
Satu bulan lebih kemudian
Helena berlari kecil dari kamar mandi begitu mendengar tangisan Baby Lyora. Ia baru saja selesai mandi dan masih mengenakan bathrobe.
"Kenapa sayang? Apa sudah haus lagi, hm?" Helena segera menggendong Baby Lyora yang menangis karena haus. Baby twins memang begitu kuat menyusu sehingga baru berusia satu bulan saja sudah membuat berat badan mereka bertambah banyak.
Membuka tali simpul bathrobe, Helena mulai menyusui Baby Lyora, bertepatan dengan pintu terbuka dan nampaklah Arthur dengan membawa nampan, diatasnya terdapat beberapa sandwich dan buah-buahan segar.
Arthur meletakkan nampan tersebut di atas nakas. "Dia sudah haus lagi?" tanyanya begitu membenamkan tubuhnya disisi ranjang.
"Mereka sangat kuat menyusu. Lihat saja pipi mereka sudah chubby seperti ini," katanya sembari menyentuh pipi Baby Lyora.
Arthur mengangguk membenarkan. Ia kemudian mengganggu putrinya yang sedang menyusu dengan menusuk-nusuk pipi Baby Lyora menggunakan jari telunjuknya. Baby Lyora yang merasa terganggu melepaskan kuncup dada sang Mommy, lalu menangis.
"Honey, jangan mengganggunya." Helena menepuk lengan Arthur yang hanya terkekeh kecil. Semenjak mereka lahir, Arthur memiliki kebiasaan baru yaitu mengganggu baby twins hingga pada akhirnya mereka menangis.
Baby Lyora kembali menyusu dan membuat Arthur beralih pada Baby Ace. Ia bermain pada jemari mungil putranya itu, hingga Baby Ace menggeliat tetapi tidak menghentikan Arthur mengganggu putranya.
Baby Ace sontak menangis karena merasa terganggu. Arthur kembali terkekeh kecil, lalu segera menggendong Baby Ace. Helena hanya menggelengkan kepala. Ia baru mengetahui jika Arthur memiliki sikap jahil. Lebih tepatnya sikap jahilnya itu muncul ketika baby twins dilahirkan.
"Apa kau juga haus, boy? Tunggulah sebentar lagi, kau harus mengalah dengan adikmu."
Mendengar celotehan Daddy-nya, Baby Ace tertawa tanpa suara. Hal itu membuat Arthur gemas dan menciumi seluruh wajah putranya. Alih-alih risih, Baby Ace justru menepuk-nepuk rahang Arthur yang dipenuhi oleh bulu-bulu tipis.
Baby Lyora sudah selesai menyusu, sehingga Helena membaringkannya di atas ranjang. Arthur segera memberikan Baby Ace untuk bergantian menyusu. Selama istrinya memberikan ASI pada putranya, Arthur berdiri memperhatikan, bertumpu satu tangannya pada lengan yang dilipat di dada, mengusap-usap rahangnya. Apa dirinya seperti itu jika sedang menjadi bayi besar. Seketika otak Arthur menjadi mesum. Ah, sejak kapan? Ia membuang napasnya kasar dan disadari oleh Helena.
"Ada apa?" tanya Helena yang heran mendapati suaminya mendadak gusar.
"Tidak. Tidak apa," sanggahnya. Lalu menuju nakas dan mengambil piring yang diatasnya terdapat beberapa sandwich. Ia kembali membenamkan tubuhnya di sisi ranjang, sebelum kemudian menyodorkan satu sandwich tepat di bibir Helena.
Helena tersenyum, lalu membuka mulutnya. Perlakukan Arthur yang begitu perhatian padanya, membuatnya semakin mencintai suaminya itu.
"Terima kasih," ucapnya sembari menguyah. Arthur menanggapinya dengan senyuman, lalu mengusap puncak kepala Helena. "Hm, aku tiba-tiba teringat Mommy Anna." Seketika suasana menjadi sendu. Sejak satu bulan yang lalu, Helena selalu dihantui rasa bersalah, karenanya yang tidak waspada, sehingga membuat Mommy Anna menderita penyakit akibat obat yang ia berikan karena ketidaktahuannya. Perkataan Helena membuat Arthur mengurungkan niatnya untuk memasukan kembali sandwich ke dalam mulutnya.
