
Mobil yang dikemudikan Mikel menepi di pinggir tebing untuk menemui Sid yang menunggunya di sana. Mereka tidak bertemu di Markas, sebab Pablo berada di Markas. Hubungan yang kurang baik dengan ketua dari Loz Zetas membuat Mikel malas bersitatap dengan pria itu. Maka Mikel selalu memilih bertemu diluar, alih-alih menunjukkan batang hidungnya disana. Jika ia bertemu dengan Pablo hanya akan membuat mereka saling bersitegang dan pada akhirnya terjadi pertikaian.
"Kau sudah lama menunggu?" Mikel berdiri bersisian dengan Sid. Pinggulnya bersandar pada pembatas tebing. Dari posisi mereka nampak jelas Markas Loz Zetas yang berada di seberang puncak bukit.
"Hem, aku baru saja sampai beberapa menit yang lalu." Sid menyahut sembari mengepulkan asap rokok di udara, ia kemudian melemparkan putung rokok ke bawah tebing.
"Apa Pablo tidak mencurigaimu pergi seperti ini?" Bukan tanpa alasan Mikel bertanya demikian, sebab jika Pablo berada di Markas, siapapun yang ingin pergi harus melewati izinnya terlebih dahulu.
Pandangan Sid lurus ke depan, angin semilir menerpa wajah tampan mereka. "Entahlah, mungkin dia sudah curiga saat aku mengatakan akan pergi," sahutnya. "Tapi diluar dugaan, dia tidak mengatakan apapun dan membiarkanku pergi." Ya, Pablo tidak banyak bertanya, hanya mengayunkan tangan mengusir dirinya.
Kening Mikel mengernyit, ia merasakan keanehan. Sebab sebelumnya Pablo tidak mudah memberi izin para anak buahnya untuk keluar Markas. Itulah alasan dirinya tidak ingin menetap di Markas dan kebebasannya di batasi. Tidak ingin banyak berpikir, Mikel menepis kejanggalan yang ia rasakan. Waktunya saat ini terbatas sehingga ia harus mengutarakan tujuannya menemui Sid.
"Apa sudah ada tanda-tanda pergerakan pria tua itu untuk menyerang, Sid?" tanyanya. Karena Sid bertugas melacak keberadaan Pamannya yang lokasinya selalu berpindah-pindah.
"Belum ada. Aku tidak tau dimana keberadaan Pamanmu. Setelah jasad putranya ditemukan, Pamanmu menghilang. Satu minggu yang lalu aku mendapatkan laporan jika Pamanmu berada di Amsterdam, tapi beberapa hari yang lalu Pamanmu sudah berada di Canada."
Mendengar penuturan Sid, otak Mikel mencernanya dengan baik. Itu tandanya lokasi Pamannya selalu tidak menentu. Yang ia cemaskan jika pria itu sudah berada di sekitarnya, akan tetapi ia serta Sid tidak bisa melacak. Terlebih kemampuan mereka terbatas, sedari dulu Pablo tidak pedulikan aksi balas dendam Mikel. Ketua dari Loz Zetas itu hanya menginginkan keuntungan untuk kelompok organisasinya, itu sebabnya Mikel dan Sid diam-diam melacak keberadaan Tobbi tanpa sepengetahuan Pablo.
"Kau tenang saja, kita pasti akan cepat menemukan keberadaannya." Sid menepuk pundak Mikel berulang kali, ia mengerti akan kegelisahan yang dirasakan oleh temannya itu. Tentu ia akan selalu membantu hingga balas dendam Mikel tercapai.
"Ya....." Mikel harus yakin jika ia benar-benar akan bisa membalaskan kematian kedua orang tuanya. Putra dari pria itu saja mampu mereka singkirkan, meski harus menempuh berbagai cara untuk mendapatkan keberadaannya.
Mikel dan Sid kemudian terperanjat kaget ketika tiba-tiba saja beberapa mobil Jeep hitam berhenti dan mengepung mereka. Keduanya saling bersitatap, bertukar dugaan yang mereka pikirkan.
