The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Hasil Penyelidikan



Beberapa pasang mata memandang sendu wajah pucat Licia yang terbaring lemah di atas ranjang. Mommy Angela tidak hentinya menangis, terlebih ketika mendengar penjelasan Austin yang mendapati Licia saat hendak melompat. Tak hentinya pula Mommy Angela mengucapkan rasa terima kasih. Jika Austin tidak bergerak cepat, mungkin putrinya akan terluka lebih parah dari saat ini.


Dan Zayn, pria paruh baya itu meruntuki dirinya yang tidak bisa menjadi Daddy yang baik untuk putrinya. Andai saja ia lebih mengalah dan menahan diri lebih banyak lagi, mungkin putrinya tidak akan bertindak nekat dengan ingin melompat dari balkon kamarnya.


Kemudian pandangannya teralih dari sosok putrinya yang tidak berdaya itu dan kini terhunus pada Austin. Jauh di dasar hati, tentunya ia berterima kasih pada pria muda itu, sebab karenanya putri cinta yang ia limpahkan dengan uang dan kasih sayang dapat diselamatkan.


Bulu kuduk Austin tiba-tiba saja merinding, ia merasakan jika seseorang tengah memperhatikannya. Dan benar saja begitu menoleh, ia mendapati sepasang mata tajam mengarah padanya.


Kenapa Paman Zayn melihatku seperti itu?


Sudah pasti bertanya-tanya, sebab tidak biasanya Paman Zayn menatap dalam padanya. Austin berdehem untuk mengurangi kecanggungan, jujur saja ia merasa risih di tatap demikian. Namun wajah Paman Zayn menunjukkan arah pintu dan setelah memberikan isyarat segera berlalu dari kamar Licia. Austin yang paham tentu mengikuti langkah Paman Zayn menuju keluar kamar. Dan Roy tentu menyadari gelagat mereka, sehingga ia memutuskan mengikuti keduanya setelah memberikan tepukan berulang kali pada bahu Jacob.


Jacob sebenarnya paham, akan tetapi ia memilih untuk menemani Mommy Angela sejenak agar lebih tenang, barulah ia akan menyusul mereka, yang sudah pasti akan membahas rencana mereka selanjutnya.


Austin dan Paman Zayn sudah saling mendudukkan diri di ruang tamu. Mereka duduk saling berhadapan dengan meja kaca sebagai pembatas.


"Aku tau, kau pasti sudah mencari tau semua yang terjadi pada Licia." Paman Zayn membuka suara terlebih dahulu. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan, akan tetapi ia lebih dulu penasaran dengan apa yang menimpa sang putri. Meski Austin tidak cekatan seperti Xavier dan Arthur, akan tetapi darah yang mengalir dari tubuh Austin terdapat darah Xavier, sudah pasti pria muda itu memiliki insting seperti Xavier.


Austin tidak segera menjawab, dalam hati ia membenarkan. "Aku tidak tau pastinya seperti apa, tapi yang pasti sampai saat ini aku tidak berhenti mencari tau tentang Maxime."


"Bajingan itu sudah pasti menjadi dalang yang menimpa Licia." Ya, Zayn sangat yakin meskipun belakangan ini ia belum mendapatkan bukti apapun mengenai bajingan muda itu. Namun ia sudah mengontak-atik sistem keamanan Perusahaan Eduardo, sebagai balasan karena telah lancang bermain-main dengan keluarganya.


"Paman benar." Austin sependapat. "Dan entah apa motifnya mendekati Licia, aku belum mendapatkan jawabannya. Yang aku dan Jacob ketahui, dia memasang kamera tersembunyi di setiap sudut Mansion Paman."


Mendengar keterangan Austin, Zayn diam terperangah. Tidak menduga jika tikus kecil itu bertindak lebih licik dari dugaannya. Pantas saja ia merasakan aura tidak baik dalam diri Maxime.


Seketika keduanya saling terdiam, hingga Paman Roy nampak bergabung dengan mereka.


"Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini. Tapi yang kudengar dari kalian jika pria muda itu mendekati Licia dan mempengaruhinya," kata Paman Roy mengutarakan suaranya. Selama beberapa bulan ini ia tidak berada di London karena fokus dengan pengobatan sang istri di rumah sakit terbesar di Amerika.


"Ya. Kurasa dia memiliki motif." Zayn kemudian menceritakannya. Tidak hanya Zayn saja, Austin pun menceritakan kejanggalan saat pertama kali ia bertemu dengan Maxime. Ada yang lain dari sikap dan pandangan pria itu pada Licia. Sungguh Austin tidak menyukainya.


"Aku sudah mengambil beberapa kamera yang tersembunyi di setiap sudut Mansion." Entah sejak kapan Jacob sudah berdiri di ujung tangga, ia berjalan mendekat dan kemudian meletakkan kotak berukuran kecil di atas meja, sehingga isi dari kotak itu dapat mereka lihat. Beberapa kamera tersembunyi dan bahkan, wait... candy.


Kedua paruh baya itu mengerutkan kening karena tidak paham, kecuali Austin yang sudah tahu lebih dulu. Karena ia dan Jacob bekerjasama mencari kejanggalan yang mereka rasakan. Meskipun tindakan mereka terbilang lamban.


"Untuk apa kau menyimpan candy, Jac?" tanya Zayn heran sekaligus menuntut penjelasan.


"Kita akan tahu hasilnya setelah laporannya keluar, Dad."


"Apa maksudmu?" Zayn benar-benar tidak dapat mencerna dengan baik. Mungkin efek usia, sehingga kini cara kerja berpikirnya sedikit lamban.


"Kami mencurigai terdapat kandungan sesuatu di dalam candy ini, Paman. Dan selama ini Licia memakan candy ini."


What?


