
Mike beserta Matthew sudah kembali ke Kota Wales Inggris dua hari yang lalu. Dan sore ini mereka memutuskan akan mengunjungi kediaman Keluarga Romanov di Kota London. Jujur saja, baik Matthew dan Aprille begitu merindukan kedua sahabatnya itu. Mereka ingin melihat reaksi keduanya pada saat mengetahui jika mereka masih hidup.
"Mei sayang, sedang apa? Kenapa hanya sendirian saja disini? Dimana kakakmu?" Mommy Aprille menghampiri putrinya yang berdiam diri balkon, tidak lupa Daddy Matthew berada di belakangnya dengan mendorong kursi roda sang istri. Begitu mendapati putrinya hanya seorang diri di balkon, Mommy Aprille dan Daddy Matthew buru-buru menghampiri Meisha. Mereka cemas jika Meisha akan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya sendiri.
Karena kecemasan yang berlebihan itu, kini Daddy Matthew sudah berada di sisi Meisha, merangkul pundak putrinya itu lalu menggeser posisi putrinya untuk menjauh dari pagar pembatas balkon.
"A-aku hanya ingin menghirup udara segar Mom... Dad..." Meisha nampak menyahut dengan polos, ia bingung mendapati kedua orang tuanya yang tampak mencemaskan dirinya. "Aku tidak tau dimana Kak Mike, tadi aku melihatnya bersama Nath di halaman," sambungnya tersenyum manis. Senyum yang sudah tidak pernah diperlihatkan sejak sebelas tahun yang lalu dan kehadiran kedua orang tuanya membantu pemulihan Meisha lebih cepat dari yang dibayangkan. Bahkan dokter yang selama ini menangani wanita itu begitu tidak percaya apa yang dilihatnya. Pasiennya kini sudah menjadi jauh lebih baik dan dapat beraktivitas di luar ruangan, meskipun harus di dampingi seseorang yang menjaganya.
Mommy Aprille mengangguk. "Mungkin mereka berada di ruangan kerja." Mengurus Meisha dan mencari keberadaan dirinya serta sang suami bukankah hal yang mudah. Putranya itu masih harus mengurusi perusahaan yang ditinggalkan selama beberapa hari ini. "Mei sayang...." Dan tangan Mommy Aprille terulur membelai rambut Meisha. "Mom dan Daddy akan pergi mengunjungi Bibi Elle dan Paman Vier, apa kau masih ingat dengan mereka, hm?"
Meisha terdiam sejenak, nampak tengah berpikir keras. Rasanya tidak asing dengan kedua nama itu, tetapi kendati demikian ia sulit sekali untuk mengingat.
"Paman Vier dan Bibi Elie adalah orang tua dari Elie, teman baikmu. Apa sekarang kau sudah ingat sayang?" Mommy Aprille harus bersabar dengan putrinya. Ia tidak ingin membuat Meisha terbebani dengan keinginannya mengunjungi kedua sahabatnya itu. Ia sudah mengetahui jika Meisha masih membutuhkan waktu untuk melihat dunia luar kembali dan berinteraksi seperti semula layaknya baby yang baru di lahirkan.
"Elie?" sahut Meisha bergumam. Nampaknya tiba-tiba ia teringat sesuatu ketika nama Elie disebutkan oleh Sang Mommy.
"Benar sayang, Elie. Apa kau sudah mengingat teman baikmu itu?" Mommy Aprille mencoba untuk membuat Meisha bisa mengingat kebersamaan putrinya dengan Elie.
Kepala Meisha nampak mengangguk ragu. Ingatan akan gadis belia yang selalu menemani dirinya terlintas di kepalanya. Dan terselip kerinduan yang menyusup di hatinya yang kesepian. "Aku merindukan Elie, Mom. Ta-tapi...." Meisha mendadak ragu untuk mengungkap apa yang ingin ia sampaikan.
