The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Singkirkan Tanganmu Darinya!



Kota London bertaburkan gemerlap kilau lampu-lampu di sepanjang jalan serta gedung-gedung yang menjulang tinggi. Seperti gedung bertingkat sepuluh yang dikenal The Landmark London Hotel. Malam ini Aurelie tampil sangat cantik dan memukau para pengunjung di hotel tersebut. Awalnya Aurelie enggan datang ke acara tersebut, mengingat hubungan mereka tidak begitu dekat, bahkan keluarga itu terkesan sangat tidak menyukainya. Beruntung Aurelie tidak datang seorang diri, Mandy turut menemani dirinya. Jika saja kaki Veronica sudah dapat berjalan dengan normal, temannya itu sudah pasti akan berdiri paling depan.


"Elie, jika kau tidak yakin masuk, lebih baik kita pergi saja. Tidak perlu menghadiri pertunangan mereka." Mandy mengerti kekhawatiran yang tengah dilanda temannya itu. Menjalani hubungan selama satu tahun bukan waktu yang sebentar, tidak mungkin Elie dapat melupakan Brandon dalam waktu singkat, pikirnya.


Namun berbeda dengan yang dipikirkan Aurelie. Wanita itu sudah tidak peduli lagi dengan Brandon, perasaanya seperti terhempas begitu saja usai hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Sandler, sehingga hatinya tidak begitu sakit ketika hubungan mereka harus berakhir. Dan malam ini justru mantan kekasihnya melangsungkan pertunangan dengan Carmela Born. Hatinya biasa saja mendapatkan kabar tersebut, justru ia menyanggupi permintaan Carmela yang menginginkan dirinya datang untuk melihat kebahagiaan mereka.


Yang menjadi kekhawatiran Aurelie adalah ia hanya takut tidak dapat mengendalikan diri seperti sebelum-sebelumnya. Jika terus-menerus dipancing emosinya, bukan tidak mungkin ia bisa melayangkan tinjunya di depan para tamu yang lain dan hal itu bisa saja mengakibatkan citranya sebagai model yang lembut hancur lebur dalam sekejap saja.


"Tidak Mandy. Kita sudah sampai di sini, tentu saja harus masuk." Aurelie melesatkan senyuman tipis, sebelum kemudian berjalan mendahului Mandy yang masih nampak bingung dengan perubahan raut wajah Elie.


Kemudian Mandy menyusul langkah Elie yang sudah memasuki hotel mewah tersebut. Langkah keduanya kini beriringan menuju atrium yang sudah nampak ramai, tamu yang hadir pun tidak banyak. Karena yang mereka dengar jika Keluarga Born serta Keluarga Sadler hanya mengundang kerabat terdekat saja.



Di dalam sana Aurelie dapat melihat kedua orang tua Brandon yang beramah tamah dengan Carmela. Perlakuan wanita setengah baya itu terhadap Carmela berbanding terbalik ketika memperlakukan dirinya kala itu. Ia tidak di sambut baik oleh kedua orang tua Brandon, berbeda dengan Carmela yang nampak sangat disayang.


Aurelie hanya diam memperhatikan, tangannya bersedekap di depan dada dengan menggenggam sebuah tas kecil berwarna hitam.


"Elie, kau baik-baik saja?" Dan Mandy masih saja mengkhawatirkan Aurelie yang justru hatinya merasa baik-baik saja. Wanita itu saja yang terlalu berlebihan memikirkan Elie yang ternyata perasaanya telah mati untuk pria yang sebentar lagi akan bertunangan itu.


Aurelie tersenyum menanggapi. "Apa kau pikir aku akan menangis, Mandy?" jawabnya. "Tidak Mandy sayang, untuk apa aku menangisi pria sepertinya," katanya masih dengan seulas senyum.


Tentu saja kehadiran Aurelie menjadi pusat perhatian Brandon yang tengah berkumpul bersama keluarga besarnya. Sejak Elie masuk ke dalam atrium, Brandon sudah menajamkan penglihatannya kepada sosok yang tentunya masih menjadi pemenang hatinya. Namun sangat disayangkan, Brandon terlalu pengecut untuk melawan kedua orang tuanya.


Carmela yang bercengkrama dengan Mommy dari Brandon menyelinap memperhatikan calon tunangannya itu. Mengikuti arah pandang calon tunangannya yang ternyata tidak tertuju kepadanya. Senyum yang semula mengembang, kini menyurut lantaran mendapati pandangan Brandon tertuju pada Elie, mantan kekasih pria itu.


