The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Ada Yang Salah Denganku



Kedua tangan Arthur spontan menahan pinggul wanita itu, sehingga membuat jarak pandang mereka begitu dekat dan... intim.


"Apa yang kau sentuh, heh?!"


Wanita itu tersentak kaget mendengar seruan Arthur. Ia memang tanpa sadar telah menyentuh dada bidang Arthur yang tentunya sangat... menggoda.


"Maaf...." cicitnya menjauhkan tangannya dari dada bidang pria itu.


Arthur tidak menyahut, ia membantu wanita itu berdiri dengan benar. "Tempat ini bukan arena taman bermain, sebaiknya kau lebih berhati-hati," semburnya dingin.


"Ck, aku sudah berhati-hati. Memangnya kau pikir aku anak kecil yang menganggap tempat gym ini arena taman bermain." Bibir wanita itu mencebik sebal, tentu saja karena Arthur asal berbicara.


"Terserah kau saja." Malas menanggapi, Arthur kembali melanjutkan langkahnya pada tujuannya semula.


Wanita itu mengigit jari telunjuk, menatap penuh damba pada punggung Arthur yang kekar berotot itu. Sebelum kemudian mengekori Arthur yang dengan serius berlari di atas treadmill.


"Terima kasih untuk yang kemarin. Jika tidak ada kau, tasku benar-benar sudah hilang," tuturnya tulus.


"Bukankah kemarin kau sudah mengucapkannya? Untuk apa mengulanginya lagi?" seru Arthur. Ia bahkan sempat heran dengan sikap wanita itu yang nampak berubah-ubah. Bukankah kemarin wanita itu acuh padanya, lalu kenapa saat ini begitu ingin bicara padanya.


Ya, wanita yang bertabrakan dengannya adalah Helena. Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu disini, karena ia baru pertama kali melihat wanita itu berada di Ringtone Boxing Gym.


"Benar, tapi kata terima kasih saja tidak cukup. Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu berkali-kali," sahut Helena. Mungkin terdengar berlebihan sehingga membuat kening Arthur mengkerut dan menoleh ke arah wanita itu.


"Tidak perlu berlebihan. Mengatakan ucapan terima kasih cukup sekali saja jika benar-benar tulus dari hatimu." Bahkan Arthur saja tidak peduli wanita itu bersungguh-sungguh mengucapkan rasa terima kasihnya atau tidak.


Terdengar helaan napas yang terhembus dengan berat. "Jika di lihat tas itu memang tidak begitu berharga meskipun aku membelinya dengan mengeluarkan banyak uang. Tapi masalahnya di dalam tas itu terdapat kalung peninggalan Mommy," ucapnya sendu. Itulah sebabnya tidak cukup hanya mengucapkan rasa terima kasih satu kali. Bahkan Helena rela mengatakan rasa terima kasih hingga bibirnya melepuh. Sebab benda tersebut tidak dapat tergantikan dengan apapun.


Bibir Arthur seketika kelu, ia tidak mampu bersuara sekedar untuk menghardik ataupun menggurui sikap berlebihan Helena. Karena jika ia berada di posisi wanita itu, ia pun akan melakukan hal yang sama. Sebab peninggalan benda satu-satunya dari seseorang yang kita cintai sudah tiada sangatlah berarti.


Sadar apa yang telah diucapkannya membuat Helena terkekeh. "Karena itu tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih. Dan kemarin kau keren sekali seperti di film-film Hollywood yang selama ini aku lihat." Helena begitu menggebu-gebu berbicara, membuat Arthur terheran-heran sekaligus bingung.


"Dia sangat cerewet, sama seperti Elie," batinnya. Entah mengapa di dalam benaknya menyamakan wanita itu dengan Elie. Tentu saja membuat Arthur menggeleng, karena tentunya Elie lebih di atas segala-galanya dari wanita itu.


"Ck, sepertinya ada yang salah dengan otakku," gumamnya.