"Ada apa sayang?" Sudut mata Mommy Aprille melirik ke arah suaminya yang sedari tadi memperhatikannya berbicara dengan Meisha. Mereka tahu jika Meisha masih sulit bertemu dengan orang lain dan mereka akan memaklumi hal itu. "Jika Mei masih tidak ingin bertemu dengan orang lain tidak masalah. Kita bisa mengunjungi mereka lain waktu. Yang terpenting putri Mom tidak terbebani dan tidak merasa takut lagi." Senyum Mommy Aprille sungguh menyejukkan, membuat Meisha yang melihatnya merasa nyaman.
"Aku tidak apa-apa Mom. Bukankah sekarang aku sudah pulih. A-aku tidak ingin terkurung lagi, aku juga ingin seperti wanita-wanita lainnya. Bermain dan bertemu dengan teman-teman." Akhirnya Meisha menyuarakan isi hati yang terpendam selama ini. Terkurung di dalam Mansion hanya memperlambat kondisinya untuk pulih lebih cepat.
Mommy Aprille dan Daddy Matthew saling melemparkan pandangan. Seulas senyum terbit di bibir keduanya. Putri mereka benar-benar sudah dalam kondisi yang baik.
"Baiklah, Mom akan mengatakan pada kakakmu jika kita jadi pergi mengunjungi Paman Vier dan Bibi Elle." Meisha hanya mengangguki perkataan Mommy-nya.
"Tapi Mom, apa Nath juga ikut bersama kita?" tanya Meisha memastikan. Ia ingin Nathan ikut bersama mereka, sebab selama ini Nathan selalu menjaga dirinya.
"Nath?" sahut Mommy Aprille. "Maksudmu Asisten Nathan?" Dan Meisha kembali mengangguk. "Tapi Nathan pasti sangat sibuk sayang. Dia harus membantu kakakmu di perusahaan."
"Tapi aku ingin Nath menjagaku Mom. Selama Kak Mike sibuk, Nath yang selalu menemaniku." Raut wajah Meisha nampak kecewa. Dan itu menimbulkan rasa tidak nyaman ketika Aprille dan Matthew melihat wajah mendung putri mereka.
"Baiklah, Mom akan bertanya pada Nathan. Semoga saja dia bisa ikut." Mommy Aprille tersenyum. Meskipun ia tidak tahu apakah Nathan bisa ikut bersama dengan mereka atau tidak. Tetapi ia akan mengusahakan agar Nathan dapat menemani mereka dan menjaga Meisha.
"Terima kasih Mom. Biar aku yang bicara dengannya." Senyum sumringah tercetak jelas di wajah Meisha yang cantik. Wanita itu segera berlalu dari sana dan sepertinya akan menemui Nathan yang entah berada dimana.
Mommy Aprille menghela napas panjang. Ia mendongak menatap suaminya yang juga tertunduk menatapnya.
"Sepertinya Mei menyukai Nathan. Aku hanya takut itu akan membebani Nathan dan pada akhirnya putri kita yang akan kecewa." Guratan kecemasan memenuhi wajah cantik Mommy Aprille. Sebagai seorang ibu hal yang menyakitkan adalah ketika melihat harapan putrinya harus pupus di tengah jalan.
Merasakan kegelisahan istrinya, Daddy Matthew mengusap kedua bahu Mommy Aprille. Menyalurkan ketenangan untuk sang istri. Ia pun merasakan hal yang sama, tetapi tidak ingin terlalu menunjukkan kecemasannya. Biarlah Meisha melakukan apa yang ingin di lakukan, ia akan mendukung penuh apapun yang di inginkan oleh putrinya. Sekalipun ia harus memaksa Nathan agar terus berada di sisi Meisha. Katakanlah ia egois, tetapi hanya itu yang dapat di lakukan agar putrinya bahagia.
***
Kedua alis Mike menyatu disertai kening yang berkerut dalam. Kenapa disaat Meisha sudah pulih benar, adiknya itu justru mengekori asistennya, Nathan. Kemana adiknya yang dulu selalu mengekor padanya dan merengek jika menginginkan sesuatu?
"Tapi kau harus berjanji ikut denganku, Dad dan Mommy akan mengunjungi Paman Vier dan Bibi Elle. Tetapi sebenarnya aku masih sedikit takut bertemu dengan orang lain." Meisha bersikeras untuk tetap mengajak Nathan. Bahkan ia mengabaikan kakaknya sedari tadi yang terlihat kesal. Selama satu tahun ini, ia sudah merasa aman berada di dekat Nathan. Jadi jangan salahkan dirinya jika ia mengajak Nathan untuk menjaganya.