"Ada apa sayang?" Tentu hal itu menjadi pertanyaan Nyonya Sandler yang tiba-tiba mendapati wajah calon menantunya murung seketika.


Carmela mengalihkan sejenak perhatiannya dari Elie dan beralih pada Nyonya Sandler. "Tidak apa-apa Mom. Hanya saja aku benar-benar tidak menyukai wanita itu." Lalu tatapannya kembali menghunus tajam kearah Elie.


Nyonya Sandler pun mengikuti arah pandang sang calon menantu. Mendadak raut wajahnya serupa dengan Carmela, memandang tidak suka dan penuh kebencian terhadap wanita yang merupakan mantan kekasih dari putra tersayangnya.


"Kenapa wanita itu berada disini?" gumamnya tidak suka. Sungguh, sejak dulu hingga saat ini, Nyonya Sandler sangat tidak menginginkan bertemu dengan wanita itu.


Carmela mendengar gumaman calon mertuanya. "Aku yang mengundangnya Mom," ucapnya hingga membuat Nyonya Sandler menolehkan kepala ke arah calon menantunya.


"Kenapa kau mengundangnya Carmel? Bagaimana jika dia merusak acara pertunanganmu dengan Brandon?!" Nyonya Sandler tidak habis pikir dengan Carmela. Bagaimana mungkin calon menantunya yang cantik itu mengundang wanita yang mungkin saja berniat buruk terhadap pesta pertunangan mereka.


Carmela tersenyum tipis. Masih memusatkan sorot matanya kepada Elie yang sedang berbicara dengan asisten sekaligus managernya itu. "Tidak mungkin Mom. Aku bisa memastikannya jika wanita itu tidak akan berani merusak acara pertunanganku dengan Brandon."


Nyonya Sandler masih menyimpan keraguan, namun saat melihat senyum sarkastik calon menantunya, ia sedikit paham. "Apa kau memiliki rencana untuk mempermalukannya disini sayang?" tanyanya memastikan. Sungguh, jika memang itu tujuan Carmela mengundang wanita itu, tentunya ia akan mendukung dan bahkan akan ikut terlibat mempermalukan wanita tidak tahu diri itu, pikirnya.


Mendengar pertanyaan dari Nyonya Sandler, Carmela menatap lekat wajah sang calon mertua, sebelum kemudian mengangguk kecil. "Aku hanya ingin memberinya pelajaran Mom."


Bola mata Nyonya Sandler berbinar disertai seringai kecil. "Kau benar-benar calon menantuku yang pintar. Kalau begitu Mommy akan membantumu sayang."


Carmela senang bukan main. Ia sudah sepenuhnya mengambil hati Nyonya Sandler. Tentu hal yang mudah baginya, karena kedua orang tua Brandon menginginkan menantu yang sederajat sepertinya. Karena itu, ia dengan mudah menyingkirkan Elie Cassandra dari sisi Brandon. Terlebih ia sudah tidak memiliki Mommy, sehingga Nyonya Sandler sudah menganggap dirinya seperti putrinya sendiri.


***


Kini acara pertunangan sudah dimulai, pasangan yang nampak sempurna di mata para tamu dan kerabat dekat Keluarga Sandler dan Keluarga Born tengah melakukan tukar cincin. Hingga mendapatkan tepuk tangan meriah dari berbagai tamu di dalam sana. Carmela mengembangkan senyumnya dengan tangan yang melingkar di lengan Brandon. Ia tidak akan membiarkan pria yang malam ini sudah resmi menjadi tunangannya mendekati Elie yang sejak tadi memperhatikan dirinya serta Brandon.


Kau lihat Elie, malam ini Brandon sudah menjadi milikku. Dia tidak akan mungkin kembali lagi padamu.


Tatapan Carmela penuh ejekan kepada wanita bergaun maroon dengan bahu yang terbuka. Carmela mengakui kecantikan wanita itu, bahkan ia benar-benar iri karena Elie selalu menjadi pusat perhatian dimanapun wanita itu berada.


"Carmel, aku kesana dulu." Brandon tiba-tiba berbisik hingga Carmela mendongakkan wajahnya.


"Kenapa? Apa kau ingin menemui mantan kekasihmu?" Dan dijawab tidak suka oleh Carmela.


