The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kenapa Aku Memikirkannya?



Apa yang dilakukan oleh Darren hanya disaksikan dari jauh oleh Austin. Pemuda tampan itu tidak ingin ikut campur dengan apa yang dilakukan Darren. Saat mereka sudah memasuki mobil, tiba-tiba saja Darren turun dari mobil hanya untuk membantu seorang wanita. Meski dibenaknya dipenuhi pertanyaan 'sejak kapan Der peduli dengan seorang wanita yang kesulitan?' tetapi Austin tidak ingin mempedulikannya. Ia hanya menunggu dengan tenang sembari bertukar suara dengan Jolicia melalui sambungan telepon dalam mode loudspekears. Memang selama ini hanya gadis itu yang berani bersikap jahil kepada Austin.


"Licia, kau tau sedalam apa lautan?" ujar Austin kepada Jolicia yang tidak hentinya menghubungi dirinya saat tengah fokus bermain game di ponsel.


Di seberang sana Jolicia nampak berpikir. Memangnya ia harus mengukur lautan agar mengetahui pertanyaan yang dilontarkan oleh Austin?


"Aku tidak tau. Apa aku harus mengukur kedalaman lautan lebih dulu, As? Sepertinya sangat menyenangkan," seru Jolicia antuasias. Mengukur kedalaman lautan adalah hal baru baginya dan ia benar-benar ingin mencobanya.


"Ya, aku akan menemanimu dan kau akan kutenggelamkan di laut."


"Astaga As, kau benar-benar kejam sekali ingin menenggelamkan diriku di laut." Nada bicara Jolicia terdengar kesal. "Lalu untuk apa kau bertanya tentang kedalaman laut?" tanyanya penasaran.


"Karena aku kesal sejak tadi kau terus menggangguku yang sedang bermain game. Jika kau sedang bosan, sebaiknya gunakan waktumu dengan mengukur kedalaman laut."


"Astaga As, cara bicaramu benar-benar halus," kata Jolicia penuh sindiran.


"Ya, menurutku itu sudah lebih baik." Austin menjawab acuh.


"Ck, menyebalkan." Jolicia berdecak sebal. "Ya sudah lanjutkan saja bermain game. Jika kau tidak ingin di ganggu olehku, lebih baik aku mengganggu Maxime saja."


"What?! Maxime? Siapa Maxime?" tanya Austin penasaran. Karena baru kali ini ia mendengar Jolicia dekat dengan pria lain selain dirinya dan teman-teman yang lain.


"Rahasia!" Tut. Jolicia tidak ingin menjawab, ia memutuskan sambungan telepon begitu saja.


"Liciiaaaa.....!!" Austin kesal, sehingga ia menjadi kalah dalam permainan game kali ini. "Awas saja jika nanti bertemu, benar-benar akan kutenggelamkan di laut!" gerutunya geram.


"Kau mengancam siapa?" Suara Darren yang tiba-tiba sudah berada di belakang Austin mengagetkan pemuda itu.


"Astaga Der, kau datang dari mana, heh?!" Karena Austin tidak bisa merasakan langkah pria kaku itu.


"Ck, kau pikir aku jatuh dari langit, heh?" cetus Darren.


Austin hanya mengangkat kedua bahunya. "Lalu dimana wanita itu?"


"Pulang," sahut Darren singkat, padat dan jelas.


"Kau tidak mengantarnya?" Sembari bertanya, kedua mata Austin mengitari sekitar, mencari sosok wanita yang telah diselamatkan oleh Darren. Namun nihil, ia tidak mendapati siapapun disana.


"Mengantarkan wanita merepotkan itu? Big No!" seru Darren. Dari wajahnya saja sudah nampak menolak tegas.


Austin terkekeh. Inilah Darren yang sebenarnya. Pria itu tidak ingin berurusan dengan seorang wanita. "Lalu kenapa tadi kau menyelamatkannya?"


