
Sudah satu Minggu berlalu setelah Veronica kembali dari Bristol. Hubungannya dengan Darren semakin dekat, bahkan semakin intens berkomunikasi. Jika dulu Darren selalu tidak peduli pada setiap pesan yang dikirimkan olehnya, kini Darren selalu membalas pesannya meskipun singkat dan terlambat membalas lantaran kesibukan pria itu. Seperti hari ini, sudah sejak pagi wanita itu mengirim pesan, akan tetapi baru di balas di saat waktu makan siang. Lalu ia mencoba kembali mengirim pesan untuk kesekian kalinya.
"Aku sedang makan siang bersama Elie dan Helen di restauran galvin at windows. Apa kau akan datang kemari?"
Begitu pesannya terkirim, Veronica kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Namun dentingan ponsel tanda pesan masuk membuat wanita itu mengambil ponselnya kembali.
"Aku akan kesana setelah pekerjaanku selesai. Makanlah yang banyak agar memiliki tenaga untuk berteriak seperti biasanya."
Bibir Veronica mencebik setelah membaca pesan dari Darren. Pria itu benar-benar tidak romantis dan justru selalu mengejek dirinya. Tetapi decakan lidahnya sesaat berubah dengan kulumann senyum, Darren membalas pesannya secepat ini tentu ia sangat senang. Meskipun dari banyaknya pesan, hanya pesan yang baru ia kirim yang di balas oleh pria itu.
Wajah berseri Veronica tentu saja menyita perhatian Elie serta Helena yang memang merasa aneh sedari tadi mereka perhatikan. Veronica hanya sibuk dengan ponselnya dan menyahut seadanya.
"Vero, apa ada sesuatu yang membuatmu senang?"
Senyum Veronica memudar seiring ia terperangah dengan pertanyaan Elie.
"Hm... Ya, aku sedang senang." Ia menjawab jujur sembari meletakkan ponselnya di atas meja tanpa membalas pesan dari Darren.
"Benarkah? Apa yang membuatmu senang?" Dan Helena turut bertanya. Ia terlihat begitu antusias setiap kali mendengar cerita yang dilontarkan oleh Veronica. Tak jarang sikap Veronica yang terbilang cukup bar-bar itu selalu menimbulkan gelak tawa mereka.
"Hmm..." Veronica menggaruk pelipisnya, ia meragu untuk berbicara yang sebenarnya. Namun detik kemudian ia menghembuskan napas panjang, untuk apa ia menyembunyikan berita bahagia dari kedua temannya itu. "Setelah sekian lama akhirnya aku berhasil mendapatkan pria yang kuinginkan dan dia juga membalas perasaanku," ucapnya pada akhirnya memilih terbuka pada kedua wanita cantik di hadapannya itu.
"Benarkah itu?" seru Helena semakin antusias. Tentu hal itu adalah kabar yang membahagiakan. "Tapi aku baru tau jika kau selama ini menyukai seseorang. Kupikir kau menikmati kesendirianmu." Memang diantara mereka, Helena yang belum lama mengenal Veronica, sehingga ia tidak begitu tahu banyak mengenai wanita itu.
"Hmm, begitulah. Setelah aku lepas dari pria berengsek, aku mendapatkan pria idamanku." Bibir Veronica mengembang sempurna kala mengingat pertemuan-pertemuan tidak sengaja dengan Darren.
Helena yang mendapati rona bahagia pada wajah Veronica tentu turut bahagia. Dan rasanya sangat menyenangkan dan membahagiakan memiliki teman seperti Veronica dan adik ipar seperti Elie. Mengingat sejak dulu ia tidak benar-benar mendapatkan seorang teman yang benar-benar tulus padanya.
Berbeda dengan Helena yang nampak antusias. Kedua mata Elie memicing tajam setelah mendengar pernyataan Veronica yang telah berhasil mendapatkan pria yang lama diincarnya. Siapa? Apakah dugaannya benar atau salah?
"Apa aku mengenal pria itu, Vero?" tanyanya masih dengan mata yang memicing penuh selidik. "Beberapa hari terakhir aku tidak mendengar kau menceritakan pria itu lagi, kupikir kau sudah menyerah." Selama ini Elie memang menjadi tempat curahan wanita itu. Tetapi beberapa hari belakangan ini, ia dan Veronica jarang bertemu sehingga fakta tersebut membuatnya terkejut. Tetapi melihat wajah bahagia Veronica, ia pun turut senang. Hanya saja ia masih penasaran siapa pria yang disukai Veronica hingga selama itu. Benarkah Darren? Mengingat ciri-ciri yang dimaksud oleh Veronica merujuk pada pria yang sudah ia anggap sebagai adik.