Brandon diam tidak berkutik. Ternyata niatnya sudah lebih dulu terbaca oleh Carmela.


"Tidak sayang, aku hanya ingin mengambil minum saja." Sebisa mungkin Brandon tidak menunjukkan kegugupannya karena nyaris ketahuan oleh Carmela.


"Kalau begitu kita mengambil minum bersama-sama." Carmela tersenyum, lalu menarik lengan Brandon untuk mengikuti langkahnya. Dirinya tidaklah bodoh, Brandon pasti ingin menemui wanita jalaang itu. Dan tentunya ia tidak akan pernah membiarkannya.


Sementara yang ditatap tidak suka oleh Carmela serta beberapa keluarga Sandler nampak acuh saja. Ia tidak pedulikan banyak mata yang memandang remeh dirinya. Tetap tenang sembari menyesap minuman, tidak baik bukan jika mengabaikan minuman serta makanan yang sudah tersaji.


"Elie, kenapa tiba-tiba saja aku merasa tidak nyaman berlama-lama berada disini?" bisik Mandy. Ia menyadari beberapa pasang mata yang sejak tadi menatap ke arah mereka dengan tatapan yang aneh.


"Abaikan saja. Anggap saja kau adalah seorang artis," sahut Aurelie santai, kembali menyesap minuman non alkohol.


"Ck, kau memang artis. Sedangkan aku bukan," cebik Mandy menegaskan.


"Iya... iyaa, aku lupa." Mandy tersenyum kuda.


"Baiklah, kita ucapkan selamat untuk mereka dan segera pergi dari sini," kata Aurelie meletakkan gelas yang di genggamnya di atas meja.


Mandy mengangguki ucapan Elie, lalu ia pun meletakkan gelas yang sama ke atas meja. Sebelum kemudian mengekor di belakang Elie yang sudah lebih dulu melangkah menuju pasangan yang baru saja melangsungkan pertunangan itu. Namun belum lama melangkah, seseorang menghadang langkah Elie.


"Ck, wanita tidak tau diri!" cetusnya menghina. Bahkan meneliti penampilan Elie dari atas hingga bawah. "Lihatlah penampilanmu yang berkelas ini, pasti kau mendapatkan gaun ini dari menjual tubuhmu bukan?"


Aurelie berdecak malas, ia berusaha untuk tidak tersulut emosi. "Maaf Nyonya Sandler, aku tidak seperti yang Nyonya tuduhkan." Ya, yang menghadang jalannya tidak lain ialah Nyonya Sandler, ibu dari Brandon.


"Ternyata kau seperti itu. Beruntung putraku tidak memilihmu dan kau tidak akan menjadi menantu keluarga kami." Dan Tuan Sandler menimpali, ternyata pasangan suami istri itu sama-sama memiliki mulut tajam dan pedas.


"Maaf Tuan.... Nyonya...." Mandy maju satu langkah. Sungguh ia tidak terima dengan ucapan kedua pasangan paruh baya itu. Sehingga lihatlah, kini mereka menjadi pusat perhatian disana. "Jangan bicara macam-macam tentang Elie. Dia tidak seperti yang-"


"Sudah Mandy, biarkan saja mereka ingin bicara apa tentangku." Sebelum Mandy menyelesaikan kalimatnya, Aurelie meremass lengan Mandy agar asistennya itu tidak perlu bersuara. Ia ingin membiarkan keluarga angkuh itu menghina sesuka hatinya sebelum ia bertindak lebih. Akhirnya dengan terpaksa, Mandy mengunci mulutnya rapat-rapat.


Nyonya Sandler terkekeh. "Ternyata kau benar-benar menjual tubuhmu untuk membeli gaun yang kau pakai?" Namun wanita tua itu semakin menyulutkan emosi Aurelie.


Pandangan Aurelie mengedar ke seluruh keluarga Sandler yang hadir. Mereka terlihat saling tersenyum meremehkan kepadanya. Berbeda dengan Keluarga Born yang nampak bingung, termasuk Tuan Alan Born yang duduk memperhatikan, bersampingan dengan Tuan Sandler.


Cih, manusia-manusia menjijikan. Aurelie hanya bisa membatin.