"Nona Veronica adalah teman baik Nona Elie. Apa kau pikir aku akan diam saja melihatnya diperlakukan tidak baik oleh mantan kekasihnya?!"


Mendengar perkataan Darren, pandangan Austin menyelidik curiga. "Dari mana kau tau jika pria itu adalah mantan kekasihnya?" desaknya. Ia memang tahu jika wanita itu adalah teman baik kakaknya. Tetapi tidak dengan pria itu, ia tidak mengetahui jika pria itu adalah mantan dari teman sang kakak.


"Saat di kapal pesiar, pria itu berselingkuh dan..." Darren menggantungkan perkataanya ketika ia sadar sesuatu. "Kenapa aku harus menjelaskannya kepadamu As?" Ia baru sadar apa yang dibicarakan.


Austin semakin terkekeh-kekeh. Menurutnya sikap Darren tidak seperti biasanya. Terlebih pria itu tahu banyak mengenai wanita yang baru saja diselamatkan.


"Kau menyukainya Der?" Kedua alis Austin naik turun, menggoda Darren.


"Kau gila As!" sergah Darren. "Aku tidak menyukainya, dia wanita yang merepotkan dan selalu berada dalam masalah dan-"


"Dan kau akan selalu menjadi pahlawannya." Austin menyela perkataan Darren begitu saja. Dan ia begitu senang ketika menggoda Darren. Biasanya ia akan acuh seperti yang dilakukannya ketika mengetahui hubungan kakaknya Elie dengan Mikel. Tetapi jika Darren, entah kenapa ia ingin sekali menggoda pria kaku itu.


"Shut the fuckk up!" umpatnya. "Jangan bicara omong kosong, As!" Dengan kesal Darren segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan Austin masih mempertahankan kekehannya, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil.


***


Sudah pukul 12 malam, Veronica tidak dapat memejamkan matanya. Malam ini ia berada di balkon, ia benar-benar sudah pindah ke apartemen lamanya dengan dibantu oleh Joana. Meski tidak begitu luas tetapi apartemennya sangat nyaman dari pada ia harus menetap di apartemen mantan kekasihnya yang gila. Sebagai seorang pengusaha, Cade termasuk pria yang perhitungan. Wajar saja jika semua barang-barang pemberian pria itu diminta kembali.


Kepala wanita itu menengadah. Malam ini bintang di langit begitu cerah. Sejak remaja ia memang selalu menatap bintang di langit dan itu sudah menjadi kebiasaannya jika tidak dapat memejamkan mata. Karena hanya itu yang bisa dilakukan ketika merindukan kedua orang tuanya yang sudah tiada ketika ia remaja.


"Astaga, kenapa aku jadi memikirkannya?" Veronica menepuk kepalanya. Entah kenapa bayangan Darren tidak lepas dari ingatannya. "Dia benar-benar seksi, padahal bukan pertama kalinya dia menyelamatkanku," gumamnya teringat akan penyelamatan pria itu kepada dirinya di masa lalu saat dia nyaris diculik dan nyaris diperkosa oleh pria bajingan yang entah siapa. "Astaga, aku lupa mengembalikan jaket miliknya. Vero, kau bodoh sekali, sudah terlalu lama jaket pria itu kau simpan." Berulang kali Veronica memukul kepalanya. Ia lupa mengembalikan jaket Darren kala pria itu melepaskan jaket kulit hitamnya untuk menutupi sebagian tubuhnya yang sudah naked. Dan menurutnya sangat memalukan, karena sudah berulang kali bertemu dengan Darren tetapi ia tidak membahas jaket pria itu.


"Ck, lagi pula dia tidak meminta untukku mengembalikannya. Lebih baik aku berpura-pura masih lupa saja. Lumayan bukan, aku masih bisa menghirup aroma parfumnya meskipun sudah di laundry. Parfum mahal memang benar-benar beda karena bisa tahan begitu lama," monolognya pada diri sendiri. "Hahahaha...." Lalu tiba-tiba saja wanita itu mentertawakan kemesumannya. "Astaga Vero, kau benar-benar mesum." Menggelengkan kepala karena begitu heran dengan dirinya sendiri.