Baik Zayn dan Roy begitu tidak percaya mendengar perkataan Austin.


"Benar. Dan aku adalah saksi saat Licia sendiri tidak ingat kapan dia membeli candy-nya," ujar Jacob menambahi. Saat itu ia tidak terlalu pedulikan candy yang dikonsumsi oleh Licia, sebab selama ini sang adik adalah pencinta candy berbau rasa strawberry. Tetapi beberapa hari yang lalu, ia mencuri sisa candy di dalam kamar Jacob. Ia benar-benar terusik dengan candy yang menurutnya aneh itu. Saat ia menceritakannya kepada Austin, Austin segera bergerak cepat membawa candy itu untuk diselidiki.


Mereka sepakat diam, mencoba tidak terlalu gegabah mencari kebenarannya. Mereka sengaja melonggarkan pengawasan agar Maxime tidak melarikan diri dari radar pengawasan.


"SIALAN!" Zayn menggebrak meja hingga membuat mereka tersentak kaget. "Jadi kandungan apa yang ada di dalam candy ini?!" Ia bahkan mengambil candy itu lalu merematnya dengan kuat.


"Aku belum bisa memastikannya, Paman. Seharusnya aku mendapatkan hasilnya hari ini," sahut Austin menjelaskan. Meskipun ia ingin sekali hasilnya lebih cepat, akan tetapi semua butuh prosedur yang memungkinkan, sebab ia melibatkan dokter kepercayaan keluarganya dan ia pun sangat yakin jika Daddy-nya akan segera mengetahui permasalahan yang terjadi di keluarga Paman Zayn.


"Kalau begitu tunggu apalagi, tanyakan hasilnya sekarang juga!" Zayn tidak mau tahu, ia sangat ingin mengetahui kandungan yang ada di dalam candy itu. Ia sangat yakin jika perubahan Licia beberapa bulan ini bukan tanpa sebab yang tidak jelas.


Mendengar perkataan Paman Zayn, Austin menghembuskan samar napasnya yang kasar. Memang Paman Zayn adalah pria yang tidak sabar. Ia pun sebenarnya tidak sabar dan sudah mendesak Dokter Oscar yang merupakan kerabat keluarganya. Akan tetapi putra dari Pemilik Rumah Sakit itu meminta kurun waktu 2 hingga 3 hari.


Sepertinya saat ini akan lebih sulit memberikan pengertian kepada Paman Zayn, sehingga Austin mencoba untuk menghubungi Dokter Oscar.


"Bagaimana hasilnya?" Setelah panggilannya terjawab, Austin bertanya langsung pada intinya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


Terdengar tawa di seberang sana. "Kau benar-benar seperti Ar. Kalian berdua selalu tidak sabar jika menginginkan sesuatu." Namun Austin malas menanggapi, ia diam saja hingga Dokter Oscar kembali berkata, "Aku akan menemuimu di perusahaan, As. Tunggu kedatanganku, okay?" Dalam keadaan genting seperti ini, Dokter Oscar masih saja bergurau.


"Tidak perlu. Datang saja ke Bishop Avenue, aku akan shareloc ke ponselmu."


"Ya, baiklah." Meskipun tidak mengerti, Dokter Oscar mengiyakan saja, lalu keduanya memutuskan sambungan telepon bersamaan.


Austin melihat Paman Zayn dengan tatapan menuntut padanya. "Oscar akan segera datang kemari."


Namun perkataan Austin tidak membuat Zayn tenang, pria itu justru semakin gusar. Sungguh ia tidak bisa menahan diri untuk lebih bersabar lagi. Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya yang mereka tunggu-tunggu datang.


"Astaga, apa yang kalian lakukan? Kenapa aku diperlakukan seperti penjahat?!" Dari dalam saja mereka dapat mendengar suara teriakan Dokter Oscar yang berseru marah. Bagaimana tidak, ia dipaksa masuk dan di ringkus seperti seorang penjahat, hingga saat sudah memasuki Mansion, Dokter Oscar masih saja menyerukan kekesalannya.


"Lepaskan dia. Dia tamuku." Perkataan Zayn akhirnya membuat dua anak buah yang meringkus Dokter Oscar itu melepaskan tangan mereka, lalu segera undur diri dari sana.


Dokter Oscar membenahi pakaiannya akibat ulah dua pria bertubuh kekar. "Aku sudah datang sesuai keinginanmu As, tapi mereka benar-benar kurang ajar!" Oscar bersungut-sungut sembari memberikan amplop cokelat pada Austin yang sudah berjalan ke arahnya dengan kulumann senyum mengejek.


"Maklumkan saja, karena kau berada di Mansion Paman Zayn." Austin meminta agar Dokter Oscar tidak tersinggung akan perlakuan dua anak buah Paman Zayn.


"Cih..." Ingin sekali Dokter Oscar mengumpat, tetapi ia menahan diri sebab ketiga pria yang masih duduk itu menatap tajam padanya. Come on, ia bukanlah penjahat. Ia adalah putra dari pemilik rumah sakit terbesar di London dan merupakan teman baik Arthur.


"Jadi bagaimana hasilnya?" tanya Austin. Jujur saja ia tidak mengerti laporan yang baru saja dibacanya.


Dokter Oscar berdehem untuk meredakan kekesalannya. "Seperti kecurigaanmu As, di dalam candy itu terdapat kandungan sejenis Spocolamine."


Spocolamine? Baik Austin, Jacob, Paman Zayn serta Paman Roy benar-benar tidak mengerti bahasa dunia medis.


"Duduk dan jelaskan pada kami!" Kali ini Zayn bersuara. Lebih tepatnya memerintah Dokter Oscar agar menjelaskan lebih detail dengan menggunakan bahasa yang tentunya dapat mereka mengerti.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...