Ternyata gumaman Arthur samar-samar terdengar oleh Helena, sehingga wanita itu menoleh. "Kau mengatakan apa?" tanyanya penasaran.


"Aku tidak mengatakan apapun."


"Ck, aku benar-benar mendengar kau mengatakan sesuatu." Kedua tangan Helena bersedekap di depan dada.


Tidak Elie, tidak wanita di sampingnya itu benar-benar cerewet, membuatnya sangat jengah. Arthur menyudahi kegiatan berlari di atas treadmill untuk menghindari wanita itu yang saat ini begitu banyak bicara.


"Hei, kau mau kemana?!" Helena berkacak pinggang, berseru kepada Arthur yang tiba-tiba saja meninggalkannya. Tidak mendapatkan sahutan dari pria itu, mau tidak mau Helena mengejarnya hingga Arthur hendak memasuki arena samsak tinju.


Melihat wanita itu yang terus mengekor dan mengganggunya membuat langkah Arthur terpaksa terhenti dan memutar arah tubuhnya. Nyaris saja mereka bertabrakan kembali jika Helena tidak sigap menghentikan langkahnya.


"Apa tujuanmu datang ke tempat ini?" tanya Arthur. Sedari tadi ia perhatikan, wanita itu tidak menggunakan alat gym apapun dan hanya menggangunya saja.


"Tentu saja aku datang kemari karena ingin berolahraga." Helena menyahut polos, ia tidak berpikir jika pertanyaan itu sebenarnya tengah menyindirnya.


"Lalu kenapa sejak tadi kau hanya menggangguku?!" tanya Arthur, terselip rasa kesal pada nada suaranya.


"Hem, aku sudah selesai. Karena sebenarnya aku sudah datang lebih dulu darimu."


"Kalau begitu pulanglah jika sudah selesai. Apa kau tau jika kau hanya menggangguku?!" cetusnya. Membuat Helena terdiam karena ucapan itu sangat menusuk.


Tanpa sadar, Helena menggigit bibir bawahnya. "Aku..."


"Dengar, jangan beranggapan bahwa kita ini dekat sehingga kau bisa berkeliaran di sekitarku. Jadi pergilah jika memang sudah tidak ada kepentingan disini!" Suara Arthur terdengar menajam penuh dengan penekanan, pun dengan tatapannya yang mengintimidasi itu.


"Maaf...." cicitnya seketika menundukkan pandangan ke bawah.


Arthur tidak menanggapi permintaan maaf yang terucap dari bibir wanita itu. Ia segera melenggang pergi dari sana.


Tidak ingin kembali dihujami seruan tajam dari Arthur, Helena buru-buru berlalu dari sana. Memang seharusnya sedari tadi ia pergi, namun saat melihat pria itu juga berada di tempat gym yang sama dengannya, membuatnya ingin mendekati sembari mengulangi ucapan rasa terima kasihnya.


***


Arthur merasa tidak fokus hari ini sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri kegiatan gym-nya. Ia pun segera menyeka keringatnya dengan handuk kecil, lalu ke ruangan ganti untuk mengganti celana yang dipenuhi keringat. Sebelum kemudian mengenakan t-shirt tanpa lengan, tanpa mengenakan jaketnya. Tasnya dilampirkan ke pundak, sementara jaketnya di genggamnya. Langkahnya berlalu dari ruangan arena boxing dan melangkah menjauh tanpa bertegur sapa dengan para instruktur. Mereka sudah terbiasa dengan sikap Arthur yang selalu dingin sehingga tidak begitu mempermasalahkannya.


Langkahnya sejenak terhenti, menajamkan sorot mata tatkala mendapati Helena masih berada di sekitar Ringtone Boxing Gym. Namun perhatiannya tidak hanya tertuju pada wanita itu, melainkan dua pria yang beberapa jarak berada di hadapan wanita itu.


"Apa dia sedang menggoda kedua pria itu?" gumamnya berdecak sinis. Ternyata citra buruk masih disematkan Arthur untuk Helena, sehingga apapun yang dilakukan oleh wanita itu akan nampak buruk di matanya.


