
Arthur serta Darren saling bersitatap. Mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Elie, terutama Darren karena ia berada di tempat kejadian dan tidak terdapat Mike disana. Tentu tidak ada, karena siapapun berpikir jika Mike sudah mati.
Pandangan Arthur kemudian kembali kepada Elie, ia menatap lembut. "Sebaiknya kau beristirahat saja Elie, tubuhmu masih lemah."
"Tidak kak." Elie menggeleng lalu berusaha untuk beranjak duduk sehingga Arthur membantunya. "Aku ingin bertemu dengannya." Dan Elie mendorong Arthur agar menyingkir dari sisi ranjang.
"Elie, hei... kau hanya berhalusinasi. Apa kau lupa jika Mike sudah tiada?" Arthur berucap selembut mungkin, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sehingga pasca sadar adiknya justru mencari keberadaan Mike.
Bibir Elie terkatup rapat, ia mencoba memulihkan ingatannya akan perkataan sang kakak. Hingga detik kemudian ia menghela napas panjang. "Tapi aku benar-benar merasakan kehadirannya," tuturnya pelan namun dapat di dengar oleh Arthur serta Darren yang berjarak jauh dari ranjang.
Arthur mengusap lembut puncak kepala Elie untuk menyemangati adiknya itu. Ia menyadari jika selama ini adiknya selalu dirundung rasa bersalah akan sikapnya kepada Mikel di masa lalu. "Dia selalu di sampingmu, karena itu dia melindungimu."
"Aku...."
"Sebaiknya kau beristirahat, Kak Ar akan panggilkan dokter untukmu." Arthur menyela. Ia tidak ingin jika adiknya terlalu banyak berpikir.
"Iya kak...." Elie mengangguk pasrah, ia pun merasakan sakit pada bagian kepalanya akibat benturan di kepalanya.
Arthur kemudian membantu membaringkan Elie lalu menyelimutinya.
"Der...." panggilnya usai memastikan Elie kembali memejamkan mata. "Kita bicara diluar." Tanpa menunggu sahutan dari Darren, Arthur melangkah keluar lebih dulu. Hingga Darren menyusul langkah Arthur dan menutup pintu ruang perawatan.
"Ada apa Ar?" tanya Darren.
Tangan Arthur menyilang di depan dada, punggungnya disandarkan pada dinding. "Apa ada yang ingin kau beritahukan padaku?" katanya menoleh singkat.
Memang tidak ada yang dapat ditutupi dari Arthur. Terbukti pria itu ternyata mengetahui semuanya.
"Kau sudah tau Ar, bukan aku yang menyelamatkan Elie." Sejak awal memang Darren tidak berniat menutupi hal itu kepada Arthur. Namun mereka terlalu sibuk mencari kelompok penyerangan itu sehingga percakapan tersebut mereka lupakan sejenak.
"Aku memang sudah tau sejak awal dan menunggumu memberitahukannya sendiri padaku," ujarnya. "Tapi aku sempat mengira jika kau akan mengambil kesempatan itu untuk menarik simpatikku."
Darren mendecakan lidah. Sudah diduga jika selama ini Arthur sudah menyadari perasaannya. "Apa aku sepicik itu?" sahutnya. Tidak ada dalam di dalam benaknya untuk mengambil kesempatan apapun. Jika ia datang tepat waktu menyelamatkan Elie, ia pun tidak akan meminta imbalan apapun. Karena sudah seharusnya ia melindungi orang-orang tercinta di sekitarnya.
"Bukankah cinta bisa mengubah seseorang." Dan dijawab asal oleh Arthur, sebab yang ia ketahui seperti itu.
"Aku tidak ingin di ceramahi oleh seseorang yang tidak memiliki pengalaman mengenai percintaan."
"Jadi kau berpikir seperti itu tentangku, heh?!" Arthur tidak terima dikatakan demikian, meskipun benar faktanya. Dirinya memang tidak memiliki pengalaman apapun mengenai percintaan, tetapi setidaknya ia sering mendengar pelajaran tersebut dari orang-orang disekitarnya, termasuk kedua orang tuanya.
"Sorry Ar...." Darren tidak ingin memperpanjang. Karena akan tamat riwayatnya jika berani menyinggung Arthur.
Keheningan melingkup usai decakan kesal Arthur. Kini keduanya kembali terdiam. Sebelum kemudian Darren kembali membuka suaranya.
"Kau sudah mengetahui siapa yang menyelamatkan Elie. Lalu apa kau akan membiarkannya mendekati Elie?" Entahlah, Darren justru bertanya yang akan membuat luka di hatinya semakin menganga.
"Simpan pertanyaanmu itu Der, karena jawabanku tetap sama!" sahutnya. Apapun yang dilakukan oleh pria itu, tidak akan mengubah apapun keputusannya. "Sebaiknya kau segera panggilkan dokter," imbuhnya kemudian yang tidak ingin membahas pria itu lebih lama lagi.