Veronica tersenyum canggung mendengar perkataan Elie. Selama ini ia memang bercerita mengenai pria incarannya kepada Elie melalui sambungan telepon. Tetapi ia tidak pernah memberitahukan siapa pria itu. Malu? Ya, alasannya karena malu jika ia sesumbar itu menginginkan Darren, sementara sikap pria itu seolah tidak mempedulikan keberadaannya. Sehingga ia yang tidak percaya diri merahasiakan siapa pria yang berhasil mencuri hatinya dari Elie.
"Hm, sebenarnya kalian berdua sangat mengenalnya," cicit Veronica ragu-ragu. Ia menunggu reaksi keduanya. Mungkin akan sangat terkejut, pikirnya.
Hah. "Benarkah?" Benar bukan, baik Elie dan Helena kompak terperangah.
"Siapa?" Helena tidak dapat menebak siapa pria yang telah menjadi kekasih Veronica. Berbeda dengan Elie yang sudah dapat menebaknya.
"Jadi benar dia? Kau benar-benar bisa menaklukan pria kaku sepertinya? Kuakui kehebatanmu, Vero!" Elie memberikan dua jempol untuk teman baiknya itu. Siapa yang akan menduga jika pria seperti Darren akan jatuh ke dalam pesona Veronica yang merepotkan dan terkadang menyebalkan.
Veronica tersenyum bangga. Bahkan wanita itu menaik-turunkan kedua alisnya. "Terima kasih pujiannya, Elie. Usahaku selama ini tidak sia-sia."
"Tunggu sebentar. Aku benar-benar tidak mengerti siapa pria yang kalian bicarakan." Helena masih bingung. Jelas, sebab ia tidak pernah mendengar curahan hati Veronica.
"Kau akan segera tahu Helen," ujar Elie menjawab lebih dulu usai meneguk orange juice miliknya, disandarkannya punggung pada sandaran kursi. "Sebentar lagi kau akan melihatnya." Ya, sebab sudah saatnya makan siang. Jika Arthur datang untuk menemui Helena, maka Darren sudah pasti akan mengekori kakaknya itu.
Meskipun masih dilanda rasa penasaran, akan tetapi Helena hanya mengangguk saja. Ia akan menunggu pria itu datang seperti apa yang dikatakan oleh Elie.
Veronica terkekeh kecil. Ternyata Elie sudah dapat menduga jika Darren akan datang menemui dirinya.
Dan benar saja selama beberapa menit saja langkah tegas tiga pria berjalan beriringan memasuki privat room. Aroma maskulin menyeruak di indera penciuman ketiga wanita cantik itu, tentu mereka sudah sangat familiar dengan aroma tubuh pria yang mereka cintai.
"Hai, Sweetheart. Maaf membuatmu lama menunggu." Mike berjalan menghampiri Elie lebih dulu, lalu mengecup bibir istrinya itu seperti yang biasa pria itu lakukan.
Elie mengulas senyum. "Tidak apa-apa. Aku menikmati waktuku bersama Helen dan Vero." Mike hanya mengangguk, lalu mengambil kursi tepat di sisi istrinya.
"Apa kau mual lagi, hm?" Arthur baru saja melabuhkan tubuhnya di salah satu kursi yang berada di sisi Helena. Mengecup singkat bibir Helena, lalu bertanya yang membuatnya cemas belakangan ini. Sebab istrinya itu selalu memuntahkan apa saja yang baru saja masuk ke dalam perut istrinya.
"Tidak." Helena menjawab dengan diiringi senyuman, berhadap akan mengurangi kecemasan di raut wajah suaminya itu. "Aku baru saja menghabiskan semua pesananku." Ya, siang ini ia tidak memuntahkan apa yang baru saja ia makan. Bahkan ia sangat menikmati makan siangnya. Grilled Dry Aged Robeye with Crispy Potatoes. Apple Tarte Tatin, Calvados with Vanilla Ice Cream. Fruit Salad with Yogurt adalah pesanan yang sudah ia lahap dengan nikmat tanpa keluhan mual-mual.
Mendengar jika istrinya menikmati makan siangnya membuat Arthur menipiskan bibirnya tanda tersenyum.
"Kenapa diam saja? Apa kau tidak lelah berdiri saja disana?" cetus Veronica menyindir telak Darren.
"Ya!" Tanpa banyak berkata, Darren membenamkan tubuhnya tepat bersisian dengan Veronica.
