The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Mendekat Saat Mulai Lengah



Sejak tadi Licia hanya diam mendengarkan Helena dan Elie yang saling berbicara. Sesekali ia menanggapi dengan seulas senyum. Gadis itu berusaha untuk tidak memperlihatkan raut wajahnya yang kecewa, sebab kedatangannya ke Mansion Paman Xavier lantaran ingin bertemu dengan Austin, tetapi yang ingin ditemuinya itu justru dalam perjalanan menuju Dubai. Gadis itu tidak mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi pada Perusahaan Romanov dan ingin bertanya lebih, akan tetapi Mommy Angela sudah lebih dulu memperingati dirinya agar merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Perusahaan Romanov di hadapan Elie, Mommy Elleana dan Helena.


"Licia, bagaimana? Apa kau ingin ikut dengan kami?" Suara Elie menyentakkan lamunan Licia.


Licia yang sedari tadi tidak menyimak percakapan mereka hanya melayangkan tatapan bingung, sebab ia tidak mengerti apa yang ditanyakan Elie padanya.


"Hm...." Ia menggaruk pelipisnya. "Memangnya Kak Elie dan Kak Helen akan pergi kemana?" tanyanya dengan polos.


"Astaga..." Elie menepuk keningnya. "Jadi sejak tadi kau tidak mendengarkan apa yang kami bicarakan?" tanyanya memastikan dan dengan polosnya Licia mengangguk hingga menampilkan deretan gigi putihnya.


Helena terkekeh. "Elie ingin menemaniku ke taman Hyde. Aku ingin melihat Danau Serpentine."


"Ah...." Licia mengangguk mengerti. "Apa ini keinginan baby twins?"


"Sepertinya iya," sahut Helena terkekeh.


"Baiklah, aku juga akan mengajak Freya." Sudah lama tidak bertemu dengan Freya, sehingga tidak ada salahnya jika Licia mengajak Freya.


"Benar, akan lebih menyenangkan jika banyak yang ikut," seru Elie menimpali. "Aku juga akan mengajak Kim, Grei dan Liv." Tentu saja ia harus mengajak ketiga keponakannya itu. Jujur saja ia sangat merindukan mereka.


Greisy dan Livy yang merupakan adalah putri dari Keil dan Daniel, sementara Kimberly putri dari Nico. Akan sangat menyenangkan mengajak mereka karena ketiganya gadis yang bisa menghidupkan suasana.


"Baiklah, aku setuju." Helena juga ingin lebih mengenal ketiga gadis itu. Selain Freya, ia tidak mengenal dekat ketiganya karena mereka jarang sekali mengunjungi Mansion.


Elie dan Licia mengangguk antusias. Dan Licia, gadis itu setidaknya melupakan kekecewaannya. Pasalnya hingga satu hari berlalu sejak kepergian pria itu, Austin belum menghubunginya. Padahal penerbangan dari London ke Dubai hanya menempuh waktu tujuh jam saja.


"Ah, mungkin dia benar-benar sangat sibuk," gumamnya berusaha menyakinkan diri. Sudah dari satu jam yang lalu mencoba menghubungi Austin tetapi nomor ponsel pria itu tidak aktif. Tidak mungkin ia menghubungi Arthur yang dingin dan menyebalkan itu.


"Licia, sarapan dulu. Bukankah kau akan pergi ke taman Hyde?" Dari ruangan makan, Mommy Angela berteriak memanggil sang putri.


"Iya, Mom." Licia segera bangkit berdiri dari sofa ruang tamu. Masih menggenggam ponselnya, ia pun berjalan menuju ruang makan.


Disana sudah terdapat Daddy Zayn dan kakaknya Jacob. Lantas gadis itu segera melabuhkan tubuhnya di salah satu kursi, bersisian dengan Jacob.


Dengan telaten, Mommy Angela melayani Daddy Zayn dan setelahnya Jacob serta Licia.


"Kalian harus makan yang banyak." Mommy Angela sangat senang jika putra dan putrinya itu menghabiskan makanan yang ia masak dengan penuh cinta.


Jacob dan Licia mengangguk serempak. Mereka terlihat lahap menikmati masakan Mommy tercinta, membuat wanita paruh baya itu tersenyum senang.


Setelah mengakhiri sarapannya, Licia berpamitan pergi menuju Hyde Park. Tak lupa Mommy Angela memberikan nasehat kepada putrinya itu untuk selalu berhati-hati.


"Ayo masuk." Jacob yang baru saja masuk ke dalam mobil, menawarkan tumpangan pada adiknya itu.


Tanpa banyak pertimbangan, Licia segera melesat masuk ke dalam mobil. Ia memang sedang malas menyetir mobil dan beruntung Jacob bersedia mengantarkan dirinya.


"Apa kau bisa menghubungi As?" Di tengah perjalanan mereka, Jacob melayangkan pertanyaan pada adiknya.


Licia lantas menoleh, kemudian menggeleng. "Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya."


Jacob manggut-manggut. Ia pikir hanya dirinya saja yang tidak bisa menghubungi temannya itu. "Pasti dia sangat sibuk mengatasi masalah disana," ujarnya kemudian.


"Tapi sejak beberapa hari yang lalu, As sama sekali tidak menghubungiku," cicitnya menunduk. Bahkan seluruh jemari gadis itu saling meremat.


Jacob mengerutkan keningnya. Ia menoleh hanya untuk meneliti wajah adiknya. "Lalu, apa kau kecewa karena dia tidak menghubungimu, hm?"


