The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Nyaris Kehilangan



Mobil yang dikendarai Arthur sudah tiba di tempat tujuan. Sebelum turun dari mobil, Arthur memastikan jika dirinya tidak salah menemukan lokasi istrinya berada. Kemudian ia berjalan di tengah kegelapan dan hanya sinar bulan yang menemani langkahnya menuju bangunan tua berlantai satu.


Terlihat begitu sepi, tidak nampak siapapun disana, termasuk para anak buah Kartel Sinaloa. Arthur tidak menaruh curiga pada sekitarnya, sehingga ia terus saja berjalan mendekati bangunan tua itu. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti lantaran samar-samar mendengar derap langkah kaki yang berjalan mendekat. Benar saja, beberapa anak buah Kartel Sinaloa keluar dari persembunyian dan mengepung Arthur. Mereka saling menyunggingkan senyum meremehkan karena Arthur hanya seorang diri dan seperti ingin mengantarkan nyawanya.


Meski hanya seorang diri, Arthur tidak menampakkan ketakutannya dan hanya memegang satu senjata saja, tetapi menurutnya sudah cukup untuk menghabisi beberapa anak buah yang berjumlah belasan. Arthur menghitung masing-masing anak buah Kartel Sinaloa, ia memastikan jika pelurunya cukup untuk sekali tembakan.


"Sebaiknya kau menyerah saja. Kau tidak akan mampu menghadapi kami seorang diri!" ujar salah satu dari mereka.


Arthur masih bersikap tenang dengan tatapannya yang menghunus tajam. Ia paling tidak menyukai jika dirinya diremehkan, tetapi tidak ingin bertindak gegabah.


"Aku seorang diri cukup untuk menghadapi kalian!" Arthur menyahut dingin.


"Cih...." Mereka saling berdecih dan kemudian tergelak bersama. "Lihatlah, dia begitu angkuh!" seru salah satunya di sela-sela tawanya.


Arthur hanya melirik ke arah salah satu anak buah Kartel Sinaloa itu. Tersinggung? Entahlah, sorot mata Arthur tak terbaca.


Mereka kemudian bergerak maju bersamaan, sedangkan Arthur tetap berdiri tegak pada posisinya. Pergerakan para anak buah Kartel Sinaloa terjeda, lantaran segerombolan pria berjalan berbondong-bondong dari kegelapan.


"Dia tidak sendiri!" seru seseorang yang baru saja datang bersama yang lainnya, suara yang tentu tidak asing di telinga Arthur.


Para anak buah Kartel Sinaloa tentu sangat terkejut, sebab ternyata Arthur tidak datang seorang diri.


Segerombolan pria yang berjalan menghampiri adalah Mike beserta Loz Zetas. Kemudian mereka berjalan hingga kini Mike berdiri di belakang Arthur, sedangkan para anak buah Loz Zetas mengepung para anak buah Kartel Sinaloa, membentuk sebuah lingkaran. Sehingga kini mereka terlihat saling mengepung dan Arthur serta Mike berada di tengah.


"Hei, jangan lupakan kami!" Suara teriakan dari arah lainnya terdengar dan derap langkahnya semakin dekat, sehingga Arthur dan Mike dengan jelas dapat melihat mereka.


Ya, mereka adalah Lion Boys, Darren serta Dragon Boys. Dan yang baru saja berteriak adalah Elden. Mereka menumbangkan pagar kayu yang menghalangi jalan, lalu mengambil posisi berada di belakang Arthur serta Mike.


"Seperti ini baru adil!" seru Liam meremehkan para anak buah Kartel Sinaloa.


Kini keadaan berbalik, Arthur yang sebelumnya dikepung oleh para anak buah Kartel Sinaloa justru dirinya serta lainnya yang mengepung para anak buah Kartel Sinaloa.


Terkepung dan mengepung. Dua kelompok berbeda kubu itu saling memberikan tatapan sengit dengan bersenjatakan masing-masing.


"Sebaiknya kau segera selamatkan, Helen." Mike berbisik tepat di belakang telinga Arthur. "Biar kami yang mengurus mereka," imbuhnya.


Yang dikatakan Mike memang benar. Meskipun Arthur ingin sekali memprotes pria itu karena meninggalkan Elie. Namun ia tidak ingin membahasnya, sehingga ia melesat keluar dari barisan, disusul oleh Darren setelahnya. Kali ini Darren tidak membiarkan Arthur seorang diri. Ia harus berada di sisi Arthur. Keduanya segera berlari memasuki bangunan tua itu.