Sungguh Veronica sangat gemas dengan Darren. Come on, saat ini status mereka sudah berubah menjadi sepasang kekasih. Tidak bisakah pria itu bersikap layaknya seperti Tuan Arthur dan Tuan Mike terhadap istri-istri mereka? pikirnya.
Pesanan ketiga pria tampan itu sudah diletakkan di atas meja oleh dua waiters wanita. Mereka segera menikmati makanan yang mereka pesan usai kedua waiters wanita itu meninggalkan privat room.
"Kau harus banyak makan. Pasti lelah menghadapi dokumen-dokumen yang tidak ada habisnya itu." Veronica secara terang-terangan memberikan perhatian kepada Darren yang masih mempertahankan wajah datarnya.
"Uhukk... uuhuk...." Mike tersedak mendengar perkataan Veronica yang tertuju pada Darren. "Ada apa ini? Apa kalian memiliki hubungan?" tanyanya kemudian begitu penasaran dan menuntut jawaban segera.
Berbeda dengan reaksi Arthur yang sudah mengetahuinya. Sejak di Bristol ia sudah mengawasi Darren dan laporan dari salah satu anak buahnya itu membuatnya takjub. Sebab teman sekaligus asistennya itu sudah move on dari Elie. Tentu Darren berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan ia mendukung Darren dengan wanitanya.
"Hm, seperti yang kau lihat." Darren tidak menjawab YA ataupun TIDAK. Terdengar ambigu dan membuat Mike tidak puas mendengar jawabannya.
"Jadi Darren adalah pria yang kalian bicarakan?" pekik Helena cukup terkejut. Sebab keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda kedekatan.
"Tepat sekali." Elie berseru membenarkan, mewakili penjelasan yang baru saja akan di katakan oleh Veronica.
"Ahhh, aku tidak menyangka sebelumnya." Helena masih terperangah dengan keterkejutannya. "Tapi kalian berdua benar-benar cocok. Benar 'kan Honey?" katanya kemudian mencari pembenaran akan perkataannya pada suaminya. Yang segera dijawab anggukan kepala oleh Arthur.
Veronica tersenyum lebar mendengar jika dirinya dan Darren terlihat cocok. "Terima kasih," sahutnya senang.
"Kalau begitu selamat untuk kalian." Mike memberikan ucapan selamat. Ia pun turut senang. "Tapi kapan kalian mulai bersama?" Masih saja pria itu penasaran, tentu saja ia harus bertanya. Hohoho.
"Satu minggu yang lalu di Bristol." Darren menyahut datar. Tidak berniat menutupinya dan baru saja ia mempublikasikan hubungannya dengan Veronica.
"Wah, benarkan?" Kembali Mike berseru. "Jadi malam itu kau menghilang untuk mencarinya?" Senyuman Mike menggiring pada sebuah ejekan. Ia ingat benar jika malam itu tiba-tiba saja Darren menghilang dan tidak langsung kembali ke hotel.
Darren mengangkat kedua bahunya acuh sebagai jawaban. Ia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Menyisakan tanda tanya di benak mereka. Tetapi mereka lebih memilih tidak memperpanjang, sebab baik Darren dan Veronica memiliki privasi.
Dan kemudian mereka menghabiskan waktu makan siang diselingi percakapan mengenai hubungan Darren dan Veronica. Sesekali mereka tertawa akan sikap Veronica yang lebih aktif berbicara dan bahkan tidak malu menggoda Darren.
"Aku ingin ke toilet." Helena menyela percakapan mereka, berpamitan untuk ke toilet.
"Biar aku temani." Elie dengan sigap akan menemani kakak iparnya itu.
Helena beranjak dari duduknya setelah mendapatkan persetujuan dari Arthur. Keduanya berjalan menuju toilet yang berada di luar private room.
Baru saja mencapai toilet, bahu Helena tidak sengaja bertabrakan dengan lengan seorang pria yang lebih tinggi darinya.
"Helen, kau baik-baik saja?" Buru-buru Elie mendekati Helena dan mengurungkan langkahnya menuju toilet lebih dulu.
"Aku baik-baik saja, Elie," jawab Helena menenangkan Elie.
"Maaf Nona. Aku tidak sengaja." Pria itu meminta maaf akan kesalahannya.
"Tidak apa." Setelah menyahuti pria itu, Helena segera berlalu meninggalkan pria itu dengan Elie yang berada disisinya. Tanpa ingin melihat jelas pria yang tidak sengaja bertabrakan dengannya.
"Jadi dia istri dari pria sialan itu?" Pria tersebut masih menatap jejak bayangan Helena dan Elie dengan seringai senyum.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...