The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Benar-Benar Membuat Kesal



Beberapa hari berlalu sejak kepulangan Keiko beserta kedua orang tuanya dan Paman Brian. Darren menjalani harinya yang bebas seperti biasa, mengurus perusahaan dan menggantikan rapat setiap kali Arthur tidak datang ke perusahaan. Meskipun kesibukannya terganggu oleh Veronica yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan wanita itu mengganggu waktunya. Akan tetapi selama wanita itu tidak berlebihan, maka ia pun tidak bisa mengusir.


Ketukan suara pintu mengalihkan atensi Darren dari setumpukan dokumen, ia mempersilahkan siapapun itu untuk masuk. Dan nampaklah Gabriela dengan membawa beberapa dokumen yang akan diserahkan kepada Darren.


"Tuan Darren, ini dokumen yang sudah diperiksa dan membutuhkan tanda tangan Tuan Arthur hari ini juga," jelasnya dan kemudian Gabriela meletakkan beberapa dokumen tersebut di atas meja kerja Darren.


"Baiklah, saat jam makan siang aku akan menemui Ar."


Mendengar penuturan Darren, Gabriela hanya mengangguk saja. Ia baru saja ingin pamit undur diri, akan tetapi diurungkan sejenak karena ia ingin menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Hm, Tuan. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Sebenarnya Gabriela tertakut-takut untuk bertanya, tetapi sekretaris cantik itu sungguh penasaran dengan sosok wanita cantik yang ia ketahui berprofesi sebagai model, beberapa kali datang ke perusahaan hanya untuk menemui Darren.


"Ada apa?" tanyanya tanpa beralih dari selembar dokumen yang tengah ia pelajari.


"Hm, begini Tuan. Mungkin terdengar menyebalkan untuk Tuan Darren, tetapi seperti karyawan yang lainnya, aku juga penasaran-"


"Katakan intinya saja, Ela. Apa kau tidak melihat aku sedang sibuk?" Darren memotong perkataan Gabriela yang terlalu bertele-tele menurutnya.


Gabriela mengangguk, lalu seperkian detik menarik napas. "Apa Tuan dan Nona Veronica memiliki hubungan?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibir Gabriela. Namun melihat Darren yang menatapnya begitu tajam, Gabriela menjadi gelagapan. Ia tidak bermaksud apa-apa, hanya saja ia begitu penasaran dengan gosip yang beredar di perusahaan. "Ma-maaf Tuan, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja karena mendengar gosip yang tidak-tidak." Sekretaris itu mencoba menjelaskan tanpa maksud lain.


"Gosip seperti apa?" Dari perkataan panjang lebar Gabriel, hanya kata 'gosip' yang mengusik rasa penasaran Darren.


"Hm, mereka mengatakan jika Nona Veronica terlalu berlebihan mengejar Tuan Darren. Bahkan ada yang mengatakan jika Nona Veronica seperti wanita murahan yang menggoda Tuan Darren."


Mendengar kalimat yang begitu merendahkan Veronica membuat Darren menjadi kesal secara tiba-tiba. Ia tidak sependapat dengan gosip yang bertebaran mengenai wanita itu, sebab ia yang paling tahu jika kedatangan Veronica hanya mengantarkan makan siang untuknya, tidak menggoda seperti yang dituduhkan.


Darren menghela napas untuk meredam kekesalannya. "Dengar Ela, jika kau mendengar gosip seperti itu lagi, kau bisa menegur mereka. Nona Veronica adalah teman baik Nona Elie, menurutmu apa yang akan dilakukan oleh Nona Elie jika mendengar teman baiknya digunjing tidak baik seperti itu?" Bahkan tidak hanya Elie yang akan murka, ia pun bisa saja membungkam mulut mereka yang dengan lancang merendahkan wanita itu.


"Baik Tuan." Gabriela mengangguk mengerti. "Sebenarnya aku sudah pernah menegur mereka, tetapi gosip yang sudah diolah dengan baik akan selalu menjadi konsumsi yang tidak akan pernah ada habisnya dan aku tidak bisa selalu mencegah mereka agar tidak menyebarkan gosip yang tidak benar mengenai Nona Veronica."


"Aku tidak mau tau, Ela!" Entah sadar atau tidak, suara Darren yang membentak itu membuat Gabriela seperti terkena sarangan jantung. "Jika perlu kau berikan ancaman surat pemecatan untuk siapapun yang berani menyebarkan berita tidak benar lagi di perusahaan!" imbuhnya tidak main-main dengan apa yang ia katakan.


"Ba-baik Tuan Darren. Kalau begitu aku permisi dulu." Buru-buru Gabriela keluar dari ruangan, ia tidak ingin menjadi sasaran kekesalan Tuannya.


