The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Terbakar Cemburu



Sam's Riverside Restauran, Crisp Walk London.


Veronica terperangah untuk beberapa saat ketika ia baru saja turun dari mobil. Ia menatap bangunan yang cukup mewah itu lalu kembali mengarahkan pandangan pada sosok teman baiknya, Larry.


"Kau benar-benar ingin menteraktirku di Sam's Riverside, Larry?" Veronica bertanya memastikan, sebab ia sangat tahu keuangan Larry. Meski mendapatkan gaji yang cukup, akan tetapi Larry selalu berhemat untuk membayar kebutuhan lain, seperti biaya tagihan mobil dan apartemen yang di tempati pria itu.


Larry tersenyum bangga, sudah cukup membuktikan jika ia benar-benar serius ingin menteraktir teman baiknya di restauran bintang empat itu. Meski bukan bintang lima, akan tetapi Sam's Riverside Restauran cukup mahal untuk kalangan biasa seperti Larry dan Veronica.


"Sudahlah, masuk saja. Kau boleh memesan apapun sepuasmu. Aku akan membayarnya." Larry kemudian merangkul pundak Veronica. Meskipun ragu, wanita itu menyeret langkahnya mengikuti Larry.


"Ok, tapi jangan menangis jika uangmu habis dan kau tidak bisa membayar biaya tagihan mobilmu." Setidaknya Veronica sudah mengingatkan Larry.


Larry terkekeh. "Aku bisa meminjam uangmu."


"Cih, aku tidak memiliki uang sebanyak dirimu." Meski berkata demikian, jika Larry membutuhkan uang, maka ia akan meminjamkan uangnya. Seperti Larry yang selalu ada disaat ia membutuhkan bantuan.


Di sepanjang memasuki Restauran, keduanya tidak henti saling melemparkan candaan. Bahkan beberapa pengunjung melihat mereka sebagai pasangan kekasih yang begitu mesra.


"Silahkan menunya." Seorang waitress wanita memberikan dua menu kepada Veronica dan Larry.


Keduanya segera memilih makanan sesuai selera mereka. Bahkan Larry memesan menu kesukaan Veronica. Hari ini ia memang ingin memanjakan temannya itu.


"Kenapa kau tidak berkencan dengan Vallen?" Sungguh sebenarnya Veronica heran dengan sikap Larry, sebab pria itu lebih memilih bersamanya alih-alih bersama dengan Vallen.


"Dia sudah sering bersamaku. Apa salahnya jika aku menyenangkan temanku yang kesepian ini." Kedua alis Larry naik turun, menggoda Veronica.


Veronica yang mendengar alasan Larry hanya berdecih. "Aku tidak kesepian, biasanya Joana selalu menemaniku ke Club. Dan nanti malam kita berencana untuk ke Club."


"Apa kalian akan mencari pria di Club?" Meski belum pernah bertemu dengan Joana, tetapi menurut cerita yang ia dengar dari Veronica, Joana gemar sekali mencari pria di Club.


"Tidak. Aku dan Joana hanya berkenalan dengan beberapa pria saja. Salah satunya Levin, dia bartender di Ministry Of Sound Club."


"Dia pasti tampan." Larry asal menebak dan dibenarkan oleh Veronica.


Meski hanya seorang bartender, akan tetapi Levin termasuk pria yang terbilang tampan. Tidak jauh berbeda dengan Larry.


Percakapan mereka terjeda saat waitress mengantarkan pesanan mereka. Oyster, lamb, souffle, bloody mary and blackcurrant ice cream sudah tersaji di atas meja. Semua menu itu sengaja dipesan untuk Veronica, sementara Larry hanya memesan lobster and crab croll saja dengan minuman bloody mary.


Veronica tidak sabar ingin segera mencicipi menu di hadapannya. Ia segera melahap satu persatu makanan yang sungguh menggiurkan itu.


"Larry, semuanya sangat lezat," serunya setelah wanita itu menikmati menu terakhir yaitu blackcurrant ice cream.


Melihat temannya sudah menghabiskan makanannya, Larry mengembangkan senyumnya. Ia selalu senang melihat Veronica yang memiliki napsu makan besar. "Apa kau ingin pesan lagi?" tanyanya memastikan. Siapa tahu saja Veronica masih lapar dan ia tidak keberatan jika wanita itu kembali memesan makanan.


"Kau gila, Larry. Apa kau tidak lihat perutku sudah sedikit membesar," serunya mencebik dengan mata yang memelototi Larry.


"Tidak masalah. Asalkan wajahmu tetap cantik."


"Ck...." Malas menanggapi, Veronica hanya mendecakkan lidahnya dengan sebal. "Setelah ini kita akan pergi kemana?" Rencana mereka akan pergi bersama hingga sore hari. Tetapi Veronica tidak mengetahui rencana Larry selanjutnya.


Larry diam nampak berpikir. "Bagaimana jika kau temani aku membeli beberapa pasang sepatu."


"Baiklah. Karena kau sudah berbaik hati menteraktirku, maka aku akan menemani kemanapun kau pergi."


"Astaga, kenapa dia juga berada disini?" gumamnya membuang muka. Ia seperti telah dipergoki sedang berselingkuh saja. Padahal ia hanya sekedar makan siang. Lagipula bukankah pria itu juga sedang bersama dengan seorang wanita.


"Cih...." Veronica mencebik sebal. Hatinya tiba-tiba saja memanas. Terlebih wanita yang bersama dengan pria itu begitu cantik, kulitnya seputih susu dengan rambut panjang yang bergelombang di bagian ujungnya. "Apa wanita itu yang bernama Keiko?" gumamnya tersenyum kecut. Jika dibandingkan dengan dirinya jelas berbeda. Kulitnya kuning keemasan dengan wajah Eropa. Sedangkan wanita itu benar-benar cantik khas Asia.


"Vero, ada apa? Apa kau masih ingin berada disini?" Larry menatap aneh pada temannya. Padahal ia sudah beranjak berdiri, akan tetapi Veronica masih setia di tempat duduknya.


"Ah, iya..." Karena tersentak kaget, Veronica buru-buru beranjak berdiri. Ia menyambar sling bag miliknya lalu menggantungkan di pundaknya. "Ayo Larry, kita pergi dari sini. Tiba-tiba saja aku merasa panas." Veronica melingkarkan tangannya di lengan Larry.


Larry merasa aneh, meskipun kerap kali mereka melakukan skin touch, akan tetapi tidak biasanya Veronica terlihat agresif padanya. Namun ia mengikuti langkah Veronica, tanpa menyadari jika sebenarnya wanita itu tengah terbakar cemburu.


"Larry, tunggu." Baru saja mencapai depan pintu, Veronica menghentikan langkahnya, hingga dengan terpaksa langkah Larry pun ikut terhenti.


"Ada apa?" tanyanya heran.


"Cade. Pria berengsek itu berjalan kemari." Pandangan Veronica tertuju pada sosok Cade yang baru saja turun dari mobil bersama seorang wanita. Bukan Barbara, melainkan wanita asing yang entahlah.


"Apa? Cade?" Kemudian Larry mengikuti arah pandang Veronica, ia tertegun mendapati mantan dari Veronica menggandeng mesra seorang wanita cantik.


"Aku tidak ingin berpapasan dengannya." Jika mengingat percintaan Cade dengan Barbara di kabin kapal pesiar saat itu membuatnya kembali merasakan mual.


"Kalau begitu kita keluar lewat pintu lain saja." Kebetulan sekali ada waitress yang melintasi mereka, sehingga Larry bertanya kepada waitress wanita itu tersebut.


"Pintunya ada di sebelah sana, Tuan," kata waitress itu sembari menunjuk pintu yang membentang lebar menuju jalan keluar selain pintu utama restauran.


"Ah, terima kasih banyak," sahut Larry merasa terbantu. Waitress tersebut mengangguk dan segera undur diri dari sana. "Ayo, kita keluar melalui pintu disana saja," ujarnya menarik pergelangan tangan Veronica agar wanita itu mengikuti langkahnya.


Veronica yang sedang dalam keadaan panik karena tidak ingin bertemu dengan Cade, tidak begitu pedulikan keberadaan pria yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Yang ada di pikiran Veronica saat ini hanya ingin menghindari mantan kekasihnya yang berengsek. Sebab beberapa hari yang lalu, pria itu mendatangi apartemennya. Akan tetapi ia tidak menanggapinya, terlebih membukakan pintu untuk mantan berengseknya. Wanita itu berusaha menghindar dengan baik.


"Darren, ada apa?" Suara lembut Keiko mengalun indah di telinga Darren.


Darren sontak mengalihkan pandangannya dari punggung wanita yang sudah menjauh itu.


"Tidak apa. Habiskan makanan Nona, lalu kita segera pergi dari ini, karena aku masih memiliki pekerjaan yang lain." Darren berucap dengan dingin, sehingga membuat tubuh Keiko menegang. Padahal ia hanya bertanya baik-baik.


Kenapa sejak tadi pagi dia bersikap dingin padaku? batinnya sendu.


To be continue


Veronica



Larry



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...