Alih-alih memberikan jawaban pasti, Licia hanya mengangkat kedua bahunya. "Entahlah." Ia sendiri pun tidak mengerti.


Jacob terkekeh. Sejujurnya ia merasa aneh dengan hubungan mereka. Terkadang terlihat seperti sepasang kekasih, tetapi juga bisa terlihat sebagai teman kecil biasa.


"Hm, aku harap begitu." Sebenarnya Licia sendiri tidak yakin kapan Austin akan kembali. Tetapi berharap Austin maupun Arthur baik-baik saja disana.


Menempuh perjalanan selama tiga puluh lima menit, mobil Jacob menepi tepat di depan Hyde Park. Licia segera turun dari mobil.


"Apa Kak Jac tidak ingin bergabung?" tanyanya usai menutup pintu mobil dan sedikit menunduk pada kaca jendela mobil yang terbuka.


"Tidak." Jacob menolak. Lagi pula untuk apa ia bergabung dengan para wanita.


"Benar, tidak ingin?" Dari nada bicara gadis itu seperti mengejek kakaknya. "Mungkin sekarang Frey sudah berada disana bersama yang lain."


Mendengar nama Freya, Jacob tiba-tiba saja tersedak salivanya sendiri. "Lalu apa hubungannya denganku?" sergahnya. Pria itu bahkan mengatur mimik wajahnya sedatar mungkin agar tidak dapat terbaca oleh adiknya.


"Cih, yasudah." Licia berdecak, kemudian menjauhkan tubuhnya dari sisi mobil. Padahal ia sengaja memancing Jacob dan ingin melihat reaksi kakaknya itu. "Aku pergi dulu, bye." Ia melambaikan tangan dan segera berjalan jauh.


Jacob menatap punggung Licia yang perlahan semakin menjauh. Menunggu selama beberapa saat hingga adiknya itu menghilangkan di balik pohon.


"Siaall!!" umpatnya sembari memukul stir kemudi. Ia meruntuki dirinya yang selalu bereaksi berlebihan ketika mendengar nama gadis itu. Tidak ingin berlama-lama disana, Jacob kembali melajukan mobilnya.


***


Hyde Park adalah salah satu taman terbesar di pusat Kota London. Di dalam taman itu terdapat Danau Serpentine yang memisahkan Hdye Park dengan Kensington Park. Saat ini para gadis cantik dengan dua wanita hamil duduk di atas tikar yang sengaja digelar oleh mereka untuk menikmati pemandangan disana. Katakan saja mereka sedang piknik, mengingat banyak sekali makanan dan minuman yang berjajar di atas tikar merah maroon bermotif kotak-kotak itu.


"Sini, biar kuambilkan." Elie membantu Helena untuk mengambil salah satu jenis puff pastry dengan menyodorkan piring yang di atasnya terdapat beberapa croissant berlapis cheese.


Helena memindahkan beberapa croissant ke atas piringnya, dengan suka cita ia menikmati lelehan cheese dalam satu gigitan saja.


Elie terkekeh gemas. Ia senang melihat Helena yang lahap menghabiskan satu croissant sembari mengusap perutnya yang besar.


"Kak Elie, buka mulutmu," ucap Kimberly menyodorkan blueberry pada kakak sepupunya itu.


Lantas Elie membuka mulutnya. Ia menguyah blueberry itu hingga tak bersisa dan Kimberly kembali menyuapinya.


Mereka benar-benar menikmati piknik di Hyde Park. Niat hati hanya ingin berjalan-jalan saja, tetapi saat tadi pagi Helena mengusulkan untuk piknik bersama. Dan saat ini mereka saling bertukar cerita, sehingga mampu mengalihkan pikiran Helena untuk sesaat. Sejak tadi malam wanita yang tengah hamil tua itu tidak bisa menghubungi Arthur, membuatnya merasakan kecemasan. Namun Elie dan Mommy Elleana ada untuknya dengan menemaninya semalaman suntuk hingga terlelap.


Tadi malam Elie tidak sengaja mencuri dengar percakapan Mike dan Daddy Xavier, sehingga malam itu juga Elie begitu kecewa karena kedua pria yang dicintainya itu merahasiakan masalah yang terjadi pada Romanov Group. Tetapi baik Mike dan Daddy Xavier berhasil memberikan alasan kenapa mereka sepakat merahasiakan. Elie mencoba mengerti, karena itu ia berharap Arthur dan Austin baik-baik saja disana dan mereka akan segera kembali ke London.


Karena mereka memutuskan untuk segera mengakhiri piknik, Licia ingin mengabadikan momen dengan memotret kebersamaan mereka. Ia memasang kamera dari jarak beberapa meter. Saat sedang mengatur kameranya, gadis itu berjalan mundur dan karena tidak sadar, ia menabrak seseorang.


"Ah, maaf." Licia menyadari kesalahannya, sehingga ia meminta maaf lebih dulu.


Namun pria yang ditabraknya justru melengos pergi begitu saja, tidak mengindahkan permintaan maaf gadis itu. Bibir Licia mencebik maju, ia mencibir pria tak dikenal itu.


"Arah jarum jam tiga, jam sembilan dan sisanya berada di arah jarum jam enam." Pria itu berbicara melalui earphone sembari mengitari pandangannya pada sekitar. Sudah sedari tadi pria berpakaian serba hitam itu mengawasi beberapa anak buah yang baru saja ia sebutkan sesuai arah jarum jam. Dan saat ini pria itu sedang mendengarkan komando dari seseorang diseberang sana.


"Baik. Aku akan mendekat saat mereka mulai lengah."


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...