
Satu bulan yang lalu
Langkah Arthur yang tegas nyaris menggema ketika menyusuri lorong rumah sakit diikuti oleh Darren dan juga kedua anak buah mereka. Claude Huriez Lille Hospital merupakan salah satu rumah sakit terbaik di Kota Prancis. Di rumah sakit ini, Helena mendapatkan perawatan yang terbaik dan menjadi pasien VVIP yang juga mendapatkan pengawasan penuh dari putra pemilik rumah sakit tersebut.
Steve Huriez, dokter psikolog yang berhasil menangani banyak pasien. Sepak terjangnya tidak perlu diragukan lagi, selain menjabat sebagai Dokter Psikolog, pria yang di sapa Steve itu juga merupakan Dokter Spesialis Jantung, sehingga namanya terkenal di berbagai kota maupun negara. Tidak heran Arthur merasa tidak asing dengan nama dokter yang menangani Helena.
Kedatangan Arthur disambut baik oleh beberapa perawat disana. Bahkan sosok Steve sudah berdiri di sudut koridor dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Selamat datang di rumah sakit Claude Huriez Lille, Tuan Arthur," kata Steve menyambut pria berpengaruh di hadapannya. Tangannya terulur untuk bersalaman dengan Arthur. Siapa yang tidak mengenal Arthur? Putra dari pebisnis hebat yang jejaknya pun diikuti oleh pria itu. Mata Steve kemudian berpindah kepada Darren, ia mengangguk kecil sebagai bentuk sapaan kepada pria yang berdiri di belakang Arthur itu. Dan dijawab anggukan yang sama oleh Darren.
"Ya, terima kasih." Arthur menyambut uluran tangan Steve. Hingga kemudian keduanya saling menarik tangan masih-masing.
"Kau sudah tahu tujuan kedatanganku kemari!" Tanpa berbasa-basi, Arthur membuka suara terlebih dulu akan tujuannya itu.
Steve mengangguk, menyelipkan senyuman tipis. Ternyata benar rumor yang beredar jika aura Arthur dapat membekukan siapa saja yang berada di sekitarnya.
"Aku sudah dengar dari orang-orang kepercayaanmu," sahutnya. Beberapa hari yang lalu, dirinya di datangi tiga pria berpakaian jas serba hitam dan mengatakan jika mereka adalah orang-orang kepercayaan dari Arthur Kennard Romanov. "Aku tidak pernah menyangka jika Helen memiliki teman yang sangat berpengaruh," lanjutnya. Sebab yang Steve ketahui jika Helena membatasi diri untuk berteman dengan orang asing. Bahkan kepada dirinya yang mengenal sudah sejak lama, Helena sulit sekali di dekati.
Beberapa hari sebelumnya Arthur memang menugaskan beberapa anak buah untuk menemui Steve dan menyampaikan pesan mengenai dirinya yang akan berkunjung menemui Helena.
"Aku ingin bertemu dengannya!" Arthur tidak menghiraukan perkataan Steve. Ia begitu menggebu-gebu ingin segera menemui Helena dan memastikan kondisi wanita itu dengan mata kepalanya sendiri.
Steve mengulas senyum tipis, pria di hadapannya begitu tidak sabar. "Sebenarnya kondisi Helena belum memungkinkan untuk bertemu dengan siapapun, karena setiap kali bertemu seseorang, dia merasa jiwanya terancam!" katanya menjelaskan. Bahkan Helena saja menolak bertemu dengan asisten pribadinya yang bernama Christy.
Dada Arthur berkecamuk mendengarnya. Separah itukah kondisi Helena saat ini, hingga merasa jiwanya terancam jika bertemu dengan seseorang?
"Aku mengenal dekat dengannya. Dia tidak akan menolak kehadiranku!" Arthur berusaha menyakinkan Steve. Meski ingin sekali ia menerobos masuk tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu. Namun mengingat kondisi Helena yang belum stabil benar, sehingga ia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.
Steve tidak menyahut, ia terdiam sesaat untuk menimbang permintaan Arthur. Tidak mungkin ia mengusir pria itu, biar bagaimana pun, Arthur dan Helena saling mengenal baik. Namun jauh di dasar hatinya, terselip rasa tidak suka dengan kehadiran pria lain di dalam hidup Helena.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke ruangannya." Pada akhirnya Steve mengizinkan Arthur untuk menemui Helena. Ia harus bersikap profesional, karena jika mengedepankan egonya saja hanya akan menimbulkan masalah.
Arthur mengangguk, ia mengikuti langkah Steve yang sudah lebih dulu berjalan, dan menuntun langkah dirinya menuju ruangan VVIP. Tidak banyak ruangan yang berada di lantai 6, hanya dua ruangan saja disana, salah satunya ruangan perawatan yang di tempati oleh Helena.
***
Helena duduk termenung di tepi ranjang, tatapan matanya yang kosong tertuju pada jendela besar yang menyuguhkan pemandangan langit biru. Wajahnya masih nampak pucat, namun bibirnya diberikan sentuhan lipstik tipis untuk mengurangi pucat di bagian wajahnya. Meskipun ia merasa kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, namun ia masih merasakan halusinasi setiap kali bertemu dengan seseorang. Dan hanya kepada Steve saja ia tidak merasakan ketakutan.
