
Arthur terjaga sepanjang malam, ia menyandarkan punggung pada headboard ranjang. Sesekali menatap bahu polos Helena yang memunggungi dirinya. Memang sebelumnya Arthur memeluk tubuh Helena dari belakang, tetapi ia tidak dapat memejamkan mata seperti istrinya itu. Banyak sekali yang mengganggu pikirannya, salah satunya kasus kematian Anna Carl, ibu mertuanya yang kini kasusnya kembali dibuka. Ia meruntuki Jorge yang sengaja ingin kembali menyerang dirinya melalui Helena.
Cepat atau lambat kasusnya akan mencuat di publik dan pasti nama Helena turut terseret. Sebab wanita itu yang terlihat terakhir kali menemui Anna sebelum tewas. Selama ini Helena menduga jika ibunya tewas bunuh diri, tetapi setelah kasus dibuka kembali, muncul dugaan-dugaan jika Anna Carl dibunuh oleh seseorang.
Arthur mendesahkan napas berat, ia meringsut ke dalam selimut dan memeluk Helena dari belakang. Dikecupnya bahu polos Helena tanpa bermaksud membangunkan istrinya itu. Kemudian menyusul menyelami alam mimpi.
***
Helena menggeliat di bawah selimut, mengerjapkan mata berulang kali tatkala sinar matahari membias masuk dan menyilaukan pandangannya. Perutnya terasa sesak, merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Benar saja, Helena meraba tangan Arthur yang melingkar di perutnya. Membuat pria itu menggeliat lantaran merasa terganggu dan mengeratkan dekapannya.
"Sshh...." Helena mendesis saat dirasa nyeri pada bagian bawahnya. Arthur terkesiap mendengarnya, kelopak matanya tiba-tiba terbuka sempurna.
"Ada apa?" Terselip rasa panik pada pertanyaan Arthur yang mendesak itu.
"Aku...." Rasanya Helena malu untuk mengatakannya. Tetapi sungguh miliknya terasa berdenyut nyeri. Bagaimana tidak, mereka bercinta hingga menjelang pagi dan Arthur seolah tidak pernah lelah, meskipun bergerak semalam penuh dengan senjatanya yang terus menghujam di dalam tubuhnya.
Arthur masih menunggu jawaban dari Helena, bahkan pria itu segera membalikkan tubuh Helena menghadap ke arahnya. Dan meneliti wajah istrinya yang seolah tengah menahan rasa sakit tetapi berusaha untuk menutupinya.
"Apa masih terasa sakit?" Pada akhirnya Arthur berinisiatif bertanya. Ia sungguh tidak bermaksud menyakiti Helena, hanya saja ia begitu tidak bisa mengendalikan hasratnya yang selama ini terpendam dan pada akhirnya dapat tersalurkan dengan baik.
"Hmm, sedikit."
"Kalau begitu, biar aku membantumu ke kamar mandi." Arthur sudah beranjak duduk, mengekspos dada bidang dengan perut berototnya.
Helena memalingkan wajah, sungguh pemandangan pagi yang menyejukkan mata. Akan tetapi mengingat pergumulan panas mereka tadi malam, membuat wanita itu tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Tidak perlu. Aku masih bisa berjalan ke kamar mandi sendiri." Dan Helena hendak beranjak turun dari ranjang, ia meringis sesaat. Namun tetap memaksakan diri untuk berdiri.
Arthur hanya membiarkannya saja istrinya itu tertatih-tatih, memperhatikan Helena dari atas tempat tidur. Bibirnya tertarik tipis melihat bagaimana cara Helena berjalan.
Sembari mengulum senyum, Arthur segera beranjak dari ranjang. Ia melangkah mendekati Helena dan tanpa menimbulkan suara menggendong Helena menuju kamar mandi.
Helena memekik kaget, sebab tubuhnya melayang begitu saja dan sudah berada di gendongan Arthur. Ia spontan mengalungkan kedua tangannya di leher Arthur dan menyembunyikan wajah di ceruk leher suaminya itu.
Tanpa banyak bicara, Arthur mendudukkan Helena di atas wastafel, sedangkan dirinya sibuk mengisi air hangat di bathtub.
Helena begitu takjub dengan perlakuan Arthur padanya, tidak banyak bicara tetapi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Setelah air di dalam bathtub terisi penuh, Arthur mendekati Helena. Wanita itu sedari tadi menutupi bagian dadanya serta bagian bawahnya yang tidak tertutup selembar kain apapun, berbeda dengan Arthur yang sudah mengenakan celana pendek sejak malam terjaga.
Lagi-lagi Arthur tersenyum tipis mendapati wajah Helena yang nampak malu-malu itu. Menutupi bagian tubuh yang sudah ia lihat, sentuh dan bahkan ia rasakan tadi malam.
"Tidak perlu ditutupi, aku sudah melihat dan merasakan semuanya." Tentu saja perkataan Arthur membuat kemerahan bertambah di wajah Helena.
"Dasar tidak tau malu...." cebiknya malu dan membiarkan Arthur kembali menggendongnya ke dalam bathtub.
Arthur memutar tubuhnya memunggungi Helena, langkahnya menjauhi bathub dan bermaksud keluar dari kamar mandi.
"Kau mau kemana?" Dan langkah Arthur terpaksa terhenti mendengar suara Helena. Ia segera memutar tubuhnya kembali menghadap istrinya yang sudah penuh dengan busa sabun.
Bukan jawaban yang diterima Helena, melainkan seringai senyum yang disematkan oleh Arthur. "Kau ingin melakukannya lagi?"