Sedangkan selepas kepergian Arthur dan Darren, mereka mulai terlibat baku hantam. Para anak buah Kartel Sinaloa yang kalah jumlah tentu sudah mulai kewalahan, sehingga mereka melesatkan peluru guna untuk melindungi diri mereka.


***


Tidak seperti diluar yang minim pencahayaan. Di dalam bangunan nampak lebih terang dan bahkan Arthur serta Darren dapat melihat dengan jelas setiap sudut bangunan itu.


"Ar, jangan gegabah." Darren mencoba untuk mengingatkan Arthur. Ia hanya berpikir jika mungkin saja di dalam terdapat jebakan.


Arthur tak menyahuti, tetapi ia tetap mendengarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Ia memang tidak boleh gegabah, sebab Helena berada di tangan bajingan itu.


Dor!


Dor!


Beberapa tembakan melesat tepat di bawah kaki Arthur dan Darren. Keduanya sontak menghindar, akan tetapi beberapa peluru terus-menerus melesat ke arah mereka. Arthur mencari tempat persembunyian di balik dinding, sedangkan Darren merunduk dan berlindung pada sofa yang terlihat sudah usang.


Tak tinggal diam, Arthur dan Darren membalas serangan. Kini baik di dalam bangunan dan diluar, mereka terlibat baku tembak.


"Arghh!!" Lengkingan keras menggema di dalam sana saat beberapa anak buah Kartel Sinaloa terkena peluru dari Arthur dan Darren.


Sedangkan di dalam salah satu ruangan, seorang wanita yang sedang hamil tua mendengar dengan jelas suara tembakan yang saling bersahutan. Ia sontak berdiri dari kursi, lalu berjalan menuju jendela yang sudah direkat begitu kuat oleh dua kayu berbentuk silang, sehingga wanita itu tidak bisa melihat apa yang terjadi diluar. Vasco sudah membuat tempat yang begitu tertutup agar wanita itu tidak dapat melarikan diri.


"Apa yang terjadi?" Ya, wanita itu adalah Helena. Sesekali kedua tangannya melindungi kedua telinga dari suara keras yang berasal dari peluru. "Tenang sayang, Daddy kalian akan segera datang." Lalu ia memberikan usapan lembut pada perutnya, berharap jika kedua bayinya tidak terpengaruh dengan suara keras di luar sana. Jujur saja ia tidak percaya jika Arthur telah tiada, hatinya mengatakan jika suaminya akan datang menyelamatkan dirinya.


Helena kemudian melangkah menuju pintu, meskipun ia tahu jika pintu itu terkunci karena ia sudah mencoba untuk keluar sebelumnya. Dan benar saja saat membuka knop pintu, masih tidak dapat terbuka. Vasco benar-benar mengurung dirinya di ruangan. Namun Helena bergerak mundur saat mendengar suara seseorang di balik pintu. Saat pintu itu terbuka, ia mendapati Vasco langsung berjalan mendekat ke arahnya.


"Tidak mau!" Helena tentu menolak. Ia mencoba menepis tangan Vasco, tetapi pria itu terlalu kuat menggenggam tangannya.


"Menurutlah jika kau tidak ingin terjadi sesuatu dengan kedua bayimu!" Jika sudah diancam demikian, tentu saja Helena hanya bisa menuruti pria itu. Mengikuti langkah Vasco keluar dari ruangan demi kedua bayinya agar dibiarkan tetap hidup di dalam perutnya. Jujur saja sejak kemarin Helena begitu waspada untuk menyentuh makanan pemberian pria itu, karena ia takut makanan itu sudah di campurkan obat peluruh kandungan yang akan membahayakan kedua bayi di dalam kandungannya. Namun setidaknya ia masih bernapas lega karena pria itu masih memiliki hati nurani dan tidak meracuni dirinya.


"Markasku sudah dihancurkan dan mereka sudah menemukan tempat persembunyian terakhirku. Menurutmu, apa aku harus membawamu pergi lagi?" Vasco menyeret langkah Helena agar mengikuti dirinya.


"KELUAR KAU BAJINGAN!! KEMBALIKAN ISTRIKU DAN HADAPILAH AKU!"


