The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Pasti Kembali



Austin sudah kembali segar setelah membersihkan diri. Ia segera mengenakan pakaian dan mengambil minuman kaleng bersoda yang sudah tersedia di dalam kamarnya, lalu melangkah menuju balkon.


Menatap hamparan halaman yang luas, Austin termenung dengan sesekali menyesap minumannya. Ekor matanya melirik singkat saat mendengar langkah seseorang yang mendekat ke arahnya.


"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu, As?" Arthur melayangkan pertanyaan tanpa berbasa-basi. Diteguknya minuman kaleng bersoda setelah menarik ring tab kaleng hingga berlubang.


Austin tidak langsung menjawab, ia meneguk kembali minumannya. "Entahlah," sahutnya disertai dengan mengangkat kedua bahu. Ia sendiri tidak begitu yakin akan tindakannya. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu," lanjutnya setelah beberapa hari ini berpikir dengan matang.


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya saat kau sudah berada disana." Arthur menepuk-nepuk bahu Austin untuk memberikan semangat. "Tapi ingat, hanya enam bulan. Setelah itu kau harus kembali saat kontrak kerja sama sudah disepakati!"


"Hem..." Sebagai jawabannya Austin berdehem sembari meneguk minuman bersoda miliknya hingga tandas. "Aku pasti kembali," gumamnya. Setelah memastikan sesuatu, ia sudah pasti akan kembali dengan sebuah tujuan dan tekad baru.


Sebenarnya Arthur mendengar sang adik bergumam, tetapi ia tidak ingin banyak bertanya. Apapun yang dilakukan oleh Austin adalah keinginannya sendiri. Dan tentu saja sebagai seorang kakak, ia harus mendukung adiknya untuk lebih melebarkan sayapnya di dalam dunia bisnis.


***


Mommy Elleana menyeka sudut matanya yang tiada henti mengalir. Ia harus terlihat tersenyum di hadapan Austin, meskipun sangat berat melepaskan putra bungsunya yang akan pergi hari ini ke tempat yang begitu jauh dari Eropa.


"Jika tidak cocok dengan makanan disana, hubungi Mommy. Mommy akan mengirimkan bahan-bahan makanan dari sini," ucap Mommy mengusap lengan Austin.


Austin terkekeh kecil. Sejak pagi sudah berulang kali Mommy-nya itu berkata demikian. "Aku akan baik-baik saja selama disana, Mom. Tidak perlu khawatir, Kak Ar sudah menyiapkan apartemen dan beberapa asisten rumah tangga untukku," jelasnya. "Lagi pula Bas ikut denganku, dia akan satu apartemen denganku."


Ya, Mommy Elleana sudah mendengarnya secara langsung dari Arthur, akan tetapi tetap saja ia mencemaskan keadaan Austin di negara asing itu.


Mommy Elleana hanya mengangguk saja. Dan Daddy Xavier yang berada disisinya memeluk singkat putra bungsu mereka.


"Dad sudah menghubungi Paman Adam, kau bisa datang kapan saja ke Mansionnya," ujarnya menepuk-nepuk bahu Austin yang lebar itu.


"Terima kasih, Dad. Tapi tidak perlu merepotkan Paman Adam dan keluarganya. Aku hanya ingin menetap di apartemen." Karena jika menetap di Mansion orang lain, ia merasa tidak nyaman.


"Terserah kau saja." Daddy Xavier tidak memaksa. Sebab ia membebaskan Austin melakukan apapun.


Austin mengangguk, lalu beralih ke hadapan kakak perempuannya. "Sayang sekali aku tidak bisa melihat perut Kak Elie yang sudah besar nanti," katanya terkekeh.


Elie turut terkekeh. Kedua matanya nampak memerah karena habis menangis. "Aku akan mengirim fotoku setiap hari, kau juga harus mengetahui perkembangan baby twins."


"Suamimu nanti bisa cemburu padaku, Kak," selorohnya bergurau.


Mike yang berada di sisi Elie melemparkan tawa renyah. Mana mungkin ia akan cemburu pada adik iparnya sendiri. Kemudian ia menepuk-nepuk bahu Austin.


"Jaga dirimu baik-baik disana. Jangan berkencan dengan banyak gadis Asia." Mike terkekeh di akhir kalimatnya.


Austin pun terkekeh, tetapi tidak menanggapi maupun menyanggah. Ia memiliki tipe wanita idaman dan tentu saja bukan gadis atau wanita Asia.


Kemudian ia berpamitan pada Arthur. "Kak Ar, aku pergi dulu," ucapnya lalu bertukar pelukan dengan kakak laki-lakinya itu.


"Ya, berhati-hatilah. Aku akan mengirim seseorang untuk membantu pekerjaanmu disana," sahut Arthur.


Austin mengangguk dan tatapannya berpindah pada kakak iparnya untuk berpamitan.


"Hati-hati selama berada disana dan jaga kesehatanmu." Pesan yang diberikan Helena sama seperti Mommy Elleana yang sejak pagi selalu mengatakan hal itu.


Austin kembali mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, ia mencium gemas Baby Ace dan Baby Lyora yang berada di stroller. Berat rasanya ia meninggalkan London karena tidak bisa bermain dengan dua keponakannya. Mengusap wajah Baby Ace dan Baby Lyora secara bergantian, sebelum kemudian Austin masuk ke dalam mobil. Elden, Liam dan Gavin turut mengantarkan dirinya menuju London Heathrow Airport.