"Heh, apa?" Helena mengerjap dan terkesiap. Ternyata ia telah salah bertanya. "Tidak, aku...."
Byur
Tekanan air pada dalam bathtub menggembung keluar tatkala Arthur sudah bergabung dengan Helena di dalam bathtub. Helena susah payah menelan salivanya, ternyata ia sudah membangkitkan singa yang sudah tertidur dan kembali on fire.
"Terlambat. Aku akan memuaskanmu lagi," Arthur berbisik tepat di telinga Helena, kemudian menggigit kecil telinga wanita itu, hingga Helena reflek mendesaah.
Meskipun bibirnya menolak, tetapi tidak dengan tubuhnya yang menerima setiap sentuhan Arthur. Bibir Arthur kemudian menyesap leher Helena, meski sudah dibubuhi tanda merah sebelumnya dan kini kembali bertambah oleh perbuatannya itu.
Tangan besar Arthur tidak lupa bergerak liar di dada Helena yang membusung. Kenyal, padat dan besar. Sepertinya Arthur betah berlama-lama bermain di dada Helena seolah memiliki mainan baru selain senjata yang ia genggam semasa hidupnya.
"Arrghh, Ar...." Helena tak kuasa menahan lenguhan nikmat.
"Ho-honey... Arrghh...." lirih Helena seolah menahan napas sembari meremass rambut Arthur yang mengulum satu buah dadanya seperti bayi yang tengah kehausan.
Percikan api panas kembali membara di dalam tubuh Arthur serta Helena. Keduanya saling menikmati sentuhan masing-masing dan memberikan kepuasan. Bahkan di dalam kamar mandi terdengar lengkingan desahaan yang menggelora, tidak dapat menolak kenikmatan bercinta di dalam bathtub.
***
Setelah dua hari berlalu, tiada hentinya Arthur menerjang Helena. Ia merasa tidak pernah puas dan seolah menjadi candu dengan tubuh istrinya itu. Mengherankan bukan? sebab sedari dulu ia tidak pernah berpikir jika bercinta itu senikmat ini dan menjalin suatu ikatan dengan seorang wanita tidak terlalu buruk. Keputusannya dengan menjadikan Helena sebagai istri sudah benar, ia dapat melihat wajah wanita itu setiap harinya dan bahkan menyentuh sesuka hatinya.
Seperti saat ini, Arthur tengah mengganggu tidur Helena yang begitu lelap. Wanita itu baru saja terpejam dua jam yang lalu usai Arthur menyerangnya terus menerus.
"Ar, aku masih mengantuk." Helena menepis tangan Arthur yang hinggap di wajahnya, membelai lembut wajahnya. Namun Helena tetap saja terganggu, sebab ia masih merasa lelah setelah bercinta sepanjang waktu.
Arthur tersenyum tipis, tidak membiarkan Helena kembali terlelap, sehingga tangannya bergerak nakal turun tepat di dada Helena yang tidak dilapisi kain apapun.
"Arrgh...." Berhasil, perbuatan tangan nakal Arthur kembali membuat wanita itu melenguh pelan. "Kenapa kau tidak pernah puas, hm?" Terpaksa Helena memisahkan kelopak mata yang masih terasa berat seolah terdapat sesuatu yang mengganduli matanya.
"Aku tidak akan pernah puas. Kau tau itu." Sembari mengusap wajah cantik sang istri.
"Ya, baiklah." Helena pasrah. Jika Arthur kembali mengajaknya bercinta, tentu ia tidak akan menolak. Karena ia pun menikmatinya.
Arthur gemas, ia mengusap rambut Helena. "Aku tau kau lelah, tapi kita harus kembali ke London pagi ini."
"Apa? Ke London?" Helena terkejut, pasalnya ia berencana meminta izin kepada Arthur untuk kembali ke Paris.
"Hmm, keadaanmu sudah membaik. Aku akan mempertemukanmu dengan kedua orang tuaku dan seluruh keluargaku."
"Tapi...." Helena menggigit bibir bawahnya, ia merasa ragu. Apakah dirinya akan di terima di keluarga itu?
"Jangan berpikir yang macam-macam. Mereka tidak seperti yang kau pikirkan."
Helena berusaha tersenyum tipis mendengar jawaban Arthur yang ternyata memahami kegelisahannya. "Baiklah, tapi bolehkah aku kembali ke Paris? Tidak dalam waktu dekat ini, tetapi setelah aku bertemu dengan keluargamu."
Arthur terdiam sejenak, nampak menimbang permintaan Helena. Sejujurnya ia belum memikirkan hal tersebut.
"Please... aku sudah terlalu lama meninggalkan butikku. Dan beberapa rancangan sudah terlewati olehku." Helena memohon penuh harap, ia memikirkan nasib para karyawannya yang pasti kesulitan tanpa ada dirinya.
"Baiklah, lakukan sesukamu. Aku tidak akan melarangmu. Tapi yang pasti kau tidak akan bisa menolak jika aku memberikan banyak bodyguard untukmu."
Helena mengangguk senang. "Terima kasih." Dan memeluk suaminya dengan erat.
"Hmm, mandilah. Kau bisa melanjutkan tidurmu di pesawat." Sebelum beranjak, Arthur membubuhkan kecupan singkat di bibir Helena.
Wanita itu mengangguk, lalu dengan cepat melesat masuk ke dalam kamar mandi, menghindari serangan Arthur hingga membuat pria itu menggelengkan kepala.
To be continue
Babang Arthur
Helena
Sebenernya Yoona ngeri pake visual mereka yang hooottt 😂😂 Semoga lolos review ya 😁🙈
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...