"Semua yang terjadi bukan salahmu. Dan Mommy Anna pasti tidak ingin putri satu-satunya selalu merasa sedih." Arthur meletakkan piring di atas pangkuannya, lalu menggenggam satu tangan Helena. "Dengar, kau harus selalu bahagia, dengan begitu kau bisa memberikan kebahagiaan untuk Ace dan Lyo."
Kedua mata Helena berkaca-kaca. Jujur saja semenjak kejadian penculikan dirinya, ia tidak bertanya apapun mengenai Jorge, sebab sudah tidak pedulikan pria tua yang selama ini dianggap Daddy olehnya. Semua perbuatan Jorge pada Mommy Anna dan dirinya, membuatnya benar-benar mengubur kenangan pahit saat menjadi putri dari Jorge.
"Ah, kenapa akhir-akhir ini aku selalu mudah menangis." Buru-buru Helena menyeka sudut mata yang berair. Ia malu kepada suaminya karena selalu saja bersikap lemah.
"Tidak apa. Kau bisa menangis sepuasmu saat di hadapanku. Tapi jangan pernah menangis saat sedang sendirian saja."
Terenyuh. Itulah yang wanita itu rasakan. Semua yang dikatakan Arthur sungguh membuatnya menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Ia kehilangan keluarganya, tetapi Tuhan maha baik dengan memberikannya keluar baru yang begitu menyayanginya.
"Menunduklah," pinta Helena kemudian dan segera dilakukan oleh Arthur. Cup. Kecupan singkat dibenamkan pada bibir Arthur. Hanya kecupan singkat saja, sebab wanita itu kesulitan menggapai wajah suaminya lantaran sedang memangku Baby Ace.
Arthur tersenyum gemas, lalu mengacak rambut Helena. "Harus dihabiskan, setelah ini kita turun, Mommy dan Dad ingin bermain dengan cucu-cucunya." Ya, semenjak ada Baby Ace dan Baby Lyora, Arthur serta Helena menginap di Mansion, sebab kedua orang tuanya tidak ingin berjauhan dengan Baby Ace dan Baby Lyora. Arthur tidak masalah, lagi pula ia akan tinggal di kediaman orang tuanya selama proses pembangunan Mansion baru untuk keluarga kecilnya belum selesai.
Usai menyelesaikan makan sandwich bersama dan baby twins sudah kembali ditidurkan, Arthur bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Helena yang baru saja ingin berpakaian lengkap mengurungkan sejenak niatnya. Lalu wanita itu tersenyum penuh arti, ia berjalan mendekati pintu kamar mandi, saat tahu pintu kamar mandi tidak terkunci, Helena melepaskan bathrobe dari tubuhnya, sebelum kemudian melesat masuk ke dalam kamar mandi. Sudah lebih satu bulan mereka tidak berhubungan intim dan inilah saatnya Helena memuaskan suami tercinta yang sudah berpuasa selama satu bulan penuh. Dan apa yang terjadi di dalam kamar mandi adalah yang seharusnya terjadi untuk pasangan suami istri. Mereka saling memberikan kepuasan satu sama lain. Meski permainan singkat, tetapi keduanya merasa puas. (Dah ya, Yoona mendadak polos, gak bisa buat yang anuu-anuu... wkwk)
***
Ayo bertemu. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi.
Austin menghela napas. Memang satu bulan belakangan ini, ia sengaja menghindari Licia. Pesan dari gadis itu pun hanya dibaca olehnya tanpa ingin membalas. Namun rasanya kali ini Austin tidak tega untuk tidak membalas pesan dari Licia, sehingga ia segera mengetik pesan balasan.
Temui aku di taman Hyde.
Singkat, jelas dan padat. Begitulah balasan pesan Austin untuk Licia. Dan karena saat ini Hyde Park sudah menjadi milik Romanov, sehingga kejadian satu bulan lebih yang lalu itu dipastikan tidak akan terulang kembali, sebab keamanan disana sungguh terjaga.