Begitu kembali ke meja kerja, Gabriela mengelus dadanya yang masih berdebar ketakutan. "Katanya hanya teman baik Nona Elie, tapi Tuan Darren membela Nona Veronica seperti itu. Apa mereka benar-benar tidak ada hubungan apapun?" Gabriela mengangkat kedua bahunya, ia tidak ingin terlalu memusingkan perihal hubungan atasannya, lebih baik ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Derap langkah kaki anggun dengan stiletto berwana hitam, menambah kecantikan pada penampilan seorang wanita cantik yang berjalan membelah kerumunan lobby yang nampak dipenuhi lalu lalang para karyawan yang berbondong-bondong ingin beristirahat untuk makan siang.


Penampilan Veronica siang ini begitu menawan dengan perpaduan dress hitam tanpa lengan. Hanya saja bahunya dibiarkan dilampiri oleh coat berwarna cokelat susu. Wanita itu berjalan dengan anggunnya dan menjadi sorotan banyak mata yang terpesona dengan kecantikannya. Namun ada beberapa yang tidak menyukai wanita itu karena merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki oleh Veronica dan mereka termasuk ketiga wanita yang merupakan penyebar gosip dengan menambahkan bumbu-bumbu yang tidak sedap.


"Jadi wanita itu datang lagi?" Karyawan wanita ber-make up cukup tebal itu mencebikkan bibir tidak suka pada sosok Veronica.


"Dia belum menyerah menggoda Tuan Darren." Temannya turut menimpali.


"Ck, apa dia pantas menjadi kekasih Tuan Darren? Lihat saja, wajahnya tidak lebih cantik darimu, Chelsea."


"Benar, dia hanya model tidak terkenal. Aku hanya melihatnya beberapa kali menjadi cover majalah di halaman depan. Apa dia pikir bisa mengalahkanmu, Chelsea?"


Mendengar perkataan kedua temannya, wanita yang bernama Chelsea itu menyunggingkan senyum kebanggaan. Wanita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya yang berasal dari keluarga kaya. Ia bekerja di perusahaan Romanov Group sebagai staf biasa hanya untuk mengincar pria yang telah menarik perhatiannya itu. Namun sialnya, selama dua bulan bekerja di Romanov Group, ia tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Austin maupun Darren. Padahal jika ia bisa memiliki salah satunya, ia akan menjadi wanita yang paling beruntung bisa menjadi bagian dari Keluarga Romanov.


Chelsea tersenyum sinis jika mengingat usahanya yang memiliki sandungan besar. Kedua pria incarannya begitu sulit di dekati, dan saat ini ada wanita lain yang berusaha mendekati salah satu pria idamannya, Darren.


Aku tidak akan membiarkanmu bisa mendapatkan Tuan Darren.


Dengan langkah kecil, ia meninggalkan kedua temannya untuk mengejar model wanita yang hendak menuju lift. Begitu langkahnya sudah nyaris mendekat, dengan sengaja Chelsea mendorong bahu Veronica hingga membuat wanita itu terhuyung kebelakang.


"Astaga, apa kau tidak melihat jalanmu? Jalan di depanmu sangat lebar, kenapa bisa menabrakku?!" Veronica yang tidak terima justru memaki Chelsea.


"Hei, model tidak terkenal. Untuk apa kau datang ke perusahaan ini lagi? Apa kau benar-benar tidak tau malu?!" Chelsea segera menyerang Veronica dengan cercaannya.


"Aku datang kemari atau tidak, bukan urusanmu! Kenapa kau ingin mengurusiku?!" cebiknya mencibir Chelsea, bahkan sapuan penglihatannya menelisik penampilan wanita dihadapannya itu.


"Cih, untuk apa aku mengurusmu! Aku hanya tidak ingin perusahaan besar ini tercemari oleh wanita sepertimu!" seru Chelsea membalas serangan.


Tentu Veronica tersinggung dengan perkataan Chelsea dan ia tidak terima. Wanita itu ingin mencari masalah dengannya, oh tentu saja Veronica tidak akan tinggal diam.


"Aku benar-benar bingung kenapa perusahaan Romanov Group bisa menerima karyawan yang hanya mementingkan penampilan sepertimu. Aku sangat yakin jika sebenarnya otakmu benar-benar kosong!" Perkataan Veronica benar-benar sukses membuat Chelsea meradang tidak terima.


"Kau.... sialan! Berani-beraninya kau denganku!" Baru saja Chelsea melangkah maju, lift khusus untuk petinggi perusahaan terbuka dan menampakkan sosok Darren, Austin serta Gabriela yang mengekori keduanya bersama dengan Bastian, asisten Austin.