"Ada apa ini, Mom?" Akhirnya Brandon dapat melepaskan genggaman tangan Carmela. Sejak tadi ia sudah memperhatikan Mommy-nya yang berusaha mencari masalah dengan Elie. Padahal mantan kekasihnya itu hanya diam dan tidak membuat masalah. Dan Carmela dengan wajah kesal mengikuti Brandon yang menghampiri Elie.


"Brandon, lihatlah wanita tidak tau diri ini. Sudah menjual tubuhnya kepada pria kaya masih saja berani ingin mengganggumu." Nyonya Sandler mengadu seakan yang salah adalah Elie yang masih berusaha ingin mengganggu.


"Maaf Nyonya Sandler, sejak tadi aku diam saja dan tidak bicara apapun. Aku ingin tegaskan, kedatanganku kemari karena mendapatkan undangan dari Nona Carmela." Baru saja Brandon ingin membuka suaranya, ternyata Aurelie sudah lebih dulu membela dirinya. Lirikan matanya tertuju pada Carmela yang menatapnya datar. "Bukankah begitu Nona Carmela?" sambungnya tersenyum kepada Carmela.


Carmela menatap sinis. Tentu saja ia mengundang Elie untuk mempermalukan wanita itu. "Benar, aku memang mengundangmu. Karena aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu," ucapnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Oh..." Aurelie menyahut seadanya. "Kalau begitu selamat untuk kalian," imbuhnya tidak mengurangi kadar senyumnya yang sejak tadi disematkan.


"Terima kasih." Carmela pandai sekali berakting senyum. "By the way, aku mempunyai sesuatu untukmu. Ah, bukan untukmu saja tapi juga untukmu sayang," ujarnya kepada Brandon dengan mengerlingkan salah satu matanya.


"Apa??!" Bukan Aurelie yang penasaran, melainkan Brandon.


Tangan Carmela mengayun memanggil seseorang pelayan disana. Hingga pelayan wanita itu datang menghampiri dengan memberikan sesuatu.


Carmela meraihnya, lalu mengambil beberapa lembar foto dari dalam kotak yang baru saja diberikan oleh pelayan. "Elie, bukankah ini dirimu?" Kemudian menyodorkan foto tersebut kepada Elie.


Elie membeku seketika. Di dalam kotak itu terdapat gambar dirinya bersama dengan seorang pria, hanya saja tidak terlalu menampakkan wajah pria itu. Dan hanya wajahnya saja yang nampak begitu jelas.


Brandon menyambar foto tersebut, keningnya berkerut dalam. "Kau berada di hotel bersama seorang pria?" Entah kenapa Brandon begitu tidak suka mendapati foto mantan kekasihnya yang berada di dalam kamar hotel bersama dengan seorang pria, entah siapa itu.


"Putraku sayang lihatlah, wanita ini tidak sebaik dan sepolos seperti yang kau pikirkan. Selama kalian bersama, dia bahkan menjalin hubungan dengan pria lain." Nyonya Sandler menyiram bensin ke dalam bara api, hingga perkataannya itu tentu saja membakar hati Brandon yang bergemuruh hebat dan sesak bersamaan.


Tatapan kecewa dilayangkan Brandon kepada Elie, mantan kekasihnya yang masih ia cintai itu. Melihat foto tersebut sudah seperti ada batu besar yang menghantam dadanya. Terlebih jika ia mendengar secara langsung jika semua itu benar adanya.


"Elie, apa benar kau mengkhianatiku saat kita masih bersama?" Brandon bahkan sengaja menekan Aurelie agar mengakuinya.


Aurelie tidak bisa berbuat apapun ketika dilayangkan pertanyaan seperti itu. Sungguh, ini diluar dugaannya, kenapa mereka sampai berbuat sejauh itu hanya demi menjatuhkan dirinya. Bahkan Mandy sendiri mendadak pucat pasi, ia tidak tahu menahu foto itu berasal dari mana dan tidak mungkin Elie bersama dengan pria lain di dalam kamar hotel.


"Elie???!!" Brandon kembali memanggil dengan suara yang penuh dengan amarah, sebab Elie hanya diam terbungkam. Bahkan kedua tangan Brandon sudah mendarat di bahu Aurelie yang terbuka lalu mengguncangnya.


"SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA!!"


Perhatian mereka yang semula tertuju kepada Aurelie, kini tersita pada suara bariton pria yang menghampiri wanita itu dengan wajah yang nampak tenang, namun sorot matanya terselip amarah.


To be continue


Elie



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...