The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Bertemu Dengannya



Pemandangan di atas balkon menyuguhkan hamparan luas hijau yang mengelilingi Mansion. Angin malam menerpa wajah Mikel serta Nathan yang berdiri disana saling bersisian. Keduanya larut dalam pikirkan masing-masing, saling diam dan membiarkan keheningan melingkupi mereka.


"Sekarang saya menjadi paham kenapa tuan memperlakukan Nona Helena seperti itu. Tuan melihat ada Nona Meisha di dalam diri Nona Helena." Suara Nathan akhirnya memecah keheningan di antara mereka. Ternyata hal tersebut yang sejak tadi dipikirkan oleh Nathan.


Mikel tidak langsung menjawabnya, ia masih terdiam sesaat. "Kau tau Nath, terkadang apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya terjadi. Yang terlihat buruk tidak selalu buruk. Dia bersikap seperti itu untuk menarik perhatian sekitarnya, tapi dia salah mengartikan sikap dan perhatian yang kuberikan. Karena itu aku hanya ingin mendorongnya menjauh karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa mendekapnya. Aku menganggapnya seperti Mei dan setidaknya aku menyelamatkan nyawa seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya di depan mataku." Rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuanya membuat Mikel tidak ingin melihat seseorang menghilangkan nyawa di hadapannya. Terlebih wanita seperti Helena perlu dirangkul dan diberikan dukungan oleh sekitarnya.


Kembali hening usai Mikel berbicara begitu panjang, dan Nathan mendengarkan dan mencerna apa yang di dengarnya. "Tapi bukankah jika tuan mendorongnya dia akan semakin mendekat," tukasnya.


"Dia tidak akan menemuiku setelah apa yang kukatakan kemarin. Dia akan sadar bahwa perkataanku benar, dia tidak mencintaiku dan aku juga tidak mencintainya," sahutnya penuh keyakinan. "Kau tau Nath, jika hanya ada seseorang selain Mei yang membuatku bertahan selama ini." Hanya mengingat wajah serta senyuman wanita itu membuat sudut bibir Mikel membentuk sebuah senyuman.


"Apa tuan sedang membicarakan Nona Elie?" tanya Nathan menoleh. Ia jika yang dimaksud tuannya adalah wanita model itu.


Mikel mengangguk kecil. "Benar Nath. Kau tidak akan pernah mengira jika kami sudah saling mengenal sejak kecil."


Satu fakta yang kembali membuat Nathan terkejut. Ia tidak pernah menyangka jika tuannya dan Nona Ellie sudah saling mengenal sejak kecil. "Pantas saja sikap tuan sangat berbeda di hadapan Nona Elie, ternyata tuan benar-benar mencintainya."


Mendengar penuturan Nathan, Mikel mengulas senyum tipis. "Dia segalanya Nath sama seperti Mei. Mereka wanita yang spesial." Baru kali ini Mikel secara terang-terangan mengutarakan apa isi hatinya. Biasanya sikap Mikel lebih cenderung tertutup dengan Nathan sekalipun. Hal itu membuat Nathan diam-diam tersenyum tipis, ia senang bisa mengetahui masa lalu yang selama ini di tutupi oleh tuannya itu.


Setelah percakapan panjang, Mikel menyuruh Nathan untuk beristirahat, berbeda dengan dirinya yang masih ingin berada disana, entah apa yang sedang ia pikiran, malam ini Mikel begitu merindukan sosok kedua orang tuanya.


***


Mikel hanya beristirahat selama dua jam saja. Bahkan matahari belum menyembulkan diri dan Mikel sudah terbangun dari tidurnya. Ia memutuskan untuk berolah raga di bawah langit yang masih nampak gelap. Berlari sekencang mungkin mengelilingi halaman Mansionnya yang begitu luas. Keringat demi keringat sudah membanjir wajah dan bahkan tubuhnya yang bertelanjang dada. Membiarkan dirinya benar-benar kelelahan, berlari demi menghilangkan kerinduannya terhadap Daddy Matthew dan Mommy Aprille.