Di sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara. Gavin yang mengemudikan mobilnya, hanya melirik Austin melalui kaca spion. Jujur saja ia merasa syok kala mendengar jika Austin memiliki pekerjaan di luar Eropa yang merupakan benua Asia. Dan pergi selama enam bulan atau bisa lebih.


"Jaga dirimu baik-baik As," ujar mereka serentak.


Austin terkekeh. Ia merasa jika mereka begitu berlebihan, sebab ia hanya pergi beberapa bulan saja, bukan pergi selama bertahun-tahun atau tidak akan kembali lagi.


Dan saat ini Austin saling berhadapan dengan Gavin. Keduanya merasa canggung entah alasan apa, sebelum kemudian Gavin yang lebih dulu memeluk Austin yang membuat temannya itu terkesiap. Ia bingung antara membalas pelukan Gavin atau tidak. Tetapi rasanya ia tidak berhak untuk marah. Hingga akhirnya Austin membalas pelukan Gavin. Keduanya saling menepuk-nepuk punggung, sebelum akhirnya mereka saling mengurai pelukan.


"Berhati-hatilah selama berada disana. Jaga kesehatanmu." Biar bagaimanapun Gavin bukan sekedar teman baik, tetapi sama seperti Liam dan Elden yang merupakan saudaranya. Gavin sangat baik dan selalu perhatian, sehingga rasanya Austin tidak memiliki celah untuk membenci pria itu.


"Ya, terima kasih. Kau juga." Austin mengulas senyum tipis, lalu meninju dada kiri Gavin seperti yang biasanya mereka lakukan.


Gavin terkekeh. Keduanya terlihat tidak memiliki masalah, hanya saja mereka menyimpan rasa yang mereka sendiri tidak mengerti. Elden dan Liam saling bertukar pandang, setidaknya mereka senang karena hubungan Austin dan Gavin kembali membaik usai kejadian beberapa minggu yang lalu, dimana mereka terlibat perkelahian.


Karena tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, akhirnya Austin masuk ke dalam gate keberangkatan dan di dalam sana sudah ada Bastian yang menunggu dirinya. Lalu keduanya segera melangkah bersama, sebelum akhirnya tertelan dengan orang-orang yang berlalu lalang.


***


Selang dua jam kepergian Austin, Mommy Elleana bermain dengan cucu-cucunya di ruangan televisi. Baby Ace dibiarkan berbaring di atas karpet berbulu tebal yang begitu halus. Karena Baby Ace dan Baby Lyora sangat senang ketika ditidurkan disana.


"Sudah sayang, sekarang waktunya untuk kalian mandi." Puas bermain dengan Baby Ace, Mommy Elleana menggendong cucu laki-lakinya itu. Karena sudah waktunya mandi, sehingga ia yang akan memandikan kedua cucunya.


"Mom, biar aku saja yang memandikan Ace dan Lyo." Tiba-tiba Helena datang dengan menggendong Baby Lyora.


"Tidak apa, biar Mommy yang memandikan mereka dan memakaikan mereka pakaian." Mommy Elleana begitu senang saat memandikan kedua cucunya itu. Tetapi tetap saja Helena merasa tidak enak dengan ibu mertuanya.


Meskipun begitu, Helena tetap membiarkan Mommy Elleana yang memandikan baby twins, karena rasanya tidak tega menolak keinginan Mommy Elleana yang begitu bahagia saat mengurus kedua cucunya.


Helena ingin menyusul langkah ibu mertuanya yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan. Akan tetapi langkahnya seketika terhenti saat samar-samar mendengar berita mengenai kecelakaan pesawat di layar televisi yang masih menyala.


"Pemirsa, penerbangan European Airlines (EA) siang ini dengan tujuan Indonesia, dinyatakan terjatuh di Selat Inggris. Sebelum terjatuh ke laut, badan pesawat lebih dulu meledak di udara. Dan saat ini belum dapat dipastikan berapa penumpang yang selamat dari 118 penumpang, termasuk awak pesawat."


Duarr


Bagaikan disambar petir, Helena yang mendengar berita tersebut nyaris limbung hingga membuat Baby Lyora yang berada dalam gendongannya nyaris terjatuh. Beruntung Arthur yang baru saja berada disana segera menangkap putri mereka.


"Ada apa, hm? Kau hampir membuat putri kita terjatuh."


Sungguh Helena tidak mampu bersuara, bahkan untuk menyahuti perkataan suaminya terasa begitu sulit. Tubuhnya mendadak menjadi gemetar. Sehingga membuat Arthur cemas, tetapi kemudian mengikuti arah pandang sang istri yang tertuju pada layar televisi.


Reaksi Arthur sama seperti Helena yang membeku seketika, bak terdapat batu besar yang menghantam dada mereka.


"Ini tidak mungkin." Arthur menggeleng tidak percaya jika pesawat yang ditumpangi oleh adiknya bersama asistennya itu meledak dan terjatuh di Selat Inggris.


To be continue


Nah lho, kok gini sih 😭 pasti kalian mikir gitu kan? Yoona juga sama 😭


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...