
Anna yang sudah merebut suamiku. Aku dan Jorge sudah menikah sebelum Jorge menikah dengan Anna!
Kalimat tersebut berulang kali berputar di otak Helena. Wanita itu mencoba untuk mencerna di sela hatinya yang sudah dipenuhi amarah. Bagaimana mungkin Mommy Anna merebut suami dari Margareth? Mommy bukan wanita seperti itu. Selama ini bertutur kata lembut dan tidak mengeluh ketika cintanya dikhianati oleh Jorge, meskipun selalu menangis dalam diam. Sehingga untuk menyakiti wanita lainnya tidak akan pernah tega dilakukan oleh Mommy Anna. Wanita itu pasti berbohong untuk membela dirinya, pikirnya.
"Kau dan ibumu sama saja. Selalu merusak kebahagiaanku dan putriku!" Margareth belum puas memaki dan menghina Helena, meskipun sudah diberikan peringatan tajam oleh Jorge. Namun rasa sakit di hatinya melebihi rasa takutnya pada Jorge.
"Margareth hentikan! Kau benar-benar ingin menjadi pembangkang!" Tangan Jorge mengayun ke atas, kembali untuk memberikan tamparan pada istrinya itu. Namun wajah Margareth terlihat ingin menantang, ia ingin lihat bagaimana suaminya itu akan kembali menyakitinya. Selama ini ia sudah cukup bersabar menghadapi suami tercintanya itu.
"Lakukan sesukamu Jorge. Tampar aku sepuasmu!" Perkataan menantang itu seketika menghentikan gerakan tangan Jorge. Mata mereka menyalah menusuk Margareth hingga akhirnya wanita itu tertunduk.
"Kau berbohong!" seru Helena. Wanita itu nampak sudah menguasai dirinya. Sejak tadi ia terbungkam lantaran terguncang dengan perkataan wanita tua itu. "Aku percaya dengan Mommy yang tidak mungkin merebut suamimu. Kalian berdua yang sudah menyakiti Mommy! Kalian biadab! Kalian yang sudah merenggut kebahagiaan Mommy!" Rasanya umpatan kasar apapun tidak akan cukup mewakili rasa sakit di hati Mommy kala masih hidup. Langkahnya bergerak maju dengan penuh emosi. Jika biasanya ia tidak pernah ingin menggunakan cara kasar, tetapi kali ini Helena ingin sekali merobek mulut wanita ular itu.
"Bahkan disaat terakhirnya, kalian... kalian..." lanjutnya. Suara Helena mendadak melemah dan terdengar begitu parau akan ingatan yang samar-samar terlintas bersamaan dengan sekelebat darah yang berserakan di bawah kakinya. "Aarrghh...." Helena menyentuh kepalanya, tubuhnya nyaris tumbang jika saja Mikel tidak segera menumpu tubuhnya.
"Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" Mikel bahkan harus mengguncang ketika Helena terdiam di dalam dekapannya. Pandangan wanita itu nampak kosong, seolah tengah berada di dunia lain.
Kemarahan Jorge sedikit menyusut ketika melihat kondisi Helena seperti itu. Padahal ia baru saja akan menghentikan tindakan wanita itu dengan pukulannya.
"Ck, seharusnya wanita itu ditempatkan di rumah sakit jiwa!" celetuk Margareth sembari bersedekap penuh keangkuhan.
Kedua alis Mikel menukik tajam disusul tatapan nyalang terarah pada wanita tua itu. Sungguh ia tidak terima dengan perkataan Margareth, Helena tidak gila untuk apa ditempatkan di rumah sakit jiwa.
"Dan seharusnya aku sudah melemparmu dari atas rooftop gedung perusahaan kalian!" Sahutan Mikel tidak kalah sarkas, sehingga membuat Margareth meradang tidak terima mendengarnya.
"Jaga bicaramu!" seru Jorge. Ternyata pria tua itu pun tidak terima ketika istrinya diperlakukan demikian.