Saat sinar mentari telah nampak menyembul, Mikel baru menghentikan aktivitasnya tersebut. Ia mengatur napasnya yang tidak teratur sembari berjalan. Langkahnya tertuju pada halaman kolam renang, mengambil minum air mineral yang sudah terbiasa tersedia di atas meja ketika dirinya pulang ke Mansion. Kebiasaan berlari pagi saat beban pikirannya mengganggunya sudah membuat para pekerjanya mengetahui kebiasaan yang sering ia lakukan, sehingga mereka tau harus melakukan apa ketika di pagi hari.


Setelah menghabiskan satu botol mineral, Mikel melangkah menuju shower yang memang dikhususkan untuk membilas tubuh ketika sehabis berenang. Dan kemudian Mikel mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sungguh merindukankedua orang tuanya yang sudah tiada membuatnya teramat tersiksa. Tetapi bebannya yang selama ini menghantam bertubi-bertubi berangsur berkurang.


"Mom... Dad... Kalian bisa tenang disana. Aku sudah membunuh pria yang sudah menodai Meisha. Dan aku bersumpah akan menemukan pria tua itu untuk aku kirim bersama dengan kalian." Mikel mengusap rambutnya yang terguyur oleh air shower. Meskipun yang ia lakukan tidak akan membuat kedua orang tuanya kembali, akan tetapi sudah membalaskan dendam atas kematian mereka, mengurangi kesedihannya dan berharap kedua orang tuanya bisa damai disana. "Aku berjanji akan melindungi Mei. Dan.... selama aku masih hidup, Mei dan juga Elie akan kupastikan baik-baik saja. Aku... Mikel Jhonson bersumpah!" gumamnya kembali penuh dengan tekad. Mikel teringat selalu pesan kedua orang tuanya, jika dirinya harus selalu melindungi Meisha dan juga Elie. Karena baik Matthew dan juga Aprille sudah menganggap Elie seperti putri mereka.


Larut memikirkan kedua orang tuanya, Mikel teringat akan Elie, wanita yang ia cintai. Sampai saat ini ia belum menerima apapun mengenai kondisi Elie, sehingga ia dapat menyimpulkan jika wanitanya masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kegelisahannya semakin menjadi karena saat ini ia tidak bisa memilih, Meisha masih membutuhkan dirinya, akan tetapi ia juga ingin menjadi orang pertama yang dilihat wanita itu ketika sadar.


"Elie... Sweetheart.... Aku terjaga semalaman, meyakinkan diriku bahwa aku akan baik-baik saja, tapi ini lebih sulit dari biasanya. Aku membutuhkanmu Sweetheart. Karena itu kau harus baik-baik saja, cepatlah sadar dan tersenyum lagi untukku." Selama ini kalimat tersebut yang ingin ia keluhkan kepada Elie, namun ia tidak bisa melalui karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanitanya itu. Baginya rasa sesak dan bebannya berangsur berkurang saat melihat senyum wanitanya.



***


"MIKE???" Suara Elie yang berteriak memanggil nama Mikel membuat Arthur dan Darren yang tengah berdiskusi sontak menoleh. Mereka melihat jika Aurelie sudah tersadar dan melambungkan satu tangannya ke udara.


"Elie??" Arthur mendekati ranjang. Ia menghela napas penuh kelegaan ketika mendapati adiknya sudah sadar. Meskipun kebingungan melandanya karena sang adik baru saja meneriaki nama Mike.


"Kak Ar??" Elie berusaha menjamah cahaya sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan dan menyambut pandangannya. Ketika pandangannya sudah lebih jelas, Elie menatap Arthur. "Kenapa aku berada disini?" tanyanya penuh tanda tanya. Ia menyapukan pandangan ke sekitar, dimana terdapat Darren juga di sana yang tengah menatapnya.


"Apa kau tidak mengingat apa yang terjadi, hm?" Arthur bertanya lembut. Apa mungkin Elie melupakan apa yang terjadi padanya karena benturan di kepalanya? pikirnya.


Sejenak Aurelie terdiam, sebelum kemudian menggeleng. "Aku ingat semuanya kak, aku ingat dengan jelas bagaimana mereka ingin melenyapkanku. Tapi...."


"Tapi apa?" tanya Arthur penuh ketidaksabaran.


"Mike, aku bertemu dengannya. Dia yang sudah menyelamatkanku." Aurelie mencengkram kuat lengan Arthur. Begitu antusias saat menceritakan jika Mike yang sudah menyelamatkan dirinya.


To be continue


Babang Mikel



...Yoona minta dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...