"Ah sudahlah, lebih baik aku segera tidur. Karena besok jadwal pemotretanku siang hari. Jadi aku bisa melakukan sesuatu untuk mengucapkan terima kasih padanya." Veronica menarik napas panjang, lalu menghembusnya secara perlahan. Ia menutup pintu balkon lalu mulai membaringkan diri di atas ranjang yang terdapat Joana. Malam ini temannya itu menginap karena kelelahan membantunya membawa barang-barang dari apartemen pemberian Cade.


***


Keesokan paginya. Suara kegaduhan terdengar begitu mengganggu di telinga Joana yang dengan terpaksa harus membuka mata. Ia masih mengantuk, akan tetapi kebisingan di dapur tidak dapat membuatnya tertidur kembali.


"Astaga Vero, apa yang kau lakukan?" Joana terkejut. Bukankah setau dirinya temannya itu tidak bisa memasak.


"Selamat pagi Joana, kau sudah bangun?" Senyum Veronica menyambut pagi Joana.


"Apa yang kau lakukan, Vero?" Wanita itu tidak membalas perkataan Veronica. Ia begitu terheran-heran dengan yang di lakukan temannya.


"Tentu saja memasak," jawabnya sembari menata makanan di ke dalam kotak bekal.


"Memangnya kau bisa memasak?" Joana bertanya sembari mendudukkan dirinya di kursi, mengambil gelas yang tersedia di atas meja lalu menuangkan air di dalam pitcher ke dalam gelas, sebelum kemudian meneguknya.


"Aku sudah melihat tutorial memasak di loutube. Ternyata mudah membuat Bulgogi dan menanak nasi."


Joana hanya mengangguk-angguk saja. Inilah yang ia sukai berteman dengan Veronica meski baru mengenal lima bulan. Wanita itu tidak ingin terlihat glamor dan bersikap apa adanya. Berbeda dengan dirinya yang selalu berias glamor hingga rambutnya saja berwarna coklat terang.


"Lalu kau akan membawa kemana kotak bekal itu?" tanya Joana lagi.


"Tentu saja aku akan memberikannya untuk Tuan-"


"Tuan siapa?" Joana menelisik curiga karena Veronica tidak melanjutkan perkataannya.


"Ah, bukan untuk siapa-siapa. Ini akan kuberikan untuk Elie," kilahnya.


"Elie?" Joana semakin bingung. "Bukankah Elie masih berbulan madu dengan suaminya?" Dan kecurigaan Joana kian bertambah.


"Hahaha...." Veronica tertawa untuk menutupi kebodohannya. "Aku lupa, ini akan kuberikan untuk security di agensi kita."


"Sejak kapan kau perhatian dengan security di agensi kita?" Joana mendelik. "Ehm, semakin mencurigakan saja, batinnya.


Veronica tidak bisa berkilah lagi. Joana benar-benar wanita yang menyebalkan. "Ehm.... itu.... aku...."


"Jangan katakan kau sengaja memasak untuk pria yang menyelamatkanmu tadi malam? Tuan Daren bukan?" Joana tersenyum menggoda.


"Astaga, kau benar-benar menyebalkan Joana!" Veronica yang kesal pun melemparkan sendok hingga mengenai bahu Joana.


"Aduh...." Joana mengaduh sembari mengusap bahunya yang terkena lemparan sendok. Sebelum kemudian ia tertawa terbahak-bahak karena melihat Veronica yang ketahuan olehnya. Tadi malam Veronica sudah menjelaskan siapa pria yang menyelamatkan temannya itu. Ia tidak menyangka jika pria itu adalah asisten dari Tuan Arthur. Pantas saja Veronica tidak sakit hati ketika diselingkuhi, temannya itu mungkin sudah berpaling dari Cade beralih pada Tuan Darren.


To be continue


Veronica



Joana



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...