"Baik Nona. Saya akan mengikuti apapun yang dikatakan oleh Tuan Mike. Sebaiknya Nona tanyakan pada Kakak Nona, apa saya perlu ikut atau tidak." Nathan menjawab tanpa menoleh ke arah Mike. Sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan tuannya itu.
Mendengar penuturan Nathan, sontak saja pandangan Meisha menemui Mike. Wanita itu memelototi kakaknya seolah meminta persetujuan, tetapi tidak membiarkan kakaknya itu untuk menolak permintaannya.
"Kak Mike, bagaimana?" tanyanya memasang wajah polos dan penuh harap.
Mike mendesahkan napasnya ke udara. Ia bisa saja menolak permintaan adiknya. Karena jujur saja, ia baru akan menyuruh Nathan untuk kembali ke perusahaan siang ini. Tetapi mendengar permintaan Meisha membuatnya harus berpikir ulang untuk menyuruh Nathan ke perusahaan. Adiknya itu pasti akan sangat kecewa jika ia tidak mengizinkan Nathan ikut menemani.
"Baiklah, Nathan boleh ikut menemanimu," putus Mike pada akhirnya. Dari pada ia harus melihat kekecewaan di wajah Meisha. Dan tidak ingin senyum yang beberapa hari ini di tunjukkan adiknya kembali meredup.
Meisha mengembangkan senyumnya. Pandangannya kemudian kembali menemui Nathan. "Kau dengar Nath. Kak Mike mengizinkanmu untuk ikut bersamaku, karena itu kau tidak bisa menolak."
"Iya Nona, saya mendengarnya. Saya akan menemani Nona."
Meisha semakin mengembangkan senyumnya dan hal itu dimanfaatkan oleh Nathan untuk menatap adik dari tuannya. Terpana? Tentu saja, senyum itu tidak pernah di tunjukkan kepadanya selama ini.
"Eheemm!" Deheman Mike membuat Nathan kembali menunduk. Ia seolah malu karena tertangkap basah memerhatikan Meisha. "Lebih baik kau kembali ke kamarmu Mei. Kak Mike dan Nathan masih memiliki pekerjaan."
"Baiklah...." Meisha beranjak berdiri. Ia segera keluar dari ruangan kerja setelah tujuannya sudah diiyakan.
Berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Nathan kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak ingin tuannya membahas sesuatu yang ia sendiri tidak memiliki jawabannya.
Mike hanya menggelengkan kepala. Ia pun tidak ingin bertanya apapun kepada Nathan. Sorot matanya tersita pada ponselnya yang baru saja mendapatkan pesan masuk. Tangannya menggapai ponsel dan segera membuka pesan tersebut, kedua matanya seketika membulat penuh dan rahangnya mengeras.
"Apa-apaan ini?! Sebenarnya kau dekat dengan siapa saja Sweetheart? Kenapa kau bersama dengan pria lain lagi?" Emosi Mike terkumpul, nyaris saja ia membanting ponselnya. Pesan yang baru saja di kirim oleh anak buah tidak membuatnya senang, justru meradang. Beberapa hari yang lalu saat di Rusia ia mendapati berita portal mengenai kedekatan Elie dengan pembisnis muda dan hari ini ia kembali mendapati Elie bersama dengan pria muda lainnya. Sungguh Mike tidak akan membiarkan wanitanya bersama dengan pria lain. Ia harus merebut kembali wanitanya dan menyusun rencana yang sangat matang.
"Nath, jalankan rencana seperti yang kusuruh kemarin!" katanya tak terbantahkan.
Nathan yang sedari tadi diam memperhatikan hanya bisa tercengang. "Tuan benar-benar ingin melakukannya?"
"Ya, lakukan saja Nath. Jangan banyak bicara lagi!"
"Baiklah...." Nathan pasrah dan hanya bisa menuruti apapun perintah dari atasannya.
To be continue
Karena identitas babang Mikel udah ketahuan, jadi Yoona nulis babang Mikel jadi Mike aja ya.
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...