
Siang ini Arthur dan Helena berada di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Highgate Cemetery adalah Pemakaman yang berada di Utara London, Inggris Raya. Tatapan bingung Helena mengarah pada Arthur, sungguh ia tidak mengerti kenapa suaminya itu membawanya ke Pemakaman terkenal yang tentunya banyak orang-orang terkenal yang memilih tempat peristirahatan terakhir mereka di Pemakaman Highgate Cemetery.
Bukankah mereka akan mengunjungi makam Mommy Anna di Arnos Vale Cemetery, Bristol. Lalu kenapa Arthur membawanya ke pemakaman Highgate?
"Honey, untuk apa kita datang kemari? Bukankah kita akan mengunjungi makam Mommy di Bristol?" Tatapan penuh kebingungan itu dilayangkan pada sosok suaminya yang hanya merespons dengan senyuman tipis. Sehingga membuat Helena berpikir jika suaminya itu mungkin ingin mengunjungi makam temannya atau kerabat yang tidak ia ketahui.
"Kau akan tau jika sudah masuk ke dalam." Arthur tidak memberikan jawaban yang memuaskan, pria itu justru meraih tangan Helena dan menggenggamnya dengan kuat. Ia melangkah memasuki gerbang menjulang tinggi itu sembari menuntun sang istri yang masih nampak kebingungan namun tetap mengikuti langkahnya.
Di sepanjang melangkah, Helena mengedarkan pandangannya kesana-kemari. Wanita itu mengagumi taman pemakaman Highgate yang lebih indah ketimbang Pemakaman Arnos Vale Cemetery, Bristol. Dimana Mommy Anna dimakamkan disana. Meskipun begitu, pemakaman Arnos Vale adalah pemakaman terbaik di Bristol.
Langkah Helena terhenti lantaran Arthur menghentikan langkahnya. Wanita itu mendongak agar bertemu pandang dengan suaminya.
"Kenapa berhenti?" tanyanya bingung dan belum menyadari jika mereka sudah sampai di tempat yang dituju.
"Apa kau tidak ingin mengunjungi Mom Anna?" Jawaban Arthur semakin membuat Helena kebingungan, terlihat jelas dari kening wanita itu yang berkerut dalam.
"Honey, apa yang kau katakan? Ini bukan makam-" Ucapan Helena menggantung ketika pandangannya ia pusatkan pada makam baru yang di atasnya ditumbuhi rumput-rumput hijau. "Mommy?" Rasanya wanita itu tak mampu berkata, ia melihat batu nisan yang terpampang dengan nama Anna Bonham terukir jelas disana. Mungkinkah suaminya itu telah memindahkan makam Mommy Anna di Pemakaman Highgate Cemetery?
"Bicaralah pada Mom Anna. Sepertinya dia juga sangat merindukanmu karena kau tidak pernah mengunjunginya lagi." Arthur mengusap punggung Helena dengan lembut, sehingga wanita itu kembali dari lamunannya.
Kedua mata Helena mengembun, ia mendengarkan perkataan Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari makam Mommy Anna.
Seketika Helena menjatuhkan dirinya ke tanah, menyentuh makam Mommy Anna yang begitu ia rindukan. "Mom, maafkan aku karena tidak pernah mengunjungimu lagi. Banyak hal yang terjadi padaku saat itu, Mom." Wanita itu membiarkan air matanya menetes lalu mengusapnya. "Aku putus asa beberapa kali sehingga mencoba untuk menyusulmu, tetapi lagi-lagi aku selamat. Apa Mommy melindungiku saat itu?" Helena diam sejenak, seolah tengah mendengarkan jawaban dari Mommy Anna. "Mommy benar, aku tidak seharusnya seperti itu. Maafkan aku. Saat itu aku memang bodoh dan tidak memiliki sandaran." Mendengar Helena yang mengeluhkan apa yang dirasa saat itu, Arthur sesekali mendelik. Ia berpikir jika mungkin saja Mom Anna berada di sekitar sini. Tetapi tidak mungkin, ia tidak percaya hal yang seperti itu.
"Tapi sekarang Mommy tidak perlu lagi mencemaskanku, saat ini aku sudah mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Aku memiliki suami dan saat ini aku juga sedang hamil," ucapnya dengan nada sedikit lebih ceria. "Benar Mom, kau akan memiliki dua cucu. Kau bisa melihatnya saat mereka lahir." Seolah Mom Anna ada dihadapannya, Helena memberikan kabar yang membahagiakan dan mendapatkan jawaban dari Mom Anna saat itu juga.