Darren mengangguk. Itulah Arthur dengan keras kepalanya. Jika biasanya Arthur akan membiarkan siapapun mendekati Elie. Entah mengapa kali ini Arthur tidak ingin pria yang bernama Mikel mendekati Elie. Tidak ingin banyak berpikir, Darren melangkah pergi untuk memanggil dokter.
Arthur memperhatikan punggung Darren yang sudah berlalu dengan sorot mata yang sulit di artikan.
"Ar....?" Suara langkah kaki lebih dari satu terdengar tergopoh-gopoh menghampiri. Arthur lantas menoleh ke asal sumber suara.
"Mom... Dad...?" Arthur cukup tertegun dengan kedatangan Daddy Xavier dan Mommy Elleana. Sebab ia belum memberitahukan mengenai adiknya kepada kedua orang tuanya.
"Mom dengarkan Ar." Arthur menangkap kedua tangan Mommy Elleana.
"Ar, lepaskan tangan istriku!" Masih saja Daddy Xavier bersikap posesif, sekalipun dengan putranya sendiri. Ia membawa sang istri ke dalam dekapannya.
Arthur menghela napas berat. Bagaimana ia bisa menjelaskannya jika Daddy-nya tidak membiarkan dirinya mendekati Mommy-nya yang perasa halus itu.
"Mom... Dad.... aku harus memastikan keadaan Elie lebih dulu. Aku tidak ingin membuat kalian khawatir dengan kondisi Elie yang seperti ini." Arthur berniat memberitahukan kondisi Elie ketika adiknya itu sudah tersadar, tetapi ia melupakan jika Daddy Xavier tidak bisa diremehkan.
"Tapi apapun alasannya kau harus tetap memberitahu Mommy dan Daddy. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk dengan adikmu." Kedua mata Mommy Elleana sudah berkaca-kaca. Ia benar-benar mencemaskan putrinya itu.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Elie, Mom. Kali ini aku memang gagal melindunginya." Ya, untuk pertama kalinya ia gagal melindungi sang adik. Dan ia pun meruntuki kecerobohannya itu.
"Sweety, temani Elie di dalam." Daddy Xavier menyeka sudut mata istrinya yang basah. Membuat Mommy Elleana mengangguk patuh, ia pun melesat masuk untuk memastikan sendiri keadaan putrinya.
Setelah pintu tertutup rapat. Daddy Xavier menatap Arthur penuh keseriusan. "Sebelumnya kau selalu bisa melindungi adik-adikmu. Apa kali ini kau menghadapi musuh yang lebih kuat dari biasanya?"
"Dad.... aku masih berusaha mencari pelakunya. Aku sudah mengirim Chris untuk memastikannya. Jika kecurigaanku benar, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghancurkan Markas mereka." Arthur tidaklah bodoh. Selama ini ia sudah mengumpulkan bukti-bukti keterlibatan mereka. Jika laporan Chris benar adanya, maka Black Lion harus menyerang.
"Singkirkan siapa pun yang ingin mencelakai putriku," ujar Daddy Xavier.
"Hem... Serahkan padaku Dad."
Percakapan mereka harus tertunda lantaran suara dering ponsel Arthur menyentakkan telinga keduanya. Arthur merogoh ponsel di dalam saku celana, keningnya membentuk kerutan ketika melihat nomor asing yang tertera di layar ponselnya.
Arthur menggulir ikon hijau dan menempelkan ponsel pada daun telinganya. Ia menunggu seseorang di sebrang sana untuk bersuara lebih dulu. Hingga seseorang di seberang telepon sedang menjelaskan, Arthur sontak menatap Daddy Xavier yang juga tengah menatapnya.
"Aku akan kesana. Jangan biarkan mereka melukai As!" sahutnya dingin pada seseorang di seberang telepon, sebelum kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Ada apa dengan As?" Daddy Xavier mendesak jawaban putranya.
"Polisi menangkap As. Aku akan pergi kesana Dad." Arthur memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana sambil berlalu.
Daddy Xavier tidak bertanya lebih, ia mempercayakan semuanya kepada Arthur. "Mereka berani menangkap putraku?" gumamnya mendengkus tidak percaya.
Bertepatan dengan Darren yang sudah kembali bersama satu dokter pria setengah baya dan dua perawat di belakangnya. Darren sempat melihat Arthur yang berlalu pergi.
"Der, pergilah temani Ar," ucap Daddy Xavier setelah dokter serta dua perawat yang akan menangani putrinya masuk ke dalam ruangan.
"Baik uncle." Tanpa bertanya apa yang terjadi, Darren sudah yakin jika ada terjadi sesuatu yang tidak beres.
To be continue
Babang Arthur
...Yoona minta dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...