Perhatian Helena sedikit teralihkan ketika mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia segera turun dari ranjang, menapakkan kakinya di atas lantai rumah sakit yang dingin, sebelum kemudian menggunakan sandal khusus rumah sakit. Helena mencoba berjalan secara perlahan, memastikan jika memang ada seseorang diluar ruangannya.
Benar, pintu kemudian dibuka secara perlahan oleh Steve, lalu membuka pintu itu dengan lebar dan mempersilahkan Arthur untuk masuk. Sementara Darren lebih memilih menunggu di depan ruangan bersama dua anak buah. Jika Arthur membutuhkan dirinya, barulah ia bergegas masuk.
Ruangan tersebut memiliki satu kamar tidur dan satu kamar mandi, terdapat ruang tamu sebelum menuju kamar Helena. Arthur memindahkan pandangnya ke seluruh ruangan yang ada di dalam sana. Entah kenapa detak jantungnya berdegup lebih cepat, padahal sesaat sebelumnya tidak ada masalah dengan jantungnya.
Telinga Arthur tersentak ketika mendengar suara wanita yang di rindukannya itu. Ingin mengelak pun rasanya percuma, sebab pada kenyataannya wanita itu berhasil memporak-porandakan hati dan kehidupannya saat ini.
Tidak ada sahutan dari Steve, karena Steve ingin melihat reaksi Helena jika bertemu dengan pria yang bernama Arthur itu. Apakah akan sama seperti sebelumnya, ketakutan saat melihat beberapa perawat dan dokter lainnya yang akan melakukan pemeriksaan.
Helena semakin melangkah menuju ruang tamu. Seketika langkahnya terhenti bersamaan dengan matanya yang membeliak sempurna melihat sosok pria lain selain Steve yang berdiri hanya beberapa langkah darinya dengan pandangan hangat.
"Arthur?" gumamnya. Rasanya sulit sekali mempercayai apa yang dilihatnya. Ia terlalu terkejut akan sosok pria itu hingga tanpa sadar mencengkram kuat sandaran sofa di sampingnya. Jantungnya bertalu-talu kencang, seolah ingin mencelus keluar. Bohong jika Helena tidak merindukan pria itu, setiap saat ingin sekali ia mengaktifkan ponsel hanya agar pria itu menghubungi dirinya. Namun disisi lain ketakutan dari trauma masa lalunya selalu menghantui, sehingga Helena menolak keras kehadiran siapapun. "Kenapa kau membiarkannya masuk, Steve? Kau sudah tau jika aku tidak ingin bertemu dengan siapapun!" Nyatanya memang ketakutan di dalam otaknya lebih besar dari rasa rindunya kepada Arthur. Siapapun yang ia lihat merasa jika dapat membunuh dirinya. Terlebih jika mengingat pria itu pernah mencekik dirinya dan nyaris membunuhnya.
Rahang Arthur tiba-tiba mengetat. Ternyata wanita itu memang benar-benar tidak ingin bertemu dengan siapapun, termasuk dirinya.
Steve berjalan mendekati Helena, ia tidak ingin teman sekaligus pasiennya itu kembali histeris. "Helen, bukankah dia temanmu. Dia datang hanya ingin menemuimu saja."
Tubuh Helena bergetar dan Steve dapat melihatnya. Dosis obat itu benar-benar luar biasa, menyebabkan halusinasi yang tinggi.
"Ta-tapi aku takut..." lirihnya bergerak mundur. "Steve, tolong kau usir dia, usir siapapun yang ingin menemuiku. Aku yakin mereka memiliki tujuan untuk membunuhku, seperti mereka yang sudah membunuh Mommy. Aku takut Steve.... tolong kau usir dia!" Helena menjambak frustasi, ingatan akan masa lalunya kembali melintas, hingga membuat kepala serta telinganya berdegung hebat. Terlebih ketika ingatan saat pria itu mencekiknya kembali terbayang.
"Helen, tenanglah." Steve menangkap kedua tangan Helena. Mencoba menenangkan temannya itu. "Dia akan pergi dari sini, tapi kau harus tenang."
Menyaksikan bagaimana rapuhnya Helena, membuat Arthur hanya bisa bergeming tanpa bisa berbuat apapun. Bahkan napasnya seolah tercekat, wanita yang selalu menempel padanya itu kini begitu ketakutan saat melihat dirinya.
"Tuan Arthur, tolong kau segera keluar dari sini." Dan Steve tidak ada pilihan lain selain menyuruh pria itu untuk keluar dari ruangan agar Helena bisa tenang kembali.
Arthur melayangkan tatapan tajam kepada Steve. Sungguh lancang sekali pria itu mengusir dirinya. Lalu apakah ia bisa marah ketika hal itu adalah permintaan Helena?
To be continue
Steve Huriez
Hari ini Yoona cuma bisa up satu bab, maaf ya 🙏🤗
...Pokoknya jangan pernah bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...
...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...