"Kalian menyingkirlah. Apa kalian tuli, hah?!"


Kening Arthur berkerut dalam, pendengarannya dipertajam kala mendengar seruan wanita itu yang terdengar penuh amarah.


"Tapi kami hanya ingin berkenalan denganmu Nona."


"Benar. Jika sudah berkenalan, kami berjanji akan membiarkanmu pergi dari sini."


"Ck...." Helena berdecih sembari menyilangkan tangan di depan dada. "Aku tidak ingin berkenalan dengan kalian. Sebaiknya kalian menyingkirlah!"


Sedari tadi Arthur memperhatikan dan berpikir jika wanita itu benar-benar kesulitan menghadapi kedua pria tersebut. Sehingga dalam benaknya ia harus menolong wanita itu, namun langkahnya sudah lebih dulu terhenti sebelum melangkah menghampiri.


"Tidak akan sebelum kau menuruti keinginan kami." Pria yang nampak usianya lebih muda dari Helena itu berusaha menjangkau tangan Helena, namun dengan sigap Helena menangkap tangan pria itu, lalu memelintir ke belakang punggung pria tersebut.


"Aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh tubuhku, jadi pergilah sebelum ku potong jarimu!" seru Helena kesal.


Pria tersebut berdesir nyeri. Meskipun seorang wanita, tenaganya begitu kuat sehingga mampu memelintir yang nyaris mematahkan pergelangan tangannya.


"Hei Nona, jangan macam-macam dengan temanku!" Teman dari pria tersebut tidak terima, sehingga ingin menyerang Helena.


Helena menyadari bahwa teman dari pria itu akan menyerangnya sehingga segera mendorong punggung pria yang tangannya tengah dipelintir itu untuk menghadapi pria yang lainnya.


BUGH


Tanpa jeda, Helena menendang pria itu, lalu menarik tangan pria tersebut, sebelum kemudian membantingnya.


"Aakkhhhh....." Pria yang baru saja terpelanting itu memekik kesakitan.


"Hei, ayo kita pergi dari sini." Dan temannya membantu pria tersebut untuk segera berlalu dari sana. Sungguh sial, niat hati ingin berkenalan dengan wanita cantik, tetapi justru mereka mendapatkan serangan.


"Hei, kenapa lari begitu saja? Cih, pengecut. Beraninya dengan wanita yang lemah." Helena mencibir kedua pria yang sudah berlari jauh sembari mengibaskan kedua telapak tangannya yang terasa kebas. Ternyata ilmu bela dirinya saat masih berkuliah masih berguna, padahal biasanya jika di Paris ia sering menghadapi pria-pria kurang ajar yang ingin menyentuhnya. Dan ia selalu menghajarnya, lantaran tubuhnya hanya akan ia berikan kepada Mikel. Namun sepertinya ia berubah pikiran karena tentunya tubuhnya akan ia berikan kepada pria yang mencintainya, pun sebaliknya.


Sudut bibir Arthur tertarik tipis nyaris tak terlihat, ternyata wanita itu tidak selemah yang ia bayangkan. Namun sesaat kemudian ia tersadar, tidak seharusnya ia memuji wanita itu.


"Ck, ada yang salah denganku. Sepertinya aku harus menghubungi Oscar untuk memeriksa kondisiku belakangan ini." Arthur menduga jika saja sisinya yang lain mendominasi tubuhnya dan ia tidak ingin hal tersebut terjadi. Karena jika Killer sampai menguasainya, maka dirinya yang sebenarnya akan benar-benar menghilang.


Arthur bergegas berlalu dari sana dengan berjalan berlawanan arah dari posisi Helena saat ini, karena mobilnya berada di sisi kiri. Ia harus cepat-cepat pergi dari sana untuk menemui Oscar di rumah sakit. Dokter psikolog yang masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarganya, yang selama ini ia percayai untuk menangani dirinya.


To be continue


Babang Arthur



Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...