Mikel menulikan telinganya, ia lebih memilih memusatkan perhatiannya kepada Helena, alih-alih mengindahkan dua manusia biadab tersebut. "Nath!" panggilnya kemudian.
Nathan mendengar seruan panggilan Mikel, tergopoh-gopoh menghampiri. Ia terkesiap ketika mendapati Helena terkulai lemah dengan tatapan kosong.
"Tuan, apa yang terjadi dengan Nona Helena?" Sungguh ia penasaran. Berdiri di depan pintu, membuat telinganya mendengar semua pertikaian mereka. Hanya saja ia mencoba untuk acuh tak acuh selama tuannya itu belum memanggil dirinya.
"Kita pergi dari sini!" kata Mikel menatap asistennya tersebut.
"Baik Tuan." Nathan mengangguk patuh dan segera membukakan pintu.
Mikel mencoba mengangkat Helena, mengabaikan Jorge serta Margareth yang bergeming, namun tidak menyurutkan tatapan penuh kebencian. Baguslah jika berita demikian memperburuk keadaan Helena, pikir Margareth dengan seringai senyum.
***
Mikel terbebas dari tatapan para karyawan serta beberapa wartawan yang masih bertahan di depan gedung Perusahaan Bonham. Dirinya dan Nathan melintasi jalur belakang atas bantuan salah satu karyawan disana. Karyawan itu pernah berkerja beberapa tahun dengan Stuart, ayah dari Jorge. Sayangnya sifat Jorge berbeda jauh dengan Stuart yang memiliki sifat bijaksana. Jorge lebih egois dan bahkan sangat angkuh, berbeda juga dengan putra Stuart yang lainnya... yang sudah tiada.
"Terima kasih. Aku tidak akan melupakan bantuanmu." Tentu Mikel tidak akan melupakan kebaikan karyawan pria tersebut yang sekiranya berusia lebih muda dari Jorge.
"Tidak masalah, saya melakukan ini karena teringat kebaikan Tuan Stuart. Saya hanya ingin Tuan menjaga Nona Helena dengan baik," katanya tersenyum. Namun wajahnya seketika kembali datar dengan mata yang condong terarah ke depan. "Kalau begitu saya permisi!" Buru-buru pria itu pergi dari sana sebelum ada yang melihat.
Mikel dibuat bingung dengan sikap pria itu, baru saja ia ingin bertanya lebih jauh. Akan tetapi karyawan tersebut lebih memilih menghindar.
"Nath, jalankan mobilnya," ucapnya kemudian. Ia lebih baik segera membawa Helena pergi dari sini.
Nathan yang sudah berada di kursi kemudi mengangguk patuh. Sebelum kemudian segera melajukan mobilnya meninggalkan area Perusahaan Bonham.
Mereka tidak kembali ke London, Mikel lebih memilih membawa Helena ke Mansion yang berada di Wales. Jarak Bristol antara Wales hanya satu jam, lebih dekat jika harus menempuh perjalanan menuju London. Begitu tiba di Mansion, Mikel membaringkan Helena di kamar tamu, menatap iba wanita yang kini sudah terpejam. Terlihat damai namun penuh luka disana. Tidak berlama-lama di dalam kamar, Mikel mengayunkan langkahnya keluar.
"Baik." Nathan dengan sigap segera menghubungi Dokter yang biasa menangani Meisha.
Pintu dibuka dengan lembut oleh Mikel, tubuhnya menyelinap masuk ke dalam kamar sang adik, disusul edaran matanya yang mengarah kesana-kemari. Adiknya itu hari ini begitu tenang, bahkan saat pagi ia berpamitan untuk pergi ke perusahaan, Meisha hanya mengangguk.
"Mei...." Langkah Mikel terhenti di hadapan Meisha yang memunggungi dirinya.
Wanita cantik itu menoleh, wajah kemerahannya masih nampak pucat dengan bibir yang merah juga pucat. "Kak Mike?" sahutnya pelan.