"What the fuckk!!" Mikel mengumpat tatkala mendapati pria yang baru saja turun dari mobil dengan tatapan nyalang terarah pada dirinya tidak lain ialah Pablo. Benar kejanggalannya, Pablo tidak akan bersikap baik begitu saja jika tidak untuk menjalankan rencananya.
"Sudah kuduga jika kau bertemu dengannya, Sid!" seru Pablo saat tatapannya beralih pada anak buahnya itu. "Ternyata kau benar-benar berpihak padanya di bandingkan diriku, bosmu sendiri!" Ketidaksukaannya terhadap Mikel bermula karena sebagian anak buahnya menginginkan Mikel untuk menggantikan posisinya. Sebab itu Pablo tidak mengizinkan Mikel untuk melakukan misi, sebelum ia bisa mengendalikan pria itu.
"Aku dan Mikel berteman, apa salahnya jika kami bertemu?!" Tidak ada ketakutan dalam sahutan Sid, ia dan Mikel memang berteman. Dan siapapun tidak berhak melarangnya bertemu dengan Mikel, termasuk Pablo sekalipun.
"Cih, kau benar-benar membuatku muak, Sid. Aku sudah terlalu baik padamu, tapi kau selalu saja membelanya!"
"Aku membelanya karena Mikel bagian dari Loz Zetas!" seru Sid menekankan, tentu ia harus mengingatkan Pablo akan posisi Mikel yang setara dengannya.
"Tapi dia selalu membangkang perintahku, Sid!" hardik Pablo. Kini ketiganya memancarkan ketegangan dengan tatapan tidak bersahabat dan dingin.
"Aku tidak membangkang, tapi kau yang tidak mempercayakan setiap misi padaku!" Mikel tidak bisa diam saja ketika dirinya yang menjadi sumber pertikaian antara Sid dengan Pablo. Terlebih apa yang dituduhkan Pablo jika dirinya membangkang adalah ketidakbenaran, selama ini ia selalu mematuhi perintah Pablo. Namun saat Pablo bersikap memusuhi dirinya, Mikel mulai menjalankan rencananya bersama dengan Sid untuk menemukan keberadaan Tobbi, ia tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk mematuhi perintah Pablo yang tidak akan ada hentinya.
Pablo terkekeh-kekeh mendengar ucapan Mikel. Memang sudah lama ia tidak memberikan Mikel sebuah misi dan tidak mengikutsertakan pria itu dalam misi apapun. Sebab dengan begitu Mikel akan tersisihkan dan dirinya tetap menjadi ketua Loz Zetas.
"Baiklah, kalau begitu mulai hari ini aku akan memberikan kalian misi." Tatapan Pablo menatap Mikel dan Sid. "Sid, kau harus ke Amerika, pergilah ke Atlanta, dapatkan wilayah perbatasan disana," ujarnya dan kemudian perhatiannya berpindah pada Mikel. "Dan aku memberi tugas untuk mendapatkan wilayah di perbatasan Skotlandia. Aku ingin memperluas wilayah Loz Zetas di Inggris, tapi ada satu masalah....." Pablo menjeda sejak ucapannya, sorot matanya bergulir bergantian menatap Mikel dan Sid. "Wilayah itu sudah menjadi incaran Black Lion, karena itu sebisa mungkin kau harus mendapatkannya lebih dulu."
"Aku tidak yakin jika Black Lion akan mudah dikalahkan." Mikel beranggapan jika Loz Zetas bukan lawan yang sulit untuk Black Lion, mengingat Black Lion hampir menguasai wilayah di benua Eropa, sementara Loz Zetas hanya menyebar di Chicago, Amerika dan Meksiko saja.
Sungguh Pablo tidak senang mendengar ungkapan dari Mikel. Sekuat apapun musuh-musuh mereka, tentu Loz Zetas harus bisa menghadapi dan mengeksekusinya. "Dengar Mikel, kau hanya perlu menjalankan tugasmu, dapatkan wilayah itu bagaimana pun acaranya!"
"Cih, kau sudah menjadi orang besar sehingga tidak ingin berhubungan lagi dengan Loz Zetas, hah?!" Pablo meradang, sorot matanya kian menajam untuk mengintimidasi Mikel.