Austin melemparkan ponselnya pada kursi disamping kemudi, lalu kembali melajukan mobilnya menuju Hyde Park. Arah tujuan yang berbeda, sebab sebelumnya ia ingin segera pulang dan bermain dengan baby twins. Semenjak memiliki dua keponakan, Austin selalu pulang ke Mansion dan Mommy Elleana begitu senang karena suasana Mansion kembali ramai.
Dan disaat sudah berada di Hyde Park, keduanya sudah duduk saling berhadapan, akan tetapi yang terjadi justru keheningan. Austin dan Licia nampak canggung setelah beberapa bulan lalu tidak bertemu dan pria itu sengaja menghindar.
"Kenapa?" Suara Licia yang mengajukan pertanyaan itu membuat Austin menatapnya.
"Maksudmu?" Ya, Austin gagal mencerna.
Licia menghela napas. Lalu kembali berkata, "Kenapa kau menghindariku? Apa aku ada salah padamu? Saat pergi ke Dubai, kau juga tidak memberitahuku."
Austin diam selama beberapa saat. Ia beranjak berdiri dari kursi besi yang mereka duduki. Pria itu justru membelakangi Licia dan menatap hamparan rumput hijau.
"As...?" Licia memanggil Austin karena tidak sabar ingin mendengar alasan pria itu.
Austin berbalik badan, ia menatap sekilas wajah Licia sebelum membuang pandangannya ke arah lain. "Kau tau apa yang menyebalkan?" tanyanya kemudian dan tentu saja Licia menggeleng.
Austin tersenyum kecut. Dimasukkannya kedua tangan ke dalam saku celana. "Aku pernah menonton film dan di film itu Tom mengatakan, Finding out that everything you believe in is complete and utter bullshiit!" (Saat menemukan bahwa semuanya yang kau yakini sudah lengkap dan benar-benar omong kosong!)" Lalu Austin mengumpat, "Sucks!"
"What do you mean?" Kedua alis Licia saling menyatu lantaran tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Austin.
Austin kembali menatap Licia dengan dalam. "Destiny, and soulmates, true love, and all that childhood fairytale nonsense... it sucks! (Takdir, dan belahan jiwa, cinta sejati, dan semua itu omong kosong dongeng masa kecil... Menyebalkan!)" Dan kemudian Austin mendecakkan lidah. "Yeah, it sucks. Aku baru mengerti apa yang dikatakannya."
"As, aku....."
"Licia, dengar." Austin memotong perkataan Licia. "Kita akan seperti ini selamanya, aku dan kau akan terus berteman baik, bukan? Jadi kau harus membiasakan dirimu tanpaku. Bagaimana jika kedepannya kau dan aku memiliki kekasih, hm?" Seperti orang bodoh, Austin memaksakan senyumnya. "Dan jika kau memiliki kekasih, maka kau harus mengenalkannya padaku dan begitupun sebaliknya, aku akan mengenalkan kekasihku padamu saat aku memiliki kekasih."
"As....." Kedua mata Licia mengembun. Bahkan air mata sudah siap ditumpahkan. Apa secara tidak langsung Austin menolak dirinya dan menegaskan hubungan mereka?
"Aaahh....." Austin menghembuskan napas ke udara, menatap langit yang begitu cerah siang itu. Ia seolah baru saja menghempaskan beban yang beberapa bulan ini terasa sesak di dada. "Aku harus pergi karena masih ada urusan," ujarnya sembari mendekati Licia, ia mengulurkan satu tangannya dan memberikan usapan lembut pada puncak kepala gadis itu. "Jaga dirimu dengan baik." Lalu kembali mengulas senyum, sebelum kemudian berlalu meninggalkan Licia. Gadis itu mengabaikan air matanya yang sudah tumpah ruah.
Apa maksud Austin berkata seperti itu? batinnya seolah bertanya-tanya dan tidak mendapatkan jawabannya. Meski selama ini hubungan mereka layaknya seperti teman baik, entah kenapa begitu ditegaskan dadanya begitu sesak.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...