Tiba-tiba Helena menghentikan langkah saat mendengar suara teriakan yang sangat dikenalinya. "Ar...." gumamnya yang begitu mengenali jika suara itu adalah suara suaminya.


Helena menghempaskan tangan Vasco dan berhasil, pria itu lengah sejenak dan dimanfaatkan oleh Helena untuk berlari menuju sumber suara.


"HELENA!" Teriakan Vasco menggema hingga membuat Arthur dan Darren menoleh ke asal suara. Betapa terkejut keduanya saat melihat Helena berlari tanpa memperhatikan langkahnya seolah lupa jika sedang mengandung.


Arthur yang sempat terkejut segera menguasai diri dan berlari, ia harus menangkap Helena lebih dulu sebelum Vasco yang akan menangkap istrinya.


Namun langkah Arthur kalah cepat, Vasco lebih dulu menarik lengan Helena dan menjambak rambut pirang wanita itu.


"VASCO!!!!!" Arthur berteriak. Ia tidak terima istrinya diperlakukan seperti itu.


"Diam!" Vasco membentak Helena yang berusaha memberontak. Ia melingkarkan lengan di leher Helena agar wanita itu berhenti memberontak. Sebelum kemudian pandangannya berpusat pada Arthur yang memancarkan kilatan api amarah. "Diam di tempatmu atau aku akan menembak istrimu!" ujarnya mengancam Arthur. Senjatanya sudah berada tepat di kening Helena.


Langkah Arthur sontak terhenti. Tentu ia tidak ingin Vasco benar-benar menembak istrinya.


Melihat Arthur yang mengikuti perkataannya, Vasco menyunggingkan senyum. "Kau ingin mengambil istrimu, heh?!" serunya. "Tapi sayangnya aku tidak akan mengembalikannya padamu, karena aku menginginkannya. Aku menginginkan istrimu!"


Tidak terima. Telinga Arthur begitu panas saat pria itu mengatakan jika menginginkan istrinya. Satu tangannya mengepal, hingga menonjolkan urat-urat pada punggung tangannya.


"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka siapapun juga tidak akan bisa memilikinya!" sambung Vasco menggebu-gebu. Keinginannya pada Helena semakin membuncah dan ia semakin yakin untuk tidak mengembalikan wanita itu pada Arthur.


Arthur sungguh geram, giginya bergemeletuk menahan amarah. Sebelum kemudian ia maju satu langkah. Sehingga membuat Vasco memundurkan langkahnya dan menarik Helena merapat padanya.


Helena benar-benar ketakutan, sejak tadi ia memegangi perutnya yang terasa kram. Tetapi wanita itu mencoba menahannya. Tatapannya yang sendu tertuju pada Arthur yang menyimpan kemarahan, ia ingin berlari kepelukan suaminya itu bagaimana pun caranya. Menyadari jika Vasco hanya fokus pada Arthur, Helena memiliki sebuah ide, ia menggigit lengan Vasco dan dalam seketika lengan Vasco terlepas dari leher Helena.


Wanita itu mencoba berlari kecil menuju Arthur, tak pedulikan Vasco yang akan murka padanya. Pria itu sudah gelap mata karena berulang kali Helena menolak dirinya, padahal sejak kemarin ia sudah berusaha sabar menghadapi wanita hamil itu.


Dan tiba-tiba saja Vasco menodongkan senjatanya tepat mengarah punggung Helena, ia menarik pelatuk senjata dan kemudian,


Dor!


Namun yang terjadi, Arthur berlari cepat untuk melindungi istrinya itu. Menjangkau tubuh Helena ke dalam dekapannya. Kemudian ia memutar tubuhnya, sehingga peluru itu yang menghantam punggungnya. Alih-alih merasakan sakit, Arthur memutar tubuh lalu melesatkan tembakan sebagai serangan balasan. Tubuh Helena terhuyung di dalam dekapan Arthur, wanita itu tidak sadarkan diri. Sehingga Arthur segera merengkuhnya. Ia nyaris saja kehilangan sang istri jika saja terlambat menarik Helena.


Sedangkan Vasco masih bisa bertahan dengan serangan peluru, sehingga saat ini ia ingin membalas Arthur.


Dor!


Dengan cepat Darren menembak Vasco tepat di bagian dada kirinya, sebelum peluru itu melesat mengenai Arthur.


To be continue


Mampir ke instagram Yoona ya, ada cuplikan videonya hihihi 🤭


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...