"Bukankah kau sudah membuangku, heh?!" Napas Mikel terbuang dengan kasar. Selama ini Pablo sudah membuangnya, sehingga untuk apa kali ini ia dilibatkan dalam misi.
"Aku tidak peduli! Jika kau tidak mengikuti perkataanku, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu dengan adik tercintamu!" teriaknya menggebu-gebu penuh dengan ancaman. Kemudian menunjukkan sebuah foto yang berhasil di abadikan di kamera ponselnya.
Dada Mikel bergemuruh seketika saat Pablo menunjukkan sebuah gambar sang adik bersama dengan Nathan yang terikat di sebuah ruangan. "Apa yang kau lakukan dengan mereka, hah?!" Mikel melangkah maju mendekati Pablo dengan penuh amarah.
BUGH
Dan satu tinjunya tepat mengenai sudut bibir Pablo hingga pria itu mengeluarkan darah segar. Sid yang melihat Mikel menyerang Pablo segera menahan kedua bahu Mikel. Sejak tadi Sid hanya diam saja mendengar perdebatan antara Mikel dengan Pablo, namun jika Mikel sudah tersulut emosi dengan menerjang Pablo, ia harus menengahi sebelum terjadi baku hantam. Sebab ia tidak yakin jika akan mudah menang menghadapi Pablo dengan banyaknya para anak buah di belakang Pablo.
"Tenanglah, adikmu baik-baik saja. Tapi aku melukai asistenmu yang keras kepala itu. Mungkin dia terluka parah." Pablo tersenyum licik, sangat menyenangkan menekan Mikel. Sejauh ini ia berusaha membuat Mikel menurut dan selalu berada di bawah kendalinya. Dan baru kali ini ia bisa merealisasikan rencananya dengan menggenggam adik dari Mikel berserta asisten pria itu.
Pias sudah wajah Mikel, jantungnya berhenti berdetak begitu mendengar jika Pablo melukai Nathan. "Berengsek! Keparat! KU BUNUH KAU!!" Mikel hendak menerjang Pablo kembali, akan tetapi beberapa anak buah segera menghadang dan melayangkan tendangan tepat mengenai perut Mikel.
Sid berusaha membantu Mikel dengan menjauhkan beberapa anak buah Pablo. Ia tidak terima Mikel di perlakukan seperti itu. "Kau harus tenang, untuk saat ini kau harus ikuti perkataannya. Kita akan mencari cara membebaskan adikmu dan asistenmu." Sid berbisik sembari membantu Mikel untuk bangkit berdiri.
Tangan Mikel menonjolkan urat-urat ototnya, menandakan jika dirinya tengah berusaha mengeram amarah. "Jika kau menyakiti adikku seujung kuku jarimu, kupastikan kau akan mati di tanganku!"
Mendengar ancaman Mikel tidak membuat Pablo bergidik, pria itu justru menyunggingkan senyum. "Tenang saja, aku tidak akan menyentuh adikmu jika kau menurut padaku!" Semakin puas Pablo menyaksikan ketidakberdayaan Mikel, tidak sia-sia usahanya yang beberapa hari ini memantau keberadaan Mikel dan begitu ada kesempatan ia langsung melancarkan aksinya menculik adik Mikel yang depresi itu dengan membayar beberapa perawat disana sehingga mempermudah rencananya.
"Besok datanglah ke Birmingham. Aku dengar wanita itu akan berada disana. Singkirkan dia sebagai ancaman pertama agar Black Lion mundur. Setelah itu pergilah ke perbatasan Skotlandia."
"Siapa wanita yang kau ingin aku singkirkan?" Mikel tidak memiliki pilihan lain, untuk saat ini ia hanya bisa menyanggupi perintah Pablo. Sebab nyawa Meisha dan Nathan berada di genggaman pria keparat itu.
"Kau tidak perlu tau. Yang pasti wanita itu sangat berharga bagi Black Lion." Pablo tidak ingin memberitahu, ia segera berlalu pergi dari sana dengan senyum penuh kemenangan.
To be continue
Babang Mikel
Sid
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...