Hingga keduanya segera meninggalkan restauran menuju parkiran.
"Tapi aku merasa tidak asing dengannya." Veronica bergumam. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya? Tetapi sekeras ia mencoba mengingat, tetap tidak menemukan titik terang. Sehingga tidak lagi memusingkan wajah wanita itu.
"VERO?!!!"
Baik Veronica dan Darren tersentak kaget ketika seseorang memanggil. Keduanya serempak menoleh.
"Joana?" serunya terkejut. Tentu saja karena ia mendapati temannya sudah berada di London.
Joana terlihat berlari kecil dengan menggandeng tangan seorang pria hanya untuk menghampiri Veronica. Sontak aja membuat pria itu mengikuti langkah Joana.
"Astaga, sudah lama sekali aku tidak melihatmu." Joana menghambur ke dalam pelukan Veronica. Tangan Veronica yang melingkar di lengan Darren tentu saja terlepas.
"Ck, berlebihan sekali. Baru dua bulan kita tidak bertemu," ujar Veronica setelah mengurai pelukan mereka.
"Tapi bagiku sangat lama, Vero. Aku kesepian selama berada di LA, tidak ada teman yang pintar bergosip sepertimu." Bukan Joana namanya jika tidak heboh. Terlebih penampilan wanita itu juga heboh dengan pakaian branded.
"Jangan asal bicara. Aku tidak suka bergosip sepertimu." Tidak terima dengan perkataan Joana, Veronica menepuk lengan temannya yang terkekeh itu. "Astaga....." Hingga pandangannya terjatuh pada sosok pria yang berdiri di belakang Joana. "Calvin?" serunya terkejut. Pria itu adalah bartender di Club yang biasa mereka datangi.
Melihat Veronica yang sudah menyadari keberadaannya, Calvin tersenyum ramah. "Nona Vero, sudah lama sekali kita tidak bertemu."
"Ah benar. Belakangan ini aku sibuk," sahutnya berkata apa adanya. "Tapi bagaimana bisa kalian bersama?" Ya, sungguh membuatnya bingung. Sejak kapan Joana dan pria bartender itu menjadi dekat? batinnya bertanya-tanya.
"Sebelum ke LA aku dan Calvin memutuskan untuk bersama." Joana menyahut dengan riang. Terlihat sekali jika wanita itu begitu bahagia.
"Oh...." Veronica hanya ber-oh ria. Ia tidak menyangka jika Joana benar-benar mewujudkan perkataannya saat itu. Bahwa akan membuat Calvin menjadi miliknya.
"Hm, Vero. Ikut denganku." Tiba-tiba Joana menarik Veronica menjauh dari Darren dan Calvin.
"Kenapa kau menarikku?" Veronica berusaha melepaskan tangan Joana.
"Kenapa kau bisa bersama dengan pria itu?" Jujur saja sejak tadi Joana sangat penasaran dengan keberadaan pria yang bersama dengan Veronica.
"Pria itu?" Veronica masih belum mengerti akan pertanyaan Joana.
"Iya. Bukankah dia adalah Tuan yang kau bilang sangat kaku itu." Lirikan matanya mengarah pada sosok Darren. Hingga Veronica pun menoleh ke arah yang dimaksud oleh Joana.
"Ah, aku dan Darren sudah bersama," sahut Veronica santai.
"Really? Sejak kapan?" Joana berseru tidak percaya.
"Hem, sejak satu bulan yang lalu."
"Wah, akhirnya kau bisa menaklukkan pria itu." Tentu saja Joana turut senang, sebab ia menjadi saksi bagaimana Veronica tergila-gila dengan Tuan Darren.
Veronica tersenyum bangga. Tetapi detik kemudian matanya memicing tajam ketika melihat Joana yang mengenakan syal di saat cuaca cerah.
"Kenapa kau memakai syal? Musim dingin sudah lewat dari satu minggu yang lalu, Joana."
"Hehehehe...." Alih-alih menjawab, Joana hanya terkekeh.
"Ck, apa kau sudah menjadi gila?" Veronica menjadi bergidik ngeri. Ia tidak ingin tertular penyakit gila Joana.
"Tentu saja aku tidak gila!" serunya. "Leherku penuh dengan tanda kissmark, apa kau ingin melihatnya?"
Kedua mata Veronica melebar. Joana benar-benar tidak tahu malu. "Tidak!" sahutnya menolak. Untuk apa ia melihat kissmark orang lain.
"Sudahlah. Kau hanya membuang waktuku yang ingin bersama Darren seharian," sambungnya kemudian. Bibirnya mencebik dengan langkah yang meninggalkan Joana. Ia kembali mendekati Darren dan Calvin. Kedua pria itu tidak saling menyapa rupanya.
Joana sudah berdiri di sisi Calvin. Ia mengapit lengan sang kekasih. "Baiklah, sepertinya kita harus berpisah."
"Hm, aku juga ingin menghabiskan waktu bersama kekasihku." Tidak ingin kalah, Veronica pun mengaitkan tangan pada lengan Darren. "Bye, Joana.... Bye Calvin." Lalu ia segera menarik Darren dan meninggalkan Joana serta Calvin yang hanya mengangguk.
"Wanita itu temanmu?" Darren bertanya disela-sela mereka melangkah. Ia merasa tidak asing dengan sosok Joana.
"Hem, Joana. Dan yang bersamanya adalah Calvin, bartender di Ministry Of Sound."
"Bartender?" Langkah Darren terhenti seketika. Tiba-tiba ingatannya melayang pada saat ia berada di Ministry Of Sound Club dan mendapati Veronica begitu akrab dengan bartender disana.
"Ada apa?" Tentu saja Veronica bingung mendapati Darren yang tiba-tiba saja berhenti melangkah.
"Kau dekat dengannya?" Tatapan Darren tiba-tiba menajam, membuat Veronica menjadi merinding dibuatnya.
"Ti-tidak. Aku hanya sebatas mengenalnya saat datang kesana," sahutnya jujur. Tetapi entah kenapa ia menjadi gugup. Gugup karena ditatap begitu tajam. "Tunggu, apa dia cemburu?" batinnya mencoba menebak.
Tatapan tajam Darren tidak menyurut sehingga Veronica menghela napas panjang dan mengikis jarak. "Jangan cemburu. Sejak dulu di hatiku hanya ada dirimu saja, karena itu aku terus mengejarmu sampai pada akhirnya kau melihatku."
Mendengar perkataan Veronica, Darren baru tersadar apa yang baru saja ia lakukan. Bukankah sama saja mengakui jika dirinya cemburu, meski tidak berkata.
"Sudahlah. Ayo pergi." Darren menarik pergelangan tangan Veronica. Ia tidak ingin membahasnya lagi, tetapi Veronica tahu jika Darren benar-benar cemburu dan pria itu tidak ingin mengakuinya karena malu. Dan melihat telinga Darren yang memerah sudah mewakili jawaban pria itu. Veronica terkekeh senang. Ia menyukai Darren yang seperti ini.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...