Mikel tersenyum. Ia melabuhkan usapan lembut dan kecupan singkat di puncak kepala adiknya itu. "Sudah makan, hm?" Sejenak menunggu jawaban Meisha Mikel tersenyum tipis, namun adiknya itu bergeming dengan mata yang mengerjap.
Desahaan napas Mikel terdengar berat, Meisha memang sesekali akan merespon perkataannya. Namun hal itu sudah dirasa kemajuan yang baik, sebab Meisha sudah jarang berteriak histeris dan tidak mencoba mengakhiri hidupnya kembali.
"Sebaiknya kau istirahat. Kak Mike akan membantumu." Tanpa menunggu anggukan kepala dari adiknya itu, Mikel segera menggendong adiknya untuk berpindah di ranjang. Menyelimuti tubuh ringkih Meisha dengan penuh kelembutan.
Hanya dalam beberapa kali usapan saja, mata Meisha sudah terpejam, perlahan terdengar dengkuran halus. Bibirnya membentuk lengkungan tipis, Meisha sangat penurut belakangan hari ini, menandakan kesembuhan yang signifikan. Tanpa bantuan Nathan, Meisha tidak akan bisa pulih secepat ini dan Mikel berhutang banyak kepada asistennya itu.
Wajah Mikel kembali sendu ketika teringat akan Helena yang tidak jauh berbeda dengan Meisha. Secepatnya ia akan mencarikan pria yang terbaik untuk menjaga Helena.
Dering ponsel di dalam saku celana Mikel membuat telinganya tersentak dan terkesiap. Buru-buru ia ingin keluar dari sana agar dering ponsel yang memekakkan itu tidak mengganggu tidak Meisha.
Mikel ragu-ragu ingin menjawab panggilan tersebut, sebab tertera nomor asing. Namun rasa penasarannya membuat ia menjawab panggilan entah dari siapa.
"Tuan Muda Mike?" Suara bergetar itu membuat wajah Mikel seketika menegang.
"Paman Josh?" Terkejut sudah pasti. Sebab Mikel melarang keras Paman Josh untuk menghubungi dirinya dikarenakan tidak ingin keberadaan tangan kanan kepercayaan Matthew terendus oleh Todd.
"Paman apa yang terjadi? Kenapa paman menghubungiku?!" Mikel panik, suaranya terdengar mendesak tidak sabar. Dugaannya mengatakan jika terjadi sesuatu dengan Paman Josh.
"Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin menyampaikan kepada Tuan Muda Mike jika keberadaan saya sudah tidak aman, saya sudah meninggalkan Turki dan kini bersembunyi di suatu tempat."
Dada Mikel sejenak berhenti berdetak, benar dugaannya jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Paman Josh. "Dimana Paman saat ini? Aku akan menemui Paman dan membawa Paman ke tempatku."
"Saya sudah berada di Eropa. Nanti saya akan mengirimkan pesan singkat," jawabnya sedikit terengah-engah, kelelahan bersembunyi kesana-kemari. "Tuan berhati-hatilah, saat ini Todd sudah mengetahui keberadaan Tuan Muda, besar kemungkinan sudah mengawasi Tuan."
"Aku akan menjaga diriku. Paman juga berhati-hatilah. Hubungi aku jika keadaan Paman sudah terdesak. Aku akan kesana saat ini juga!"
"Terima kasih Tuan Muda."
Telepon terputus, Mikel segera berlari menemui Nathan. Ponsel yang bergetar itu menandakan pesan masuk, dengan tidak sabar Mikel membaca pesan singkat tersebut.
"Richmond?" gumamnya. Lokasi Paman Josh berada di Amerika, ia harus terbang kesana saat ini juga.
Paman Josh adalah pengganti kedua orang tuanya, pria itu yang mengurus dirinya serta Meisha saat meninggalkan Amsterdam dan menetap di Turki. Sudah pasti pria itu juga merupakan bagian dari jiwanya, tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap Paman Josh, terlebih jika harus kehilangan Paman Josh untuk selamanya.
To be continue
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...