"Ada apa ini?!" Sentakan Darren berhasil menghentikan pergerakan tangan dan langkah Chelsea yang melayang di udara.


"Tu-tuan Darren... Tuan Austin?" Chelsea tergugup melihat kedua pria idamannya itu. Tentu saja ia tidak ingin citranya buruk di depan keduanya. "Maaf Tuan, tadi wanita ini hanya tidak sengaja menabrakku," katanya dengan menampilkan senyuman termanisnya.


"Cih, apa-apaan senyumnya itu?" Veronica bergumam mencibir cara wanita itu tersenyum, sungguh senyum yang dibuat manis, tetapi terlihat menjijikkan di matanya. "Lagi pula jelas-jelas dia yang menabrakku," imbuhnya mencebik bibir.


Darren melirik ke arah Veronica, ia seperti sudah terbiasa mendengar gumaman wanita itu dengan segala ekspresinya. Hingga kemudian kembali menatap Chelsea.


"Kalau begitu menyingkirlah, jangan menghalangi jalan!" ujarnya tertuju pada Chelsea.


"Ba-baik Tuan." Sontak Chelsea segera menyingkir dan membuka jalan agar Darren, Austin serta yang lainnya dapat berjalan leluasa.


Darren dan Austin melewati Veronica begitu saja. Sehingga wanita itu dengan segera mengekori keduanya menuju lobby, berbeda dengan Gabriela serta Bastian yang melangkah menuju kantin. Kini Veronica berada di antara Austin serta Darren, membuat wanita itu menjadi pusat perhatian karena bisa berada di antara kedua pria yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan dan terkenal sulit di dekati. Veronica menolehkan kepalanya sejenak ke arah Chelsea berada dan ia tersenyum mengejek.


Chelsea yang melihatnya menjadi kesal, hentakan kakinya yang berulang kali itu menandakan ia begitu tidak terima. Sialan! Awas saja kau wanita jalaang.


Begitu berada di depan perusahaan, langkah Veronica terhenti lantaran Darren dan Austin menghentikan langkah mereka.


"Apa kau datang kemari untuk memberikan makan siang lagi?" tanya Darren to the poin. Tetapi matanya menelisik kedua tangan Veronica yang tidak membawa apapun selain tas jinjing wanita itu.


"Hm, tidak." Veronica merona malu, pasalnya Darren mengatakan secara terang-terangan di hadapan Austin, meskipun pria itu terlihat acuh dengan menjaga jarak. "Kebetulan aku ada pemotretan di dekat sini dan sedang beristirahat, jadi kupikir ada baiknya aku mengajakmu makan siang bersama."


Darren terdiam sesaat, sebelum kemudian menjawab, "Maaf, sepertinya tidak bisa. Aku masih ada pekerjaan diluar."


"Baiklah kalau begitu." Veronica memasang wajah kecewa. Padahal siang ini ia tidak memiliki teman untuk makan siang bersama. Elie menolak ajakan makan siangnya karena sudah dimonopoli oleh Tuan Mikel. Sedangkan Joana, temannya itu sedang berada diluar kota. Tidak lama, ponsel wanita itu berdering dan dengan cepat Veronica merogoh tas jinjing miliknya. Ia menjawab panggilan yang ternyata dari Larry.


"Ada apa Larry? Ah, kau sudah selesai? Kalau begitu tunggu aku di tempat biasa." Setelah mengatakan hal itu, Veronica memutuskan sambungan telepon. "Kalau begitu aku permisi dulu. Lain kali kita harus makan siang bersama lagi, ok?" ucapnya pada Darren dan tanpa menunggu jawaban dari pria itu, lantas Veronica segera melangkah pergi untuk menyetop taksi yang bertepatan melintas. Veronica segera masuk ke dalam taksi dan taksi itu segera melaju membawanya ke tempat tujuan.


Darren terperangah sejenak, ia ditinggalkan begitu saja disaat wanita itu sudah tidak memerlukan dirinya?


"Hahahahaha...." Telinga Darren terasa panas ketika tawa Austin meledak saat itu juga. "Kau lihat Der, dia menerima telepon dari pria lain dan kau dicampakkan begitu saja." Dan tawa Austin masih tidak menyurut, ia puas melihat wajah bodoh Darren yang terlihat lucu di matanya.


Tentu Darren kesal akan tawa Austin yang tengah mengejeknya. "Fuckiing! Sepertinya aku perlu menyumpal mulutmu, As!"


Namun alih-alih meredakan tawa, Austin justru semakin tergelak sembari melangkah menuju mobil. Meninggalkan Darren dengan kekesalannya yang masih menyala.


Wanita itu benar-benar membuat kesal.


To be continue


Darren



Veronica



Austin



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...