Arthur sedikit mencemaskan Helena. Tidak mungkin jika istrinya itu masih mengalami halusinasi, sebab ia sudah memastikan jika Helena dinyatakan pulih. Dan ia tidak bisa memberikan obat itu lagi sebab akan sangat membahayakan kedua janin yang merupakan penerus Keluarga Romanov.
Detik itu juga Arthur berjongkok, ia merangkul pundak Helena yang masih berbicara dengan Mom Anna.
"Love, apa kau sudah selesai menyapa Mom Anna?" Arthur sengaja memotong perkataan Helena, agar sang istri kembali memusatkan perhatiannya pada dirinya.
Benar saja. Helena berhenti berbicara, ia menatap sang suami dan tersenyum. "Sudah. Aku dan Mommy sudah selesai melepaskan rindu."
Membalas senyum sang istri dengan senyuman, Arthur melabuhkan kecupan pada kening Helena. "Kalau begitu kau juga harus menyapa Daddy Jonathan."
"Daddy Jonathan?" Helena kembali dibuat bingung.
Helena tidak dapat membendung air matanya. Sungguh ia sangat tersentuh karena Arthur begitu mempedulikannya hingga tidak melupakan kedua orang tuanya. Sebelumnya ia tidak pernah tahu dimana makam ayah kandungnya. Dan pada hari ini ia menyaksikan sendiri makam Daddy Jonathan.
"Hei, jangan menangis. Daddy Jonathan akan memberiku pelajaran jika membuatmu menangis seperti ini." Arthur mencoba untuk menenangkan Helena dan itu hal pertama yang ia lakukan pada wanita yang menangis di tengah makan seperti ini.
"Terima kasih...." Helena mengucapkan rasa terima kasihnya dengan suara yang terisak. "Saat aku tau jika Jorge bukanlah Daddy kandungku, aku tidak mencoba mencari tau siapa Daddy kandungku. Sebenarnya aku ingin mencari tau tentang Daddy kandungku, tetapi aku tidak memiliki ingatan apapun tentangnya. Sampai saat itu kau memberitahuku jika Daddy kandungku bernama Jonathan, aku benar-benar senang. Terima kasih banyak kau sudah banyak membantuku selama ini, kau sudah berkenan hadir dan menjadi penyembuhku."
Melihat sang istri kembali menangis, Arthur buru-buru mengusap air mata yang jatuh di wajah Helena dengan menggunakan ibu jarinya.
"Jika kau menangis seperti ini mereka juga akan sedih. Jadi sebaiknya berhentilah menangis."
Helena mengangguk seolah ucapan Arthur adalah sebuah perintah yang harus dituruti. Hingga kemudian wanita itu mengatur napasnya untuk menyapa Daddy Jonathan.
"Hai Daddy. Ini pertama kalinya aku menyapamu. Meskipun aku tidak pernah mengenal sosokmu seperti apa, tapi aku sangat yakin jika kau adalah pria yang baik. Terima kasih sudah menjadi Daddy kandungku, aku sangat senang saat mengetahui jika sebenarnya kaulah Daddy kandungku dan bukan Jorge." Helena berusaha untuk tersenyum, menguatkan hati agar tidak kembali menangis. "Daddy, tolong jaga Mommy disana, katakan padanya jika aku baik-baik saja. Aku sudah menemukan pria yang baik dan melimpahkanku dengan kebahagiaan. Aku juga memiliki keluarga yang aku impikan selama ini. Aku memiliki Mommy Elle dan Daddy Vier yang sangat menyayangiku. Jadi kumohon berbahagialah disana. Aku dan kedua cucu Daddy akan selalu bahagia disini. Selama berada di samping Ar suamiku, kami akan baik-baik saja." Helena tersenyum sembari mengusap perutnya yang membuncit. Lalu meminta Arthur agar membantunya untuk beranjak berdiri.
"Honey, aku sudah selesai," ucapnya merangkul pinggang Arthur.
"Kalau begitu kita pergi dari sini."
Helena mengangguk, lalu mengikuti langkah suaminya. Sebelum benar-benar berlalu, Arthur menoleh sekilas kepada dua makam mertuanya.
"Kalian tidak perlu mencemaskan putri kalian. Selama aku masih hidup, aku akan menjaga mereka dengan baik."
Arthur kembali menatap ke depan, merangkul sang istri meninggalkan makam Mom Anna dan Daddy Jonathan. Hembusan angin yang menggumpal di udara seolah tengah merespon perkataan Arthur.
"Terima kasih".
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA ...