The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Candu)



Love me... love me


Say that you love me


Fool me... fool me


Oh, how you do me


Kiss me... kiss me...


Say that you kiss me


Tell me what I wanna hear


Lagu dari Justin Bieber berjudul Love Me menjadi lagu favorit Austin akhir-akhir ini. Sehingga tidak pernah bosan pria itu memutar ulang lagu tersebut. Hatinya sedang berbunga-bunga setelah satu minggu yang lalu berhasil mengutarakan perasaannya pada Licia dan gadis itu membalasnya. Terlebih dua hari yang lalu ada pertemuan keluarga dan membicarakan tentang pertunangan mereka.


Ya, Austin dan Licia sepakat untuk bertunangan terlebih dahulu. Karena keduanya masih ingin meniti karir. Pihak keluarga tentu menyetujui, yang terpenting keduanya sudah terikat tali pertunangan hingga hari itu tiba.


Dan pagi ini Austin baru saja memakirkan mobilnya di pelataran Kediaman Scott untuk menjemput Licia. Karena mereka akan pergi membeli cincin pertunangan, gaun serta jas untuk perayaan pertunangan mereka.


Austin keluar dari mobil dan menunggu Licia dengan menyandarkan punggung pada sisi mobil. Tak berselang lama menunggu, sosok Licia muncul dengan mengenakan dress berwarna hijau dan sling bag berwana ivory atau putih gading. Semua yang melekat di tubuh Licia dari ujung kepala hingga ujung kaki adalah rancangan dari brand ternama Louis Vuitton.


"Kenapa tidak masuk ke dalam saja?" tanya Licia menghampiri dan Austin menebarkan senyumnya disertai kedua tangan yang sudah direntangkan.


Licia yang paham segera masuk ke dalam pelukan calon tunangannya itu.


"Aku baru saja sampai," sahut Austin sembari mengecup puncak kepala Licia. "Sebaiknya kita segera berangkat."


Licia mengangguk saja. "Apa kau tidak ingin bertemu dengan Mommy dan Daddy?"


Austin berpikir sejenak, detik kemudian menggeleng. "Tidak perlu. Paman Zayn pasti memiliki banyak cara untuk menahan kita pergi."


Gadis itu terkekeh, tetapi juga membenarkan. Daddy-nya memang tidak pernah berubah, selalu jahil dan senang melihat seseorang yang sedang sengsara.


Austin membukakan pintu mobil untuk Licia. Gadis itu tersenyum, lalu segera masuk ke dalam mobil dengan semburat rona merah di wajahnya karena perlakuan Austin padanya. Setelahnya pria itu masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas menuju Valentine Carl, salah satu butik yang sudah terkenal dan tentunya cabang butik milik Helena yang baru diresmikan enam bulan yang lalu.


Setibanya disana, beberapa staf wanita dan manager butik sudah menunggu kedatangan kedua pasangan kekasih itu dan menyambut dengan ramah.


"Aku hanya ingin gaun sederhana saja," ucap Licia kepada mereka yang berbaris.


Para staf wanita mengangguk serentak. "Kalau begitu Nona bisa mengikuti kami," ucap manager butik Valentine Carl, kemudian mempersilahkan Licia untuk memilih gaun yang diinginkan. Karena sebelumnya pihak atasan sudah mengkonfirmasi, sehingga mereka harus melayani dengan baik.


Sedangkan Austin tidak banyak bicara, ia diam mengekori Licia yang sibuk memilih gaun. Dan tidak sadar jika seorang staf wanita berjalan menghampiri dirinya.


"Tuan, jas yang anda pesan ada disebelah sana," ucapnya sembari menunjukkan keberadaan jas yang satu hari sebelumnya dipesan oleh Bastian.


Austin menoleh ke arah setelan jas miliknya yang tergantung pada manekin. "Aku akan mencobanya sendiri. Siapapun tidak boleh membantuku." Memang selama ini Austin tidak membiarkan siapapun untuk membantunya jika jika ingin mencoba jas atau pakaian apapun.


"Baik Tuan." Staf wanita tersebut mengangguk, lalu segera berlalu untuk menyiapkan setelan jas dan ruang ganti. Pekerja disana sangat profesional, tidak sekalipun berkesempatan menggoda pelanggan mereka. Sebab jika mereka melakukan kesalahan pada pelanggan butik, maka resikonya akan kehilangan pekerjaan. Terlebih pemilik butik yang sudah menjadi bagian dari Keluarga Romanov mendisiplinkan attitude mereka agar melayani customer dengan baik tanpa niat terselubung.


Mata Austin bergerak mengikuti langkah Licia yang masuk ke dalam ruang ganti. Ia mengintrupsi langkah staf sebelumnya yang ingin menghampiri. Lantas Austin mendekati ruang ganti Licia. Ia menunggu dengan sabar hingga selang beberapa menit, gadis itu keluar dari ruang ganti.


Licia terjingkat kaget dengan keberadaan Austin. Bukankah sebelumnya Austin sedang berada di pakaian pria? Dan akan mencoba setelan jas? pikirnya.


"Gaun ini benar-benar cocok untukmu. Kau terlihat sangat cantik."


Blush


Wajah Licia merona merah. Sungguh, ia belum terbiasa menerima semua perlakuan dan kalimat manis dari Austin. Biasanya mereka lebih sering terlibat adu mulut karena memiliki sifat keras kepala.


"Be-benarkah?" cicit Licia masih memasang wajah merahnya.


"Hm..." Austin berdehem sebagai jawabannya. Dan ia meneliti tubuh gadis itu dari atas hingga ke bawah. Tidak terdapat celah dan ia mengakui kecantikan calon tunangannya itu.


Merasa diperhatikan begitu intens, Licia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan yang disilang. "A-apa yang kau lihat?" tuturnya gugup.


Austin mengernyit. Ia merasa bingung melihat mendengar perkataan Licia. Terlebih gadis itu seperti tengah melindungi bagian tubuh atasnya itu. Begitu menyadarinya, Austin terkekeh. Mana mungkin ia melihat ke arah sana.


"Aku tidak melihat apapun," ucapnya jujur. "Sebaiknya kau memilih gaun lain yang kau sukai, aku akan mencoba jas yang akan kukenakan nanti." Sebelum melangkah, Austin mengusap puncak kepala Licia.


"Dia benar-benar berbeda dengan yang dulu," gumamnya membandingkan sikap Austin yang dahulu dan setelah mereka mengungkapkan perasaan masing-masing, Austin lebih terbuka padanya. Terlebih, secara terang-terangan pria itu menunjukkan sikap yang romantis.


Licia tersentak ketika mendengar suara satu staf wanita yang memanggilnya. Ia menoleh dan staf wanita itu mengatakan jika Licia dapat mencoba gaun yang lain jika tidak menyukai gaun yang sedang dikenakan gadis itu.


"Aku ingin yang gaun ini dan yang sebelumnya saja," katanya sambil tersenyum. Jujur saja, ia adalah salah satu gadis yang tidak ingin mengenakan gaun dengan model yang berlebihan. Dan menurutnya gaun sebelumnya dan gaun yang sedang ia kenakan terbilang sederhana l, tetapi terlihat begitu anggun ditubuhnya.


"Baik Nona, saya akan membungkusnya."


Licia mengangguk dan kemudian mengikuti staf tersebut memasuki ruangan ganti. Selama satu jam berada di butik, Austin serta Licia memutuskan untuk ke toko anak cabang perhiasan Tiffany & co yang berada di New Bond Street Mayfair, kawasan super elit di pusat Kota London.


Setibanya disana, pilihan Licia terjatuh pada cincin berlian yang diberi nama bright love. Tiga buah diamond dengan bright cutting berbentuk hati dengan harga enam juta poundsterling atau setara dengan 111 Milyar. Sedangkan Austin memilih cincin yang simple dengan berlian satu, tetapi memiliki harga 4,5 juta poundsterling atau 83 Milyar. Setelah membeli cincin pertunangan, Austin menggandeng tangan Licia menuju mobil yang terparkir. Austin meletakkan totebag berisi dua kotak berlian di kursi belakang. Sedang tangannya yang sedang bebas menahan pintu mobil yang baru saja dibuka oleh Licia.


"Ada apa?" Tentu Licia terheran lantaran Austin menahan dirinya yang hendak masuk ke dalam mobil.


Austin tidak menjawab, melainkan melabuhkan bibirnya pada bibir gadis itu. Sontak saja membuat Licia membeliak dan mendorong dada Austin. Saat ini mereka berada di parkiran dan siapapun bisa saja melihat mereka. Akan tetapi Austin seolah tidak peduli dan semakin melummat bibir Licia yang mau perlahan membalas ciuman Austin. Dan pria itu baru melepaskan pagutan bibirnya disaat Licia nyaris kehabisan napas.


"Ck, kau ini...." Licia menunduk malu, ia menepuk dada bidang Austin.


Austin terkekeh sembari membersihkan sisa saliva mereka yang tertinggal di sudut bibir Licia.


"Aku akan mengajakmu makan siang. Masuklah." Berbeda dengan Licia yang menjadi canggung, Austin justru nampak biasa saja. Ia kembali membukakan pintu mobil untuk calon tunangannya itu. Dan beberapa menit kemudian, mobil Austin melaju meninggalkan toko perhiasan.


Disepanjang perjalanan, Austin kembali memutar lagu Justin Bieber. Bernyanyi dengan sesekali melirikan ekor mata ke arah Licia.


Love me... love me


Say that you love me


Fool me... fool me


Oh, how you do me


Kiss me... kiss me...


Say that you kiss me


Tell me what I wanna hear


Licia memalingkan wajah. Semakin hari Austin semakin menunjukkan sisi manisnya, sehingga membuat dirinya selalu tersipu malu.


"Kiss me... kiss me. Say that you kiss me."


Entah kenapa Licia merasa jika di bagian lirik tersebut, Austin sengaja meninggikan volume suaranya.


"Jangan melihat ke arahku. Lihatlah kedepan." Telapak tangan Licia mendorong wajah Austin agar kembali menatap lurus kedepan.


Austin terkekeh ringan, kemudian menepikan mobilnya. Kening Licia berkerut bingung lantaran tiba-tiba saja Austin menepikan mobil.


"Ada apa? Apa mobilnya bermasalah?" tanyanya memastikan.


"Menurutmu?" Alih-alih menjawab, Austin terlihat menyunggingkan senyum smirk.


Licia menjadi waspada. Kedua matanya memicing tajam. Namun lehernya yang ditarik oleh Austin membuatnya condong menghadap pria itu. Dan dalam sekejap saja bibirnya bersentuhan dengan bibir Austin. Gadis itu hanya pasrah saja ketika lagi-lagi Austin menciumnya.


Memang Austin tidak pernah mencium bibir siapapun sebelumnya, tetapi ia sudah menjadi good kisser hanya menggunakan insting kelelakiannya. Dan Licia adalah gadis pertama yang berhasil mendapatkan ciuman pertamanya. Namun sialnya, bukan gadis itu yang kecanduan, justru dirinya yang kecanduan. Damn!


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...